Kembali patah.

Saya cinta kamu, Rum. Selama kita menikah, selama kita bersama, yang saya cinta hanya kamu. Dua tahun kita bersama Rum, kamu pikir hati saya ini terbuat dari batu hingga tidak bisa mencintai kamu? Saya cinta kamu, Rum! Dan berpisah dari kamu membuat saya gila! Kamu menganggap sikap keras saya karena tidak cinta sama kamu! Saya setia sama kamu, Rum. Walaupun pada kenyataannya saya tidak terbuka sama kamu, tapi tidak pernah sekalipun saya berniat menduakan kamu, meninggalkan kamu, Rum! Tidak pernah! Saya akui saya salah, Rum. Dengan bego menjatuhi kamu talak. Tapi saya tidak menyangka bahwa akan berakhir seperti ini, Rum. Saya tidak pernah berharap kita benar-benar berakhir.

Pesan itu dikirim oleh Harsa. Rumi membacanya dengan pelan. Mengapa baru sekarang ungkapan itu Harsa ucapkan, setelah semua tidak berguna.

Sebenarnya Rumi tidak ingin lagi mencampuri urusan Harsa. Entah itu urusan dengan keluarganya, entah itu urusan bisnis ataupun urusan yang lainnya.

Rumi sudah menyerah sejak ketuk palu hakim. Sebenarnya dulu Harsa sumber bahagia Rumi semenjak menikah.

Dua tahun menikah tidak membuat mereka dekat, Harsa yang tidak banyak bicara dan Rumi yang takut membuat suaminya marah. Meski suami istri tapi ada sekat tak tampak. Mereka hanya dekat jika Harsa menghendaki atau lelaki itu sedang butuh saran dan masukan dari Rumi perihal pekerjaannya.

Berhubungan dengan keluarga Harsa sebenarnya sangat menjemukan dan memuakkan karena pasti akan banyak drama, tapi jika itu menyangkut bisnis, Rumi tidak keberatan melakukannya.

Kalaupun kehidupan Harsa kini hancur itu adalah buah dari kelabilan dan ketidaktegasan pria itu sendiri.

Harsa penuh keyakinan sekali ketika menyangka Rumi akan dengan mudah kembali padanya. Memang benar, Harsa adalah orang yang sangat optimis sekali untuk bisa mewujudkan segala yang ia inginkan. Terlebih tentang Rumi. Harsa merasa memegang kendali atas wanita itu.

Saat ini keadaan berbalik, pria itu terus menerus mengemis ingin Rumi kembali menjadi istrinya, namun di tolak mentah-mentah oleh Rumi. Rumi sudah nyaman dengan kebebasannya, tanpa harus dikekang dan di sakiti setiap Harsa tidak puas dengan pelayanan yang wanita itu berikan.

Jaya memang belum menyentuhnya selayaknya seorang suami, tapi lelaki itu jauh lebih memanusiakan Rumi ketimbang Harsa.

Rumi bangun karena ponselnya berbunyi. Saat mengedarkan pandangan Rumi melihat samping tempat tidurnya telah kosong.

Rumi lihat jam di ponselnya. Jam setengah empat pagi.

Apa suaminya pergi ke masjid?

Semalam setelah dibangunkan oleh Jaya, Rumi langsung pindah tidur dikamar. Kamar megah yang diperuntukkan untuk tamu.

Tidak ada yang mereka lakukan setelah saling membaringkan diri selain tidur, dan kini saat matanya terbuka ia sudah tak menemukan Jaya di dalam kamar.

Usai sholat subuh, Rumi baru keluar dari kamar, hendak menuju dapur mencari kegiatan apa yang bisa di bantu.

Saat melewati ruang keluarga Rumi mendengar sayup-sayup suara Jaya.

Karena penasaran Rumi melangkah untuk mendekati ruang tersebut.

"Hati Hassan masih utuh milik, Ning. Abah!" meski parau, Rumi masih bisa mendengar jelas ungkapan suaminya.

"Istrimu juga berhak atas hatimu, Hassan. Kamu tidak bisa begitu saja mengabaikan tanggung jawab mu. Itu dosa sampai kamu tidak memberikan haknya."

"Untuk itu Hassan ingin membebaskan Rumi dari pernikahan ini, Bah." ucap Hassan dengan kepala yang menunduk.

"Jangan!" tidak hanya sang Abah. Umi Zalianty juga ikut berseru tidak setuju.

Kehadiran ayahnya sungguh membuat Zahra luar biasa bahagia. Matanya terlihat berbinar saat mendengar suara lelaku itu di tambah mata Zahra menemukan lelaki itu duduk bersama kakeknya. Tapi kebahagiaan itu surut ketika matanya melihat istri baru ayahnya menyusut air mata di balik dinding.

Rumi tetap bertahan di posisinya, bahkan saat sebuah tangan mengelus punggungnya. Rumi menyesal telah menguping. Sudah di duga bahwa rasa kepo itu bisa saja membawa luka untuk diri sendiri.

Zahra tiba-tiba membalikkan tubuh ibu sambungnya. Ia menatap wanita di hadapannya kali ini dengan sorot keingintahuan.

Rumi yang di tatap seperti itu merasa salah paham. Berpikir bahwa mungkin Zahra senang mendengar ucapan ayahnya yang cintanya masih utuh untuk sang ibu kandung.

Rumi segera pergi, ia mengurungkan niatnya mengunjungi dapur, lebih baik dia memasuki kamarnya dan berkemas untuk segera pergi dari rumah megah keluarga Jaya.

"Mba.. " teriakan Zahra membuat tiga orang yang tengah berembuk di ruang keluarga menoleh.

"Zahra?"

"Kek, tadi Mba Rumi berdiri di balik dinding dan menangis." tutur Zahra sambil berjalan mendekati ayah serta kakek neneknya, menceritakan yang dia lihat.

Ketiga orang dewasa itu saling pandang. Sebelum akhirnya Jaya yang sadar bergegas menyusul istrinya.

"Rumi.. " Jaya mematung di depan pintu kamar saat menemukan sang istri tengah menenteng tas yang dibawanya kemarin.

Senyum manis Rumi suguhkan, tapi jejak air mata masih dapat Jaya lihat.

"Mas Jaya, Rumi pulang duluan, ya? " ucap Rumi dengan suara yang sedikit serak.

"Kamu tadi dengar pembicaraan saya dan... "

"Tidak apa-apa, Mas. Rumi mengerti kok!" potong Rumi enggan untuk membahas siapa pemilik hati suaminya. Sudah jelas itu bukan miliknya dan Rumi harusnya tidak sakit hati. Tapi namanya perasaan kadang juga mengalahkan logika. Buktinya Rumi langsung bersedih ketika tahu Jaya akan melepaskannya.

Kenapa jauh lebih sakit dibanding saat dia diceraikan oleh Harsa? Padahal ini baru rencana yang belum tentu terlaksana. eh? Tapi bolehkan Rumi berharap jika rumah tangganya bersama Jaya bisa langgeng?

"Mungkin kamu beranggapan bahwa saya tidak menganggap kamu spesial di hati saya. Tapi kamu salah faham! Kamu salah! Kamu adalah orang pertama setelah saya depresi yang bisa membuat saya ingat bahwa hidup itu harus terus berlanjut, kamu spesial di hati saya."

"Shussstttt!" Jaya tertegun saat jari telunjuk Rumi berada di atas bibirnya. Hujan air mata ia saksikan di hadapannya tapi tiba-tiba tubuhnya kaku untuk sekedar ingin memeluk wanita di hadapannya.

Iri? Rumi iri? Rumi harusnya tak iri pada seseorang yang sudah tak ada. Tapi semakin hari rasa nyaman dan sukanya membuatnya serakah. Dan Rumi menyesal telah berani jatuh hati pada laki-laki yang memiliki cinta yang begitu besar pada mendiang istrinya. Cinta yang teramat besar itu pula yang membuat Jaya depresi.

Dia memang memiliki Jaya, tapi tidak seutuhnya. Disini Rumi yang terlalu berharap dalam pernikahan mereka, sementara Jaya niatnya hanya membantu Rumi keluar dari neraka yang Harsa ciptakan.

Mencari kebahagiaan sendiri sudah Rumi lakukan, namun terkadang tetap saja ia sedikit merasakan kehampaan. Terlebih kini Rumi tahu tidak ada masa depan untuk rumah tangganya.

Lagi-lagi Rumi kalah, karena dia lemah.

Rumi berusaha agar bisa tegar berujar, tapi sejak dua menit yang lalu bibirnya terus saja bergetar karena hatinya kembali patah.

"Rumi, gapapa kok, Mas. Tadi cuma kelilipan."

Bohong!

Terpopuler

Comments

Hanipah Fitri

Hanipah Fitri

kasihan dgn Rumi, dgn..santan suami disiksa dgn jaya juga tdk mendapatkan cintanya

2024-02-07

0

faridah ida

faridah ida

kalo sy jadi Rumi bukan sedih aja tapi udah macam2 rasa sakit , jalan satu2 nya Rumi harus sabar sampai Jaya bener2 cinta , dari pada balik lagi sama mantan suami ,mendingan sama Jaya ....

2024-02-06

0

✨rossy

✨rossy

semua ada batasan nya.... kalau ga kuat lepaskan saja...

2024-02-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!