Arti Haikala

"Kita kemana By?"

Nand menepikan mobilnya di tepian sebuah danau yang begitu tenang tanpa riak. Meskipun berada di tengah kota seperti ini, jika kamu datang menjelang pagi seperti ini pasti tidak akan banyak orang yang datang bukan? Sekarang sudah menunjukkan setidaknya pukul 02.00 pagi. Dengan udara yang begitu dingin menusuk tulang, padahal kamu tahu persis seberapa panasnya Jakarta jika di siang hari.

"Aku gak bisa ajak kamu ke Rooftop, bukan karena itu adalah tempat favoritmu bersama Rendi. Tapi aku hanya begitu takut, dengan perkataan Dokter Sandra tadi." Rara tergelak.

"Aku gak akan lompat by."

"Kita gak pernah tahu sama hati yang sedang meronta Ra. Bisa aja kamu mengarah kesana disaat kamu gak bisa menyadari keberadaan mu sendiri. Aku janji sama Cakra akan jaga kamu."

"Aku gak akan lompat, karena ada kamu bersamaku By." Nand bungkam.

"Selama ada kamu disini, aku gak akan pernah melakukan apapun yang akan menyakitiku By."

Nand meraih Kejora ke dalam pelukannya. Malam ini adalah malam bulan purnama, berteman kan langit yang begitu cerah dan ditaburi ribuan bintang. Nand menemukan kedamaiannya sendiri.

Apakah hati gadis itu benar-benar terbuka untuknya? Ia hanya bisa menggali pikirannya sendiri, ia tak memiliki kekuatan untuk menanyakannya kepada Rara.

"Tadi siang Jishan temui aku." Nand melonggarkan sedikit pelukannya. Mencoba untuk menatap Rara dari arah yang cukup dekat. Sangat dekat, hingga deru nafas mereka pun saling bersautan di tengah malam yang begitu hening, dingin, seolah dunia ini hanya menampung mereka berdua saja di dalamnya.

"Jishan nanya sama aku, andaikan Haikala gak datang hari itu apa mungkin aku bakalan nerima dia sama seperti harapan Cakra. Dia nanya sama aku, apa mungkin jika haikala gak datang hari itu hubungan kami bisa lebih dekat dan sekarang aku akan menikah dengan dia."

"Kamu jawab apa?"

Nand hanya bisa menerka. Berusaha menggali kejujuran di balik tatapan Rara yang kosong ke arahnya. Jauh dari lubuk hatinya ia mengharapkan jawaban yang lain. Sebuah jawaban yang mungkin akan memuaskan hatinya. Tapi mungkin akan menyakiti anak-anak Dreamies jika mengetahuinya.

"Aku gak tahu. Tapi untukku selamanya Jishan akan aku anggap sebagai adikku sendiri. Kamu tahu seberapa penting kehadirannya untuk Cakra, seberapa penting hadirnya dalam keluarga kami selama ini. Bahkan Mama pun memperlakukannya tak berbeda dari Cakra."

"Apa aku bisa menikahi seorang yang sudah aku anggap adikku sendiri?"

"Kamu hebat Ra. Ada diantara kami semua itu gak mudah." Nand kembali menarik Kejora ke dalam pelukannya.

Menatap dalam ke balik matanya yang bersedih hanya akan membuat luka di hati Nand semakin tergali. Ia tak ingin mengetahuinya lebih jauh.

Andaikan ia bisa memilih, ia akan kembali ke malam dimana ia mengantar Kejora enam tahun lalu. Ia akan membawa kabur gadis itu, tanpa pernah tahu bahwa ia adalah bagian dari Haikala, sahabat sejiwanya.

Haikala telah merubah segalanya untuknya. Ia turut andil dalam memberikan seisi dunia ini untuk Mentari. Mentari tidak pernah kesepian sama seperti dirinya, dan itu karena Haikala. Jika Haikala tidak membawa dreamies masuk ke dalam hidupnya. Maka semua ceritanya akan berbeda bahkan untuk Mentari adiknya.

Ia takkan pernah bertemu Jishan yang selalu mendongenginya sebelum tidur. Ia takkan pernah pergi ke wahana bermain jika bukan Arjuna yang menggendongnya. Ia juga takkan pernah memiliki teman, jika bukan Haikala yang merayakan pesta ulang tahunnya dengan meriah.

Bahkan Bang Mahesa juga berperan tak kalah penting. Ia yang mempertemukan Mentari dengan rumah rehabilitasi sekaligus memperkenalkannya kepada Rara. Ada Rendi yang selalu mengajarinya seolah ia adalah guru privatnya Mentari. Cakra juga telah memberikan berbagai macam mainan yang tak pernah bisa Nand belikan untuknya selama ini.

Ia mendapatkan semua itu karena Haikala, begitu juga istrinya.

Ia mengenal Rara karena malam itu Haikala meminta bantuannya untuk menghubungi Cakra. Ia menemukan Rara ketika Haikala memintanya keluar untuk mencari Cakra. Ia bahkan sampai keluar dari balapan liarnya.

Meski sesungguhnya itu hanya cara Haikala untuk menghentikannya. Malam itu akan ada razia besar-besaran bagi pembalap liar, Haikala lebih dulu menerima informasi itu dan berusaha menyelamatkannya.

Tapi jika bukan karena mulut Rendi yang ember, mungkin sampai saat ini Nand takkan pernah tahu fakta itu.

Haikal tak pernah menyombongkan kebaikannya, tapi masih ia yang paling bersinar diantara teman-temannya. Nand tak pernah tahu jika takdirnya dan Haikal akan semiris ini. Jujur ia begitu takut, bagaimana jika suatu saat Haikal juga akan menyuarakan ketakutannya.

Bahwa istri yang begitu ia cinta, adalah seseorang yang telah ia renggut dari sosok malaikat tanpa sayap yang selama ini melindunginya.

******

"Hai gue Haikal," dandanannya saat itu terlihat cukup culun untuk bisa menjadi seorang pentolan sekolah.

Kening Nand mengkerut, ia lebih memilih untuk menggaruk pelipisnya sendiri ketimbang menyambut uluran tangan yang terlihat begitu tulus tepat di hadapannya.

"Gak mau di jabat nih tangan gue." Haikal kembali menarik tangannya ketika ketulusan itu tak lagi bersambut.

"Gue tahu kita gak saling kenal, tapi gue mau jadi teman lo."

"Gue tahu lo kok." baru saja Haikal hendak mendaratkan bokongnya tepat di sisi kosong di samping tubuh Nand.

"Serius?" matanya seketika berbinar.

"Siapa juga yang gak tahu sama cowok super cerewet seantero sekolah. Ghaanim Rafsan Haikala."

"Gabung yuk, bareng Dreamies." Haikal mengulurkan tangannya sekali lagi.

"Biar klub kalian tambah eksis? Udah ada bintang basket, si jago fisika, Atlit Judo nasional, Ketos, terus lo. Si pentolan sekolah, Ikonnya SMA Galaxy. Gue dengar si bontot kalian, Jishan juga menang kejuaraan catur tingkat SMA. Cihhh" Nand berdecih.

"Masih butuh siswa juara umum juga." ujarnya terdengar menyombong.

"Dreamies itu isinya anak-anak yang penuh luka." Nand menatap ke arah Haikal yang terdengar lebih serius dari biasanya.

"Kami berkumpul untuk saling mengobati luka satu sama lain. Gue tahu kalau kemarin lo dikeroyok dan Juna yang tolongin lo bareng Bang Mahe. Cakra juga bantu katanya buat nelpon polisi."

"Terus?"

"Awalnya gue sepakat sama Rendi buat lapor ke komite sekolah. BIar lo dimasukin BP biar sadar."

"Kenapa gak lapor?" tantang Nand seolah tak peduli.

"Karena kita selalu cari tahu sesuatu sebelum bertindak." Nand menatap Nayanika Haikala lebih dalam. Seolah rasa penasaran itu memang nyata menghantuinya lebih dari yang ia inginkan.

"Kita bakal bantu lo soal Mentari. Namanya Mentari kan? Kemarin Jishan nyamperin adek lo ke rumah sakit, dia senang banget pas tahu kakaknya punya teman."

"Jangan main-main sama Mentari!" Nand mencengkeram erat kerah Haikal. Ia tak pernah ingin dunia tahu tentang betapa malang hidupnya. Tapi pemuda sok akrab yang berada di hadapannya ini telah menggali lebih jauh dari yang ia bisa.

"Kita cuma mau bantu. Kurang lebih kita semua sama kayak lo. Kita semua adalah orang-orang yang berusaha kabur dari kenyataan. Kita cuma mau saling bantu dan berusaha merubah dunia ini menjadi lebih baik untuk sekedar luka."

Satu hal yang tak Nand ketahui saat itu. Bahwa ia telah menggali jalan menuju nerakanya sendiri ketika ia menerima jabatan tangan Haikala.

Berbagi luka tak selamanya baik. Karena selain bisa saling menyembuhkan, kamu juga bisa saling menyakiti karena pilihan itu.

"Gue kangen lo yang dulu Kal." lirih Nand dalam pelukan hangat Rara yang semakin membuatnya terbuai.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!