Atensi Penuh yang Terbagi

"Peluk," seru Cakra super manja.

"Kangen." Cakra menghabiskan nyaris seluruh tenaganya untuk memeluk seseorang yang baru saja menyita perhatiannya.

"Kamu pakai seragam Galaxy? Kok bisa?" Haikal nampak tengah mengantri untuk sekedar berbagi peluk.

Kejora Aadhila, seorang yang pernah menarik atensi Nand begitu banyak. Bahkan jauh lebih banyak dari Dreamies yang memenuhi harinya.

Sosok perempuan yang sempat ia temui selama beberapa jam semalam. Juga sosok yang menjanjikannya traktiran di kantin sekolah selama seminggu penuh. Ternyata tak lain dan tak bukan adalah sosok idola dalam hidup Cakra, sekaligus pasangan jarak jauh dari si biang kerok Haikal.

"Dia Kejora? Kita selama ini sering dengar tentang kamu lho." tak biasanya Juna ikut berkomentar, bahkan netranya seolah enggan berkedip ketika berhasil bertemu tatap dengan seorang yang baru saja menarik perhatiannya.

"Jadi Kejora yang aku kenal, adalah Kejora yang sama yang selalu aku dengar namanya hampir di setiap jam hidupku?" tanya Nand tiba-tiba.

"Masa? Kenal dimana?" Mahesa pun tak kalah penasaran. Semua atensi berpindah pada Nand yang terlihat lebih sumringah lebih dari biasanya.

"Aku Nand, yang nolong kamu semalam. Masih ingat kan?" gadis itu mengangguk, tepat setelah ia menyelesaikan pelukan singkatnya di bahu Haikal.

"Pacarnya aku kenal Nand dari mana?" kini giliran Haikal yang bertanya.

Sama seperti kucing yang tengah mengawasi ikan tangkapannya, ia menatap Nand dan Rara penuh selidik.

Selama belasan tahun saling mengenal, Kejora dalam ingatannya bukanlah sosok  gadis yang akan begitu gampang mengenal lelaki selain dirinya dan juga  Cakra.

Ia bahkan bersekolah di SMA khusus perempuan saat masih berada di Jogjakarta. Tidak ada teman spesial laki-laki, apalagi hanya sekedar  kenalan.

Bukan hal yang wajar bukan jika seorang gadis yang begitu misterius itu, tiba-tiba saja mengenal sosok baru yang seharusnya asing.

Mereka  bertemu dimana? Atau kenal dimana? Nand memangnya pernah ke Jogjakarta? Nand juga bukan tipikal yang gampang mengenal perempuan. Satu-satunya  perempuan yang pernah Nand bahas selain guru-guru di sekolahnya hanyalah  Mentari, serta mendiang ibunya.

Lantas kenapa mereka bisa terlihat begitu akrab?

Wajar  kan ketika kamu tertarik dengan Pinguin dan Unta yang pernah tak saling sapa. Apalagi karena habitat hidupnya yang berbeda.

Semua  menjadi kekalutan ketika mereka yang hidup di dunia yang jauh berbeda tiba-tiba berubah saling sapa dan saling menebar senyum.

Tidak  ada yang lebih peka dari perasaan-perasaan tersembunyi tersebut  ketimbang Mahesa sebagai yang tertua. Memahami keheningan Nand sendiri  saja sudah begitu sulit, apalagi ditambah dengan kehadiran Kejora yang  entah muncul dari mana.

"Lo gak akan mengacaukan acara nostalgia ini sekarang kan Kal? Gue tahu lo  lebih waras dari siapapun. Kita gak pernah lho lihat Cakra sebahagia ini  sebelumnya." Bisik Mahesa memperingati.

Entah  Haikal memang segampang itu untuk marah, atau keadaan kali ini memang  begitu berbeda. Apalagi ketika melihat sang pujaan hati yang saling  melempar senyuman yang begitu manis kepada sahabatnya.

"Gue wajib banget anter lo keliling sekolah, ayo Shan."

Cakra  menarik Jishan dan juga Kejora di masing-masing tangannya lalu bergerak dengan semangat empat lima untuk perjalanan tur sekolah.

Seolah tak peduli dengan keberadaan Haikala serta kecemburuannya, ia hanya mengerahkan semua perhatian kepada kakaknya.

Selain  Haikal, hanya Jishan yang pernah bertemu langsung dan bercengkerama  dengan Kejora diantara para anggota Dreamies. Bahkan sepatah kalimat  protes pun tak terlontar ketika Jishan dengan kurang ajarnya memeluk  Kejora untuk menggantikan Haikal. Termasuk Haikala sendiri.

Kerumunan bubar tepat setelah si trio Cakra, Jishan dan Kejora menghilang di  balik tembok utama Gedung sekolah. Disusul Jonathan yang selalu  menghabiskan tiga jam pelajaran pertama di ruang olahraga untuk berlatih Judo.

Nand? Mau apalagi dia selain berjalan ke ruangan guru untuk mengambil serangkaian buku pelajaran yang akan ia pelajari sebelum kelas dimulai.

Membuat ringkasan catatan kecil, lalu membaginya dengan teman sekelas dengan menulisnya di papan tulis. Hanya tersisa Mahesa dan Haikal sekarang. Rendi jangan ditanya, ia bahkan belum sempat menyapa Kejora karena lebih mementingkan Laboratorium Fisikanya yang kosong dan tak dihuni siapapun.

"Secemburu itu Kal? Gue gak pernah lihat mata lo setajam itu sebelumnya."

"Gue perjuangin dia dari orok bang. Dari masih zaman cinta monyet, sampai akhirnya gue milih buat ikut Cakra ke Jakarta biar bisa bantu dia jagain adeknya."

"Terus?"

"Rara gak pernah lihat gue sedalam dia menatap Nand tadi. Enggak sebelum akhirnya kita punya ikatan khusus. Sekarang pun dia ngomong sama gue hemat banget tau nggak." Ujar Haikal begitu bersungut-sungut.

Ia bahkan sampai tak menyadari bahwa seseorang yang ia bicarakan ternyata sudah kembali lebih awal untuk menemani rasa sepinya.

Mahesa memberi isyarat kepada kejora dengan dua jarinya. Ia seolah mengatakan bahwa Kejora harus mendekat secara perlahan. Posisinya yang kini tengah berdiri di samping Haikal pun perlahan mulai tergantikan dengan keberadaan Kejora yang ingin memberi kejutan.

Haikal sibuk  menunduk seolah tengah menghitung berapa jumlah ikatan pada tali sepatunya, sampai-sampai tak sadar bahwa keberadaan Mahesa tidak lagi menghantuinya dan sudah tergantikan dengan sosok sang pujaan hati yang ia damba.

Kejora memeluknya dari arah belakang dengan tiba-tiba. Hari ini kelas dimulai lebih siang, karena para guru ada agenda rapat bulanan yang cukup menyita waktu.

Sementara  para siswa lainnya tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing, sampai tak sempat untuk mengacuhkan keberadaan dua insan yang tengah dimabuk  cinta itu.

"Ngapain lo meluk gue, geli ah." Haikala dibuat resah lantaran sikap Mahesa yang menurutnya tak biasa.

Namun ketika ia perlahan menoleh, mulutnya seketika menganga selebar yang ia bisa. Ia begitu terkejut dengan keberadaan Kejora disisinya. Pantas pelukan itu terasa begitu hangat dan menenangkan. Mana mungkin pelukan Mahesa akan terasa sehangat itu, pikirnya lagi.

Hingga tubuhnya pun berbalik dan membalas pelukan itu tak kalah erat.

"Maaf tadi biasa aja, gak enak sama dua anak kecil tadi." Ujar Kejora manja di dalam pelukan Haikal.

"Tau ih, bikin kesal aja." Haikal berpura merajuk.

"Jadi ceritanya cemburu sama Nand?"

" Aku dengar dari Cakra, kalian sahabatan. Kamu jangan gitu lah sama teman sendiri." Niatnya membujuk, namun malah berakhir membuat lelaki itu semakin manyun.

"Siapa bilang?"

"Pacarku kan yang bilang tadi, aku dengar sendiri lho." Kejora menunjuk telinganya hingga membuat Haikala tersipu malu.

Bukan malu akan sikapnya, namun karena Kejora yang mengangkat tangan kiri dan bukannya kanan ketika menunjuk telinganya di depan Haikala. Ada sebuah gelang berwarna senada dengan milik Haikala terpasang disana.

Gelang yang bukan hanya dipesan khusus oleh Haikal, namun juga ia desain sendiri secara khusus demi sang pujaan hati.

Haikal bergerak ke arah tangga kecil yang berada di hadapannya, lalu menarik Kejora turun untuk ikut duduk bersama. Posisi mereka kini ada di bagian luar sekolah menghadap ke gerbang luar.

Tak banyak orang berlalu lalang disana pada jam sekolah, bahkan para satpam yang bertugas menjaga pun malah lebih sering berada di kantin Bu Asih, ketimbang menjaga pos dari anak-anak yang ingin kabur.

Perfect timing, waktu yang sangat tepat bukan untuk dua insan yang ingin memadu cinta. Namun Haikala adalah tipikal laki-laki yang begitu menjaga wanitanya. Ia tak akan melakukan sesuatu lebih dari sekedar pelukan  singkat dan juga hangat untuk Kejora.

"No Kiss, No more. Aku akan jaga kamu sampai aku miliki kamu seutuhnya."godanya kepada Kejora yang sudah mulai bersemu karena genggaman hangat dari Haikala.

"Buat aku yang berjuang untuk dapatin kamu, kehilangan kamu itu akan jauh lebih sulit dibanding harus kehilangan duniaku sendiri Ra. Karena untukku, kamulah duniaku."

"Ciyeee."Tanpa mereka sangka, kalimat yang keluar dengan begitu sempurna itu tak hanya di dengar oleh sang penerima. Tapi juga ada lima saksi mata lainnya, yang mendengar secara langsung janji itu diucap.

Secara tidak langsung, moment itu pun berubah menjadi bagian paling sakral dari setiap moment persahabatan mereka. Tentunya setelah bertambah satu anggota manis di dalamnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!