Rumi tidak menyangka jika kedatangannya justru di sambut oleh Isak tangis ibu sang suami. Wanita itu berurai air mata begitu melihatnya turun dari mobil.
"Selamat datang, anak Ibu!"
Rumi di peluk, di tarik kedalam rumah yang memiliki halaman sangat luas.
Rumi juga baru tahu jika ternyata keluarga sang suami adalah pemilik ponpes.
Bisa jadi ini alasan Jaya memintanya ganti pakaian. Rumi jadi malu tidak tahu seluk beluk suaminya.
Dan kini, Rumi justru masuk seorang diri, Jaya entah kemana.
"Maaf, Ibu. Saya tidak tahu kalau di rumah banyak tanaman mangga, tadi saya asal beli di kedai buah, minta Pak sopir stop, musim mangga, jadi banyak mangga di jual." Rumi menyesal tidak bertanya dulu pada Jaya apa yang pas untuk buah tangan, lagian kenapa juga suaminya nggak kasih tahu kalau di rumah orang tua lelaki itu banyak tanaman mangga, sih.
"Ga apa-apa, tidak bawa apa -apa asal kalian datang, kami sudah senang, apa lagi di beri sesuatu tanda sayang seperti ini."
Mereka pun tertawa. Sesederhana kebahagiaan itu terbentuk. Umi Zalianty suka dengan Rumi yang sederhana.
Rumi mulai celingukan mencari keberadaan Jaya. "Mas Jaya kok nggak ikut masuk, Bu?" tanyanya sopan.
Yang di tanyai hanya tersenyum tipis. Sejak hari dimana putrinya meninggal, sejak hari itu putranya tidak mau datang.
Jaya takut akan kenangan yang ada di rumah ini, tapi kini Jaya berani membawa istrinya kesini pasti bukan tanpa alasan.
Perlahan Umi Zalianty meraih tangan Rumi. "Ibu boleh tanya sesuatu?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Rumi sebelumnya, Umi Zalianty malah mengajukan pertanyaan.
Rumi merespon, wanita itu tersenyum dan mengangguk setelahnya.
"Apa Jaya sudah cerita sama kamu, jika dia itu.."
"Duda?" potong Rumi, ketika melihat ibu mertuanya tidak bisa melanjutkan pertanyaan.
Umi Zalianty mengangguk. Ada haru di mata wanita paruh baya itu. Mungkin Rumi adalah jodoh Jaya yang sesungguhnya.
"Sudah, Bu. Mas Jaya juga mengatakan jika memiliki putri yang usianya kini hampir 10 tahun, apa saya bisa bertemu dengan putri saya, Bu?" dengan nada lembut dan sopan Rumi menjelaskan serta meminta izin untuk bertemu dengan putri suaminya.
"Boleh sayang, boleh! Nanti biar Abah jemput di pondok."
"Terima kasih, ibu." ucap Rumi tulus.
"Kamu istirahat dulu kalau capek, nanti kita lanjut ngobrolnya,"
"Rumi nggak capek kok, Bu. Kita ngobrol aja ya Bu, atau ada yang bisa Rumi bantu apa gitu."
Umi Zalianty tertawa kecil mendengar ucapan Rumi. Ternyata istri Hassan masih sangat polos, bagaimana mungkin anak sepolos Rumi sudah pernah menikah sebelumnya.
"Jaya itu udah nggak pernah kesini. Terakhir waktu empat puluh hari istrinya. Ibu sudah sisihkan apapun yang bisa membuat Jaya lupa akan rasa sakitnya, tapi bagaimana pun ibu tidak bisa mengurangi rasa kehilangan yang ditanggung Jaya." tampak gurat sendu di wajah Umi Zalianty.
Rumi penasaran dengan wajah Dinar sebenarnya. Akan tetapi, ia lebih baik tidak tahu jika memang pada akhirnya menumbuhkan rasa negatif. Misalnya perbandingan dan persaingan secara alami.
Karena wanita kadang sensitif masalah mantan. Maka daripada memicu pertengkaran, Rumi membatasi rasa kepo untuk masa lalu Jaya.
Obrolan mereka berlanjut semakin akrab. Umi Zalianty juga senang dengan karakter Rumi yang lembut dan sopan.
Sampai detik ini Rumi memang belum tahu jika yang dia anggap ibu mertuanya itu adalah ibu dari Dinar, yang berarti mertua Jaya.
Hidup Jaya memang rumit, sama dengan perasaannya saat ini. Jaya memang hanya berniat membawa Rumi mengenal Zahra, tapi dia sendiri belum siap menemui putrinya.
Begitu Rumi turun dari taksi. Jaya melihat Umi Zalianty berada di halaman, Jaya tidak sanggup untuk ikut turun. Ia meminta sopir mengantarkannya ke masjid saja.
Kini sudah dua jam ia berada di dalam masjid. Shalat Jum'at sudah usai, tapi Jaya belum ingin beranjak dari sana. Hingga tepukan di pundaknya membuatnya menoleh.
"Apa se benci itu kamu sama kami sampai-sampai melihat kami pun kamu tak sudi, Le?"
Hassan terperangah melihat sang Abah berada di belakangnya. Mata lelaki itu berkaca-kaca, terlihat begitu banyak beban di pundaknya.
"Abah.." lirih Hassan tergagap.
******
Pukul enam sore, Rumi merasa resah melanda. Selain karena pesan pada Jaya tak ada balasan, ia juga di dera pusing berkepanjangan. Tiba-tiba perutnya merasa mual, kalau pun mabuk perjalanan harusnya sejak tiba, kan?
Beruntungnya mertuanya amat sangat baik, Rumi merasa tersanjung dengan kebaikan Umi Zalianty, Rumi yang sejak kecil tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu merasa sangat bahagia di perhatikan sebaik itu.
"Assalamualaikum.." suara salam membuat Rumi mendongak.
Kebetulan Umi Zalianty sedang mandi, Rumi hanya sendirian duduk di sofa keluarga.
Kepalanya melongok mengintip orang yang datang. Hingga mata Rumi bertemu dengan mata indah milik remaja yang Rumi yakini adalah gadis bernama Zahra, yang tidak lain adalah putri sambungnya.
Rumi berdiri tegak ingin segera menghampiri Zahra, tapi karena ragu, langkahnya melambat.
"Ini ..Zahra, ya?" di landa gugup, Rumi malah jadi bingung mau menyapa bagaimana.
"Iya, Mba ini ... istri Abati ya?"
Ada rasa asing menyapa Rumi, rasa itu seperti sebuah perbandingan mencolok antara dia dan keluarga Jaya.
Lihatlah! Mereka begitu agamis, dari pakaiannya serta cara bertutur katanya sangat berbeda dengan Rumi.
Rumi berusaha tersenyum, meski pun mungkin terlihat kaku karena dia tengah merasa minder.
"Abati, mana? Mba datang sendiri?"
Ya Allah, kenapa jadi sedih begini? Terlihat jelas remaja di depannya ini sedang merindukan sosok ayahnya. Tapi, apa yang bisa Rumi katakan? Sedangkan sejak dia menginjakkan kakinya di rumah ini sosok Jaya tidak pernah terlihat.
"Itu ... anu, Bapak, Ayah, eh, Abatimu, dia, dia ..." Rumi jadi bingung sendiri.
"Abati nggak ikut ya, Mba?"
Rumi tertegun kala tangannya di raih oleh Zahra dan di bawa ke kening remaja itu.
Ya Allah... Rumi terharu.
********
Jaya terpaku menatap Rumi yang tidur di atas sofa. Ia melangkah pelan, lalu jongkok tepat di depan wajah sang istri. Wanita itu cantik, ia feminim, dan memiliki hati yang tulus.
Apakah keputusannya untuk melepaskan Rumi adalah hal yang benar?
"Rumi, bangun." ia usap lengan Rumi. Wanita berwajah jepang itu mulai terusik, lenguhan terdengar membuat dada Jaya bergetar.
Kedua mata indah itu terbuka sempurna. Lalu nampak tersentak dan lekas duduk.
"Mas Jaya sudah pulang?" ucapnya kikuk lalu meraih jemarinya dan mengecupnya khidmat.
"Sudah, kenapa tidur di sofa?" kini ia bangkit lalu duduk di sisi sang istri.
"Nunggu, Mas pulang." Jaya menghangat mendengar itu. Rasanya ia ingin merengkuh tubuh Rumi. Namun saat ingat dimana mereka saat ini, Jaya tidak melakukannya.
Rumi tadi menunggu Jaya bersama dengan Zahra, tapi mungkin Zahra sudah masuk ke kamarnya karena terlalu lama menunggu sang Ayah. Hingga tinggallah Rumi seorang yang juga tertidur karena mengantuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
bener ini klnjtnya, trnyta seorang gus hasaan jg bs depresi y wjr si terlalu dlm cintanya pdhl yg jd orgtua saja sdh ikhlas
2025-03-10
0
bibi
next
2024-03-05
0
Hanipah Fitri
Hasan ko jadi laki laki cengeng banget, gak terima dgn takdir
2024-02-07
0