Konyol

"Kau memang brengsek"

Haga tersenyum remeh dan mengangguk "Itulah aku jika kau ingin tahu"

"Kau bersungguh sungguh atas perkataan mu tadi?" tanya Ayana ragu.

Haga menoleh dengan wajah datarnya "Perkataan ku yang mana?" tanyanya balik.

Ayana menggigit bibir bawahnya dan berujar pelan "Pernikahan konyol."

Haga mendongak "Ah itu, benar. Aku mengatakan hal itu sesuai dengan apa yang aku rasakan."

"Benarkah?"

"Yup, tak ada lagi yang ingin kau bicarakan bukan? Kuharap tidak karena aku muak mendengar suara mu yang lemah itu" Haga berlalu dengan membawa satu potong buah apel. Meninggalkan Ayana dengan rasa sakitnya, sakit di hati dan juga pikirannya mendadak kacau. Kepalanya pusing, tubuhnya melemas dan air matanya semakin mengalir deras. Ayana menepuk keras dada kirinya, matanya bahkan mukanya perlahan membengkak. Dia berdiri dengan rasa kecewa menuju kamar mandi dekat ruangan makan itu. Disana ia menangis sejadi jadinya.

flashback off.

Apa perasaan bisa dikendalikan dengan mudah begitu saja? Terlebih Ayana bukan laki laki melainkan dirinya seorang perempuan, dimana seorang perempuan suka dengan sifat lelaki yang lembut, baik, cepat bergerak juga tampan.

Bukan salahnya jika dia menyukai Haga, lalu apa itu salah Haga? Bukan juga kan. Ia hanya sedang tahap -proses menyukai seseorang. Setengah takut, setengah bersemangat, itukan yang dinamakan menyukai seseorang. Dan lagi seseorang ini adalah seseorang yang sempurna.

"Ah, mengingatnya hanya akan membuat kepalaku pusing saja" geram Ayana mematikan televisi, benda berlayar lebar yang berwarna itu pun layarnya berubah menjadi hitam.

Drrt drrrttttt rtttttrrt

"Apa apaan ini?" Ayana berteriak kencang setelah membaca pesan yang masuk baru saja. Lalu disusul getaran lainnya yang masuk, membuat Ayana semakin kesal saja saat membacanya. Kenapa juga bisa Ayana menyukai lelaki seperti itu? Kenapa dengan hatinya ini? Ah- Ayana harus mengontrol kan dirinya kepada dokter jantung nanti. Ada yang salah.

Pasti Aji yang mengganti nama kontaknya di iPhone ku. Dasar dia.

Hell

Jadi Ayana berdandan sebegitu dari sejak pagi sekali untuk apa? Jika saja lelaki itu tak berbicara pada Aji untuk mengosongkan jadwalnya, maka dia akan langsung pergi menemui adiknya serta pekerjaannya yang berharga itu.

Jika Haga lebih mementingkan pekerjaan atau urusannya yang sangat penting itu, dia juga bisa.

Ayana menguap lebar sembari meregangkan tubuhnya, ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya dan bergumam "Ah, sangat sedih sekali, memang lelaki itu definisi manusia brengsek sepanjang masa" gumamnya masih terisak.

"Pekerjaan yang menyenangkan, aku punya hutang beberapa episode lagi untuk drama ini" ujar Ayana menanggahkan kepalanya masih sedih karena drama yang ia tonton.

Ting tong..

"Apa itu orang gila? siapa yang berani menekannya dengan cepat begitu hah!" gerutu Ayana sambil berdiri mengenakan sandal rumahnya.

Ting tong...

"AAAHHHH! SIAPA ITU?! TUNGGU SEBENTAR!" teriak Ayana menuruni tangga.

Ting tong...

"Orang gila, beraninya menekan dengan seperti itu" gumam Ayana kesal.

Dengan kesal Ayana membuka pintu tanpa melihat siapa yang datang, dia menatap tak suka kepada orang itu meskipun raut wajahnya lebih dekat ke kata sedih.

"Ada apa?" sinis Ayana.

"Anu- Haga eh, tuan menyuruhku mengantarkan ini" tunjuk Aditya pada paper bag yang pria itu bawa.

Ayana menatap Aditya tak percaya "Lalu kenapa harus menekan bel dengan cepat dan terus menerus?" sinisnya.

Aditya menelan ludah dengan susah "Anu- tadi ada anjing tentangga yang menggonggong karena aku sedikit menggodanya jadi aku cepat kesini, mung-gkin tanpa aku sadari a-ku menekan bel-nya dengan cepat karena takut juga, maafkan aku."

Ayana merebut paksa semua paper bag ditangan Aditya, lalu ia pun menutup pintu dengan keras meninggalkan Aditya yang gelisah karena belum semuanya ia sampaikan.

Ah, telpon saja.

"Dengan begitu aku tak akan melihat wajahnya yang menyeramkan seperti tadi bukan'? Sebenarnya apa yang dilakukan Haga hingga membuat Ayana seperti itu" oceh Aditya bingung.

Pasti ada sesuatu.

Saat tangan besar Aditya akan menekan tombol di iPhone nya, pria itu dikejutkan kembali oleh Ayana yang membuka pintu secara mendadak membuat Aditya kembali syok.

Memang tidak akan mudah bekerja dengan si Haga itu.

"Aku lupa, masuklah kau akan mengantarkan aku bukan'?" tanya Ayana.

"Ya?" Aditya mendadak lelet.

"Kutanya kau akan mengantarkan aku nanti sesuai yang tuanmu perintahkan bukan?" ulang Ayana.

"Oh, ya tentu"

"Masuklah" suruh Ayana.

"Terimakasih."

...----------------...

Memang mansion orang kaya adalah yang terbaik, terlebih didalamnya terdapat orang orang cantik dan tampan. Surga dunia syekali.

Banyak yang bisa dilihat di mansion para orang kaya, namun sekaya apapun mereka kekayaan yang seperti itu tidak lebih dibandingkan keluarga. Bukankah percuma jika membangun mansion dengan mewah dan bagus namun hanya ditempati oleh seorang diri atau hanya dengan para pelayan. Itu menurut jieun, dia tak menyadari jika mengatakan hal itu didepan Haga akan menimbulkan percekcokan kembali antara mereka.

Tentu saja Haga akan merasa tersindir dengan itu, pria itu memiliki banyak mansion di pelosok dunia dan itupun jarang ia tempati karena Haga membangunnya hanya jika ia singgah di negara itu untuk beberapa hari.

"Anda bisa tunggu sebentar disini, tuan Haga akan segera datang secepatnya" ujar Aditya Ayana hanya mengangguk menatapi bangunan indah didepannya. Jika di selidiki lebih detail lagi tentu saja bangunan megah didepannya ini bukan tandingan rumah yang Ayana miliki dari orang tuanya itu.

"Apa dia orang yang akan menjadi pelayan baru disini?" seseorang berujar dengan tak tahu tempat disaat Aditya pergi meninggalkan Ayana entah kemana.

"Bajunya sangat pas ditubuhnya" Ayana pun melihat ke arah baju yang dipilihkan oleh Haga ini. Memang seharusnya ia tidak memakainya sejak pertama membuka paper bag itu, dirinya sekarang terlihat seperti wanita perusak hubungan orang.

"Jika berpakaian seperti itu bukankah dia hanya jalang milik tuan" kekeh yang lainnya membuat Ayana hanya menghela nafas.

"Ya seperti itulah, makin ke sini zaman makin menggila. Jalang jalang sepertinya mulai berdatangan ke sana ke sini tanpa rasa malu hahaha"

Ayana diam, menurut nya percuma jika menanggapi orang orang bermulut sampah yang sama sekali tidak memikirkan atau mengolah kata yang keluar dari mulut mereka.

Tapi tetap saja hatinya sakit.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!