Haga tidak langsung masuk, ia menoleh ke arah asistennya "Aku tak akan masuk jika kau tak memberikanku jawaban yang tepat dan benar!"
"Ini tak bisa dikatakan oleh mulut ku! Kau harus mendengarkan penjelasan dari ayahmu sendiri. Sekarang kau masuk ke dalam lift dan jangan bertindak seolah kau masih berumur 4tahun!" tegas Aditya.
Haga menghentakkan kakinya kesal dengan sesegera mungkin masuk ke dalam lift, setelah pintu lift tertutup Aditya menekan tombol lantai 19.
"Kau mengatakan tak mau berbicara santai padaku tapi barusan kau melanggarnya"
"Terserahlah"
"Ck"
Ting!
"Cepat!" sembur Haga pada Aditya yang akan bicara.
"Memangnya kau tahu dimana letaknya?" ketus Aditya membuat Haga kembali menghentakkan kakinya kesal.
"Ayolah memangnya aku orang udik yang baru mengetahui silsilah gedung?!"
"Siapa yang tahu kau melupakan hal seperti itu karena seorang gadis cantik"
"Ck, kau selalu memb--"
"Selamat malam tuan!" suara kompak membuat ucapan Haga terpotong.
Mendadak Haga menegapkan badannya dan memasang tampang serius. Aura disekitarnya mendadak berubah, perawakannya yang gagah membuat ke lima pelayan dan ke empat pengawal yang berjejer rapih disana menunduk takut.
"Ck, tampangmu itu" Haga mendelik sebal pada Aditya tanpa menjawab perkataan pengawal sialannya itu "Kalian sudah menyiapkan semuanya?" tanya Aditya kemudian pada orang orang yang ada disana. Haga yang tak pernah ingin tau soal urusan bawahannya itu hanya berjalan lurus, matanya menyusuri semua lekuk ruangan yang ada dihadapannya.
"Ya tuan"
"Bagus, siapkan air untuk dia mandi juga"
"Baik, tuan" kemudian ke empat pelayan beserta satu kepala pelayannya mengundurkan diri.
"Lumayan juga, selera pria tua itu tak buruk"
"Apanya yang tak buruk?" tanya Aditya begitu tiba di sisi Haga.
"Bukan apa apa" jawab Haga kemudian berjalan ke arah tangga dan kakinya mulai menaiki satu persatu tangga yang ada disana.
"Woi! Memangnya kau tahu dimana letak ruangan yang akan kau tempati?!" Aditya yang setengah berteriak hanya bisa menepuk dahinya pelan "DENGARKAN DULU AKU BERBICARA! KAU MAIN NAIK SAJA! KAU HARUS PERGI BELOK KANAN DAN MASUK KEARAH PINTU YANG BERWARNA HITAM YANG DIPADUKAN DENGAN WARNA PUTIH ATAU DALAM KATA LAIN ABU ABU!!" teriak Aditya sepenuhnya.
"Ck, bodoh. tanpa kau sadari kau sudah mengatakan kemana arahnya" gumam Haga lalu masuk ke dalam ruangan yang sudah ia temukan letaknya di mana meninggalkan Aditya yang menggerutu sebal.
"Dasar sialan, dia tak pernah mendengarkan ku dengan baik!" kesal Aditya menetralkan amarahnya
"Siapa yang tak mendengar siapa?" suara lembut seorang gadis membuat Aditya seketika terkejut.
"A-ah?"
"Kenapa? Apa aku membuatmu terkejut?" tanya gadis tersebut menyesal.
"Ti-idak nona, kapan kau sampai?" menyadari bahwa gadis dihadapannya itu adalah seseorang difoto yang ditunjukan oleh tuan besarnya chanyeol tak segan bersikap ramah.
"Baru saja, apa aku telat?"
"Tidak, kurasa tidak"
"H-eem baiklah, lalu sekarang bagaimana?" tanya gadis itu kembali dengan senyuman manisnya.
"B-bagaimana apanya?" gugup chanyeol menghadapi senyuman gadis didepannya itu.
"Maksudku- aku harus istirahat dikamar mana?"
"Ah, ya! Benar! Kamarmu!" seru chanyeol terkekeh renyah membuat gadis lembut itu bingung, menyadari bahwa dirinya tertawa garing chanyeol segera berujar "Kau tinggal menaiki tangga dan belok kanan lalu masuk ke dalam kamar berwarna hitam yang dipadukan dengan warna putih atau bisa disebut abu -abu"
"B-baiklah aku akan turun setelah jam nya makan malam"
"Tapi nona, jam makan malam sudah lewat"
"A-ah benarkah??"
"Ya"
"Kalau begitu a-aku hanya akan mandi dan p-pergi istirahat" dengan wajahnya yang sudah memerah, gadis tersebut mengambil langkah cepat ke arah kamarnya.
"Baiklah, silahkan nona"
Satu kata yang tertanam di hati Ayana begitu ia sampai di tempat yang akan ia huni mulai dari sekarang. Fasilitas disini terjamin, pelayan ada, pengawal ada, cctv berserakan menjadikan Ayana berasa aman diam disini. Yang terpenting Wi-Fi terjamin gratis, langsung saja jieun menyambungkan WiFi yang sandinya ia minta dari salah satu kepala pelayan sebelum memasuki kamar tadi.
Dengan langkah susah, Ayana yang ditangan kanannya memegang handphone juga membawa koper dengan tangan kiri lalu kakinya tergerak untuk mendorong pintu abu abu yang ada dihadapannya.
Namun, zonk.
Ayana tak punya kekuatan untuk membuka pintu mahal dihadapannya itu dengan satu kakinya, cukup tau diri memang pintu dihadapannya itu bukan sembarang pintu kamar biasa seperti di tempat ia tinggali dulu yang dicongkel dengan sumpit pun bisa terbuka.
Ayana memasukan handphone nya ke dalam saku, lalu membuka pintu kamar dengan perlahan seolah ada seseorang didalamnya. ternyata tidak. menurut dirinya sendiri.
Dengan rasa penat yang menumpuk, Ayana dengan cepat membaringkan badannya di kasur king size di kamar tersebut. Setelah menyelesaikan rancangan gaun terakhir nya tadi di butik, Ayana langsung pergi ke tempat ini tanpa beristirahat atau sekedar makan.
Pekerjaannya sebagai seorang designer cantik yang sudah menggantungkan dirinya sendiri pada hal tersebut membuat Ayana senang sendiri telah menciptakan dan membuat orang orang senang dengan hasil karya yang dibuat olehnya.
Tak tanggung-tanggung Ayana bahkan rela membuatkan gaun-gaun yang bahannya pun ia dapatkan dan ia beli dengan uang bersih dari dirinya hanya untuk dibagikan kepada anak yatim, piatu, anak yang memiliki penyakit kanker dan yang lainnya hanya untuk melihat mereka tertawa sekaligus senang dan juga menyombongkan gaun yang mereka punya pada teman - temannya.
Membayangkan itu sendiri membuat Ayana menggulingkan badannya di atas ranjang dengan perasaan yang bahagia.
"Arghhh"
Suara apa itu? Bukankah hanya aku yang ada disini?
"Hahh"
Kembali terdengar, suara itu menjadikan fikiran Ayana negatif. Secara tak sadar wajah Ayana berubah layaknya seekor bunglon yang merubah warna nya menjadi merah untuk melindungi dirinya.
Dengan takut Ayana melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi yang ada di sebelah kanan. Dengan bodohnya Ayana mendekatkan telinga kanannya ke pintu berwarna putih tersebut.
Sepertinya ada orang.
Ayana berusaha berfikiran positif tapi setiap ia ingin menghiraukan suara dan apapun yang ada di dalam kamar mandi tersebut selalu saja gagal ketika ada suara kembali terdengar dari dalam.
Dengan sekuat tenaga, Ayana memegang kenop pintu didepannya itu.
"Ah sudahlah! Apa itu hantu? Woi! Jangan macam macam denganku kecuali jika kau ingin mati!" kesal Ayana kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Ayana yang bingung, menghiraukan segala dikiranya dan mematikan lampu lalu menarik selimut dan pergi tidur.
Setelah 45menit, Haga yang sama berada di dalam kamar itu keluar dalam kamar mandi dengan perasaan bingung.
"Siapa yang berani mematikan lampu?" penasaran Haga, rambutnya yang masih basah dengan handuk yang bertengger di lehernya Haga hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan.
Hingga hanya beberapa langkah, Haga menendang sesuatu benda keras membuat umpatan kasar langsung menggema.
"Shit! Mereka hanya bekerja dengan baik jika dihadapanku! Dan sekarang siapa yang menaruh koper ku di depan ranjang begini! Cari mati."
Tanpa memedulikan sekitarnya, Haga melemparkan handuk lalu berbaring di ranjang dan menarik selimut lalu pergi tidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments