"Tuan, semuanya sudah siap" ujar Wendy, orang khusus dibawah kendali Haga begitu pria keluar dari ruang makan.
Aditya yang melihat dari kejauhan menyerit heran dengan kedatangan Wendy dan ke tiga antek-anteknya.
"Wendy, kenapa kau ada disini? Bukankah kau sedang cuti?" tanya Aditya sedikit terengah karena berlari dari lantai atas.
"Kurasa itu bukan urusanmu" jawab Wendy, Haga yang hanya tertarik mendengarkan.
"Urusanku untuk mengetahui kenapa kau ada disini? Aku harus melapor"
"Aku harus mengurus sesuatu dengannya, kenapa dia ada disini dan dia cuti itu urusanku. Aku yang mengatur bukan Giandra yang mengatur apalagi kau" sela Haga.
"Tapi–"
"Tidak ada tapi, kau membuang waktuku. Minggir lah dan pergi lakukan tugasmu seeperti biasa saja" perintah Haga lalu pergi ke keluar diikuti Wendy dan ke–tiga orang khusus lainnya.
"Haruskah aku melaporkannya?" gumam Aditya.
"Kurasa jangan tuan" ujar suara dibelakang Aditya.
"Kenapa?"
"Karena tuan tak akan melakukan berbagai hal yang diluar batas jika tidak ada alasan yang jelas"
"Kepala pelayan, apa yang kau tahu?" Aditya tersenyum sinis.
"Yang pasti aku selalu memperhatikan dan memilah semuanya dengan teliti tanpa melaporkannya jika belum jelas sekali"
Aditya yang merasa tersindir mendengus sebal "Lakukan saja apa yang menjadi tugasmu!" ketusnya.
Kepala pelayan yang sejak kecil membantu merawat Haga menatap punggung Aditya yang perlahan menjauh dengan tatapan tak bisa diartikan. Kemudian dia menatap jendela dimana tadi dia melihat mobil tuannya yaitu Haga pergi.
Semoga semuanya selamat. terkendali.
...----------------...
Mobil mewah yang didalamnya terdapat fasilitas istimewa membelah gang yang cukup besar ditempat yang kumuh. Pintu mobil yang dibuka dari luar bukan satu hal yang aneh lagi. Wendy yang berjalan terlebih dahulu diikuti Haga lalu ke-tiga orang khusus lainnya berjalan ke salah satu kedai ice cream.
Pengunjung yang tersentak oleh kedatangan mereka hanya melirik sebentar dan kembali fokus pada ice cream nya.
Salsa, pengurus kedai ice cream ini membuka pintu belakang dengan cepat supaya tuannya bisa masuk. Di pintu belakang tersebut terdapat dapur dan satu pintu pink di sisi kanan. Langsung saja Haga, Wendy serta ke-tiga orang itu masuk kedalamnya, disana terdapat buku-buku resep; seperti buku resep membuat ice cream maupun masakan lainnya berjejeran dengan rapi.
Wendy yang sudah mengerti, menekan sebuah buku berjudul 'Angel ice cream' lalu tiba - tiba rak buku ditengah terbuka, Wendy langsung saja menariknya. Terdapat lorong didalamnya, sangat gelap tidak seperti di dalam kedai yang memiliki penerangan besar.
Haga langsung masuk kedalam lorong tersebut, setelah berjalan 10detik, Haga berbelok ke arah kanan dan menuruni tangga. Ternyata di bawah terdapat penyimpanan senjata dan berkas - berkas penting, juga sel sel tahanan seperti dipenjara.
Haga tersenyum sinis begitu menjumpai seorang pria telanjang yang tangan juga kakinya terikat oleh rantai besi. Salah satu orangnya yang bertubuh tegap membuka sel tahanan tersebut, lalu kai masuk ke dalam.
"Ck, bangunkan dia!" suruh Haga pada salah satu orangnya.
Tanpa bertanya bagaimana harus membangunkan pria yang terikat rantai itu, dengan kasar menjambak jambul rambutnya membuat pria itu terbangun meringis kesakitan setelah sekian lama disiksa disana.
Pria telanjang yang diikat tersebut membulatkan matanya ketika mendapati Haga didepannya. Apalagi menyadari bahwa dia tengah diikat dengan tubuh penuh memar dan luka sobek yang cukup banyak.
"Kenapa aku ada disini tuan?" tanya pria itu pada Haga, seingatnya terakhir kali dia sedang minum bersama gadis cantik yang ia kenal di situs jodoh. Dan sekarang ia tengah diikat dengan keadaan memalukan apalagi disaat matanya menangkap sosok wanita yang minum bersamanya yaitu-wendy.
"Menurutmu kenapa kau bisa ada disini?" mata Haga menatap nyalang pada orang didepannya.
"Arg, dan k-kau!" dengan tangan bergetar yang dilumuri darah, pria tersebut menunjuk Wendy.
Wendy yang ditunjuk hanya mengangkat sebelah alisnya seolah mengisyaratkan 'apa?' "Kenapa k-au ada di-sini? Ap-a kaau yang mem-baw-argh ku?"
"Menurutmu bagaimana?" wendy melipat tangannya di dada, sepatunya yang berhak tipis tapi dapat membuat suara yang cukup jelas seperti ketukan suara heels membuat telinga pria tersebut berdengung.
"Arghhh!!!" Ketukan sepatu Wendy terasa seperti ketukan kuku setan yang memperingatkan bahwa hidupnya tak akan lama lagi.
"Wendy" panggil Haga.
"Ya kak?" sahut wendy.
"Sebutkan apa saja hal yang membuat dia cukup berada disini?"
"Membocorkan rencana AR pada WS company, menggelapkan uang dana, mengangkat staff dan manajer dibawah kendalinya untuk perlahan menghancurkan perusahaan, dan terakhir menyerang sekertaris Adit"
Pria itu sungguh terkejut mendengar penjelasan wendy, kenapa bisa-? dia mengetahui hal itu semua ?
"Terkejut hum?" melihat pria didepannya kalah telak, Haga sudah tahu apa yang sudah ia lakukan. Mau atau tidak mau, ia tak bisa menghindari hukuman Haga.
Haga yang jengah karena lawannya hanya diam saja, berjongkok didepan pria itu. Kedua matanya menatap nyalang "Menurutmu, hukuman apa yang pas untuk pengkhianat seperti-mu?"
Menggeleng, pria tersebut terlihat meneguk salivanya kasar, ia tahu orang didepannya itu sangat berbahaya. Mengetahui gossip yang beredar dimana atasannya itu adalah seorang yang keras. Sangat sulit untuk menjelaskan sosok Haga dalam kata kata.
"Takut?" tanya Haga menepuk-nepuk keras pipi kiri pria itu.
Tak ada lagi jalan kabur untuknya, tetapi ia juga tak mengharapkan belas kasihan dari Haga. Matanya membalas tatapan tajam Haga dan Haga yang melihat itu lantas terkekeh pelan.
"Berani sekali bajingan satu ini menatapku, hahaha apa kau mempunyai hal berharga apa di dunia ini?"
"Tidak ada"
"Apa yang kau tahu brengsek?" sinis kai.
"Apa kau akan memberiku uang jika aku memberitahumu?" disela jawabannya, pria itu masih sempat tertawa.
Haga beranjak dari jongkoknya, kemudian berbalik dan keluar dari sel membuat tawa dari arah belakangnya semakin menggelegar sepuasnya.
Wendy yang tak tahan dengan suara menggelikan itu memukul sel "Buat dia diam" pintanya pada ke-tiga partner andalannya, lalu menyusul Haga.
"Kenapa kakak tidak langsung saja membunuhnya?" tanya wendy heran.
"Kita perhatikan dulu saja dia" jawab Haga mendudukkan dirinya di kursi.
"Kenapa?"
"Kita perlu tahu seberapa lama dia bisa bertahan, dan membongkar apa yang ia tahu dengan sendirinya"
"Itu bukan cara kau bergerak kak, jika seperti ini dia akan membuat kekacauan. Dia ak-"
"Shit! diamlah Wen! Awasi saja dia" sentak Haga.
"A- Maafkan aku"
...----------------...
Ayana membereskan semua pekerjaan tercintanya. Sedikit merebahkan diri di kursi kerjanya Ayana melihat jam yang terletak tak jauh di dinding.
Sudah jam pulang.
Seketika perasaan Ayana mulai tak enak, padahal dia belum menjadi istri orang bahkan menjadi tunangan seseorang pun belum tapi, kenapa dia cemas memikirkan bagaimana cara dia pulang dan bagaimana dia harus mengatakan pada orang rumah dia baru pulang larut.
Tunggu. Sejak kapan dia peduli hal itu? Bahkan Giandra hanya menginap untuk kemarin saja, selebihnya lagi Giandra tak akan ada di apartemen megah yang bisa dikatakan rumah tinggal nya untuk saat ini. Giandra sudah pulang ke asalnya, karena Giandra sendiri yang mengatakan pada Ayana bahwa Giandra hanya akan tinggal di apart untuk kemarin saja. Hanya untuk mengenalkan pria mesum yang tak lain anaknya padanya. Catat hanya mengenalkan. Dan sekarang yang lebih gilanya lagi Giandra memaksa meminta tolong pada Ayana, dan hal gila itu lah yang dibenci Ayana.
Membawa tas selempang kecil nya, Ayana meninggalkan ruangan khusus dirinya di butiknya itu. Saat keluar matanya menangkap pemandangan aneh, yaitu Haga dan salah satu asistennya sendiri tengah menyajikan kopi.
Dan yang menggelikan, Haga tersenyum manis pada Ayana. Rasanya Ayana ingin melayangkan sandal capit milik Ojat, satpam di area ini pada wajah menggelikan Haga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments