Hubungan ?

Ayana melirik jam tangan mungil yang bertengger di tangan kirinya, ternyata sudah  satu jam lamanya ia menunggu Hani datang. Ayana ingin segera melangkah ke luar ruangan, karena waktu pun sudah menunjukan bahwa sekarang waktunya makan siang.

Sedikit melihat ke arah cermin besar didekatnya, Ayana kembali memoles lipstick yang aku simpan di rak laci paling atas.

Ah cantiknya diriku.

"Gadis gila, kemari!" panggil Haga saat melihat Ayana keluar dari gedung kecil itu sendirian. Sontak saja Ayana mendelik sebal melihat ke arah Haga dengan wajah kesalnya, namun tetap saja menuruti perkataan Haga yang tengah bersandar pada mobil mewahnya di pinggir jalan, lihat saja gayanya.

Wow.

"Dia memang sangat gemar menarik perhatian, aku ingat perkataan kepala pelayan Ares pagi tadi ternyata memang benar" gerutu Ayana.

"Kau tahu, tanpa sengaja aku memamerkan keberadaan diriku juga mereka tetap tahu dan pasti melirikku"

"Terserahlah"

"Masuklah ke dalam mobil" ujar Haga dengan nada bossy.

Tak lama setelah mereka terduduk di kursi bagian belakang tentunya, jika masih ada jasa supir untuk mengemudikan kenapa tidak? begitulah katanya.

"Ada apa? Kenapa kau menemuiku? Aku bahkan belum menyelesaikan pekerjaanku" tanya Ayana bingung.

Haga menatap Ayana lembut, lalu merangkul tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Ayana yang terkejut pun hanya bisa diam membenamkan wajahnya malu di dada bidang lelaki itu. "Aku merindukanmu" bisik Haga setelah beberapa saat.

Ayana mendongakkan kepalanya "Ada apa denganmu? Kau membuatku takut akan sikapmu ini"

Tangan Haga menggenggam tangan mungil Ayana lembut, sesekali lelaki itu mengelus dan memainkan telapak tangan Ayana yang halus. Bahkan kini kepalanya disandarkan di bahu kirinya Ayana. "Hanya saja aku— ingin bersama denganmu" jawab Haga menghela nafas pelan sebelum kembali berujar "Ada hal yang harus kita bicarakan"

"Hal apa?"

"Kau bilang di telpon tadi pagi setelah aku pergi, kau ingin berteman saja dahulu bukan?" Ayana mengangguk atas pertanyaan Haga, lelaki itu kembali duduk tegak dan menatap kedua mata Ayana yang juga menatapnya.

"Tapi aku tidak mau seperti itu gadis gila, kamu adalah milikku, kamu juga tahu bukan jika ayahku sudah merestui bahkan dia yang mempertemukan kita berdua? Aku hanya ingin secepatnya kau menjadi milikku seutuhnya. Tak ada orang lain yang bisa melihat dan memperlakukanmu dengan cinta selain aku. Aku sudah memantapkan diriku dan berjanji pada diriku sendiri untuk membuat kita saling mencintai dan melengkapi" 

"Tapi pria mesum, bukan beg—"

"Pertama, kita ubah kebiasaan buruk kita dengan panggilan lain. Akan lebih baik bukan? Panggil aku Haga, cobalah"

"Baiklah Haga. Tapi—"

"Kau juga merasakannya bukan? Walaupun jarak waktunya cepat dan dekat sekali tapi aku yakin kau juga sama seperti aku" potong Haga kembali membuat Ayana terdiam gugup. "Apa kau merasakan degupan itu? Sengatan listrik yang kuat ketika tangan atau tubuh kita bersentuhan?"

"Aku merasakannya, tapi—"

"Syukurlah.. kau adalah wanitaku, milikku. Jadi kau tak bisa menolak untuk menjadi istriku. Secepatnya, aku tak akan menunda lagi. Aku juga ingin kita pindah dari apart sempit itu, kau boleh kembali ke apart itu atau rumah orangtuamu jika ingin. Tapi hanya sesekali. Kau harus lebih banyak tinggal dan diam disisiku."

"Bukankah itu sama saja dengan kau mengatur kehidupanku?" ujar Ayana kesal.

"Apa yang kau lakukan jika aku bilang aku mencintaimu?"

"Omong kosong, aku tahu kita merasakan hal yang sama tapi ini baru 1 setengah hari kita bertemu. Lebih baik kau pikirkan lagi saja keputusan mu itu"  Ayanamendengus sebal.

"Kenapa harus?" wajah Haga berubah datar.

"Kau tak bisa mencintaiku begitu saja" gumam Ayana.

"Aku bisa" jawab Haga mantap.

"TIDAK!" teriak Ayana hendak keluar dari mobil, namun supir Haga menguncinya. 

"Ini akan lebih baik jika kau bersamaku gadis bod— Ayana.. kau akan lebih aman denganku, lagipula ayah sudah membicarakan denganmu bukan?"

Ah benar

"Tapi aku menolaknya" bisik Ayana.

Haga menggeleng "Kau tak bisa menolak"

"Aku bisa" bantah Ayana.

"Tidak, kamu tidak bisa. Aditya, kita kembali ke private mansionku" titah Haga kemudian membuat Ayana mencubit lengan Haga kesal

"Baik" sahut Aditya yang diam dengan keringat dingin mendengar keributan itu.

"Kenapa aku harus mengikutimu ? Lagipula ayah memutuskan untuk memberikan aku waktu sebulan!!" 

"Kau tak perlu khawatir, diamlah"

"Kau ini bukanlah menginginkan menjalani hubungan denganku tapi kau hanya terobsesi" gumam Ayana takut.

Oke benar, Haga menghembuskan nafas kasar menyetujui pernyataan Ayana barusan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!