Matahari, salah satu inti dari alam dunia ini mulai menampakan wujudnya, walaupun belum semuanya tapi sinarnya merambat lurus ke dalam suatu kamar dimana di sana hanya ditutupi gorden tipis.
Ayana yang merasa panas pun sedikit menggeliat kecil dari tidurnya. Enggan membuka mata, Ayana menyamankan tidurnya senyaman mungkin. Tangannya meraba raba bagian pinggir kanannya, kosong. Namun saat ke bagian pinggir kiri, benda keras yang didapati Ayana.
Menyadari tidak hanya dia sendiri di ranjang tersebut, Ayana membuka matanya dan berbalik ke belakang. Tangannya, merambat ke bawah, menyentuh tangan yang lumayan besar memeluk pinggangnya.
Dengan hati - hati Ayana mengangkat tangan itu dari pinggangnya, berniat memindahkan tangan besar itu dari tubuhnya. Namun, sebelum berhasil memindahkan tangan tersebut sang pemilik tangan terusik dan semakin mengeratkan pelukannya membuat Ayana memejamkan matanya kesal.
Bodoh.
"Jam berapa sekarang?" tanya Haga dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Ah sial! Kau mengejutkanku!"
"Kau tidak mendengarkan ku? Kenapa denganmu?"
"Aku t-idak"
"Kenapa kau sudah bangun?" tanya Haga mengalihkan.
Ayana berdecak malas "Ini sudah pagi"
"Lalu?"
"Kau harus kekantor bukan" jawab Ayana tersenyum meremehkan.
"Hm"
Tangan Ayana dengan enggan menyentuh tangan Haga agar menjauh namun apa daya dia yang kurang kuat jika dibandingkan dengan lelaki itu "Bangunlah! Tanganmu berat!"
Haga tak menghiraukan dan menatap langit langit "Kukira kau nyaman dengan hal ini, ternyata tidak"
"B-ukan seperti itu"
"Terus?" jawab cepat Haga.
"Tad- ah! sudahlah kau harus bangun! Cepat mandi sana!" Ayana memukul keras lengan Haga.
Bukan Haga namanya jika tidak menyebalkan, dia tidak beranjak dari ranjang, lelaki itu malah membenamkan kepalanya ke ceruk leher Ayana. Ayana yang syok, hanya bisa terdiam untuk kesekian kalinya.
Jantung, jantung, halo? Masih ada disana?
"Kurasa aku tahu kelemahan mu" wajah Haga berubah datar.
"Mak-sudmu?" tanya Ayana.
"Kau merona, tak bisa menolak, terdiam saat diperlakukan manis" masih dengan wajah datarnya, lelaki itu malah terkesan dingin dan errr- menakutkan?
"A-pa?"
"Tidak, baguslah kau seperti itu"
Akan mudah bagiku. batin Haga senang.
Ayana yang tak tahu harus menjawab apa hanya bisa berdehem malu. "Kau harus bangun, menyingkirlah!"
"Tidak"
"Kenapa tidak?"
"Five minutes!" ujar Haga.
Ayana hanya mengangguk layaknya anjing yang mematuhi majikannya. Tangannya terulur untuk mengusap rambut Haga, dan ternyata halus, sejak dahulu dalam pikirannya ia menyimpulkan bahwa semua lelaki itu berambut keras karena mengenakan gel semacam gel untuk membuat rambut para lelaki itu diam. Yah, terkecuali untuk seorang lelaki yang oleng dan berubah tingkat menjadi perempuan, maka tak usah diragukan lagi pasti rambutnya sehalus sutra.
"Kau menyukaiku?" tanya Haga merasa nyaman dengan tangan mungil yang berada pada pucuk kepalanya.
"Hah?"
"Sepasang kekasih pun melakukan hal ini" Haga berujar sambil menutup matanya, dan jangan lupakan satu tarikan halus pada bibirnya.
"Hal apa?"
"Kau tahu" Haga mengangkat bahunya acuh.
Ah, itu.
"Bukan, uhm- posisi ini seperti seorang ibu yang menidurkan kembali anaknya kan'?" jawab Ayana ragu.
"Ck, apa hebatnya seorang ibu" Haga tertawa meremehkan.
"Banyak"
"Jangan bahas itu"
"Kenapa?" Ayana yang mengira jika Haga malu ternyata salah.
"Aku muak" jawab Haga membuat Ayana diam karena tidak tahu apa apa.
"Bagiku seorang ibu adalah segala - galanya di dunia ini kau tahu, jangan meremehkan kekuatan seorang ibu. Bahkan aku rela menukarkan hidupku untuk bertemu dengannya lagi." ujar Ayana, air mukanya sedikit berubah.
"Kau tak perlu mendramatisirnya" decak Haga tak peduli.
"Tapi memang benar" gumam pelan Ayana.
"Jika ibu adalah segala - galanya di dunia ini, maka dia tidak akan pernah berpaling dan meninggalkan aku demi orang lain."
Ayana menyeritkan dahinya setelah Haga menjawab gumaman pelan dirinya tadi "Dia? Siapa maksud perkataanmu?"
"Azrina"
"Maksudmu, ibumu?"
Haga berdecak tak suka, ia semakin membenamkan kepalanya "Dia bukan ibuku"
"Kenapa bisa? Dia yang melahirkan-"
"Ya, dan aku semakin geli mendengar bahwa wanita gila itu yang melahirkan aku"
Apa ini? Apakah ibunya seseorang dari kalangan-like bitch? Tak mungkin, jika ibunya adalah wanita abal abalan seperti itu. Jika seandainy- bukan dia tak seperti lelaki dari hasil itu. Ayahnya pun terkenal. pikiran Ayana meronta keluar, dengan segala asumsinya bergelut di dalam kepalanya.
"Saat aku berumur 9tahun, wanita pergi bersama lelaki lain selain ayahku. Dia meninggalkan aku dan ayahku, padahal saat itu aku harus segera pergi ke sekolah dengan dia untuk menghadiri acara tahunan. Namun yang terjadi adalah wanita itu meninggalkan aku, bahkan sebelum dia pergi, dia menampar ayahku terlebih dahulu dan mengatakan bahwa dia menang dan dia tak mau lagi hidup di rumah sempit bersama ayah yang sakit dan anak manja. Padahal saat itu aku sudah berubah tidak manja lagi berkat bimbingan dari ibu Ares." sambung Haga. Kalimat terakhir di dalam pikirannya jelas jelas salah.
"Ibu Ares? Maksudnya kepala pelayan Ares? Sudah kuduga kalian memang sudah terikat sejak kau kecil, ceritakan lagi aku ingin mendengar kehebatan kepala pelayan Ares itu, dia sangat baik." pancing Ayana bersemangat.
"Begitulah. Kau tak perlu tahu lebih banyak lagi" jawab Haga bangkit menuju kamar mandi membuat semangat Ayana padam. Padahal Ayana sudah sangat sangat berharap jika Haga akan terbuka padanya, lagipula Haga adalah calon suaminya kelak. Yup. Ayana sudah menerima Haga begitu saja, Ayana juga bukanlah wanita naif dan ia suka pada Haga. Meski mustahil karena mereka baru saja bertemu dalam jangka waktu yang sangat sangat pendek. Yaitu satu hari. Kemarin. Bagaimanapun Ayana tak bisa merubah perasaannya dengan mudah, sangat sulit untuk mengendalikan rasa nyaman pada Haga meskipun terkadang kesal tetap saja rasa nyaman itu lebih mendominasi.
Ahh. Ayana menjadi tertawa sendiri kala ingat semua kejadian kemarin, bagaimana bisa dirinya yang biasanya jaga image itu menjadi kekanak-kanakan seperti kemarin? Rasanya ia ingin mencelupkan diri ke dasar laut terdalam yang ada di dunia ini.
Tak lama ia termenung memikirkan hal yang tidak tidak mengenai dirinya sendiri atau dalam kata lain -mengkhayal. Dirinya tergerak membawa iPhone nya dan membuka aplikasi YouTube, Ayana menonton video yang menurutnya menarik. Tentu saja video yang menyangkut tentang pekerjaannya.
Haga keluar dari kamar mandi, berjalan ke arah tempat pakaikan berada dan menggantinya dengan santai walaupun Ayana berada disana. Menulikan telinganya, Ayana terdiam dengan mata tetap pada iPhone nya.
Jangan mendekat jangan mendekat, telingaku tak berfungsi, mataku gila, pikiranku gila. Ayana bodoh bodoh..
Glek.
Haga berada di depannya, Ayana menoleh ke depan dalam posisinya yang sedang berbaring nyaman entah kapan. Mata mereka bertemu, Haga tersenyum menampilkan lesung pipi yang terukir diwajahnya. "Kenapa? Kau mengagumiku?"
Skakmat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments