Jaya sudah siap mendekap tubuh Rumi. Tapi suara ketukan pintu mengurungkan niatnya. Yang Jaya lakukan berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Rumi buru-buru menghapus air matanya, agar tak membuat keributan. Ia benar-benar malu saat ini.
"Abi, bisa kan abi malam ini menginap lagi disini?"
Ternyata itu Zahra.
"Tanya Mba. Boleh nggak?!" ujar Jaya begitu saja.
"Mba... " panggil Zahra masih di ambang pintu.
"Iya? " Rumi yang hendak ke kamar mandi itu pun menghentikan langkah dan menoleh.
"Nginap lagi ya malam ini?" pinta Zahra.
"Lho kok ke Mba?" Rumi bingung.
"Kata Abati." Jawab Zahra yang sontak membuat Rumi menatap punggung laki-laki itu.
"Ya, boleh." jawab Rumi tidak ingin Zahra bersedih hati.
Mendengar jawaban Rumi, Jaya tersenyum tipis.
Entah bagaimana mulanya, kini Rumi sudah duduk bertiga dengan Zahra dan Jaya.
"Izin berapa hari?" tanya Jaya pada sang putri.
"Sampai besok, Abati. Makanya Zahra ingin kalian menginap lagi."
Rumi bisa melihat kecanggungan antara ayah dan anak di hadapannya. Rumi gemas ingin menyatukan mereka, tapi bagaimana lagi, jika dia juga hanya orang asing.
"Rame ya di pondok?"
Jaya bersyukur, istrinya mau memulai obrolan dengan putrinya.
"Rame banget, Mba. Sekarang sudah ada hampir 400 santriwati yang berada di sana."
"Zahra betah?" tanya Rumi, tangannya reflek meraih tangan Zahra.
Zahra sedikit kaget, tapi setelahnya tersenyum.
"Ya di betah-betahin. Di sana Zahra banyak teman, kalau di rumah sama siapa? Mbah kung dan Mbah uti sibuk, Umi udah nggak ada, Abati ..."
Rumi tersentuh. Kisah Zahra mengingatkan perjalanan hidupnya sendiri.
Tidak ada yang mudah dalam kehidupan seorang Rumi. Sejak usianya masih belia dia sudah di tuntut untuk mandiri, berdiri dan bertopang diatas lakinya sendiri.
Walaupun dulu dia sempat diasuh oleh saudara ibunya, Rumi tidak pernah berleha-leha. Ia tetap membantu sang tante berjualan dan gadis muda itu dengan tekad yang kuat mencari pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya.
Tantenya memang ikhlas membayar sekolah Rumi, tapi omnya sangat mata keranjang. Dari keluarganya sendiri Rumi kerap mendapatkan pelecehan. Dan Rumi takut untuk mengakui pada tantenya perihal om nya yang kerap berbuat tak senonoh padanya, seperti mencolek pinggang Rumi, memamerkan aset lelakinya yang saat itu padahal Rumi belum dewasa.
Rumi pergi meninggalkan kota kelahirannya. Pekerjaan apapun dilakukan Rumi muda. Menjadi sales promotion girls di beberapa event, menjadi model paruh waktu untuk beberapa perias di event-event kecantikan, apa pun Rumi kerjakan karena sadar dia hanya sebatang kara di perantauan. Hingga takdir mempertemukan dia dan Harsa.
Seakan peka Rumi gegas memeluk tubuh remaja tersebut. Biar pun Zahra terlihat tegar, Rumi tahu jiwa Zahra tengah kesepian karena hilangnya kasih sayang orang tuanya.
Jaya memperhatikan keduanya. Jaya tersentuh, suasana seperti ini pernah ada dan kini ada lagi. Membuat hati Jaya terasa sedikit hangat.
Umi Zalianty dan Kiai Ahmad Sulaiman menyambut hangat ketiganya di meja makan. Dan kini Rumi tengah asik menanggapi ucapan Zahra.
Yang membuat mereka kagum adalah, Rumi bisa menempatkan diri dengan siapa dia bercengkrama.
Saat bersama Zahra, Rumi bisa terlihat kedewasaannya. Wanita 20 tahun itu mendengarkan cerita Zahra tentang keadaan lingkungan pesantren dan kegiatannya. Rumi begitu khusyuk mendengarkan, ia juga beberapa kali menanggapi ucapan Zahra yang membuat gadis itu bersemangat untuk berbagi kisah.
"Sudah-sudah, nanti lagi ceritanya, lihat Zahra, Mba nya belum sempat sarapan." tegur Kiai Ahmad Sulaiman.
"Mba, nanti mau ya tidur bareng sama Zahra?"
Bagaimana pun Zahra masih 10 tahun, anak yang masih membutuhkan kasih sayang orang tuanya, kehadiran Rumi seakan membuatnya merasakan punya teman cerita.
Rumi tersenyum dan mengangguk membuat Zahra tersenyum kegirangan.
"Tos, Mba, Tos!"
Rumi juga menerima ajakan tos ala Zahra.
Umi Zalianty dan Kiai ahmad Sulaiman terharu melihatnya.
Rumi... Kamu tuh ya. Konyolnya nggak jauh beda sama Zahra. Pantes aja cucu saya klik sama kamu. Sebelas dua belas kalian mah. Batin umi Zalianty.
Sementara Rumi tengah berperang hati. Diam-diam dia ingin membahagiakan Zahra, setidaknya gadis remaja ini tak menilainya buruk saat menjabat menjadi ibu sambungnya.
Bukan karena Rumi menyerah. Tapi dia tahu posisinya. Dia juga sadar diri bahwa sekeras apapun mencoba, tidak ada masa depan yang dijanjikan Jaya padanya.
Lebih baik mundur sendiri dari pada dibuang nantinya.
Mundur, menjauh dan menghilang dari kehidupan Harsa dan Jaya adalah pilihan terbaik yang telah Rumi pikirkan matang-matang.
Tidak mudah, tapi harus.
Rumi harus memulai kehidupan yang lebih baik lagi untuk dirinya.
Mungkin dia juga harus mulai kehidupan percintaan yang baru bersama pria yang akan menerima dia apa adanya dan bisa menjanjikan masa depan yang selama ini Rumi impikan.
******
Jaya masih belum terlelap juga, ia menoleh kearah pintu kamar, hendak mengintip. Jaya akhirnya menarik napas panjang sebelum akhirnya beranjak bangun.
Jaya segera membuka pintu kamar Zahra. Di atas tempat tidur. Rumi berpelukan dengan Zahra. Senyum Jaya mengembang melihat pemandangan tak biasa itu.
Dihampiri nya mereka lalu ditarik selimut yang mereka pakai lebih tinggi lagi. Kemudian ia benahi rambut Rumi yang menutup sebagian wajahnya.
Ada debar yang menjalar, tapi Jaya segera menepis rasa itu.
*******
"Sialan!" umpat Harsa, ketika dua hari berturut-turut mendapati tempat tinggal Rumi kosong.
Kemana mantan istrinya? Dia benar-benar butuh bantuan Rumi.
Keadaan ibunya sudah membaik, tapi Murti ingin bertemu dengan Rumi.
Harsa sudah bertanya ke tetangga sekitar, sayangnya tidak ada yang tahu pasti kemana perginya Rumi dan suaminya.
Harsa juga tak berhenti mengirimkan pesan pada Rumi, tapi tak satupun dari pesannya mendapat balasan, begitu pun dengan panggilan telepon nya yang juga Rumi abaikan.
Harsa ingin sekali marah, tapi sama siapa?
Tiba-tiba hati Harsa didera perasaan takut. Takut jika ternyata laki-laki pilihannya itu justru membawa pergi Rumi jauh darinya.
Harsa belum siap, dia masih ingin berjuang untuk merebut Rumi kembali.
"Bangsat!"
Dan lagi-lagi hanya makian yang bisa ia lupakan untuk meredam emosi.
*******
Zahra tersenyum ketika matanya terbuka. Dihadapannya ada sosok asing yang membuat hatinya tenang.
Ibu sambungnya. Awalnya Zahra tidak bisa menerima Rumi, tapi ketika dia melihat Rumi menangis di balik dinding karena ucapan Abati nya dia merasa jika Rumi bukan sosok yang egois.
Zahra melihat tangan ibu sambungnya yang melingkar di pinggangnya. Lagi-lagi senyum Zahra terbit.
Setelah semalam ia bercerita mengenai hidupnya yang kesepian, Rumi dengan sayang bersedia menjadi temannya. Kapan pun Zahra ingin bercerita Rumi siap dengarkan.
Zahra terharu, apa lagi Rumi juga memberinya nasehat bijak. Sedikit yang Zahra tahu dari Rumi, bahwa ibu sambungnya itu hidupnya tidak lebih baik dari Zahra.
Rumi kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, dan wanita itu harus pontang penting mencari uang untuk biaya hidup dan sekolahnya sendiri.
Rumi memberinya semangat, memberinya motivasi agar semangat belajar dan menggapai cita-cita. Jangan sampai seperti dirinya yang kalah akan takdir.
Entah jam berapa mereka akhirnya terlelap, tapi jika boleh jujur Zahra seakan enggan balik ke ponpes hari ini. Zahra merasa kebersamaan mereka begitu singkat. Dan Zahra masih ingin banyak bercerita dengan Rumi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
faridah ida
anak sambung nya aja mulai suka sama Rumi ... masa Jaya sebagai bapak nya belum juga ada rasa .. kasihan Rumi kalo harus beradaptasi lagi sama pria baru ....😔
2024-02-06
0
M. salih
jangan tinggalkan Zahra Rumi. dia mulai nyaman punya kamu jadi ibunya /Smile/
2024-01-24
0
mia
ayok jaya tidakkah kau kasian pada putrimu belajar buka hati tuk Rumi ..
2024-01-23
0