Alya memegang kedua tangan Viana.
Dia menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Vi, katakan lah siapa orang itu. Mama berjanji akan merahasiakan ini dari Sean ataupun Papa" Kata Alya. Alya tau betul jika Rangga tau maka orang itu tidak akan di lepaskannya.
"Ma, Vi juga tidak tau siapa dia. Vi tidak pernah bertemu dengannya. Karena dia di ambil Ayahnya saat berumur 7 tahun. Bahkan saat itu Ibu belum menikah dengan Ayah. Kemudian 1 tahun yang lalu ibu menerima telepon dari mantan suaminya. Dia berkata bahwa dia dan anak mereka akan menghancurkan Sean secara perlahan. Entah dengan cara apa Vi juga tidak tau. Setelah itu Ibu sakit sakitan dan meninggal. Entah apa motif yang mendasari mantan suami ibu. Vi juga tidak tau" Kata Viana
"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu bertemu dengannya?" Tanya Alya
"Seperti janji Vi pada Ibu. Vi akan menyadarkan dia bahwa jalan yang dia pilih ini salah. Vi akan berusaha semampunya untuk menghentikan perbuatannya Ma" Kata Viana.
"Vi, beritahu Mama siapa Ibu tirimu. Mama akan membantumu mencari saudara tirimu" Kata Alya
"Dengan cara apa Ma? Jika Mama menyuruh orang untuk mencari tau tentu sama saja membocorkan rahasia ini ke Papa secara tidak langsung. Maafkan Vi Ma. Vi tidak bisa membuka identitas Ibu Vi sekarang. Tapi Vi berjanji akan melindungi Sean dengan semampu Vi" Kata Viana dengan penuh keyakinan
"Bagaimana kamu melindunginya? Kamu seorang wanita" Kata Alya
"Vi pemegang sabuk hitam bela diri Ma. Mudah mudahan Vi bisa melindungi Sean secara fisik" Kata Viana
"Vi, terima kasih kamu mau mengorbankan masa depanmu demi melindungi Sean. Pasti ibu tirimu sangat baik sehingga kamu rela melakukan semua ini" Kata Alya
"Ibu memang sangat baik dan sayang sama Vi sehingga Vi akan melakukan apa saja untuk Ibu meski harus mengorbankan masa depan Vi Ma" Kata Viana
"Vi, Mama percaya padamu. Mama akan menjaga rahasia ini. Kamu harus waspada Vi" Kata Alya
"Iya Ma terima kasih" Balas Viana
Lama kemudian setelah puas mengobrol di taman, mereka masuk ke dalam.
"Vi, susul Sean ke atas. Ajak dia makan siang" Kata Alya
"Iya Ma" Kata Viana. Dia segera ke atas dan mencari Sean.
Sean ada di dalam ruang kerjanya.
Dia sedang bekerja dengan laptopnya sambil sesekali memikirkan sesuatu.
Tok..tok...tok..
Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk" Kata Sean
"Sean ayo makan siang" Kata Viana
"Iya" Sean menutup laptopnya.
Sean memperhatikan raut wajah Viana. Begitu ceria dan seperti orang yang baru lepas dari beban berat. Viana yang biasanya kaku saat berbicara dengannya, kini terlihat ceria dan hangat.
Sean dan Viana turun ke bawah menemui Alya untuk makan siang.
"Sean, bagaimana keadaanmu?" Tanya Alya
"Sudah baikan Ma. Aku sudah istirahat cukup dan minum obat dari Dokter Risa" Kata Sean
"Ya sudah, setelah ini kamu jangan bekerja di depan monitor dulu. Bukan hanya tubuhmu yang harus di istirahatkan tapi pikiranmu juga" Kata Alya mengingatkan
Sean mengangguk.
Saat seorang pelayan menuangkan minuman ke gelas Sean, tanpa sengaja gelas itu tumpah dan berhasil membasahi baju Sean.
Sean berdiri dan mencengkram kerah baju pelayan itu.
"Dasar buta!!!! Dimana matamu bodoh!!!" Teriak Sean
Pelayan itu tampak bergetar ketakutan.
Viana memegangi tangan Sean agar melepas cengkramannya.
"Sean, hentikan dia tidak sengaja" Kata Sean
"Sean hentikan sayang, kasihan dia" Kata Alya
"Tidak, aku harus memberi pelajaran padanya. Kemari kau" Sean menarik Pelayan itu dan mendorongnya ke hingga jatuh ke lantai.
"Ambilkan air!!! Teriak Sean
Seorang pelayan datang dengan seember air.
Sean menyiramkan seember air itu ke sekujur tubuh sang pelayan.
Alya dan Viana kaget. Seperti banjir di dalam rumah. Pelayan itu basah kuyup.
"Sean" Teriak Alya
"Ma, aku bisa menuruti semua kemauan Mama. Tapi jika ada yang melakukan kesalahan padaku, baik Mama maupun Papa tidak bisa menghentikanku" Ucap Sean dengan penuh kemarahan
"Dan kau. Sekali lagi kau berani menumpahkan minuman ke bajuku, aku akan membuatmu menelan seluruh air yang ada di rumah ini!!!" Bentak Sean
Pelayan itu menangis. Tubuhnya bergetar ketakutan.
"Sean cukup redam emosimu" Kata Viana mencoba menenangkan Sean
"Bersyukur lah karena air dingin yang kau tumpahkan. Jika kau menumpahkan air panas maka aku akan menggguyur tubuhmu dengan air panas" Kata Sean. Nafasnya masih memburu.
"Sean, sudah nak. Ganti bajumu dan kita lanjutkan makan siang" Kata Alya
"Iya Ma" Jawab Sean yang pergi ke kamarnya hendak mengganti bajunya.
Setelah kepergian Sean, Alya dan Viana kembali duduk.
"Ma, apakah kalau Sean marah memang seperti itu?" Bisik Viana
"Iya Vi. Sejak dulu Mama dan Papa sudah menasehatinya tapi dia tidak mau dengar" Kata Alya
"Tapi dia menuruti omongan Mama dan Papa" Kata Viana
"Dia baik pada keluarganya. Tapi pada orang lain dia bisa sangat kasar saat ada yang melakukan kesalahan" Kata Alya
Viana diam. Baru kali ini dia melihat Sean marah. Wajah Sean tadi terlihat menakutkan. Dia ragu apakah dia bisa membuat Sean memaafkan kakak tirinya yang dia sendiri pun tidak tau keberadaannya saat ini.
Tak lama kemudian Sean turun dengan baju berbeda. Mereka melanjutkan makan siangnya.
Setelah itu Alya meminta Sean istirahat sementara Alya dan Viana akan membuat cake kesukaan Sean.
Di dapur...
"Vi, Mama dengar dari pelayan rumah ini katanya kamu mengurut Sean ya" Kata Alya saat tengah mengaduk adonan kue.
"Iya Ma, Vi belajar dari Ayah. Sejak Ayah pensiun, dia jadi tukang urut" Kata Viana
"Apa Ayahmu tidak capek Vi?" Tanya Alya
"Ayah sudah biasa Ma. Malah kata Ayah kalau dia tidak bekerja badannya terasa lemas" Kata Viana
"Ayah kamu giat bekerja ya" Kata Alya
"Iya Ma" Kata Viana sambil tersenyum
"Vi jadi kapan kamu kasih Papa dan Mama cucu?" Tanya Alya yang langsung membuat Viana salah tingkah
Viana menjadi gugup.
"Mama tau kamu belum pernah melakukan apa apa dengannya. Tapi Mama mau cucu Vi. Dia kan suami kamu sekarang. Kalau bikin anak kan tidak masalah" Bisik Alya
Viana menjadi malu. Pipinya memerah. Dia bahkan belum pernah membayangkan bagaimana jika dia bercinta dengan Sean.
Laki laki tampan dan gagah yang telah berhasil mencuri hatinya. Tapi memang dasar Viana yang pandai menyembunyikan perasaan sehingga dia tidak terlihat seperti menaruh rasa pada Sean.
Aaaaa, aku menghayal apa sih. Tidak tidaaak Sean tidak akan mungkin mencintai wanita sepertiku. Apalagi aku pernah memelintir tangannya. Pasti sekarang dia menganggapku Hulk atau jinchuriki
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 181 Episodes
Comments
Asih Ningsih
bilng aja ama sean alya biar dia mau nuruti.
2023-09-10
1
wilza
ya vi Sean sekarang menganggap mu rubah ekor sembilan 🤣🤣. ada2 aja Thor kmu ini
2023-02-03
1
viana putri
ganteng bgt.....
♥💝💗🖤
2021-12-22
1