"Itu, aku ...dia.."
Jaya terdiam, tak bisa berkata-kata. Selalu seperti ini ketika ingin bercerita tentang keluarganya. Jaya tampak kelabakan dan itu disadari oleh Rumi yang sebenarnya tidak menuntut.
"Ceritakan ketika kamu sudah siap." ucap Rumi pada akhirnya setelah cukup lama didera keheningan.
Jaya menatap Rumi sekilas sebelum membuang pandang. "Maaf, bagian dari luka." Jaya berucap tanpa melihat pada Rumi.
Rumi tersenyum. Mengangguk dan berusaha mengerti. Masih banyak teka-teki tentang lelaki yang menjadi suaminya ini. Akan tetapi, ia yakin waktu akan memberi jawaban nantinya.
Jaya merasa lega. Rumi bisa memahami dirinya.
"Kamu sudah makan? Tadi aku bawa makanan untuk kita makan bersama, tapi kamu malah ngak pulang-pulang. Cius, aku lapar banget. " Rumi tertawa mencairkan suasana.
"Mba Rumi belum makan?" Jaya bertanya polos.
Rumi menggeleng. "Kan nungguin kamu."
Demi apa jawaban Rumi mampu menyelipkan perasaan yang tidak Jaya mengerti.
Rumi tidak segan menggamit lengan Jaya dan di tarik menuju kamar mereka.
Kamar yang akan mereka tempati bersama. Rumi sadar, sebagai mana pun Jaya, keadaannya, kekurangan baik kelebihannya dia tetap suaminya sekarang.
Tidak terasa sudah sepuluh hari Rumi dan Jaya menikah. Tentang pernikahan itu, Rumi menerimanya Tidur seranjang memang dilakukan. Akan tetapi, tak ada bahasan lebih lanjut tentang apapun itu. Momongan misalnya.
Astaga! Rumi meringis tatkala lututnya berdarah akibat tersandung dan jatuh di atas tanah ber kerikil. Pagi ini Rumi berencana membersihkan belakang rumah kost tempat menjemur baju, tapi tiba-tiba Rumi kehilangan fokus.
Jaya yang melihat istrinya terjatuh segera mengambil sikap. Rumi terkejut kala tiba-tiba tubuhnya melayang.
Jaya. Laki-laki itu menggendongnya dengan sangat perhatian. Melihat luka di lutut Rumi Jaya segera mengambil obat dan mengobatinya.
Perbuatan Jaya membuat Rumi tersentuh. Ia kagum ternyata Jaya bisa bersikap demikian.
Mengetahui sedikit sisi Jaya, memberi teka-teki. Rumi tak menampik bahwa ia nyaman berinteraksi seperti ini. Sejauh ini Jaya memperlihatkan kebaikan di antara sisi kekurangannya. Rumi menerima dan akan belajar menjalaninya. Baginya pernikahan ini bukan lagi paksaan, tetapi ibadah terlama melalui cobaan.
"Terima kasih, Jaya."
Jaya tersenyum. "Aku juga berterima kasih sama mba, dulu waktu aku terluka, mba Rumi yang obatin aku."
"Jaya, boleh aku memanggilmu... Mas?"
Jaya menghela napas sebelum akhirnya mengangguk.
"Serius, Jaya? Itu berarti kamu boleh memanggilku Rumi saja, bagaimana? " kini Rumi berkata mantap.
Tiba-tiba Jaya menggenggam tangan Rumi yang bebas.
"Rumi.. "
Panggil Jaya seperti dari alam lain, begitu menggetarkan dada Rumi.
Rumi mendongak perlahan. Senyum yang tadi sempat mampir menghilang. Berganti sebuah keseriusan yang kini menerjang.
"Iya, Jaya? Ada apa?"
"Kamu serius menerima pernikahan ini?" tanya Jaya pada akhirnya.
Bukan apa, Jaya memang tertarik pada kebaikan Rumi. Akan tetapi, menerima dirinya dengan segala luka adalah hal berat. Rumi sempurna. Ia berhak memilih tanpa kekangan siapapun. Toh, jika diakhiri di awal itu artinya tak memupuk rasa sayang dan mendapat luka nantinya. Jaya telah mempertimbangkan.
"Serius, Jaya." kini Rumi berkata mantap.
"Jika kamu serius maka... bertahanlah denganku, kamu akan tahu seberapa sulit menjadi pendamping hidupku,"
Jaya seakan kembali hidup pada waktu itu. Laki-laki yang dianggap gila kini mulai bangkit perlahan. Tentu karena ada Rumi yang mulai mengusik beragam perasaan. Salah satunya perasaan tak ingin lagi kehilangan.
Rumi termangu. Bulu kuduknya meremang mendengar kalimat serius itu. Apalagi tatapan Jaya kini berbeda. Seakan membangkitkan kinerja jantung dua kali lipat cepatnya. Jaya memang lelaki dewasa.
"Aku akan bekerja, " ujar Jaya kembali bersuara.
Rumi yang belum pulih dari keterkejutan nya dari ucapan Jaya sebelumnya semakin terperangah dibuatnya.
"Sebagai suami, aku gak mungkin cuma kerja jadi kuli panggul dengan penghasilan tak seberapa."
Status suami yang sekarang membuatnya gugup. Wanita yang jadi kembang desa jadi istrinya. Allahu... Jaya serasa mimpi.
"Aku bisa kerja Jaya, apa aja. Aku bisa jadi buruh cuci."
"Jangan! " tolak Jaya terdengar keras.
Rumi sedikit terkejut melihat ekspresi lelaki itu.
"Kamu tulang rusuk, bukan tulang punggung, aku masih mampu menghidupi istri."
Ucapan Jaya mengingatkan Rumi pada Harsa. Ia pun baru merasa bingung sekarang. Kenapa bisa melupakan Harsa yang notabene lelaki pertamanya semudah membalikkan telapak tangan? Apa karena Harsa terlalu melukai, atau memang karena kehadiran Jaya?
Dalam jarak dekat hembusan napas berbau mint mengenai Rumi. Sebagai wanita yang pernah menikah, Rumi merasakan jantungnya mulai nakal. Matanya beradu dengan mata Jaya.
Sadar dengan posisi berdekatan, Jaya mundur selangkah,. Bukan hanya Rumi yang merasakan. Jaya juga. Berdekatan dengan Rumi selepas akad, Jaya merasakan jantungnya bekerja dengan abnormal.
"Sudah selesai. Aku lebih suka di sorakin gila dari pada melihatmu terluka seperti ini."
Rumi terbengong. Matanya lurus menatap Jaya yang kini bangkit meninggalkannya. Ah kenapa kalimat Jaya terdengar begitu manis? Pipi wanita itu memanas seiring perginya langkah Jaya.
Luka di lututnya bahkan tidak terasa lagi.
*******
Rumi sedang menyapu ketika tiba-tiba Harsa datang.
Laki-laki itu melewati Jaya begitu saja, dianggap tak ada atau memang tidak perduli.
"Rumi.. "
Mata Rumi terpejam otomatis mendengar suara familiar yang sangat susah untuk dilupakan, bukan karena kebaikannya, akan tetapi karena suara itu yang kerap memaki dan menghinanya.
"Mas, rasanya kurang pantas bertamu pagi-bagi begini." tegur Rumi setelah mampu menguasai diri.
"Aku berubah pikiran, nggak usah nunggu tiga bulan, aku akan mengurus perceraian kalian dalam waktu satu bulan."
Rumi geram. "Hidupku bukan lagi urusanmu!"
"Apa kamu bilang?" Harsa yang mulai emosi tidak bisa menjaga suaranya.
Sudah dikatakan jika kesabaran Harsa hanya setipis tisu.
"Perempuan tak tahu diri sudah di beri solusi ma... "
"Kalau aku tidak tahu diri, bagaimana denganmu, Mas? Seenak jidat kamu mengatur hidupku, sekarang jangan lagi kamu atur hidupku karena..."
Tangan Harsa melayang di udara. Tamparan yang hendak dilayangkan pada Rumi di tahan oleh Jaya.
"Saya bukan orang berpendidikan tinggi. Akan tetapi, setidaknya tahu adab seorang lelaki pada perempuan. Seperti tadi, bagaimana bisa saya membiarkan wanita yang sudah saya nikahi akan saya berikan dengan mudahnya pada lelaki tukang main tangan seperti anda?"
Rumi tidak mengira Jaya berani melawan Harsa, yang lebih mengagumkan lagi ucapan Jaya tidak bisa dikatakan sederhana sudah seperti seorang suami yang melindungi istrinya.
"Saya tidak akan melepaskan Rumi. Saya mengerti anda marah, akan tetapi marahnya lelaki yang berbudi itu tak akan membuat wanitanya terluka. Bahkan, marah yang baik itu diam. Jika anda tidak segera pergi maka... saya bisa mematahkan leher anda!"
Harsa menelan ludah. Ia mengatur napas guna mengatur emosi. Harsa baru sadar jika tubuh laki-laki sinting ini lebih tegap dari tubuhnya.
Seketika Harsa tersentak, bagaimana bisa orang sinting mengancamnya penuh keseriusan seperti itu?
*******
Rumi benar-benar tidak menyangka, Jaya bisa mengusir Harsa.
Kini Rumi tidak bisa melihat Jaya seperti sebelumnya.
Rumi tidak sadar jika tatapannya sejak tadi terpaku pada Jaya, hingga lelaki itu akhirnya bereaksi.
"Kenapa?" tanyanya dengan wajah polos seperti biasanya.
"Aku nggak nyangka kamu bisa setegas itu. Kamu kayak sudah berpengalaman." Rumi menyahut jujur.
"Berpengalaman?" kutip Jaya.
"Kamu kayak sudah pernah menikah hingga tahu bagaimana melindungi istri." Rumi tertawa kecil menertawakan pikirannya yang sedikit konyol.
Jaya berdehem menatap Rumi. Tenggorokannya terasa kering sekarang. Semua kata seakan tersumpal agar tak keluar. Hingga saat Rumi akan beranjak pergi, Jaya membuka kejujurannya.
"Aku memang sudah pernah menikah, Rumi."
Senyum jenaka sirna seketika dari bibir Rumi, keterkejutan mendongak detak jantungnya.
"Sebelum kamu, aku pernah menikahi seorang wanita."
Dan Rumi tak bisa berkata. Hatinya dipenuhi tanya, dan kenyataan bahwa Jaya seorang duda mengusik hatinya.
#####
Mau lanjut tidak?
Sepi amat!🤭🤭🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Heryta Herman
mauuu thor..lanjuuut
2024-09-27
0
Mukmini Salasiyanti
mauuuuuuuuuuuu
lanjuuttttt, thor.........
yaahhhhh
sepi itu konsekuensi, thor....
sing sabarrr....
bntr lg rame nya nih.....
ternyata, di dunia online gini pun
byk pesaing ya, thor...
😁🤣🤣cemungut, author qu 💪
2024-06-14
0
Soraya
lanjut thor
2024-05-20
0