Emosi Nand

"By, sakit." Kejora meringis. Ia berusaha melepaskan genggaman Nand, namun itu terlalu kuat untuk bisa ditanganinya. Ia baru berhasil menyentaknya setelah mereka sampai di apartment.

Meskipun genggamannya begitu kasar dan juga menyakitkan, namun ia berusaha keras untuk menahannya hingga mereka sampai. Setidaknya tidak boleh ada yang tahu tentang ini, ia juga harus melindungi harga diri suaminya. Ia tak ingin orang lain melihat sisi keras Nand. Karena baginya Nand masih adalah suami terbaik hingga saat ini.

"Apa perlu aku kasih lihat kamu buku nikah kita sekali lagi Ra?" Nand terlihat geram, namun ia masih menahan nada suaranya agar tidak meninggi di hadapan Kejora.

"Aku cuma mau bantu Haikala, sama seperti aku bantu Rendi tadi." matanya memelas, seolah menunjukkan kejujuran yang tak pernah Nand lihat darinya.

"Kamu pergi diam-diam disaat aku tidur Ra." ujar Nand geram. Ia tahu, ia tak boleh seperti ini, apalagi disaat semua orang tengah berjuang untuk bisa berdamai dengan keadaan.

Namun dengan menjadi suami sah Kejora, ia merasa begitu serakah. Tekadnya untuk mempertahankan Kejora naik berkali lipat lebih besar dari sebelumnya.

"Kamu gak izin aku sebagai suamimu, dan parahnya lagi dia itu mantanmu Ra. Apa aku gak boleh cemburu?"

Kejora kehilangan pembelaannya. Ia tak bisa menjawab apapun.

Atau lebih tepatnya ia tak memiliki alasan apapun. Kalung yang diberikan Haikala untuknya sebelumnya, telah ia lempar begitu keluar dari gedung apartment Rendi.

Ia tak ingin siapapun menjadi saksi pertengkarannya dengan Nand, apalagi jika itu adalah Haikala.

"By, " Kejora hanya bisa memelas.

"Haikala nelfon aku di pinggir gedung, aku kira..."

"KIRA APA?" Nand membentak Rara.

"Kira kalau kamu masih pacaran sama dia? Kira kalau kamu masih milik dia? Iya Ra?"

"Jawab!!" Pandangan mata Nand telah berubah tak lagi seteduh biasanya. Ia nampak seperti singa yang ingin menyerang mangsanya, dan itu cukup untuk membuat Kejora takut.

"Kamu istri aku Ra." ujar Nand dengan penekanan penuh.

"Maaf By." Kejora terisak.

Ia bahkan mulai meringis ketika Nand sekali lagi menarik tangannya dengan sangat kasar. Nand menariknya masuk ke dalam kamar mereka lalu melemparnya ke atas tempat tidur.

Pikiran Nand kini sudah begitu kalut. Ia telah gelap mata, bahkan apapun jawaban Kejora takkan pernah bisa meredakan amarahnya apalagi sekedar membujuk.

"Apa perlu aku kasih bukti ke kamu kalau kamu itu istriku? Apa perlu aku bikin semua jejak kepemilikan ku di tubuhmu agar kamu ingat kamu punya suami? Kalau perlu akan akan menunjukkan kepada seisi dunia bahwa kamu hanya milikku Ra. Hanya milikku!"

"Apa perlu aku lakukan itu Ra? Jawab!!"

Kejora semakin terisak ketika Nand bergerak naik ke atas tubuhnya dengan nafas yang begitu memburu. Ia langsung me*umat bibir Kejora dengan sangat kasar, seolah tak ingin memberinya ampun.

"Nand sadar, kamu dibutakan emosi. Kumohon." Kejora berusaha keras melepaskan pagutannya, pada bibir Nand. Namun tak berhasil. Karena laki-laki itu akan terus memaksanya lagi-lagi, tanpa memberikannya kesempatan untuk bernafas.

Matanya sudah begitu memerah, tubuhnya bergetar menahan emosi. Bahkan semua tindakannya kini jauh dari kata lembut untuk bisa menghadapi seorang wanita.

"Apa kamu bilang? Kamu gak mau aku sentuh selama kamu masih ingat Haikala." Kejora gemetar ketakutan.

"Kamu gak mau aku sentuh selama ada Haikala di pikiran kamu, iya?" Kejora menggeleng kuat, ia tak bisa lagi menahan tenaga Nand yang berusaha menggagahinya. Ia begitu takut jika Nand lepas kendali dan melukainya. Tapi terlepas dari itu, Nand hanya menuntut haknya sendiri dan itu diluar kendali Kejora.

"Nand, kamu nyakitin aku." isakan Kejora makin menjadi.

"Coba aku tanya gimana cara kamu bisa lupain Haikala kalau kamu masih suka nemuin dia diam-diam di belakangku Ra? Gimana bisa?"

Nafas Nand memburu semakin cepat. Perlahan tapi pasti ia menahan kedua tangan Kejora diatas kepalanya. Tubuhnya sudah sepenuhnya menindih Kejora. Sementara sebelah tangannya lagi bergerilya untuk melepas satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Rara, selagi bi*irnya masih sibuk bergerilya berusaha menyelesaikan tugas.

"Jangan lakuin ini karena emosi Nand. Kumohon, mmph..." Kejora kesulitan berbicara karena Nand yang masih berusaha keras pada pagutan b*bir mereka.

Nand kini sudah begitu buta. Ia telah dibutakan oleh emosi serta nafsunya sendiri. Semakin Rara berbicara, semakin ia melumat bibir Rara dengan begitu kasarnya.

"Kenapa kamu gak mau layani aku Ra? Padahal aku suamimu? Apa kamu lebih senang jika Haikala yang melakukannya?" Nand berhenti sejenak untuk melihat Rara.

Plak!!!

Kejora menamparnya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk memukul Nand dan mendorongnya mundur.

Kemejanya sudah terbang entah kemana, kondisinya kacau. Tangannya sudah membiru karena perlakuan kasar Nand kepadanya. Hanya ada sisa kaus singlet dan juga braa yang masih ia pertahankan di hadapan Nand yang tengah menggila.

"Nand, sadar!" kali ini ia yang membentak.

Nand terdiam mendengar bentakan Rara. Masih ada sisa tangis yang ia tahan diantaranya. Sesuatu hal yang entah kapan sudah menjadi kelemahannya. Membuatnya terlalu takut untuk bisa melangkah lebih jauh.

Nand memukul dirinya mundur. Ia turun dari sisi tempat tidur dan bersandar ke arah nakas dengan posisi kepala yang ia benturkan ke sisi meja berkali-kali.

"Nand, sadar." kali ini Kejora mengatakannya dengan yang lebih lembut, diiringi oleh isakannya sesekali.

Kejora mendekat ke arah Nand, ia ikut turun ke sisi tempat tidur, lalu duduk tepat di hadapan Nand.

Ia menahan kepala Nand dengan tangannya sendiri. Ia berusaha menjadi pembatas antara kepala Nand dan juga nakas. Ia tak peduli dengan rasa sakit ditangannya. Apalagi Karena Nand melakukannya dengan cukup keras.

Namun Ia juga sadar. Bahwa lebih dari luka di tangannya, Nand jauh lebih terluka. bahkan sekalipun ia berusaha untuk menahan Nand untuk menambah lukanya, luka di hatinya jauh lebih nyata.

"Apa aku harus memohon untuk memilikimu Ra. Aku suamimu Ra. Aku suami sahmu." isak Nand tertahan.

Matanya masih semerah sebelumnya. Nafasnya masih tak beraturan. Ia masih menahannya, namun emosi itu terus meliputi dirinya tanpa permisi. Ia takut jika kekalutannya akan lebih menyakiti Rara, dan membuatnya trauma. Ia berusaha sangat keras untuk bisa menahan hasrat di dalam dirinya kepada Rara saat ini.

"Aku minta maaf by, aku salah." Kejora menarik Nand lebih dekat, lalu mendekapnya dengan begitu hangat.

Perlahan demi perlahan isakan Nand terdengar semakin keras. Tubuhnya terguncang, seiring tangisnya yang semakin kencang. Namun tubuhnya tak bisa menolak pelukan Kejora. Ia bahkan merasakan aman berada disana.

Semakin lama, ia merasa semakin nyaman. Tangannya pun terulur ke pinggang Rara dan mempererat pelukan mereka.

"Aku nyakitin kamu Ra." bisik Nand di telinga Rara.

Ia lalu melepaskan pelukannya dan mendongak menatap Kejora. Ia menatap Kejora dengan tatapan yang begitu sendu, jauh berbeda dari sebelumnya. Sekilas, ia mengalihkan atensinya ke pergelangan tangan Kejora yang membiru. Ia tahu itu adalah ulahnya.

"Aku bukan suami yang baik untuk kamu Ra." lirihnya dipenuhi perasaan bersalah.

"Aku gak bisa melindungi kamu, Ra. Aku cuma bisa menyakiti kamu." lagi-lagi Nand menyiksa dirinya dengan membenturkan kepalanya ke arah nakas. Namun seperti sebelumnya, Kejora kembali menahannya dengan tangannya.

"Nand cukup." bentak Kejora lagi.

"Maafin aku by, maaf. Jangan sakiti dirimu lagi By, kumohon." Kejora memeluknya kembali.

"Aku sayang kamu Ra. Aku sayang kamu." ucap Nand berulang kali seolah mengucapkan mantra.

Nand melakukan itu di pelukan Kejora cukup lama. Mengadu kepada seseorang yang telah memberikannya alasan untuk bisa bernafas, ia begitu nyaman berada disana hingga tak terasa setengah jam telah berlalu.

Kejora bahkan masih belum mengenakan bajunya kembali usai melawan emosi Nand. Ia masih dalam keadaan setengah telanjang. Tubuhnya saat ini hanya tertutup singlet serta bra yang masih terkait. Sedangkan bagian bawahnya sudah polos, entah kapan Nand berhasil menanggalkannya.

"Nand, lihat aku. Nand!" Kejora mengangkat kepala Nand agar bisa menatapnya.

Nafas Nand sudah mulai stabil. Matanya tak semerah tadi. Tatapannya bahkan sudah kembali seperti semula, begitu teduh sama seperti tatapan yang Kejora suka.

"Aku... milik kamu... Nand." eja Kejora terbata-bata.

"Ra.." Nand menatap Kejora dengan perasaan bingung.

Kejora mengecup bibir Nand sekilas. Lalu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Sama seperti alasannya terhadap Haikala, ia tak bisa menolak Nand. Pernikahan ini akan menyelamatkan banyak orang. Lagi pula ia juga tetap akan mempertahankan pernikahannya sampai akhir terlepas dari apa perasaannya untuk Haikala, begitu juga sebaliknya.

Nand seperti memberinya waktu untuk berfikir. Keheningan Nand selama setengah jam terakhir telah cukup untuk membuatnya berfikir secara jernih. Ia akan membawa Nand semakin masuk ke dalam hidupnya dan itulah pilihan terbaik yang ia miliki.

"Aku menginginkanmu Nand. Tapi tolong perlakukan aku dengan lembut." bisik Kejora lirih di telinga Nand.

Ia pun membimbing tubuh Nand untuk kembali naik ke tempat tidur mereka. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan menuntun Nand untuk menindihnya.

"Aku takut melihatmu tadi By, lakukan seperti saat kamu menyatakan cintamu kepadaku By. Lakukanlah dengan cinta, lalu setelah itu aku akan menjadi milikmu seutuhnya. Aku takkan menyia-nyiakan mu lagi By." bisik Kejora di telinga Nand, hingga memicu nafsu pria itu kembali bangkit.

Nand mulai terbuai. Suara lirih dan dalam yang Kejora bisikkan di telinganya telah membuainya. Ia bahkan tak lagi peduli, entah benar bahwa alasan Kejora menolaknya adalah karena ia begitu kasar sebelumnya. Atau justru ada pikiran lain yang menghantuinya. Yang jelas, gadis itu adalah benar-benar miliknya saat ini. Tak ada yang bisa memungkiri itu.

Kenapa gadis itu berubah pikiran dengan begitu cepat? Nand tak lagi peduli. Yang ia tahu hanya ia sudah dikuasai oleh nafsu yang tak lagi bisa ia bendung. Ia adalah laki-laki normal, dengan atau tanpa godaan dari Rara ia pasti sudah akan terpancing hanya dengan tinggal seatap dengan gadis yang begitu ia cintai.

Nand pun mulai menuntun Kejora untuk menjadi miliknya seutuhnya. Mereka benar-benar bersatu dengan perasaan yang penuh cinta. Nand memperlakukannya dengan sangat lembut, bahkan bagi Kejora, ia tak lagi menunjukkan penolakannya. yang ada hanya buaian demi buaian yang perlahan mengikis jarak diantara mereka.

"Aku mencintaimu Ra." bisik Nand di akhir permainan mereka.

Kejora hanya mengangguk pasrah. Namun semakin masuk dalam pelukan Nand, seolah tak pernah ingin melepasnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!