Tidak berjalan mulus

Ayana yang berusaha menulikan telinganya dengan berdiri memainkan heels nya. Ia tersadar saat tiga mobil mewah terparkir didepannya. Ia melihat ke arah mobil paling depan dan Aditya keluar dari sana, bersamaan dengan itu Haga pun keluar dari mobil tengah yang tentunya paling mewah.

"Kenapa kau diam disana? Sadarlah, angan mempermalukan ku" mata Ayana membulat saat Haga mengucapkan kata demi kata yang menusuknya dan melenggang pergi begitu saja, mendahului Ayana untuk masuk ke dalam mansion.

Aditya mengulurkan tangannya, namun Ayana mencoba untuk berdiri sendiri dan Aditya hanya bisa tersenyum kilat. Ah— berhubungan dengan Aditya, bukankah Ayana tadi berangkat ke mansion ini bersama Aditya lalu kenapa Aditya bisa bersama Haga juga?

Lagi. Haga membuatku menunggu. selama dua jam.

"Anda baik baik saja?" Aditya bertanya pelan.

"Ah iya"

—tidak.

"Mari kita masuk ke dalam, sepertinya mereka sudah menunggu"

"Ya"

Hal pertama yang Ayana lihat adalah dalam mansion ini sangat luar biasa bahkan untuk meja makan juga. Ayana melihat Haga dengan seorang perempuan cantik sangat muda tapi terlihat cocok disisi Haga, tentu saja Ayana tidak tahu perempuan itu siapa. Tujuannya kesini dengan Haga akan berkenalan bukan?

Lalu Ayana menemui seorang perempuan seumuran Giandra terduduk kaku dengan wajahnya yang arogan, sudah terlihat dan Ayana duga bahwa perempuan itu adalah ibu tiri Haga. Lalu siapa wanita muda itu? Mereka bertiga duduk dengan damai seolah kedatangan Ayana hanyalah udara yang bahkan jarang dipedulikan.

Haga yang mulai menyadari keberadaan Ayana pun berdiri "Kemarilah" ujarnya.

Wanita muda yang bercanda ria dengan Haga tadi menatap Ayana heran sebelum akhirnya Haga berbisik sesuatu dan perempuan muda itu tersenyum ramah pada Ayana.

Ah— pasti dia tahu aku adalah calon istrinya, Haga memberitahu hal itu kan'?

Perempuan muda itu berdiri dan memeluk Ayana yang menghampiri meja makan dengan sangat hati — hati membuat Ayana melemparkan senyuman hangat.

"Duduklah di samping ibu" ujar Haga pada perempuan muda itu.

"Baiklah baiklah, padahal aku baru saja bertemu dengan mu lagi kak tetapi— aku harus mengalah karena kaka ipar ku ada disini bukan huhuhu" ujar perempuan muda itu.

Oh, adiknya.

Haga membawa Ayana ke dalam dekapannya dan tersenyum hangat membuat jantung Ayana semakin berdetak kencang.

Lagi lagi Ayana kalah dengan senyuman itu.

"Ibu, perkenalkan ini Ayana, dia orang yang dipilih ayah. Ibu pasti sudah tahu bukan" ujar Haga.

Namun wanita tua dengan wajah arogan itu menatap Ayana datar dan tidak berkata apapun. Ayana tidak tahu apa arti tatapan itu, tapi yang ia tahu pasti bahwa ibu tiri Haga ini tidak menyukai keberadaan nya. Haga yang menyadari ketegangan penuh yang dirasakan Ayana pun memeluk pinggang Ayana erat dan tersenyum lembut "Dia adalah kekasihku ibu, aku juga suka padanya."

"Sejak kapan ayahmu membiarkan orang biasa sepertinya masuk?" sekarang, Ayana semakin yakin bahwa wanita tua itu tidak menyukainya. Dekapan Haga terlepas, Haga membawa Ayana duduk dan mengusap tangan Ayana guna untuk menenangkan nya. Udara mulai menjadi semakin tegang atas ucapan ibu tiri Haga ini –Sonya.

"Ibu sudah bilang bukan Haga? Kau menerima ibu tidak? Jika iya, kau tak akan membawa sembarangan orang kesini menemuiku. Aku bisa menoleransi sikapmu yang bermain wanita tapi tidak dengan yang ini, aku juga akan membicarakan hal ini dengan Giandra " ujar Sonya kembali membuat Ayana sakit hati.

Perempuan muda yang tadi bercengkrama dengan Haga terlihat membisikan sesuatu seperti membujuk ibu tiri Haga itu. Namun sepertinya tidak berhasil karena Sonya masih menatap Ayana tajam dan dingin. "Bawa dia pergi, aku tak ingin dia berada di hadapanku. Nafsu makan ku menjadi tidak ada gara gara dia."

"Ibu!"

"Mommy!"

Haga dan perempuan muda itu berteriak bersamaan. Ayana hanya bisa menunduk malu, dan meneteskan air mata dalam diam. Dia merasa perasaannya saat ini menjadi hancur, Ayana memang sudah menduga hal seperti ini bisa saja terjadi tapi ia tak bisa mempercayai fakta bahwa Haga tak lagi mengatakan apapun untuk membelanya.

"Haga, turuti kata ibumu ini jika kamu masih mau melihat ibu. Kau tahu firasat ibu kuat seperti apa bukan?"

"Tapi kenapa ibu menolaknya? Beri aku alasan yang masuk akal"

"Intinya jangan bawa wanita ini kesini lagi, jika tidak menurut aku akan turun tangan sendiri. Ingat itu Haga. Kamu siapa dan dia siapa kamu harus bisa membedakannya."

"Kenapa tidak boleh? Bukankah kakak juga menyukainya dan ayah sudah memutuskan hal ini. Mom juga harus bisa menghargainya sedikit, dia perempuan baik baik" ujar rose ditengah keheningan.

Sonya, istri dari Giandra itu tersenyum remeh "Kenapa aku harus menghargai nya? Dia bukan siapa siapa, memangnya dia anak orang berada atau anak perdana menteri ah— atau presiden? Lagipula kau masih kanak kanak rose, kau tak akan tahu bahwa wajah polosnya dan sikapnya yang sopan santun itu hanyalah sebuah topeng" Sonya beralih menatap Ayana "Dan lihat ini, dada pas pas —an, tubuh kurus, wajah lumayan, kau sekolah dimana? Lulusan mana?" Ayana diam, bukan tidak bisa menjawab tapi kata kata yang ingin keluar seolah tertahan dan tertelan kembali bersamaan dengan air ludah. Sonya berdecak dan bertepuk tangan kemudian menatap nyalang Ayana "Lulusan sekolah terkenal saja tidak lah cukup, kau harus berani, bisa pergi keluar jika ingin diakui. Aku sangat yakin bahwa kamu sendiri tak bisa menggapainya. ck, apa yang ibu ayahmu ajarkan hingga menjadi wanita seperti ini."

Ayana mendongakkan wajahnya "Wanita seperti ini?" tanyanya.

"Sudah kukatakan bukan, kau tak berbakat menjadi penggoda, sebaiknya kamu berbaur saja dengan anak anak di playgroup" Sonya kembali tertawa membuat Ayana sakit atas cemoohan atau apapun perkataan wanita tua itu yang tak semuanya benar sesuai fakta "Bersikap elegan saja tidak cukup, kenapa repot repot mengenakan baju ketat seperti itu." Ayana hanya bisa tertunduk malu, matanya kembali berkaca kaca dan perasaannya menjadi campur aduk.

"Mom! Ada apa dengan mommy? Kenapa seperti ini? Lagipula penampilan calon Kaka ipar ku tidak buruk, apa yang salah dengannya?" tanya adik Haga— Rose.

"Rose, diam dan masuklah ke kamarmu. Tak akan ada hubungannya denganmu, lebih baik kamu naik ke atas."

Rose tercekat dengan perkataan kakaknya "Tapi kak!"

"NAIKLAH KEATAS ROSE!" sentak Haga membuat rose terdiam menatap Haga tak percaya, selama ini kakaknya lah yang selalu melindungi dirinya selain ayahnya dan juga ibunya. Bahkan disaat ibunya sendiri memilih tidak memperdulikan rose, kakaknya itu datang dengan senang hati memeluk dan menjaga rose.

Tak terasa air mata rose pun mengalir begitu saja "BAIKLAH AKU AKAN NAIK! JANGAN TEMUI AKU! JANGAN BERADA DI DEKATKU SELAMA 3 HARI!"

Ini semua karena kedatangan perempuan itu. kesal rose dalam hati, ia menaiki tangga menuju kamarnya meskipun tak rela.

Haga tak mengatakan apapun, pria itu terdiam setelah membentak adiknya dan melepaskan genggaman tangannya pada Ayana begitu saja. Mungkin terdengar menggelikan dan terlalu berlebihan namun bagi Ayana, pria itu pasti sudah mengalah atas semua ini.

"Kau tak pernah mendengarkan aku dengan baik rupanya, anakku. Aku ingin dia pergi dari hadapanku sekarang juga."

"Tapi bu—"

"Jika aku melihatnya disini atau di mansionku, penthouse mu, apartemenmu atau hotel mu aku akan turun tangan sendiri kau tahu."

Haga beranjak dari duduknya "Pergilah dan temui Aditya di depan" titahnya kemudian pergi ke lantai atas tanpa mengatakan apapun lagi.

Ayana menatap nanar kepergian Haga, apa yang Ayana harapkan lagi sebenarnya? Haga mengantarkan nya ke depan dan pulang bersama begitu? Sepertinya tidak akan.

Meskipun sudah dipermalukan, tapi Ayana tetap membungkukkan badan nya pada Sonya sebagai tanda hormatnya. Tangannya menutupi belahan dada yang terlihat, membuat Sonya kembali berdecak sebal.

"Kau tahu, kau sangat bodoh."

Ayana menyeritkan dahinya heran "Maksud anda?"

"Dia pergi tanpa melirikmu, tanpa mengantarmu terlebih dahulu atau tanpa membelamu didepanku. Apa kau tak sadar apa artinya itu semua?"

"Dia hanya tak ingin rose marah bukan? Dia pergi ke atas karena tak ingin adiknya marah lagi" jawab Ayana ragu.

"Kau benar benar. Polos dan bodoh itu memang serupa, option ke satu dia hanya memanfaatkan mu meskipun mustahil ada hal yang menarik dari dirimu itu. Option ke dua dia hanya membuatmu sebagai pelampiasannya and it's free. Option ke tiga dia  mempermainkan mu saja dan akan segera mencampakkan mu. Bagaimana?"

"Maafkan aku tapi Haga sepertinya tidak seperti itu."

Sonya berdiri dan melangkah ke depan Ayana yang terdiam kemudian wanita itu menepuk pelan pipi kanan Ayana dua kali "Sadarlah sebelum terlambat, lagipula siapa yang mengenalnya lebih baik aku atau dirimu? Sudah aku duga lalu pastikan bahwa kalian bahkan baru saja bertemu beberapa hari atau minggu, dan itu tidak cukup untuk memahami seseorang yang berada didekatmu." 

Setelah itu, Ayana ditinggalkan sendiri di ruang makan dengan rasa malu yang cukup banyak. Ayana kembali bergerak keluar dari mansion mengerikan itu dengan tergesa gesa. Bahkan penjaga yang bertubuh kekar itu memandangnya dengan rendah, dan tak bisa dibayangkan lagi bagaimana reaksi para pelayan centil yang mengomentari dirinya sebelumnya. Ayana hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik rambut panjangnya yang tergerai.

"Apa yang terjadi?" tanya Aditya melihat Ayana lagi lagi dalam keadaan sedih.

"Tidak ada apa apa, hanya kejadian kecil yang membuatku malu" jawab Ayana pelan.

"Lalu dia dimana?"

Dia?

"Maksudku, tuan Haga" ralat Aditya.

"Menemui adiknya sebentar" datar Ayana.

"Aku bisa naik mobil sekarang? tatapannya membuatku tak nyaman" Ayana mengkode Aditya, semoga saja pria itu mengerti.

Aditya melihat ke arah para pelayan dan penjaga yang berbisik - bisik, kemudian pria itu menuntun Ayana ke mobil mewah kepemilikan Haga "Masuklah."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!