Ayana melangkahkan kakinya cepat menelusuri lorong apartemen mewah itu. Hingga Ayana menemukan ruangan dimana didalamnya terletak orang yang berharga dan Perfect di mana Ayana. Orang yang sukarela menolongnya, menolong butik -nya bulan lalu saat kacau. Mata mata itu terarah kepada Ayana dengan ramah, sedangkan Ayana hanya diam diambang pintu transparan tersebut. ralat, memang tak ada pintu hanya lubang untuk masuk.
"Ayana? Duduk disini nak" tepuk pria tua bernama Giandra Arsatya pada kursi di sebelahnya.
Makanan mulai dihidangkan di ruangan yang tak lain bernamakan ruang makan tersebut. Sedangkan pria tua yang menyuruh Ayana duduk masih terpaku pada jieun yang diam. Mau tak mau Ayana pun berjalan ke arah kursi di samping pria tua itu.
Diantara ke 11 kursi ini kenapa harus dia yang menentukan dimana aku duduk? gerutu Ayana dalam hati.
"Kau tahu kan apa yang akan aku sampaikan nak?" tanya Giandra, menganggukkan kepalanya sebagai isyarat jika tentu saja Ayana itu tahu topik apa yang akan dibicarakan.
Pernikahan sialan itu.
Bahkan Ayana tak tahu ia akan menikahi pria mana. Namun demi orang orang berharga baginya ia rela karena sebenarnya jieun tak terlalu peduli dengan pasangan hidup. Ayana lebih suka membicarakan dan mengutamakan kesenangannya sendiri.
Hobby nya, pekerjaan nya, makanan kesukaannya, pakaian kesukaannya, tempat tinggal kesukaannya serta hewan yang berada didekatnya itu saja cukup bagi Ayana.
Pelayan yang tengah menghidangkan makanan dengan hikmat, terlihat sedikit merunduk ketika seseorang datang dengan terburu- buru menciptakan sedikit kegaduhan. Diambang pintu dapur di sana tampaklah seorang pria berwajah tampan mengenakan jas biru langit.
Shit! Aku melupakan pria mesum itu!
"Bisakah kau mengetuk terlebih dahulu? Kurasa aku tak mengajarkanmu seperti itu" suara Giandra terdengar seperti putus asa dengan kelakuan anaknya, Haga.
"Kurasa yang selama ini mengajar padaku guru guru ku disekolah dan universitas, bukan kau" jawab Haga yang langsung duduk didepan Ayana yang terdiam duduk.
"Dasar anak ini–"
"Apa tak ada minuman enak disini? Wine?" Haga celinguk kesana ke sini seperti orang idiot.
"Apa maksudmu? Setelah masuk–"
"Kau tahu pria tua, disini tak ada pintu! Itu transparan! Bodoh" kesal Haga langsung melahap makanan didepannya.
"Tak bisakah kau memanggilku selayaknya?" Giandra menatap anaknya sedih.
"Apakah itu perlu? Dipanggil dengan nama ayah bukanlah suatu kebanggaan yang bisa dipamerkan" ketus Haga.
"Setidaknya kau–"
"Jangan menceramahi, aku lapar" potong Haga.
"Kau! Kenapa selalu memotong perkataan ayahmu sendiri?!" kesal Ayana yang sedari tadi diam menonton.
"Apa hubungannya denganmu?" Haga kembali menyeruput sup nya.
"Aku tak biasa membiarkan hal seperti ini terjadi"
"Lalu? Lakukan saja hal yang baru"
"A–pa?"
"Kau tuli? Jangan membuatku mengulangi apapun yang tadi sudah diucapkan"
"Bukankah disini kau yang tuli?"
"Kenapa aku?"
"Kau tuli. Tak mendengarkan orang yang membesarkanmu dari kecil"
"Tahu apa kau"
"Ayah adalah superhero bagi anaknya kau tahu"
"Tidak bagiku, ayahku sudah lenyap karena membiarkan ibuku pergi" ujar Haga menyuapkan daging yang langsung meleleh di dalam mulut.
Tubuh Haga menegang, seketika suasana hening. Perkataan anaknya memang tak bisa disanggah lagi, kenyataan pahit karena Giandra pun membiarkan mantan istrinya kesepian dirumah yang memicu perselingkuhan.
"Anak bodoh! Kau tidak hanya mesum sekarang kau anak durhaka?? Brengsek!" Amuk Ayana yang tak tahan karena perkataan Haga dan sikapnya seperti menyudutkan Giandra. Dan hal yang baru saja Ayana lakukan membuat Haga menggebrak meja dengan keras
"Siapa yang kau maksud brengsek!" teriak Haga membuat nyali Ayana menciut seketika.
"Sudah! Diamlah dan mulai makan dengan tenang" lerai Giandra.
"Sudahlah aku tak lapar lagi" jawab Haga.
"Sudah seharusnya kau tak lapar karena sudah menandaskan semua makanan di piring dan mangkuk mu tadi. Lebih buruknya lagi bahkan sebelum semuanya atau orang yang lebih tua makan" cibir Ayana.
"Lalu apa peduliku? Orang tua itupun menggenggam tanganmu saat aku datang"
"Kau marah?"
"Masalah untukmu?" Tanya Giandra dan Ayana bergiliran
"Ck, tentu saja marah dan masalah untukku karena mangsaku diambil orang"
"Apa maksudmu?" tanya Ayana heran.
"Jangan bilang kau sudah tahu" ujar Giandra.
"Ya, aku tahu"
"Tahu apa?" Ayana dibuat bingung di sana, menjadi satu satunya orang yang tak tahu menahu masalah sekarang adalah hal buruk.
"Kau" tunjuk Haga, mata elangnya menatap Ayana lekat.
"Aku?"
"Ya" singkat Haga
"Dia yang akan menikah denganmu Ayana"
Deg
"Apa apaan ini? Maksudmu aku harus menikah dengan pria mesum ini? Aku tak mau!" Ayana berdiri secara tiba tiba membuat kedua pria yang ada dimeja makan menanggahkan kepalanya melihat Ayana.
"Kau belum tahu?" tanya Haga.
"Tidak! Aku tak mau!" sentak Ayana.
"Aku bertanya padamu apa kau tahu atau tidak, bukan mau atau tak mau. ck"
"Tetap saja aku tak mau"
"Kau tak ada alasan untuk menolaknya"
"Ada"
"Apa?"
"Aku tak menyukaimu" tekan Ayana.
"Apakah hal itu penting dalam sebuah pernikahan? Ck, puitis sekali harus memiliki hal seperti itu" kekeh Haga
"Kalau menurutmu tak penting kita tak usah menikah saja" acuh Ayana, memakan hidangan penutup manis yang ada di hadapannya.
"Apa peduliku? Bukan kau yang menentukannya" Haga beranjak dari kursi dan melenggang pergi.
"Kenapa kalian terlihat seperti kucing dan anjing?" tanya Giandra.
"Maka dari itu bisakah ayah membatalkannya?" tanya Ayana memohon.
Pantas menyebut ayah karena ada maunya toh.
"Tak bisa"
"Ah~ kenapaaa?" Ayana mengayun-ayunkan tangan Giandra,bmerengek seperti minta dibelikan balon pink.
"Aku juga butuh bantuanmu Aya"
"Maka dari itu bisa kan kita nego?"
Giandra terkekeh dan menoyor dahi Ayana pelan "Memangnya kita sedang apa sampai bisa nego, kau ini"
"Bisa kan ini antara aku dan ayah"
"Bukan itu masalahnya"
"Lalu apaaa?" Ayana kembali mengayunkan tangan Giandra membuat Giandra menggelengkan kepalanya heran.
"Aku ingin meminta bantuanmu. Tolong aku" ujar Giandra dengan senyum misterius membuat Ayana meringis melihatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments