"Beri aku waktu untuk bicara berdua dengan Jaya. " pinta Rumi pada mereka yang ada.
Harsa ingin mencegah, tapi isyarat bapaknya membuatnya mengalah.
Kini di ruangan tersebut hanya ada Rumi dan Jaya. Rumi memperhatikan lelaki di hadapannya dengan seksama, sebelum akhirnya menghembuskan napas pelan.
"Jaya, boleh aku ngomong? " tanya Rumi menarik perhatian Jaya.
"Biar aku bersihkan dulu darah di wajahmu."
Jaya tidak sempat menjawab maupun mengelak, saat Rumi sudah mengulurkan kapas yang sudah di beri alkohol.
"Jaya, Jaya tahu nggak apa itu pernikahan?" tanya Rumi di sela kegiatannya mengobati luka-luka di wajah Jaya.
Anggukan Jaya menghentikan gerakan tangan Rumi.
Hening, Rumi kehilangan kata-kata. Rumi menelan ludah. Sungguh Jaya tak sederhana kelihatannya.
Rumi tidak ingin gegabah. Tapi seperti yang sudah-sudah, melawan keluarga Harsa sama halnya bunuh diri.
Pikiran kacau Rumi semakin menjadi. Wanita itu mengusap wajahnya. Tak mengerti kenapa perintah sang mantan suami harus dituruti.
Menikah dengan Jaya belum tentu hal baik. Hati Rumi masih keruh. Jaya istimewa, alasan itu mengapa tak mereka pedulikan, Harsa justru seperti memanfaatkan kelemahan Jaya.
"Apa yang mereka janjikan sehingga Jaya mau menikah sama aku? " mengerti kondisi Jaya, Rumi bertanya dengan pelan.
"Jaya suka senyum mba Rumi, dan elusan rambut saat bertemu."
Ungkapan apa adanya itu membuat Rumi terkekeh kecil. Senyum lugu Jaya menopang keyakinan untuk menyerah dengan permainan Harsa.
Keputusan sudah di ambil. Yang bisa Rumi lakukan hanyalah mengikuti arus takdir.
Satu hari kembali berlalu, teror dari Harsa tak pernah surut. Rumi di paksa untuk menerima Jaya agar mereka kembali bersama. Harsa tak sadar, sikap penuntut nya itu semakin membuat Rumi bersyukur bisa lepas dari laki-laki seperti Harsa.
Tak terasa tibalah malam dimana Rumi akan dinikahkan dengan Jaya oleh mantan suami dan mertuanya sendiri.
Semua sudah di siapkan dari pihak Harsa, termasuk mas kawin.
Satu set seperangkat alat sholat sudah dihias sedemikian rupa.
Rumi sudah siap dengan kebaya putih gading dengan brukat di bagian lengan dan lehernya, sangat pas, cantik dan tidak berlebihan. Sementara Jaya, dia mengenakan jas dengan warna senada dengan pakaian Rumi.
"Jangan seperangkat alat shalat, aku tidak mau, aku punya uang tunai, pakai uang aja." tiba-tiba Jaya berdiri dan membuang satu set maskawin tersebut menjauh dari hadapannya.
"Dapat uang dari mana?" tanya Harsa menahan kepalan tangannya melihat lelaki itu banyak mau.
Dasar gila! Maki Harsa dalam hati tiada henti.
Jaya tersenyum menampakkan barisan gigi yang rapi. "Kemarin habis bantuin orang di pasar angkat barang. "
Lewat kesimpulan itu pula, Rumi jadi semakin yakin jika menikah dengan Jaya bukan hal yang buruk. Jaya masih bisa berpikir untuk cari uang.
Untuk alasan mengapa Jaya menolak tentang maskawin seperangkat alat shalat, tidak Rumi permasalahkan. Terserah Jaya saja.
Saat ijab kabul di ucapkan, Jaya menarik Rumi dalam kenyataan baru. Lelaki yang sempat diremehkan ternyata begitu mudah mengucapkan ijab kabul, doa-doanya pun mampu Jaya lantunkan, sungguh membuat semua yang hadir tak menyangka.
Bisik-bisik karena kekurangan Jaya menghilang saat suara lantang Jaya berkumandang melakukan ijab kabul.
"Sah? "
"Sah! "
Kala hamdalah menggema, tiba-tiba Rumi di tarik oleh Harsa.
"Mas.. " pergelangan Rumi sakit karena tarikan tangan Harsa.
"Ingat Rumi, tetap gunakan alat kontrasepsi, jangan sampai kamu hamil anak laki-laki sinting itu!"
Astaghfirullahalazim!! Rumi hanya bisa mengelus dada mendengar ucapan Harsa.
"Kamu... " Harsa kehilangan kata saat tatapan tajam bapaknya menghujam. Harsa lupa dimana dia berada dan hampir melupakan harga dirinya.
"Rumi." panggilan asing itu mengalihkan pandangan Rumi. Wajah Jaya yang terlihat dari dekat menguarkan aura kedewasaan. Diam, Rumi tak percaya bahwa lelaki yang beramai-ramai dibully dan diteriaki gila kini sudah sah menjadi suaminya.
"Ada keluargaku di luar." sifat kedewasaan yang tadi sempat terbesit hilang. Jaya kembali dalam kekonyolannya. Lelaki itu berlari begitu saja tanpa memperdulikan ketegangan di sekitarnya.
******
"Maaf, ya. Jika nanti Jaya memiliki banyak sifat. Sifatnya memang kadang kekanak-kanakan, kadang dewasa. Apalagi sejak kejadian kelam, depresi membuatnya berubah. Jaya sulit mengendalikan ekspresi."
Rumi mengangguk kaku. Rumi tidak tahu jika ternyata Jaya bukan sebatang kara seperti dirinya. Jaya memiliki keluarga lengkap dan... terlihat bukan orang sembarangan.
"Putra Kami bukan pilihan karena keterpaksaan, Kan? " laki-laki paruh baya yang tampak berkharisma itu bertanya pada Paramudya.
Jaya adalah putranya. Tak mungkin ia ingin lelaki istimewa itu dimanfaatkan saja.
"Tentu tidak, Pak. Saya memang mantan mertua Rumi, tapi saya berada disini karena tanggung jawab. Biar bagaimanapun Jaya adalah warga saya." Lagi-lagi pencitraan. Rumi muak mendengarnya.
Setelah banyak mengobrol. Keluarga besar Jaya pamit pulang. Selama kehadiran mereka Rumi tak melihat Jaya.
Saat mengantarkan mereka keluar, sebelum menaiki mobil, Rumi melihat anak usia remaja terus menatap ke rumah seperti menunggu seseorang keluar dari sana.
Yang Rumi lihat. Anak itu sedikit mirip dengan Jaya. Apa mungkin itu adik Jaya.
Tadi Rumi sudah dikejutkan dengan cerita dari ibu Jaya. Beliau mengatakan jika Jaya sebenarnya mempunyai rumah pribadi.
"Pasti kamu terkejut, saya percaya kamu anak baik. Kamu adalah masa depannya Jaya. Tapi... kamu berhak mengetahui masa lalunya."
Wanita yang kini dipanggil Ibu itu tersenyum kecil. Rumi mengangguk saja.
"Jaya tidak gila. Hanya saja tragedi kelam itu membuat ia sedikit mengalami depresi. Tak berat. Akan tetapi, berimbas pada kesehariannya. Terkadang dia berbicara sendiri, menangis dan tertawa tiba-tiba, atau hal-hal lain yang tak masuk logika."
Perempuan paruh baya itu mengelus kepala Rumi yang tidak tertutup hijab. "Dia tidak mau menuruti kata kami agar terapi di psikiater, dia kabur menjauh dari kami, kami kehilangan dia dan seorang... " tiba-tiba isak tangis memutus ucapan ibu mertua Rumi.
"Untuk penyebab Jaya depresi, kamu akan tahu selepas melakukan perkenalan diri dengannya. Semoga kalian bisa melanggengkan ikatan suci ini."
Rumi hanya tersenyum membalas penuturan sang mertua. Diciumnya punggung tangan tersebut takzim, sebelum mertuanya pamit undur diri.
Jauh, ternyata orang tua Jaya tinggal di Lamongan.
Rumah kontrakan langsung sepi saat satu persatu orang kembali ke kediaman masing-masing. Termasuk keluarga Harsa.
Hampir tengah malam. Rumi baru melihat kedatangan Jaya.
"Kamu dari mana saja, Jaya?"
Jaya hanya diam. Entah kenapa bersama dengan Rumi mulai menarik kemistri. Ia tak lagi merasakan mood berubah-ubah. Emosinya stabil dan kabar baiknya, meski tadi dia melihat mereka-mereka yang selalu menyayanginya, Jaya tak kambuh.
"Jaya," panggilan Rumi menarik Jaya ke alam sadar. Wanita itu ingin bertanya banyak hal tentang kehidupan sang suami. Apalagi sekarang, satu pertanyaan menggumpal kepalanya.
"Jaya, apa kamu memiliki seorang adik?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Hanipah Fitri
jaya, hidup penuh misteri
2024-02-07
0
faridah ida
semoga Jaya sembuh dari stres nya ini , biar Harsa tahu rasaa ....😡😡
2024-02-06
0
M. salih
apakah anak jaya
2024-01-18
0