"Kamu lebih paham Kal dibanding siapapun. Bukan cuma Mentari, nyawa Nand juga akan dalam bahaya kalau aku menolak."
Nand baru saja terlelap jauh ke alam mimpinya ketika Kejora menyelinap keluar dari apartemennya di pagi hari menjelang subuh. Haikal mengiriminya pesan, hanya berupa gambar bahwa ia tengah berada di tepian gedung tempat keberadaan Rendi kemarin. Namun cukup untuk membuat Kejora mengkhawatirkannya.
"Jangan ancam aku Kal! Kamu tahu aku selalu bertindak lebih logis dari siapapun. Jangan coba-coba memancingku apalagi meragukan ku." Haikala hening tanpa suara.
Hanya ada suara semilir angin yang mengisi kekosongan diantara keduanya. Bonus suara air mata Haikal yang jatuh namun terlalu sunyi untuk bisa ditangkap oleh indra pendengar Kejora.
"Aku mencintaimu, apa aku salah?" teriaknya di tepian gedung dengan suara yang bergetar.
"Aku menginginkanmu apa aku salah?" teriaknya meninggi sekian oktaf dari nada suara yang biasa yang selalu terdengar lembut di telinga Rara.
"Tapi nyawa Mentari, nyawa adikku, dan mungkin juga nyawa Jishan taruhannya. Kamu tahu, kesalahan terbesar dalam hidup kita adalah karena perasaan cinta yang kita tanam di tempat yang salah Kal." tubuh Haikal jatuh menghempas ke tanah sekuat yang ia bisa.
Ia bahkan sudah kehilangan kendali atas lututnya sendiri. Bukan hanya hatinya yang kini rapuh, tubuhnya, jiwanya semuanya melemah. Untung saja ia jatuh ke arah yang tepat, karena jika tidak maka malam itu Haikala hanya akan berakhir dengan sebuah nama.
Penyebabnya adalah kamera mata-mata yang ia selipkan pada hadiah pernikahannya untuk Kejora. Sebuah kalung bermatakan intan yang diukir dengan inisial nama mereka di belakangnya. Ia memasang kamera tersembunyi di antara permata di kalung itu. Berharap akan menemukan sesuatu yang akan menjadi alasannya untuk mempertahankan Kejora, namun malah berakhir sebaliknya.
"Kamu bahkan tidur di ranjang yang sama dengannya Ra. Kamu memeluknya dalam tidurmu, kamu gak menolaknya sama sekali Kejora." rengek Haikal semakin menjadi.
Awalnya ia ingin bersikap biasa saja. Apalagi ketika kamera itu menyuarakan sesuatu pada alat pendengarnya.
"Kamu mandi dulu, biar aku yang beresin." itu adalah kalimat pertama Nand ketika mereka sampai di kediaman mereka.
Apa ia memang harus merasa lega, karena mereka melakukan kegiatan mereka secara terpisah. Karena jika itu adalah Haikala maka mereka akan menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk bisa bersama. Bahkan jika harus sedikit memaksanya.
Namun hatinya bergemuruh ketika Nand meminta Rara untuk memeluknya setelah ia mengatakan bahwa ia menginginkan gadis itu. Rara adalah gadisnya, Rara adalah miliknya, bukan milik Nand. Apa hak Nand memintanya.
"Dia bahkan menginginkanmu, dia juga mencintaimu, dan dia ingin memilikimu Ra. Ini lebih dari sekedar kematian untukku Ra."
Jika orang lain akan mempertanyakan asal informasinya, maka tidak dengan Rara. Ia cukup pintar dan juga peka untuk menyadari rencana Haikala. Ia menggenggam kalung itu dengan sangat keras, hingga bongkahan permata di tengahnya nyaris melukai tangannya sendiri.
Rara berusaha keras menahan air matanya yang begitu kurang ajar untuk menerobos keluar. Ia tak ingin lemah dihadapan Haikala. Ia hanya akan menjadi titik lemah Haikala, dan ia benci itu. Ia hanya berakhir dengan menyentak paksa kalung itu dari lehernya hingga terlepas.
"Ingat kamu adalah Ghanim Rafsan Haikala, putra pemilik GR Media. Kamu gak boleh lemah cuma karena perempuan!"
"Kamu gak berhak menghakimi perasaanku Ra. Menjadi seorang putra dari orang berkuasa tak menjadikan hatiku batu dan tak punya cinta." Ini adalah kali kedua ia membentak Rara dalam satu waktu yang sama.
Ia telah kehilangan dayanya. Ia tak ingin memelas apalagi merengek. Rara benar, ia adalah Tuan Muda Ghanim Rafsan Haikala. Ia tak boleh lemah. Tapi apa salah jika ia hanya menginginkan satu pelukan.
Hanya sebuah pelukan, serta usapan tulus di punggungnya sama seperti yang diberikan Rara untuk Rendi sebelumnya. Setidaknya, jika itu adalah kali terakhir ia hanya ingin menggali perasaan Kejora untuknya.
"Peluk aku Ra, meski untuk terakhir kali. Kumohon." Haikal merajuk seperti anak kecil. Kakinya menghentak pada tanah seakan itu adalah pelampiasan terakhirnya.
Ia seakan membuat Kejora tak lagi memiliki pilihan. Kelemahannya memanglah Haikala. Ketimbang Cakra, ia lebih lemah jika menyangkut Haikala. Meski tak pernah ada kata terucap dari bibirnya yang merah, tetap ada cinta sebesar semesta yang ia tanam untuk Haikala.
Meski tak pernah tertulis dalam sebuah surat, namun ada sebuah nama yang telah terpatri dan begitu kokoh dalam hatinya. Hanya Haikala, hanya satu nama yang tertulis disana dan tak pernah berubah setelah lima belas tahun terakhir perjalanan hidupnya.
"Aku pernah melihat Kak Rara bertarung dengan lima pria kekar sekaligus. Salah seorang dari mereka membawa pistol dan itu sangat berbahaya apalagi untuk seorang gadis yang bertarung dengan tangan kosong."
"Dua orang lainnya memegang belati yang sudah mengarah ke sisi leher serta pinggangnya. Tapi abang tahu apa? Kak Rara menang. Meskipun ada luka goresan peluru di bagian betis kirinya. Aku bahkan menangis ketika melihatnya menjahit luka itu sendiri."
"Kak Rara hebat hanya dengan menjadi dirinya Bang."
Setidaknya itulah yang pernah ia ketahui perihal Kejora dari Jishan. Seorang lain yang selalu Kejora anggap lebih dari keluarganya sendiri. Andaikan Jishan pernah memberitahunya, bahwa Rara menganggapnya adik bukan karena Cakra yang begitu lengket dengannya. Tapi karena ia yang begitu ingin melindungi Jishan. Mungkin karena ia pernah melihat anak itu berusaha melarikan diri dari maut beberapa kali.
Ia begitu ingin melindungi pemuda itu. Seseorang yang telah menjadi satu-satunya saksi mata bahwa ia adalah petarung yang hebat. Juga seseorang yang paling paham arti dari air matanya.
"Terakhir kali." air mata Rara akhirnya lolos keluar.
Dengan tatapan kosongnya yang sudah melalang buana, ia berjalan dengan lunglai ke arah Haikala yang masih merajuk di hadapannya. Ia meraih tubuh Haikal dan meraihnya begitu dekat. Sangat dekat, hingga membuatnya kembali mengingat pelukan itu. Sesuatu yang berusaha keras untuk ia lupakan sejak dua hari yang lalu.
"Baru dua hari Ra. Tapi rasanya sudah bertahun-tahun aku kehilangan pelukan ini." isakan Haikala mulai melemah.
BRUKKK!!!
Namun sayangnya pelukan itu malah bersambut dengan sebuah pukulan tak terduga dari arah tak yang juga tak bisa di duga.
"Aku baru tidur beberapa menit dan kamu malah keluar buat meluk laki-laki lain. Di saat statusmu sudah berubah menjadi istri seseorang Ra."
Bukan Nand, tapi Arjuna. Arjuna yang datang ke rooftop bermaksud mencari udara segar saat tubuhnya terasa begitu lelah. Namun netranya malah disuguhi pemandangan berupa perselingkuhan dari sahabatnya sendiri.
"Pulang Ra." sambung Nand dengan suara yang masih terdengar sangat lembut dari arah pintu keluar Rooftop.
Nand memang datang. Atau lebih tepatnya ia membuntuti Kejora yang keluar di tengah malam tanpa memberitahunya. Ia bahkan masih begitu diam dan memilih mendengarkan dari kejauhan semua percakapan mereka.
Setidaknya kesabarannya masih cukup untuk bertahan sampai Arjuna tiba-tiba datang dan melihatnya terpaku di ambang pintu.
"Suami kamu sekarang Nand, bukan Haikala. Dan lo Kal berhenti merengek seperti orang gila. Lo ikut gue sekarang! Gue harus buat perhitungan sama lo." bentak Arjuna kepada keduanya.
Arjuna menyeret Haikala keluar, layaknya tengah menarik sebuah karung besar. Ia benar-benar menyeretnya. Ia bahkan tak lagi memedulikan darah segar yang mulai mengalir dari sudut bibir Haikal karena bekas pukulannya tadi.
"Juna, aku bisa jelas..." kalimat Kejora menggantung seiring Nand yang menahan tangannya untuk menyusul.
"Aku gak harus bilang apa-apa kan untuk mengingatkan kamu kalau aku suami sah mu Ra?" Kejora terdiam.
Ia hanya bisa pasrah kali ini saat genggaman tangan Nand mulai mengeras dan menyakitinya. Ia hanya bisa menurut tanpa bisa meringis. Padahal sudah bisa dipastikan bahwa pergelangan tangannya akan mulai membiru setelah ini. Entah itu karena rasa bersalahnya kepada Nand atau memang karena ia setangguh itu, Nand tak lagi sempat untuk memikirkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments