Seorang Haga

Seorang Haga duduk santai di dalam limusin mewah miliknya. Ia memandangi air hujan yang mengguyur Seoul hari ini, jalanan nampak sepi.

"Maaf tuan, anda ingin langsung pergi ke kantor atau singgah terlebih dahulu?" tanya Wendy sopan, sang supir yang berada disisinya pun ikut terdiam menunggu perintah dari sang tuan.

Haga meminum red wine nya "Mampir ke tempat biasa" ujarnya.

Wendy menyeritkan dahi berfikir terlebih dahulu "Apartemen nomor mana lebih tepatnya?" tanyanya.

"263G setelah itu 307F" singkat Haga diangguki Wendy, kemudian limusin itu pun berputar balik ke tujuan yang diinginkan Haga.

"Oh?" seru seorang wanita terkejut melihat pria idaman semua wanita kalangannya berada dihadapannya.

Dan lihatlah seolah mendukung situasi yang akan dilakukan Haga, wanita 263G ini memakai pakaian yang sangat tipis. Sudah dipastikan bahwa Haga langsung mencium dan menerjang wanita itu dengan kasar seolah dunia besok akan kiamat.

Wanita berambut sebahu itu dengan senang hati menerima semuanya sepertinya tugasnya menuntaskan hal hal yang diinginkan Haga dimulai dari sekarang. Bahkan mereka tak peduli dengan pintu yang masih terbuka, dan Wendy maupun supir tadi masih berada di sana. Namun Wendy yang sudah mengerti hanya bisa menunduk dan membantu kedua pasangan yang tengah beradu hasrat itu dengan menutup pintu apartemen 263G dengan pelan. Wendy serta sang supir itu hanya bisa menunggu didepan pintu dengan suara -suara yang membuat siapapun berkeringat panas dingin.

Walaupun sepertinya sudah dilengkapi dengan ruangan kedap suara entah kenapa didekat pintu ini wendy maupun sang supir itu masih bisa mendengar nya. Sepertinya Haga akan menggempur wanita itu didepan pintu tanpa berhenti.

Setelah meninggalkan cek ratusan dollar diatas tubuh wanita yang telah digempurnya selama 1jam itu Haga membuka pintu lalu wendy memberikan sebuah paper bag berisi baju ganti untuk Haga. Tanpa rasa malu, Haga membawa paper bag nya dan mengganti pakaian tepat didepan pintu. Wendy yang menolehkan kepalanya itu hanya bisa menghela nafas biasa saja dengan pemandangan itu.

"Kenapa melihatku seperti itu?"

"Tidak tuan, saya minta maaf atas kesalahan mata saya" wendy menunduk takut.

Haga berdecak sembari merapikan celananya "Bukan kau tapi dia" Haga menunjuk sang supir yang membawanya kemari.

Sang supir tersebut membungkuk -bungkuk bahkan bersujud "Maafkan saya, saya tidak akan mengulanginya lagi."

"Baiklah, karena aku sedang senang sekarang ini tidak akan ada yang mati" ujar Haga melemparkan paper bag berisi baju kotor nya sehabis pertempuran tadi.

Sang supir kembali meminta maaf namun tubuhnya menegang kembali saat Haga tertawa sinis dan berkata "Setidaknya untuk hari ini saja."

Wendy sedikit terkejut, melihat sang supir yang baru saja ia pekerjakan itu Wendy menjadi kasihan. Alhasil dia berusaha membujuk Haga walaupun hanya 2.99% peluang berhasil dari 80% saja.

"Tuan, maafkan atas kesalahannya, dia barusaja bekerja hari ini. Saya akan mendisiplinkan dia seperti yang lainnya, menjadi salah satu kriteria yang diinginkan tuan" ujar wendy mengekori Haga yang tengah berjalan ke gedung lain. Tentu saja mencari si 307F, santapan lainnya.

"Kau mencoba membelanya?" wendy langsung saja menggeleng "Lalu kau ingin menggantikannya? Jika dia mati ditangan ku?"

Wendy menjadi kikuk sendiri "T—entu saja tidak tuan, maafkan saya."

"Maaf mu tidak berguna, lebih baik pergunakan waktumu untuk melakukan hal menguntungkan lainnya" balas Haga tak suka kemudian pria itu memijit tombol bel pada pintu apartemen didepannya.

...----------------...

"Are you happy now?" tanya Haga dibalas ciuman hangat dari wanita cantik dengan tubuh sexy berkulit sawo matang dengan rambutnya yang menjuntai dibawah pantat.

"Are you crazy? TENTU SAJA AKU BAHAGIA" pekikan itu kembali didengar Haga untuk ke dua kalinya. Percayalah ini kali terakhir Haga mendatangi dan menerkam wanita 307F ini, setidaknya itu keputusannya untuk saat ini.

Wanita didepannya ini bergerak agresif dan tanpa rasa malu mulai membuka celana Haga dan pakaian atasnya juga. Haga pun tergerak mendorong badan wanita berkulit sawo matang ini lebih ke dalam apartemen yang berantakan, jauh sekali dari kata rapi.

Haga melepaskan tangan nakal itu pada tubuhnya, kemudian diseretnya wanita Asian ini ke dalam kamar entah kamar siapa. Haga memilihnya secara random, lagipula sangat tidak bagus jika dirinya bertempur ditempat yang berantakan seperti di ruang tamu tadi.

Lagi. Haga melakukan hal yang sama tanpa sepengetahuan Ayana.

Dua jam setelahnya, Haga baru keluar dari 307F dan sekarang sudah tepat jam 9 pagi itu berarti rapat yang dijadwalkan sudah seharusnya dimulai. Wendy kembali memberikan paper bag berisi pakaian setelan kantor meskipun belum dipastikan tuannya itu akan pergi ke kantor setelah ini. Maka dari itu wendy sejak dahulu selalu membawa setidaknya lima atau enam paper bag didalam bagasi mobil, dia pun hanya bisa menghela nafas ketika sejak 15 menit yang lalu iPhone wendy terus menerus berdering, siapa lagi yang menelponnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!