Hobi

Haga duduk di samping ranjang sambil menyeringai kecil "Jangan katakan jika kamu terpesona dengan ketampanan wajahku?" ujar Haga membenarkan rambutnya yang acak acakan serta basah membuat kesan sexy pada lelaki itu.

Sedangkan Ayana? "Dalam mimpimu saja!" protesnya sebal.

Haga hanya terkekeh pelan, kemudian diam beberapa saat menatapi tembok didepannya dengan pandangan kosong sebelum kembali melihat ke arah Ayana. Wajahnya kali ini berubah serius, senyuman jahil atau seringaiannya tadi langsung hilang seolah dia adalah aktor yang pandai mengendalikan raut wajahnya. "Apa ayahku mengatakan sesuatu padamu?"

"Tentang?"

"Ah kau tak tahu rupanya" gumam Haga datar. Ayana menghela nafas pelan dan mengangguk.

"Ya"

Haga beranjak dari duduknya "Baiklah, aku pergi"

"Kemana?" Ayana mencegah Haga pergi seolah tak mau ditinggalkan, seperti mereka adalah pasangan yang baru saja menikah- walaupun akan terjadi namun tetap saja Ayana meruntuki dirinya yang seperti memohon pada lelaki mesum yang bahkan baru ditemuinya kemarin.

Haga tertawa renyah melihat rona merah di pipi Ayana "Apa kau memakai blush on terlalu tebal? -ah tidak kau bahkan belum mandi jika aku mengingat kembali"

"Diamlah!" Ayana melepaskan tangannya yang mencegat tangan Haga tadi, lalu mendorong pelan tubuh Haga agar menjauh darinya.

"Aku akan kembali, jadilah anak baik dan tunggu aku disini" ujar Haga sebelum mengecup bibir Ayana.

Ups.

"Kenapa kau lucu sekali? Aku jadi tidak ingin pergi ke kantor dan malah ingin bermain denganmu disini" Haga mencubit pelan pipi Ayana.

"Pergilah!" Ayana mendorong kembali tubuh kekar didepannya sembari menyembunyikan wajahnya agar Haga tak kembali menggodanya karena ia kembali tersipu malu.

"Baiklah baiklah aku pergi"

"Cepat lah sana! Pegawai mu menunggu! Jangan sampai kau di cap menjadi boss tak tahu aturan"

Haga berjalan menaikan pundaknya "Apa peduliku? Aku boss nya"

Sebelum menutup pintu, Ayana mendapat flying kiss dari Haga "Dasar mesum!"

Baru saja Ayana hendak membersihkan diri, tiba tiba benda kotak pipih berlogo apel di gigit itu berdering nyaring membuat Ayana sendiri berjengit kaget.

Aji- nama itu muncul dilayar sebagai pemanggil. Sebelum menjawab panggilan tersebut, Ayana sempat menoleh ke arah pintu dan menghembuskan nafas malas.

"Halo?"

Haruskah Ayana mencelupkan Aji ke sumur terdalam? Laki laki cantik yang tak lain adalah adik sendiri, yup. Walaupun bukan kandung tapi Ayana sudah menganggap dia adik sendiri.

Walaupun dia bukan orang yang sebatang kara seperti diriku, namun entah kenapa saat pertama kali bertemu dengan manik mata coklat nya yang terbilang redup. Seperti ada kekesalan dan kesedihan bersatu didalamnya, dia menangis di bangku taman dan tak mempedulikan orang lain yang mencemooh dirinya. Ayana yang saat itu tengah lewat di taman itu, hatiku seolah tergerak dan ya, Ayana pun turun dari mobil.

Ketika orang lain memilih menjauhi laki laki cantik yang tengah menangis itu, Ayana dengan lurus duduk disebelahnya. Saat itupun ketika semua menertawakan Ayana yang mendekatinya.

"kakak cantik kenapa malah diam? APA?! MASIH MENGANTUK?! HAH!" lamunanku akan kenangan pertama kali bertemu dengan lelaki cerewet dihadapan ku ini buyar karena teriakannya.

"Apa kau tak bisa berbicara lembut kepadaku sekali saja hum?" jawabku malas.

"BAGAIMANA AKU BERBICARA LEMBUT JIKA kakak cantik terdiam tidak mendengarkan aku?"

"Maafkan aku, jadi mana model yang tak puas dengan desainku itu?"

Ayana melihat Aji memutar bola matanya jengah "Sedang menuju kesini" jawabnya kesal.

Ah Ayana lupa harus melakukan sesuatu. Segera saja Ayana beranjak dan merapihkan kertas kertas serta alat alat kesayanganku lainnya "Okey, suruh Hani menemuiku di ruanganku"

"Baiklah" sahut Aji kesal.

"Kenapa kau kesal?"

"Tidak ada apa apa" jawabnya tapi Ayana sedikit meragukannya. Aji yang melihatku menatapnya ragu seketika telinganya memerah.

Gosh.

Ayana tahu ada apa dengan lelaki cantik ini  "Hani masih tidak mau berbicara padamu?" tanyaku menaik turunkan alis dan sukses membuat Aji melotot kejam.

"Kau takut? Ey~ tak mungkin kau masih mau menjadikannya kekasihmu bukan? Jadilah lelaki sejati dan temui dia!" sepertinya ucapanku barusan kelewatan,  dia berdiri tegap dengan tiba tiba membuat kursi yang didudukinya terjatuh ke belakang.

"A—pa? Tidak seperti itu! Aku akan menemuinya!" ujarnya gugup kemudian kembali bergumam sembari membenarkan kursi yang terjatuh tadi "Ya, aku akan menemuinya!"

Ayana tertawa melihat raut wajahnya "Aku akan menemuinya kakak cantik! LIHAT SAJA! AKU TAK AKAN MENYERAH! I'LL NEVER GIVE UP!  I PROMISE!" teriaknya di luar, sepertinya dia mendapat semangat baru dari kata kata sepele Ayana barusan. Dasar anak itu.

Tapi aku beruntung mempunyai manusia seperti dia. Apalagi jika manusia itu seperti Aji, kegigihannya ingin berubah membuatku juga ingin berubah.

Dan sekarang lihatlah sudah menjalani profesi, uhm– bisa dikatakan seperti apa ya? CEO? Hahaha. Profesi sebagai desainer memang menjanjikan. Namun yang tak boleh dilupakan, pekerjaan seorang desainer tidak berhenti ketika karyanya diperagakan di atas panggung peragaan busana dan menerima tepukan tangan dari penonton. Karena, tugas desainer bukan hanya merancang, tetapi juga menguasai bisnis, manajemen, dan pasar yang dituju dengan benar.

Butuh kerja keras selama bertahun-tahun untuk menemukan pasar yang tepat, dan akhirnya menghasilkan karya yang mampu memenuhi kebutuhan pasar tersebut.

Kegiatan fashion show atau fashion exhibition semakin banyak digelar oleh organisasi independen atau pun pusat perbelanjaan. Event-event mode ini melahirkan banyak desainer baru yang menawarkan berbagai gaya rancangan. Banyak dari mereka yang lahir dari sekolah-sekolah mode internasional yang juga semakin banyak.

Banyak orang yang berprofesi sebagai desainer. Tidak bisa dipungkiri bahwa profesi ini menjadi profesi yang populer bagi orang-orang di jaman modern seperti ini. Selain untuk menyalurkan hobi dan bakat, profesi ini juga dilatar belakangi oleh cita rasa seni yang cukup tinggi. Banyak juga yang mengatakan bahwa pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar, mungkin inilah filosofi yang selalu ditanamkan di hati seorang Desainer.

Setiap desainer pasti ingin menciptakan karya terbaik yang mampu memberi solusi visual bagi para kliennya. Karya desain yang dihasilkan oleh desainer merupakan perpaduan antara ekspresi visual (seni rupa) dan verbal (bahasa) yang bertujuan menginformasikan, membujuk, dan menjual suatu produk atau jasa. Unsur visual dan bahasa disatukan dalam bentuk sajian barang cetak yang menarik pembaca.

Jadi, secara umum ada dua tugas penting untuk orang seperti diriku. yaitu : Menyampaikan pesan atau informasi kepada audiens secara jelas. Dan juga, menciptakan desain yang menarik dan mengesankan sehingga informasi yang disampaikan dapat menimbulkan hasrat atau membujuk target audiens.

Desainer memiliki dua peran sekaligus, yakni sebagai senirupawan dan komunikator. Sebagai pekerja seni, ia berhubungan erat dengan masalah keindahan (estetika), seperti pemilihan warna, ilustrasi, tipografi, dan layout. Sementara itu sebagai komunikator, ia mempunyai tugas memvisualkan pesan-pesan verbal sejelas mungkin agar dapat ditangkap oleh audiens secara mudah dan menyenangkan.

Tujuan utama membuat karya visual tentu bukan semata-mata mengekspresikan seni sebagaimana seorang pelukis, melainkan menyampaikan pesan dan menciptakan sajian visual yang komunikatif dan mampu mengunggah hasrat (exciting). Dalam upaya menangkap perhatian dan membujuk audiens, desainer perlu menyusun teks, gambar, ilustrasi, foto, logo, slogan, dan unsur-unsur desain lainnya dalam satu desain yang komunikatif, estetis, dan harmonis.

Ah memikirkan hal ini membuatku tergeli sendiri, karena dahulu aku menolak mentah pekerjaan seperti ini. Namun sekarang? Aku malah menjalaninya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!