"Ayo, dimakan, Mas." ucap Rumi pada Jaya yang masih betah di atas tempat tidur.
"Makan yang barusan sudah sangat cukup bagiku, Dek."
Jaya mengerling jahil menyadarkan Rumi maksud dari ucapannya. Seketika pipi Rumi bersemu merah. Bagaimana Jaya bisa se-mesum itu.
Rumi tidak sadar ketika Jaya sudah mengikis jarak diantara mereka, dan sekali lagi membawa wanita itu terbuai oleh ciuman lembut bibirnya.
Jaya menarik wajahnya perlahan begitu Rumi berhenti menyambut bibirnya. Deru napas mereka masih jelas terdengar. Jaya menatap wajah Rumi dengan penuh damba, seolah belum rela jika harus berhenti.
Tapi begitu melihat sorot mata Rumi yang masih memancarkan banyak pertanyaan, membuat Jaya mengerti jika mereka harus bicara menuntaskan keraguan.
Perlahan Jaya mengecup kening Rumi cukup lama, mencoba menenangkan Rumi, lebih tepat menenangkan dirinya sendiri. Jantungnya berlalu cepat dari seharusnya. Mencoba mengatur napasnya kembali, agar kabut di kepalanya segera hilang. Ia tak ingin lepas kendali.
Mungkin ini terlalu cepat, harusnya ada tahap dimana mereka menjajaki.
Jaya tidak tahu jika Rumi tidak pernah ragu memulai hubungan dengannya. Rumi tidak meragukan suaminya meskipun Jaya yang dikenalnya bukan sosok yang sempurna.
"Gih-" ekor mata Rumi menatap makanan yang sudah ia sediakan.
Berhubung perut Jaya sudah keroncongan. Dia akhirnya menjauh dari Rumi dan menuju tempat dimana makanan telah terhidang.
"Kamu nga makan?" tanya Jaya yang dijawab gelengan kepala oleh Rumi.
Rumi menghampiri dan berdiri di sisi Jaya ikut menuangkan air untuk sang suami.
"Makan yang banyak, Mas. Aku kan sudah makan tadi, Mas harus makan banyak biar tenaganya pulih."
Ucapan itu hanya spontanitas, tapi Rumi merasa sedikit gugup karena ucapannya sendiri.
Reaksi apa ini?
Rumi bahagia, hari ini hubungan mereka sudah selangkah lebih maju. Apa sudah ber langkah-langkah? Mengingat pergulatan panas yang mereka lakukan beberapa saat lalu. Hati Rumi meledak bagai kembang api di tahun baru.
Kini Rumi duduk di samping Jaya. Menemani lelaki itu menikmati makan malam yang sangat terlambat.
Sesekali mereka saling mencuri pandang. Dan berakhir dengan saling tersenyum manis saat saling ketahuan.
Yang awalnya Jaya ingin bicara mengenai hubungan mereka dengan Rumi. Karena kenyang dan lelah. Lelaki itu justru tertidur pulas. Tidur satu ranjang dengan Rumi hingga pagi menyapa.
Benar-benar tidur yang berkualitas untuk keduanya, tanpa mimpi dan sangat lelap. Seruan azan subuh yang akhirnya membangunkan keduanya.
******
Harsa memukul kemudi dengan kesal. Lagi-lagi dia kesiangan berangkat ke kantor. Ketika benar-benar bercerai dengan Rumi. Ia baru mengerti apa arti Rumi baginya. Ia baru menyadari setelah semua terlambat.
Ia berharap sesalnya masih berguna, dan semesta masih memihak padanya untuk merebut Rumi kembali.
Dengan keadaan yang berantakan ia berangkat kerja. Tanpa previlige yang biasa ia dapatkan sebagai seorang suami.
Dulu ada Rumi yang akan menyiapkan pakaian dinasnya membuatnya tampil rapi disetiap waktu, dengan perut yang sudah terisi dengan makanan sehat. Dulu pintu depan akan selalu dibukakan untuknya ketika akan pergi, dengan di iringi kecupan-kecupan manis. Dengan pelukan hangat serta sorot mata yang memujanya. Dan Harsa terbuai dengan pemujaan Rumi terhadapnya. Dengan jumawa dia yakin jika Rumi akan selalu bertahan disisinya. Tapi Harsa lupa jika Rumi juga manusia biasa yang kesabarannya ada batasnya.
Harsa sudah bertekad akan merebut Rumi kembali. Mengabaikan pesan ibunya yang melarangnya egois. Ia memang anak Murti. Tapi segala sikap dan peringai nya menurun Pramudya.
Ngomong-ngomong soal keluarga Harsa. Rumah tangga orang tuanya tengah di ambang kehancuran. Sang ibu, Murti menggugat cerai suaminya.
Harsa baru tahu jika tidak hanya KDRT yang dilakukan bapaknya, tapi Pramudya juga memiliki wanita simpanan, yang akhirnya membuat wanita yang sudah melahirkannya itu menyerah.
Melihat problem rumah tangga orang tuanya. Harsa merasa lebih percaya diri untuk merebut Rumi kembali. Bagaimanapun dia lebih baik dari bapaknya. Harsa tidak pernah selingkuh, alasan kasar dan tempramental juga bukan semata-mata pada Rumi seorang. Tapi begitulah sifatnya.
Melihat kegigihan bapaknya mempertahankan sang Ibu, Harsa memiliki tekad yang kuat. Kini dia tak lagi perduli pada halal dan haram. Yang menjadi tujuan utamanya adalah mendapatkan Rumi kembali bagaimanapun caranya.
********
Satu minggu belakang kehidupan Rumi sedang berada di puncak kebahagiaan.
Jaya menunjukkan rasa sayang dan perhatian yang belum pernah Rumi dapatkan.
Seperti hari ini contohnya.
Pagi-pagi Rumi sudah menemukan sang suami yang sibuk di dapur membuat sarapan untuk mereka.
Jaya tak segan membantu Rumi melakukan banyak hal, dan sudah genap tujuh hari ini lelaki itu terus membuat Rumi bahagia.
"Sudah bangun?" suara berat itu tak terbalas.
Rumi memilih mendekat untuk memeluk tubuh suaminya yang kini tak menggunakan baju atasan. Menghirup aroma Jaya menimbulkan ketenangan tersendiri untuk Rumi. Dia gila hanya dengan mencium aroma tubuh Jaya yang maskulin.
"Mas berkeringat, nanti kamu sesak napas!" ujar Jaya ikut meletakkan tangannya di telapak tangan Rumi.
Rumi terkikik di belakang punggung Jaya. Kelembutan Jaya membuat hati Rumi luluh seluruhnya.
"Kenapa nggak pakai baju?" tanya Rumi menyembulkan kepalanya dari belakang punggung Jaya.
"Panas, dek." jawab Jaya ikut menunduk melihat wajah Rumi yang menggemaskan.
Rumi mengerucutkan bibirnya. "Yang semalam ngaku kedinginan siapa?"
Punggung Jaya terguncang kecil, pertanda bahwa lelaki itu sedang menggetarkan tawa.
"Jangan mancing-mancing, Mas mau kerja loh ini! Besok jadi ke Jombang kan? Mas harus selesaikan kerjaan Mas supaya kita bisa menginap dua, tiga, hari di sana."
Rumi sudah nggak sabar ingin kembali bertemu dengan Zahra. Rumi ingin membuat senang anak itu, setidaknya kali ini dia datang bisa benar-benar memposisikan dirinya sebagai seorang ibu sungguhan.
"Nggak sabar deh!" cicit Rumi, yang disalah artikan oleh Jaya.
"Beneran? Nggak masalah kalau harus mandi lagi?"
Tubuh Jaya sudah menghadap istrinya. Sementara yang di tatap berkedip-kedip linglung.
Dan pagi itu pergulatan panas kembali terjadi, kesalahpahaman membawa berkah. Jaya selalu diberikan kenikmatan surga dunia oleh sentuhan Rumi. Wanita itu sangat luar biasa. Dan Jaya semakin terjerat dalam dan semakin membuatnya ketagihan.
******
Rumi menatap kepergian sang suami dengan mengendarai motor.
Hingga punggung Jaya tak terlihat, suara kendaraannya tak terdengar, barulah Rumi masuk kedalam rumah.
Rumi tengah memasukkan beberapa bajunya dan Jaya ke dalam tas saat suara ketukan pintu terdengar.
Ah, Rumi senang sekali. Itu pasti paket oleh-oleh yang akan dibawanya esok hari kerumah mertuanya.
Dengan bersemangat Rumi segera membuka pintu, karena tadi dia sudah mendapat pesan bahwa pesanan paket online-nya sudah menuju ke alamatnya.
"Ya, sebenar."
Rumi bergegas membuka pintu, saat pintu benar-benar terbuka, senyum Rumi yang tadinya lebar menghilang begitu saja.
"Rumi_"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Soraya
knp sih Rumi ga pindah aja dri kontrakannya katanya jaya punya rumah sendiri
2024-05-20
0
M. salih
jangan sampai Itu Si Harsa yg DTG. aduh Rumi sendiri lagi
2024-02-07
0
faridah ida
pasti yang datang Harsa ini ... semoga Rumi dapat pertolongan dari tetangga dan semoga Jaya balik pulang ke rumah...
2024-02-06
0