Perasaan apa?

Satu Minggu berlalu, Ayana masih enggan melakukan apa yang Haga minta. Ayana dengan jelas menolak Haga saat lelaki itu datang pada dirinya yang sekarang tinggal di rumah orangtuanya.

Rindu? Benar

Kesal? Benar

Aji menepuk pelan pundak kakaknya yang sudah seminggu terlihat lebih banyak termenung itu. Bahkan ia harus merelakan janjinya dengan Hani dan tentu saja berujung dengan kemarahan wanita yang ia suka itu namun mau bagaimana lagi karena dia mengkhawatirkan kakaknya ini.

Sudah tepukan ke tiga namun Ayana masih enggan menoleh, seolah tubuh dan sarafnya berhenti berfungsi.

Aji pun membiarkan kakaknya itu termenung kembali, dia duduk didepan Ayana dengan wajah bingungnya.

1jam.

"Sejak kapan kau disini?" tanya Ayana.

Aji menepuk pelan kedua pipinya, tangan yang ia jadikan topangan wajahnya sejak se jam yang lalu kini sudah mati rasa. Ia menoleh ke arah Ayana dengan malas "Oh, kakak cantik sudah sadar rupanya"

"Maksudmu apa?"

Aji menghela nafas "Huft, sejak satu jam yang lalu kakak cantik terus saja termenung."

Ayana terkesiap "Selama itu?"

"Tubuhku bahkan capek menemanimu dengan rasa bingung ini, sebenarnya kakak cantik kenapa?? Ada apa hum?" tanya Aji.

"Tidak ada apa apa" Ayana meraup wajahnya frustasi.

Aji melihatnya. Dia pun mengalihkan pembicaraan, karena tahu bahwa kakaknya itu masih belum siap menceritakan ada apa apa nya."Hani sudah mengirimkan proposal dan laporan lainnya melalui email, tapi katanya belum mendapat jawaban"

"Benarkah?"

"Uhmm—mmhhmm"

"Baiklah kalau begitu aku akan mengeceknya" Ayana beranjak dari sofa dan duduk kembali di kursi kerjanya.

"Ini sudah larut, lebih baik aku memesankan taxi saja untukmu kakak cantik "

"Apa yang kau bicarakan? Jangan menganggu ini bahkan belum—" ucapan Ayana terhenti saat Aji menunjukan jam di iPhone milik lelaki itu "—oh benar" kekeh Ayana pelan.

"Lebih baik kakak cantik pulang dan langsung tidur, jangan khawatirkan apapun. Aku akan mengirimkan lewat email apa yang terjadi di rapat tadi juga laporan lainnya yang akan aku rangkum malam ini" ujar Aji mengemasi barang-barang Ayana.

"Wah, aku jadi terharu" gumam Ayana pelan.

"Tentu saja, kakak cantik harus bangga mempunyai manusia seperti aku di sisimu. Bahkan aku merelakan kencan ke 86 dengan Hani" ujar Aji menepuk dadanya semangat membuat Ayana semakin tergelak.

Dan Ayana pun menoyor pelan kepala Aji "Apa yang harus dibanggakan dari itu huh?!"

"Ada, kakak cantik tak perlu tahu"

"Kau ini, sok sekali"

Tepat saat taxi berhenti di depan rumah, iPhone milik Ayana bergetar dengan lama menandakan ada panggilan masuk. Ternyata saat Ayana melihat notifikasi, ia baru menyadari bahwa banyak panggilan tak terjawab dan pesan yang terbengkalai dari Haga.

Ayana pun mematikan iPhone nya dan memberikan beberapa lembar dollar pada supir taxi. Setelah mengucapkan terimakasih, Ayana pun keluar dari mobil.

iPhone milik Ayana kembali bergetar, gadis itu tak menanggapinya dan justru mencari kunci rumah yang saat ini sangat ia butuhkan. Dan saat ia menemukan kuncinya, matanya membulat tak percaya.

Padahal ini sudah larut

"Apa orang yang aku suruh membersihkan rumah belum pulang?" gumam Ayana linglung melihat keadaan pintu yang tidak terkunci "Seharusnya dia sudah pulang beberapa jam yang lalu bukan?"

Ayana membuka pintu dengan pelan "Tapi kenapa gelap?" gumamnya takut dan membiarkan pintu utama terbuka untuk berjaga jaga jikalau terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Gadis itu meraba dinding bagian kanan untuk menemukan saklar lampu, dengan sekejap saat lampu dinyalakan suasana rumah orang tua Ayana pun terang dan —hangat.

"Aku tak sia sia menyuruh orang untuk membersihkan dan merenovasi, terasa lebih nyaman walaupun tidak banyak yang berubah" ujar Ayana senang, kemudian ia berjalan ke arah kamarnya. Sesaat Ayana pun memperhatikan, dan tidak ada kejanggalan sedikitpun. Semuanya tetap dalam kondisi biasa menurutnya.

Ayana dengan tampang seperti biasa —ramah itu menarik kenop pintu dan memasuki kamar pribadinya. Ia menaruh tasnya diatas meja lalu membuka iPhone nya sembari melepaskan tubuhnya di ranjang.

"Woah, kenapa lelaki itu mengirim pesan tidak jelas? Kenapa juga menelfon ku? Apa ada masalah?" Ayana kembali bergumam seena nya dia.

"Woah lihatlah seberapa banyaknya ini?" Ayana berdecak pelan "Tak mungkin lelaki itu yang memijit iPhone nya dengan sukarela, lagipula kan dia mempunyai banyak bawahan, jadi tidak mungkin dia tidak memanfaatkan hal itu"

"Tapi kenapa dia meneleponku dengan begitu banyak begini? Apa aku harus menelponnya kembali? —ah tentu saja jangan. Dia harus tahu aku bukan gadis yang bisa didapatkan dengan mudah begitu saja. Aku harus jual mahal sedikit bukan? Ya, tak apa semua gadis melakukan hal yang sama Ayana. Tak apa" celoteh Ayana kembali, tubuhnya ia putar ke arah kiri. Raut wajahnya kembali bingung "Ah bagaimana ini? Aku menjadi penasaran, aku telpon lagi atau tidak? Telpon tidak? Telpon tidak? Iya atau tidak? Ya? tidak?" tubuhnya kembali berguling ke arah kanan "—ah jangan, aku akan terlihat sangat baik jika begitu. Sama saja membuatnya menang dengan mudah, aku tak mungkin harus meng—" nafasnya tercekat tatkala melihat punggung seorang lelaki menghadap jendela.

Hanya ada keheningan di dalam ruangan itu dalam beberapa saat, Ayana yang berceloteh pun diam terkejut dengan matanya yang melotot.

"Kenapa kau ada disini?" tanya Ayana dengan refleks berdirinya.

"Kau tak menjawab pesanku, atau panggilanku tapi kau malah berceloteh tak jelas mengenai ku. Jual mahal heh?" suara yang keluar dari mulut lelaki dihadapannya itu saja sudah membuat jantungnya Ayana seakan copot. Jadi jangan sampai punggung itu berbalik dan membalikan— menjadi wajah sialan itu yang terlihat.

Ah tidak, dia bergerak!

Skakmat

Dia, berbalik juga akhirnya.

"Apa kau merindukan aku?" tanya lelaki itu "Tidak akan bukan? Sekarang aku yakin bahwa aku sangat mengenalmu"

"Haga.." lirih Ayana.

"Aku akan menemuimu besok, ibuku ingin bertemu denganmu. Kau aku jemput besok pagi, dan kau harus siap. Tidak ada pengecualian ataupun penolakan" ujar Haga sepertinya sudah final.

"Tapi aku—"

Terlambat, punggung itu sudah menghilang dibalik pintu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!