Pelukan

Aji yang sudah melihat gelagat kakak cantik-nya, mengambil ancang ancang untuk berlari. "JADI JANGAN MENIKAH DENGANNYA JIKA KAU TAK INGIN SENGSARA!" peringat Aji sebelum teriakan menghentikannya.

Sudah 15 sejak mereka, Ayana dan Haga di dalam mobil dengan keadaan hening. Jika mengingat kejadian tadi di butik, Haga tertawa sendiri saat memikirkannya. Ayana yang mendengar kekehan Haga hanya bisa mendengus kesal.

"Semakin kau merona semakin aku ingin tertawa terbahak"

Ayana menatap ke arah Haga dan belakang jok dengan tatapan aneh juga sedikit jengkel "Apa barusan kau berbicara padaku?" tanya Ayana.

"Dengan sahabatku"

"Siapa? Kau bahkan tak memasang earphone"

"Hantu"

Ayana mengeratkan tangannya pada seat belt, dan mengarahkan pandangannya ke segala arah "JANGAN BERCANDA!" ia cukup takut dengan hal mistis itu.

"Kenapa berteriak, apa kau takut?"

"I-ya"

Haga tersenyum remeh "Kenapa takut kan kau tahu dia temanku" goda Haga.

"Tapi jika dia temanmu berarti dia iblis"

"Apa maksudmu?"

"Kalian iblis, sama - sama menyeramkan dan menyebalkan"

"Ey, jangan berbicara seperti itu! Apa kau ingin dia menemui mu nanti sebelum tidur?"

"Jangan bercanda!"

Haga kembali terbahak sampai mengeluarkan sedikit air mata "Bukan hanya pembantah handal kau juga penakut?"

"Kau mempermainkan ku?!"

"Kau saja yang terlalu penakut" acuh Haga.

"Berhenti!!!!!!" teriak Ayana tapi Haga tetap menjalankan mobilnya.

"Ada apa denganmu? Telingaku sakit"

"Cepat hentikan mobilnya! Pinggir! Aku akan turun!!"

"Kau pikir aku supirmu!"

"Cepat!"

"Tidak!"

"Aishhhh!!! Kenapa!!"

"Aku tak mau menjadi bahan gossip"

Ayana mendelik sebal "Memangnya kau cukup untuk dijadikan bahan gossip? Muka seperti itu juga"

Haga tersenyum remeh "Maksudku aku tak mau ada rumor beredar jika seorang Haga membatalkan pernikahan karena calon istrinya dibawa hantu"

"DASAR KAU!" amuk Ayana kemudian.

"Kiri kiri!!" Ulang Ayana saat Haga tak lagi membalas ocehannya "Kau tak perlu mengantarku pulang, aku bisa sendiri. Pria mesum" tekan Ayana pada akhir kalimat yang ia ucapkan.

"Aku percaya kau bisa pulang sendiri" jawab Haga "Aku juga tak mau mengantarmu jika bukan itu kewajiban ku" tambah Haga lagi menyingkirkan tangan Ayana yang sedari tadi mencubit lengannya.

Ayana gelagapan, ia malu. Tak kuat menahan tangisannya karena kesal sekaligus malu dalam bersamaan. Tetapi Ayana masih memikirkan posisinya dimana sekarang, dan harga dirinya akan disimpan dimana jika ia menangis karena hal seperti itu.

"Kenapa diam? Malu?"

Sudah tau malu, banyak nanya.

"Kau lucu dengan muka seperti itu"

Ayana memalingkan wajah merahnya ke pinggirnya, berharap menemukan objek lain selain Haga. Dan nyatanya di luar hanya terdapat pohon - pohon, jalanan begitu sepi. Saat Ayana membuka kaca mobil, Ayana dikejutkan oleh banyak bintang di langit. Seolah menyambut kehadirannya, Ayana tersenyum dan melupakan hal memalukan tadi.

Dengan perasaan bebas, tangan Ayana terulur keluar untuk menikmati udara di luar. Meskipun cukup dingin, tapi udara seperti ini lah yang Ayana sukai

"Tanganmu akan patah jika terus seperti itu, hantu akan menariknya"

Setelah mendengar perkataan itu, Ayana menarik tangannya kembali dari luar lalu menutup kaca mobil.

Haga menghentikan mobilnya begitu sampai di suatu tempat. Lalu Haga sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Ayana "Penurut sekali, aku suka" gemas Haga mengacak rambut halus Ayana.

"Ma-u apa kau?"

"Ini" Haga melepas seat belt Ayana lalu pergi ke luar mobil. Ayana yang masih loading hanya bisa terdiam mendengarkan degupan jantungnya yang terpompa semakin kuat.

Ditambah lagi, sekarang pintu mobil disebelahnya terbuka sendiri dan menampakan wajah pria mesum yang akan tinggal bersamanya. Yang akan menjadi suaminya.

"Sedang apa? Ayo turun"

Ayana yang notabennya wanita, yang selalu berharap akan ditunggui dan dituntun keluar dari mobil oleh pria hancur sudah harapannya. Haga, pria menyebalkan itu justru hanya membukakan pintu mobil dan berdiri di dekat tembok sana.

"Kemari" pinta Haga.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Ayana

"Hanya ingin"

"Tapi pada jam segini?"

"Kau tak akan ku culik, karena kau tinggal bersamaku"

"Benar" acuh Ayana mengikuti arah pandangan Haga pada bagian mana.

"Ah, indah sekali" Ayana menghembuskan nafas kasar sembari menggosok kedua tangannya. Cuaca cukup dingin disini.

Haga yang intinya ingin bisa puas melihat saja cantiknya cahaya lampu serta gedung - gedung tinggi dari dataran tinggi ini pada akhirnya mengajak Ayana berjalan-jalan.

"Benar indah bukan?" gumam Haga menyampirkan jaket yang ia gunakan ke pundak Ayana.

Blush.

"A-h aku tak apa" Ayana akan melepaskan jaket hangat Haga namun suara Haga kembali terdengar.

"Pakailah, jangan sok kuat" tekan Haga.

"B-aiklah terimakasih"

"Hm"

"Kau kedinginan?" tanya Ayana setelah 2menit mereka berjalan beriringan.

"Hm"

"Benarkah?"

"Hm"

"Sungguh?"

"Hm"

"Jadi kau kedinginan?"

"Hm"

"Jangan hanya mengatakan h-"

Cup!

Ayana membulatkan matanya tak percaya, apa yang barusan terjadi?

"L-epas" gugup Ayana setelah bibir keduanya terlepas. Dan apa lagi sekarang? Haga melingkarkan tangannya erat pada pinggang Ayana, kepalanya bertumpu pada bahu Ayana, dada keduanya bertabrakan tanpa ada celah lagi, Haga semakin mengeratkan pelukannya.

"Biarkan seperti ini" pinta Haga, tangannya tetap setia melingkar di pinggang Ayana.

Suasana yang tenang mendukung kegiatan keduanya, seperti pasangan yang sudah lama berhubungan mereka tersenyum dibalik pelukan dan menikmatinya. Pemandangan di kota indah nan cantik ini menjadi saksi keduanya secara alami memang ada suatu perasaan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!