Kabar Buruk

Enam tahun telah berlalu tanpa terasa. Namun drama pertemuan pertama antara Nand dan Rara tak berakhir begitu saja. Masih ada kecemburuan terselip di balik nayanika milik Haikala, terlebih ketika netranya dengan tegas menangkap senyuman yang begitu tulus dari seorang Rara untuk Nand.

Mereka yang selalu berkompetisi untuk menjadi peringkat terbaik seantero  sekolah. Juga mereka yang selalu mengisi kompetisi cerdas cermat maupun secara olimpiade bergantian.

Mereka juga yang selalu terpilih sebagai gadis tercantik dan pemuda tertampan seantero sekolah dan juga kampus tempat mereka menimba ilmu.

Dimana-mana hanya ada nama Nand yang bersanding dengan Kejora, dan bukannya Haikala. Ada begitu banyak kegiatan bersama, dan bahkan mereka juga  kuliah di jurusan yang sama. Serta diterima di divisi yang sama di perusahaan dimana mereka bekerja.

Kejora bekerja di Divisi Marketing dimana Nand sendiri yang bertugas menjadi fotografer produk mereka. Bagaimana dengan Haikala? Sesuai bidangnya, ia berperan sebagai seorang presenter dalam beberapa acara hiburan dimana perusahaan itu adalah milik dari ayahnya sendiri.

Divisi iklan dan acara memang berada dalam gedung yang sama, namun schedule mereka selalu berseberangan dan nyaris tak pernah berada di dalam satu program kerja yang sama.

Ia tak memiliki begitu banyak waktu bersama Kejora sang cinta pertamanya, karena kesibukkan Kejora yang nyaris tak memiliki ruang untuk Haikala bahkan untuk dirinya sendiri. Kejora begitu sibuk, dan kebanyakan dari kesibukannya itu justru ditemani oleh Nand, saingannya dalam hal menjadi yang terbaik.

Senyuman indahnya bahkan masih lebih berarti jika bersama Nand. Ia bisa tertawa begitu bahagia, padahal Nand hanyalah seorang pendiam yang tak banyak bicara. Entahlah mereka membahas apa? tapi satu yang pasti diketahui oleh Haikal, bahwa ia tak mengerti dunia Kejora sebaik Nand memahaminya.

"Jadi nanti sepulang kerja mau nongkrong atau langsung pulang?"

"Ngerjain proposalnya kayaknya ditunda nanti dulu aja. Kasihan Mentari dari kemarin minta diajak ke pasar malam." jawab Nand segera tanpa jeda.

"Yaudah, kalau gitu mumpung libur aku sekalian mau ajakin Haikal ke Jogja buat nengok Mama. Kasihan dari kemarin akunya sibuk terus, pingin banget ada quality time bareng Haikal. Mama juga udah kangen banget katanya."

"Udah ditungguin tuh." seolah tak menanggapi empunya cerita Nand malah terfokus pada seseorang di ujung lobi yang tengah nampak begitu resah.

Ia adalah Haikal yang tengah memegang segelas kopi di tangannya sambil menghadang jalan mereka dari arah berseberangan.

Nand pun akhirnya pamit dan berpisah dengan Kejora demi memberikan waktu khusus kepada Haikal untuk bersama dengan kekasihnya.

"Udah lama nunggunya?" sapa Kejora setelah ia sampai tepat di hadapan Haikal dengan setengah berlari.

"Udah hampir enam tahun Ra." batin Haikal tak terdengar.

Waktu yang sangat lama bukan jika harus dibuang dengan hanya menunggu gadis itu menatapnya dengan sukarela. Apalagi karena ia harus memandangi Kejora menatap lelaki lain yang bahkan tak pernah boleh untuk di

cemburuinya.

Namun bodohnya, demi menjaga eratnya persahabatan mereka berdelapan Haikala justru malah terpaksa bersandiwara bahwa ia baik-baik saja.

Setelah enam tahun sebelumnya ia harus berjuang demi mendapatkan hati Kejora. Kini enam tahun berikutnya harus ia habiskan menatap kebersamaan sang kekasih dengan sahabatnya sendiri.

"Kal, kamu nunggunya kelamaan ya? Maaf." lirih Kejora dengan perasaan bersalah kepada Haikal.

Apalagi setelah ia mengetahui bahwa  cappuccino yang berada di tangan Haikala sudah begitu dingin, entah ia telah mendiamkannya berapa lama.

"Lama banget ra, sampai aku lupa menghitung berapa jam yang sudah aku habiskan untuk menunggu kamu." batin Haikala perih.

Namun wajahnya masih terlihat datar dengan sedikit senyuman yang dipaksa.

"Hei, kok bengong? Aku beliin yang baru ya?" Haikala hanya menggeleng.

Ia melempar gelas kopinya yang masih penuh ke dalam tempat sampah, lalu meraih tangan Kejora menggandengnya keluar dari kantor.

Kejora hafal persis perasaan cemburu Haikala. Ia sudah terlalu akrab dengan perasaan itu hingga tak berdaya untuk mengabaikannya.

Namun bisa-bisanya Haikala selalu bersikap biasa saja dan seolah tak pernah ada masalah. Hingga terkadang, Kejora pun lupa untuk menanyakan apakah ia benar-benar baik atau justru sebaliknya.

"Besok weekend aku gak ambil job apa-apa lho. Nand juga sibuk sama Mentari, aku mau habisin weekend sama kamu, temani aku pulang ke Jogja nengok  mama ya?"

Kejora memulai percakapan canggungnya dengan Haikala setelah bokongnya berhasil mendarat di dalam mobil lengkap dengan seatbelt yang secara khusus dipasangkan Haikal untuknya.

Ini kali pertamanya Kejora mengajaknya pergi duluan. Biasanya ia akan selalu menyerah dengan rencana yang disusun oleh Haikala, namun selalu berakhir dengan mengecewakan si empunya rencana.

Perasaan bertanggung jawab Kejora akan pekerjaannya selalu membuatnya lupa bahwa masih ada sebuah hati yang harus ia jaga. Dan Cakra adalah yang paling nyinyir untuk mengingatkannya.

"Persahabatan anak-anak Dreamies itu terlalu sakral untuk hancur cuma karena keegoisan kalian berdua."

"Ingat kak, sebelum Dreamies ada, Haikala itu udah jadi bagian dari hidup lo. Dan sebelum hubungan lo sama Haikala terbina, Dreamies itu udah ada untuk kita semua mengobati luka. Jangan dihancurin cuma karena ambisi kalian yang mau menguasai dunia."

Jishan hanya bisa tutup telinga, karena ia paling benci mendengar perseteruan. Sudah cukup dua puluh dua tahun hidupnya ia habiskan dengan mendengarkan pertengkaran orang tuanya. Ia benci jika harus mendengar itu dari Cakra juga.

Ia benci perihal perceraian orang tuanya, ia benci bentakan yang keluar dari mulut ayahnya. Sama seperti ia yang selalu membenci nada sepuluh oktaf milik Cakra ketika pemuda itu tengah diliputi oleh emosi.

Ia hanya bisa memelas lewat tatap kepada sang gadis manis yang sebenarnya juga adalah cinta pertamanya. Perasaan yang tak pernah terucap. Entah sudah berapa tahun ia tahan hanya demi menjaga agar Cakra tak menjauh dari hidupnya.

"Udah ngomelnya, kasihan Jishan. Dia benci dengar kamu teriak."

Menjual nama Jishan dan berhasil membuat dirinya keluar dari keluh kesah Cakra yang mungkin takkan pernah ada ujungnya. Wajar bukan jika Jishan menyukainya.

Gadis sebaik, dan semanis Kejora terlalu sayang untuk disia-siakan bukan? Ia yang selalu mengisi senyum didalam kelompok, juga ia yang paling ahli dalam merawat luka.

Entah itu luka lahir maupun luka batin mereka, Kejora adalah yang pertama ada. Bahkan hal sesimpel rengekan Rendi yang sedang sakit kepala pun berubah menjadi hal besar jika ada Kejora yang mengurusnya.

Harus ada sentuhan tangan Kejora baru bisa menyelesaikan segala asa yang sempat tertunda. Namun Haikala bukan seorang malaikat yang ingin membagi Kejora dengan orang sekitarnya. Ia terlalu berharga untuk bisa didekati bersama.

Dan satu permintaan terbesar dalam hidupnya untuk Kejora adalah agar hanya dirinyalah yang bisa menemani gadis itu hingga akhir usianya.

"Gawat Shan." Haikala tak sengaja mencuri dengar percakapan Cakra yang sebenarnya terlalu heboh untuk bisa dijadikan rahasia.

Perjalanan ke Jogjakarta yang seharusnya dijalani berdua ternyata harus direcoki oleh dua anak bungsu yang telah diundang oleh sang Ibunda untuk bergabung dalam acara keluarga.

"Aku ikut, kalau Jishan juga." Kekeh Cakra yang memang selalu menolak pulang ketika ibunya memberi kabar apapun.

Ia tak bisa bernafas tanpa kehadiran Jishan. Dan tentunya Jishan sudah dianggap anak sendiri oleh Keluarga besar Kejora di Jogja, ya mau tak mau rahasia keluarga mereka pun akan terus melibatkan Jishan sebagai satu anggota yang tak terdaftar di dalam Kartu Keluarga.

"Kak Rara dijodohin papa sama anak temennya."

Deg! Jantung Haikala serasa berhenti. Ia kehilangan akal sehatnya bahkan untuk sekedar menemaninya bernafas.

Ia baru saja menginjakkan kakinya di halaman rumah Rara, bahkan si gadis empunya masih sibuk menjelajahi mimpi indahnya di dalam mobil yang telah ia setel alunan music klasik.

Bukan hanya perjalan berjam-jam ke Jogja yang melelahkannya. Hatinya dan telinga yang ingin ia tulikan turut andil dalam membuat lelah hidupnya.

"Kejora belum mengetahuinya bukan? Apa masih mungkin untuk membawanya pergi sejauh mungkin?" batin Haikal yang juga enggan untuk ia dengar.

Serentetan naluri melarikan diri berputar hebat di dalam kepala Haikal. Ia sendiri bahkan belum tahu bagaimana tanggapan kekasihnya.

Padahal lebih dari siapapun Haikal seharusnya begitu memahaminya. Bahwa Kejora bukanlah orang yang bisa di dikte oleh kedua orang tuanya, apalagi perihal perjodohan.

Hal yang membuatnya kalut dan tak bisa berbuat apa-apa adalah karena ia yang tak pernah punya kendali apapun dalam hidup kekasihnya. Bahkan untuk meminta perhatiannya saja ia tak pernah sanggup.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!