Emosi

flashback

19:00

In apart.

"Apa kalian masih saja tidak saling sapa meskipun ada aku disini?" tanya Giandra yang duduk di kepala meja mengedarkan matanya pada kedua orang yang ia tuju di meja makan. Saat ini mereka berempat, yaitu Giandra, Haga, Ayana, dan Dirga yang bergabung atas permintaan Giandra.

"..." kedua orang yang ditanya itu hanya diam, begitupun dengan Dirga yang hanya mampu diam sembari menggoyangkan gelas nya sebagai pengalih.

"Aku harap bagaimanapun kalian bertengkar atau beradu argumen mengenai apapun tak sampai ingin menghentikan pernikahan ini. Pernikahan ini memang pertamanya dilandaskan oleh lelucon aku dan ayah Ayana, namun saat dipikir kembali kurasa tidak ada salahnya kalian bersatu. Aku pun sudah mengenal dekat Ayana, bagaimana seluk beluk kehidupan Ayana aku tahu" ujar Giandra membuat Ayana membelakan matanya.

"Bagaimana bisa?" tanya Ayana.

"Kamu tentu tidak tahu nak, aku yang selalu menjagamu disela waktuku merawat Haga" kekeh Giandra.

Haga memutar bola matanya malas "Merawat apanya" gumamnya.

"Eish! Tak boleh begitu, mau bagaimanapun kau bisa menjadi sebesar ini karena siapa huh?" balas Giandra.

"Apa kalian akan tetap diam diam seperti ini? Tidak bisa begini bukan? Lagipula kalian akan menjadi pasangan suami istri" tanya Giandra diangguki Dirga. Haga hanya mendengus.

"Bukankah yang patut dipertanyakan disini adalah gadis bodoh ini?" tanya Haga menunjuk Ayana dengan dagunya.

"Bagaimana bisa kau memanggil calon istrimu begitu?" bisik Dirga.

Haga tak mempedulikan bisikan Dirga, dia menyuapkan makanan ke mulutnya dengan tenang "Jadi bagaimana? Apa kau hanya akan merajuk seperti anak SMA begitu? Aku sudah tak mau membujukku lagi. Kau mengatakan memiliki perasaan yang sama bukan? Lalu apa ini? Aku hanya memintamu untuk tetap berada di sisiku apa salahnya? Aku juga hanya meminta mu untuk tidak jauh dari jangkauan ku, mengatur hidupmu heh? Ck, jika kau memiliki perasaan yang sama kenapa susah payah merajuk seperti itu, lebih baik jika kau menerimanya saja. Itu akan lebih mudah" celoteh Haga membuat mata Ayana panas.

"Tapi kau mengatakan hanya membiarkan aku tinggal sesekali di rumah orangtuaku. Aku tak ingin seperti itu, y-"

"Lalu kau ingin kita diam disana setelah menikah pun? Kau tahu, aku bahkan sudah menyiapkan rumah untuk kita dan menerima pernikahan ini saja. Kita tak tahu apa kelanjutan dari ini, namun dengan menerimakan nya akan lebih mudah bukan?" potong Haga.

"Tapi aku juga butuh wak-tu..." lirih Ayana berkaca kaca, beberapa kali lagi jika ia berkedip siapapun yakin air mata itu akan meluncur dengan bebas.

"Berapa lama lagi? Sudah 5hari kau tidak menanggapi aku, dan merajuk karena tak ingin pisah dengan rumah orangtuamu itu? Kau pikir aku pria miskin yang akan tinggal di rumah orangtuamu setelah kita menikah nanti? Heh" ujar Haga malas.

"Perkataan Haga ada benarnya juga jie, kamu tak bisa diam terus di rumah orang tuamu. Bukan hanya akan membuat seperti menganggap remeh Haga namun juga untuk mengobati dirimu sendiri supaya tidak terpuruk atas kematian orangtuamu" tambah Giandra.

Tes.

"Aku memang mengatakan memiliki perasaan yang sama, aku pikir hanya sekedar saling menyukai" ujar Ayana disela isakan pelannya.

"Aku belum sampai tahap mencintai, aku pikir kau akan-"

"Ayana sayang, soal cinta itu bisa belakangan juga. Kau bisa menjalani pernikahan ini terlebih dahulu, dan selebihnya biar waktu yang menentukan" potong Giandra lembut.

"Lihatlah caramu itu, bagaimana dia yang keras kepala dan kekanakan seperti itu bisa mengerti jika kau sendiri lembut kepadanya" ujar Haga datar.

"Diamlah terlebih dahulu, gadis atau wanita manapun akan lebih bisa dimengerti jika kamu mengerti mereka juga. Jangan terlalu-"

"Ya ya ya, jangan terlalu menasehati ku jika kau sendiri tak becus menjaga satu wanita" Haga kembali memotong pembicaraan.

Dirga menyikut pelan lelaki itu, namun tak digubris. "Diamlah sebelum aku-"

"Sebelum apa?"

"Kau tak tahu apapun, jadi jan-"

"Ah aku lupa bahwa kau membuat wanita yang melahirkan aku pergi, uhm memang salah dia siapa namanya eh? Azrina? namun kemudian kau membawa satu ular manis ke dalam rumah. Padahal saat itu kau sakit, memang pria tua tak tahu diri. Merawatku eh?" Haga menaikan sebelah alisnya dan berdecak pelan "Aku atau wanita malam mu huh?"

"Haga Arsatya!" sentak Giandra.

"Ada apa ayah? Ah- apa aku harus memanggilmu ayah tersayang? Ayahku? My superhero?" Haga tersenyum lebar, namun sedetik kemudian wajahnya kembali datar "Ayah apanya, kau hanya bisa memberiku harta."

"Haga" geram Dirga menyikut Haga kembali.

Haga menoleh ke arah Dirga "Apa? Bukankah kau juga tahu bagaimana pria ini bersikap sedari dulu?" lelaki itu menatap Ayana dengan lekat, membuat sang empu yang ditatap menunduk takut "Seharusnya aku pun tak terlalu menggubris perkataan pria tua ini tentang pernikahan konyol ini"

Deg.

"Konyol? Haga, kau sudah keterlaluan justru kau yang konyol!" Giandra menggebrak meja. Emosi pria ini sudah melewati batasnya, sebentar lagi akan meledak.

Haga mengusap telinga kanannya "Ah telingaku, aku harus pergi ke rumah sakit untuk ini" gerutu Haga pelan lalu menatap Giandra "Ayah tersayang bolehkah aku meminta uang untuk ini? Lagipula kau yang meneriakiku, aku akan menikahi Ayana sayang sebagai gantinya" ujarnya datar.

"HENTIKAN OMONG KOSONGMU!"

Haga meringis pelan dan menutup telinganya "Ah, telingaku terbakar."

"Ayana!" panggil Giandra berteriak.

Seseorang yang dipanggil itu hanya bisa menunduk dalam diam dengan tangisannya.

"Kenapa kau menangis? Apa hormon mu memang selalu berubah emosional seperti ini? Ah- sepertinya kau" nafas Haga tercekat membuat semua orang yang dimeja makan terheran "Jangan katakan kalau kau mengandung anak orang lain? Ah- kalau begitu sebutanmu sebagai seorang gadis tak lagi berguna, wanita. Ya wanita"

Plak!

"Aku tak seperti itu!" benar, barusan Ayana menampar Haga sampai lelaki itu bisa menolehkan kepalanya ke kanan. Jangankan bibir lelaki itu yang berdarah, bahkan tangan Ayana pun terasa panas saking kuatnya menampar pipi sialan itu.

"CUKUP! AYANA AKU TAK AKAN LAGI MEMOHON PADAMU UNTUK MENIKAHI LELAKI GILA INI!"

"LELAKI GILA INI ADALAH ANAKMU AYAH!"

"DIAM! AYANA KAU BISA MENINGGALKAN DIA, DAN KAU HAGA! TERSERAH APA PADAMU INGIN APAKAN LAGI TENTANG RENCANA PERNIKAHAN INI! AKU MEMBEBASKANMU DARI KEINGINANKU UNTUK KAU AKAN MENJADI MENANTUKU" putus Giandra pergi dari ruangan makan tersebut disusul Dirga.

Gotcha. Pria tua itu terlalu mudah dalam menanggapi perangkap ini -batin Haga senang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!