Mencoba dekat

Kelopak mata Rumi perlahan terbuka. Silau lampu membuatnya memejam sesaat sebelum netranya mampu beradaptasi dengan cahaya, yang pertama kali dilihatnya adalah Jaya sang suami yang berada disampingnya, menggenggam tangan Rumi dengan sangat erat.

"Mas-? Rumi memanggil Jaya dengan suara serak, dia berusaha mencegah ketakutannya.

" Ya, Rum? Apa yang sakit?" terdengar jelas Jaya sangat khawatir.

Rumi menggeleng, air matanya lolos juga ketika mendengar kekhawatiran di suara Jaya. Dengan cepat Jaya menyeka air mata Rumi.

"Jangan menangis, tidak akan saya biarkan lelaki itu menyentuhmu seujung kuku pun!" Jaya mengecup tangan Rumi dengan bibir yang bergetar.

Jaya benar-benar bersyukur bisa sampai tepat waktu. Beruntungnya dia nekat mengendarai mogenya ketimbang angkutan umum, andai telat setengah jam saja, entah apa yang bisa diperbuat mantan suami istrinya itu dalam keadaan setengah teler. Jaya tidak berani membayangkan, Allah masih menjaga istrinya dari kejahatan ia sudah sangat bersyukur.

Untuk Harsa pria itu juga langsung diamankan warga karena sempat saling baku hantam dengan Jaya.

Rumi yang enggan menatap Jaya berbaring menyamping, memunggungi Jaya. Ia meringkuk seperti janin. Rumi kedinginan, hatinya beku. Tubuhnya menggigil.

Dapat dirasakan oleh wanita itu saat Jaya beringsut untuk mendekatinya.

Dengan tiba-tiba pria itu menempelkan tubuhnya pada tubuh Rumi, memeluknya, menyelimuti Rumi dengan kehangatan yang bisa diberikan oleh tubuh pria itu.

Rumi juga dapat merasakan Jaya berulang kali mengecup bagian belakang kepalanya lembut.

"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja!" ujar Jaya sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh Rumi. Tubuh mereka menempel begitu dekat, begitu intim, bagai sepasang janin yang saling memeluk untuk saling melindungi.

Air mata jatuh dari pelupuk mata Rumi. Dadanya begitu sesak, menyayangkan juga mensyukuri kehadiran Jaya disisinya.

Andai Jaya tak datang, mungkin dia bisa leluasa pergi, Rumi bingung menganalisa perasaannya.

Rumi rasa dia tidak akan sanggup lagi menghadapi sesuatu yang lebih besar dari yang tengah ia hadapi saat ini. Dia bahkan merasa bibirnya teramat sulit untuk sekedar meminta Jaya pergi dari sisinya.

Ia hanya ingin bahagia. Bahagia dengan pria yang telah menjadi suaminya. Dan pria itu adalah Jaya. Namun jika Jaya tidak punya keinginan yang sama sepertinya dan mereka berdua harus terkurung dalam sebuah pernikahan yang tidak dapat mereka usahakan kebahagiaannya, apakah Rumi akan bertahan?

Memang tidak ada pernikahan yang sempurna, amarah, kesalahpahaman, perdebatan atau hal-hal yang lainnya, itu adalah bagian dan hal yang dapat ditemukan dalam setiap pernikahan, namun semua hal itu akan bisa dilalui jika kedua pasangan ada dalam satu kapal yang berisi cinta dan kepercayaan maka Rumi yakin masalah itu dapat di atasi.

Berbeda dengan keadaan rumah tangganya yang Rumi yakini hanya dia yang memiliki niat untuk hidup bersama dengan Jaya. Tidak dengan Jaya sendiri. Melihat betapa sedihnya Jaya menangis di kamar itu. Rumi semakin yakin bahwa suaminya tidak bahagia menikah dengannya.

Tidak, Rumi tidak akan bertahan lebih lama lagi jika Jaya tidak bisa mengusahakan untuk membuka hati untuknya.

Rumi mungkin sudah menaruh harapan pada Jaya. Namun Rumi tau bila bertahan dalam satu ikatan dimana hanya satu pihak yang memiliki rasa dan pengharapan, ikatan itu tidak akan terjalin dengan baik dan sempurna.

"Rum.." Suara Jaya serak.

Rumi ingin bertahan dengan ke-acuhan nya. Tapi mendengar suara serak itu, Rumi tidak bisa untuk tidak melunakkan hatinya.

Rumi menurut ketika Jaya menarik pundaknya pelan untuk diminta berbalik menghadap pada sang suami.

Dapat Rumi lihat wajah pucat serta bibir Jaya yang agak membiru.

Yang Rumi tidak ketahui Jaya menerobos hujan lebih dari satu jam. Tubuh lelaki sudah menggigil saat di pertengahan perjalanan, tapi rasa khawatirnya mengalahkan rasa dingin yang Jaya rasakan, hingga karena tekat yang kuat Jaya mampu sampai dengan tepat waktu.

Jaya yang sampai dengan keadaan basah kuyup dan menggigil hebat, langsung dihadapkan dengan kehadiran seorang Harsa yang tengah berusaha mendobrak pintu rumahnya.

Dengan tidak menghiraukan rasa sakit pada kepalanya, Jaya menarik lelaki mantan istrinya itu menjauh dari pintu, berkali-kali memperingatkan Harsa agar pergi meninggalkan kediaman mereka tapi tak diindahkan oleh di Harsa.

Hingga baku hantam tak terelakan, Jaya yang juga di dera rasa dingin serta sakit kepala tidak begitu mampu menghadapi Harsa yang juga setengah teler, beruntung keributan itu didengar oleh warga sekitar, hingga pada akhirnya mereka membantu Jaya mengamankan Harsa.

"Mas kedinginan."

Tangan Rumi yang hendak menyentuh sudut bibir Jaya menggantung di udara karena ucapan Harsa barusan.

Terus terang, meskipun pernikahan mereka sudah berjalan dua bulanan, tapi keintiman seperti ini baru pertama terjadi.

Napas hangat Jaya menerpa wajah Rumi. Perlahan Rumi membawa ibu jarinya mengelus sudut bibir Jaya yang tampak luka.

Jaya meraih tangan itu dan menggenggamnya erat dan di letakkan di atas bibirnya.

"Betapa khawatirnya saya tidak menemukanmu di rumah Abah, dek. Mas cari ke sana sini kaya orang linglung, beruntung saya kuat naik motor menembus derasnya hujan. Kenapa pergi tanpa bicara sama saya? Rumi... saya khawatir."

Rumi terisak. Ia tidak menyangka Jaya nekat membawa motor untuk menyusulnya.

"Saya khawatir sama kamu, dek. Kalau kamu mau pergi bilang sama saya. Jangan pergi sendirian, Mas takut kamu kenapa-napa."

Mendengar itu Rumi langsung merapat dan memeluk Jaya. Membenamkan wajahnya di dada Jaya dan kembali terisak disana. Jaya membiarkan, dan tidak akan pernah melarang Rumi menangis, tapi juga tidak akan membiarkan Rumi larut dalam kesedihannya terus menerus. Dia sudah berjanji pada dirinya bahwa akan membahagiakan Rumi, seumur hidupnya.

Saat ini biarlah Rumi menangis, meluapkan kesakitan nya. Jaya akan senantiasa memberi tempat untuk wanita itu bersandar dan mencurahkan segala kesakitan nya.

Jaya baru tahu ternyata istrinya juga memiliki trauma masa lalu. Bukankah mereka sama?

Mungkin Allah sengaja mempertemukan mereka untuk saling menguatkan dan juga saling menyembuhkan. Jaya tak menampik mudah untuk jatuh cinta pada seorang Rumi.

Wanita ini cantik dan keibuan.

Maaf, Rumi. Maaf sudah berpikir ingin melepaskan mu.

Penyesalan memang selalu datang di akhir. Jaya baru menyadari bahwa ia telah berlaku jahat sebagai suami. Ia juga baru menyadari bahwa dirinya memiliki perasaan untuk Rumi. Meski rasa itu masih samar. Tapi, getar kekhawatiran ketika tak menemukan keberadaan istrinya itu menambah kadarnya. Ternyata Jaya kembali takut kehilangan.

Jaya menyesal telah berpikir ingin melepaskan Rumi padahal dia bahkan paham makna pernikahan. Ketika akad telah terucap. Dia bukan hanya sedang melakukan perjanjian dengan Rumi dan penghulu, melainkan dia juga sedang melakukan perjanjian dengan Allah. Begitu sakralnya akad nikah sehingga Allah menyebutnya dengan mistsakon gholizho yang artinya perjanjian berat atau perjanjian kuat.

Missaqon gholizho memberikan pemahaman bahwa pernikahan itu bukanlah sekedar penghalalan terhadap yang haram saja, tetapi merupakan janji cinta suci yang Agung. Pelaksanaannya bukan hanya sehari atau dua hari. Namun, selamanya sampai kelak bertemu kembali di janah-Nya.

Terpopuler

Comments

Hanipah Fitri

Hanipah Fitri

bagus ceritanya Thor, bikin aku mengeluarkan air mata

2024-02-07

1

M. salih

M. salih

semoga kalian bahagia

2024-02-05

0

mia

mia

lekas saling membuka hati dan saling menerima ya ..🤗🤗

2024-01-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!