"Apa mereka belum bangun?"
"Belum lah, pasti nona tak tahan dengan godaan tuan, secara kan tuan seperti pedofil yang haus jika ada seorang gadis cantik didepannya" jawab seorang pelayan berambut pendek dengan kekehan diakhir.
"Benar! Mereka kan ditempatkan dalam satu kamar oleh tuan besar" satu pelayan muda yang sedang mengepel lantai ikut bergabung meninggalkan alatnya sembarangan.
"Menurutmu siapa yang bangun terlebih dahulu?" tanya kembali pelayan yang sedang mengelap peralatan.
"Sudah pasti nona cantik yang akan bangun terlebih dahulu" acuh pelayan muda kembali mengambil alatnya dan melanjutkan acara mengepel lantainya.
"Kemudian dia teriak! daannn..." pelayan berambut pendek tadi menggantung ucapannya seraya menggigit kukunya histeris.
"daannn!!! tuan muda kembali melakukannya! hahahhaha" mereka tertawa lepas setelah percakapan itu.
"Astroy! Apa kau ingin dihukum! Kau berbicara sembarangan, bagaimana jika tuan mengetahuinya!" sentak ketua pelayan dengan marah.
"Maaf"
"Kau juga! Mona! Vina! Ashley! kalian sama saja!"
"Maafkan kami"
"Apa kalian tak memb--"
"Maaf saja tak cukup bukan kah begitu kepala pelayan Ares?" suara tegas yang kuat mendadak membuat semua yang ada disana menunduk takut.
"Maafkan kelakuan mereka tuan Aditya saya akan membimbing mereka lagi dengan baik" Ares menundukkan kepalanya patuh.
"Baiklah, kumaafkan. Lain kali jangan bergosip tanpa aku!" ujar Aditya membawa sebuah apel di meja lalu memakannya dengan acuh dan pergi dari sana. Membuat semua pelayan terkejut terlebih lagi Ares membulatkan matanya terheran heran. Memang, majikan dan bawahan sama saja.
...----------------...
Matahari sudah akan diam pada tempatnya, diatas. Sinar matahari perlahan memasuki kamar yang jendela nya hanya tertutup tirai tipis.
"Ugh" lenguh Ayanamerentangkan kedua tangannya dengan luas membuat seseorang disisinya mengeratkan pelukannya.
Bersamaan dengan itu kedua kelopak mata indah milik Ayana terbuka. Matanya menelusuri tempat yang ditidurinya, didepannya ada seorang lelaki tampan. Wajahnya seperti orang orang dalam komik. Sangat tampan.
Shit! Sejak kapan ada pria disampingnya?!
"Arghhh!!!"
"Siapa kau?!" ringisan seorang pria dengan teriakan Ayana secara bersamaan.
"Bukankah aku yang harus bertanya padamu? Kenapa kau ada disini?!" teriak balik sang pria.
"Wah! Sudah berani tidur memelukku sekarang kau tak ingin mengakui kesalahan mu?!" Ayana menyelipkan rambut sedadanya ke belakang menghembuskan nafas kasar. Tangannya perlahan membawa bantal dan menatap nyalang pria itu.
"Apa? Kau juga salah! Kau--"
"Kau bajingaaaaaan!" teriak Ayana memukulkan bantal pada pria dihadapannya
"Ah! Ah! Ah!! gadis gila! Sakit!!"
"Kapan kau akan mengaku! Orang cabul!! Sudah tak pakai baju kau ingin terus mencari kesempatan?!" sinis Ayana melihat mata keranjang pria itu terlihat mengarah ke bagian dadanya
"Woi! Sakit!"
Pria itu tak habis pikir dengan gadis gila yang berada dalam kamarnya. Berteriak bawa dirinya orang cabul yang berbohong menyelinap masuk juga memeluk gadis perawan. Bahkan ia tak tahu ada orang di dalam kamar yang ditunjukan Aditya tadi.
Ah benar, Aditya sialan!
Pria tampan yang sudah lelah dan geli karena ia harus berpura pura sakit terhadap pukulan dari gadis yang ada didalam kamarnya memikirkan cara bagaimana dia bisa menghindari serangan bertubi itu. Bahkan sedari tadi kamar yang tadinya rapi sekarang menjadi seperti kapal pecah, dimana semua barang tak terletak pada tempatnya akibat aktivitas kejar kejaran nya tadi.
"Apa kau tak lelah?" tanya pria tampan itu dengan menahan kedua tangan Ayana.
"Tidak sampai aku puas!" teriak Ayana kembali.
Ck, persetan dengan membuat ini seperti dalam drama.
Pria tampan nan cabul itu menahan kedua tangan Ayana dengan kuat sehingga membuat jieun meringis pelan dan sedikit ketakutan. Posisi mereka yang sekarang ini mungkin bagi kebanyakan orang terlihat romantis, dengan jieun yang dikungkung oleh pria tampan. Antara tembok dan pria dihadapannya, Ayana bahkan takut dengan pandangan silau nya.
Bantal yang dipegang Ayana perlahan jatuh dan disingkirkan oleh kaki pria tersebut. Hidung nya hampir bertabrakan dan otomatis hembusan nafas pria itu sangat terasa pada wajah Ayana.
"A-apa?" gugup Ayana.
"Apa kau gugup?"
"T-tidak"
"Lalu kenapa kau terbata bata?"
"A-aku hanya sesak"
"Sesak? Tentu saja karena kau berada dalam kungkungan pria tampan disini"
"Aku sesak dan muak melihat wajahmu" ketus Ayana.
"Begitulah?" tanya pria tersebut semakin mendekatkan wajahnya, kini pada leher Ayana. Alhasil Ayana semakin gugup
"Tok tok! Ehkmm" keduanya sontak memalingkan wajahnya pada salah satu pintu yang terletak didepan.
Dug!
"Arghh!!!"
"Aku tak sengaja! Maaf!" Rintihan dan perkataan maaf seketika menggelegar membuat seseorang yang terdiam di ambang pintu kamar terkejut apa yang mereka lakukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments