Keputusan Sulit

Drttt...drttt ..

Ponsel diatas nakas bergetar kencang ketika Kejora memutuskan untuk masuk ke kamarnya lebih dulu.

Haikal Calling...

Ia memang tak pernah menambahkan embel-embel di nama Haikal pada kontaknya. Tidak dengan kata sayang, apalagi emoticon. Setidaknya itu takkan menjadi masalah jika suaminya melihat nanti.

"By," ia memanggil Nand yang masih duduk memaku ke layar ponselnya di ruang tamu.

"Kenapa Ra? Kamu butuh sesuatu?" ia masih belum menoleh, terlalu sibuk dengan permainan yang tengah dimainkannya dengan Cakra dari jarak jauh.

"Lagi mabar? Asyik banget kelihatannya, main sama siapa?"

"Cakra, adikmu. Lagi gak bisa tidur katanya. Dia habis memanggilku abang ipar, ceritanya membujuk biar ditemani main." Nand mulai mengalihkan atensinya penuh kepada Kejora.

"Kenapa?"

Nand menangkap nayanika kejora begitu dalam. Entah sejak kapan gadis itu sudah duduk disampingnya sambil melingkarkan tangan di pinggangnya. Rasanya agak aneh, karena ia tak pernah bersikap seperti ini dengan perempuan. Tapi juga membingungkan karena Kejora yang tiba-tiba merajuk tanpa alasan.

"Bantu aku angkat telfonnya." rengek Kejora sambil mengulurkan ponselnya dari bawah ketiak Nand. Ia berusaha memperlihatkan nama si penelfon, tapi juga takut jika suaminya itu akan salah paham.

"Angkat aja sayang." Kejora menggeleng.

"Yaudah loud speaker."

Nand mengangkat panggilan itu tanpa merasa terganggu. Ia ingin bersikap sebiasa mungkin di hadapan Kejora. Kejora tak boleh tahu bagaimana kacaunya perasaannya saat ini.

"Assalamualaikum Ra. Aku boleh bicara sesuatu?" Kejora hanya mengangguk seolah si penelfon bisa melihat wajahnya saat ini. Padahal itu hanya panggilan biasa, bukan panggilan video.

"Rendi demam, dia ngigau nama kamu seharian. Angel sama Juna udah kebingungan banget Ra. Mereka minta aku, kamu sama Nand buat bantu bujukin Rendi."

"Aku siap-siap kesana." Kejora menjawab setelah mendapat anggukan mantap dari suaminya.

Mereka terlalu saling percaya satu sama lain. Hingga sulit bagi Nand maupun kejora untuk mempertanyakan sesuatu perihal anak-anak Dreamies. Langkah pertama pasti bergerak, setelahnya jika ada masalah urusan belakangan.

****

"Lo yakin mau bantu bujukin Rendi?" tanya Juna sekali lagi setelah Kejora menutup panggilannya sepihak.

"Rendi nomor satu. Kita gak bisa biarin dia seperti ini kan? Masalah gue sama Nand masih bisa di kesampingkan, gue juga gak bisa benci Kejora karena ini." ujarnya mantap.

Mahesa dan Sandra sudah di sana semenjak setengah jam yang lalu. Sandra sendiri yang meyakinkan mereka bahwa Kejora pasti akan membantu. Mau bagaimanapun ia tetaplah orang pertama yang paling mengenal Kejora ketimbang yang lain. Bahkan dari Cakra dan Jishan sekalipun.

Ia begitu paham watak Kejora. Meskipun tak paham soal bagaimana Nand menyikapinya.

"Jishan gimana?"

"Kejora tidak akan pernah mengabaikan Jishan. Dia tetap akan menjadi adiknya sama seperti Cakra. Yang kita perlu hanya mendamaikan Jishan dengan keadaan." sambung Mahesa yang merupakan orang terdekat Jishan selain Kejora dan Cakra.

"Gue perlu telfon Cakra dan Jishan nggak?" Mahesa dan Sandra kompak menggeleng.

Ide Arjuna untuk mengundang Cakra dan Jishan hanya akan berbuah pertengkaran. Cakra tak ingin Kejora terlibat masalah, Jishan juga belum bisa melihat Kejora dengan seorang selain dirinya dan Haikal. Mungkin saat ini, fokus terhadap Rendi adalah yang paling utama.

"Rendi bangun." Kejora langsung menggenggam tangan Rendi setelah sebelumnya ia masuk tanpa permisi.

Ia sudah memberi tahu Nand sebelumnya. Nand juga tidak sekanak-kanakan Haikala jika menyangkut perihal cinta.

"Ra, jangan pergi Ra." lirih Rendi setengah sadar.

"Aku masih disini Ren, aku gak kemana-mana."

Mata Rendi perlahan terbuka. Nayanikanya yang telah basah, semakin menggenang begitu mendapati sang pujaan hati hadir di depan matanya.

"Aku rindu kamu Ra." Kejora memberi ruang kepada Rendi untuk memeluknya. Sambil sesekali ia menatap ke arah Nand yang masih menunggunya di balik pintu kamar Rendi.

"Lo gila?" Entah siapa yang memberitahu Cakra hingga ia datang dengan emosi yang super membara nyaris memukul Nand yang menahannya untuk masuk.

"Bang Rendi harus waras untuk bisa menerima kenyataan Bang. Bukan cuma dia, ada gue, dan parahnya Bang Haikal yang juga harus dipaksa ikhlas." kini Jishan yang memilih untuk bicara.

"Abang boleh gak sayang sama Kak Rara, tapi sekarang lo suaminya. Lo bakalan biarin istri lo dipeluk cowok lain. Stress lo!" ujar Cakra semakin nyolot.

"Dia akan selalu jadi kakakmu Kra, begitupun kamu Ji. Gak ada yang akan membatasi kalian untuk Kejora. Haikal dan Nand pun takkan keberatan jika itu kalian. Tapi Rendi punya porsi yang berbeda. Please kasih dia waktu untuk berdamai dengan perasaannya." Angelika yang semula diam, kini ikut menjegal Cakra untuk menelusup masuk.

Hatinya juga terluka bukan. Bahkan lebih dari Haikal ia tahu bahwa jalannya masih terbuka untuk Rendi. Namun Rendi tak pernah memberinya celah untuk masuk.

Akan lebih sakit mana, jika kita tahu bahwa pintu itu telah tertutup. Atau ketika kamu memiliki kunci tapi tak bisa untuk masuk meskipun pintu itu telah terbuka lebar.

"Kamu lebih bodoh karena membiarkan semua ini Ngel. Butuh berapa tahun sih cuma buat ngetuk pintu hati Rendi?"

"Aku yang lebih sakit Kra, kamu tahu persis itu. Delapan tahun lebih ku menunggu, bahkan setelah semuanya di depan mata. Aku harus mengikhlaskan gadis lain menghapus air matanya. Kamu kira aku kuat?" Angelika sudah lelah menangis sejak kedatangan Kejora tadi. Ia juga telah lelah merasakan sakit sejak bertemu Rendi delapan tahun yang lalu.

Tapi hatinya begitu tahu, kalau ia akan jauh lebih sakit kalau Rendi tak pernah bangun lagi setelah hari ini.

"Ada apa sih sebenarnya Sand?"

Nand membawa Cakra, Jishan serta Sandra ke ruang tengah untuk berbicara dengan lebih tenang. Hanya tersisa Haikal yang masih menatap sendu kearah Kejora saat ini. Mahesa serta Juna memilih untuk mengawasi Rendi dari dekat. Setidaknya untuk berjaga jikalau Rendi melakukan sesuatu hal diluar batasnya.

"Batinnya menolak telah kehilangan Rara untuk selamanya. Bagi Rendi, Kejora sejak awal memanglah perasaannya yang salah. Tapi ia merasa lebih baik jika harus mengikhlaskannya dengan Haikal sejak awal. Dengan kehadiran kamu sebagai suami Rara cuma membuatnya berfikir bahwa ia telah kehilangan langkahnya sejak awal."

"Hatinya menolak untuk kalah. Ia masih berfikir jika memang kamu memiliki kesempatan itu, maka kesempatannya mungkin akan lebih besar."

Nand, Jishan serta Cakra hanya bisa mendengarkan tanpa bisa berasumsi apapun lagi. Bahkan Jishan yang masih kekanak-kanakan pun masih cukup sadar untuk bisa merelakan Kejora hanya menjadi sebatas kakaknya saja.

"Aku lihat dia minum-minum kemarin. Aku kira dia mabuk sampai pingsan, karena itu aku telfon Juna untuk jemput dia ke atas."

"Dia mabuk di rooftop Ngel?" gadis itu mengangguk.

"Kalau aku lihat dari sudut pandang medis, aku bisa bilang kita beruntung Rendi gak lompat Nand. Karena itu waktu Juna dan Angelika punya ide untuk bicara sama kamu, Kejora dan Haikal, aku kira memang ini cara terbaik untuk saat ini." Sandra menengok ke arah Haikal yang masih menatap Kejora diambang pintu nyaris tak berkedip.

"Aku sebenarnya gak yakin kalau Haikal sebaik yang kita lihat. Karena justru menerima seperti Haikal itu jauh lebih menyakitkan dibanding harus melampiaskannya seperti Rendi dan Jishan. Sebagai dokter, ku butuh mereka bertiga untuk berdamai Nand."

Sandra menatap Nand dengan sungguh-sungguh. Begitupun Arjuna dan Mahesa yang diam-diam memperhatikan dari dalam ruangan.

Semua bergantung pada kebijakan Nand sebagai suami sah Kejora. Namun Nand juga tak memiliki solusi apapun saat ini. Karena lebih dari mereka semua, Nand sendiri juga belum tahu persis posisinya sekarang berada dimana dalam hidup Kejora.

Sedangkan di dalam kamar pribadi Rendi, istri sahnya itu masih membiarkan Rendi mendekapnya begitu erat seolah tak mengizinkannya untuk bisa bernafas.

"Aku harus apa Ra." lirih Nand tanpa suara.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!