Keesokan harinya.....
Sean terpaksa cuti. Dia menelpon Papanya.
"Halo" Jawab Rangga
"Halo Pa, sepertinya hari ini aku tidak bisa bekerja" Kata Sean
"Kenapa?" Tanya Rangga
"Badanku sakit semua Pa. Kemarin aku jatuh saat bersepeda di villa temanku" Kata Sean
"Papa tidak percaya. Mana Viana Papa mau bicara" Kata Rangga
"Tapi Pa, aku tidak bohong. Papa kesini saja agar melihat langsung. Atau kita Video Call saja" Kata Sean
"Tidak, Papa tidak bisa kesana. Kalau Video Call bisa saja kau memanipulasi sakitmu" Kata Rangga
"Papa kenapa tidak percaya pada anak sendiri" Kata Sean
"Mana Viana" Kata Rangga
"Emmm Viana sedang berada di bawah Pa. Sedang menyiapkan sarapan" Kata Sean berbohong
"Panggi Papa mau bicara" Kata Rangga tetap memaksa
"Iya Pa sebentar nanti aku telpon lagi" Kata Sean yang kemudian melangkah perlahan menuju ruang olahraga.
Viana baru akan olahraga.
Tiba tiba Sean masuk dan itu membuat Viana terkejut dan menutup dadanya dengan handuk kecilnya.
Sean hampir gila karena lagi lagi dia melihat tubuh seksi Viana.
"Sean ada apa?" Tanya Viana yang terlihat gugup.
"Bicara lah pada Papa bahwa aku sakit. Papa tidak percaya padaku" Kata Sean
Viana mengambil Hp Sean dan menelpon Papa mertuanya.
"Halo" Jawab Rangga
"Halo Pa, Sean sedang sakit. Di habis jatuh dari sepeda kemarin jadi tidak bisa bekerja" Kata Viana
"Oh, ya sudah tolong jaga Sean ya Vi. Katakan padanya kalau dia belum sembuh total jangan masuk kantor dulu" Kata Rangga
"Baik Pa, terima kasih" Kata Viana.
Panggilan berakhir
"Bagaimana?" Tanya Sean
"Kata Papa kalau kamu belum sembuh jangan masuk kantor dulu" Kata Viana
"Berikan" Sean mengambil Hpnya hendak pergi ke kamarnya.
"Sean" Panggil Viana.
Sean menoleh.
"Maafkan aku karena memelintir tanganmu waktu itu" Kata Viana
"Hei, saat itu aku hanya mengalah saja karena kau adalah wanita. Aku hanya pura pura kesakitan karena itu tidak sakit sama sekali. Jangan ingat hal itu lagi. Itu menyebalkan" Kata Sean
"Maaf Sean. Apa kamu mau aku buatkan sop ayam?" Tanya Viana
"Tidak perlu berpura pura baik. Aku tidak mau makan sop buatanmu" Kata Sean yang melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu.
Dia kembali ke kamarnya.
Sementara itu Viana tidak jadi olahraga. Dia pergi mandi dan segera ke dapur dan memasak sop ayam untuk Sean.
40 menit kemudian, makanan sudah siap. Sean segera turun setelah mencium wangi masakan yang semakin membuatnya lapar.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Sean
"Aku memasak sop ayam" Kata Viana
"Aku sudah bilang bahwa aku tidak mau makan sop buatanmu" Kata Sean
"Aku tau. Aku membuatnya untukku sendiri" Kata Viana
"Dasar rakus" Kata Sean yang kemudian duduk dan mengambil makanannya.
Viana mengambil makanannya dan pergi ke dapur.
"Disini saja, jika tiba tiba Papa dan Mama datang mereka akan salah paham lagi padaku karenamu" Kata Sean
Viana meletakkan kembali piringnya di meja makan dan menikmati sop buatannya.
Suara seruputan kuah sop itu benar benar menggugah selera.
"Sean kamu benar benar tidak mau?" Tanya Viana
"Tidak" Kata Sean
"Ayolah sedikit saja. Itu upah karena aku sudah menelpon Papa tadi" Kata Viana
"Kenapa kau selalu meminta upah untuk semua yang kau lakukan?" Tanya Sean
"Entah lah aku juga tidak tau. Ayolah makan Sean" Bujuk Viana
"Baik lah, terpaksa aku memakannya" Kata Sean yang menyendokkan sop itu ke mangkuk kecil dan memakannya.
Di suapan pertama.
"Ini tidak enak, rasanya buruk sekali" Gerutu Sean
Suapan kedua.
"Ini makanan paling buruk di seluruh dunia" Kata Sean lagi
Suapan selanjutnya berserta sumpah serapahnya hingga sop itu habis di makannya.
Viana hanya tersenyum melihat Sean melahap sop buatannya walau dengan sumpah serapah di setiap suapannya.
Namun Sean tidak menyadari kalau Viana sedang menatapnya dengan senyuman.
Dia terus fokus ke piringnya dan sumpah serapah yang terlontar dari mulutnya.
"Maaf ya Sean jika tidak enak" Kata Viana
"Kan aku sudah bilang jangan masak. Tapi kau tidak mau dengar dasar keras kepala" Kata Sean yang menginggalkan Viana yang masih tersenyum menatapa kepergiannya.
Kenapa kamu semakin menggemaskan Sean. Aku jadi....Tunggu? Apa yang aku pikirkan. Sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu. Aku harus fokus melindunginya.
Viana pergi ke kamarnya. Dia duduk di balkon kamarnya.
Rasanya sejuk sekali melihat pemandangan di luar.
Tiba tiba hpnya berdering.
"Ayah?" Viana terkejut karena Ayahnya tiba tiba menghubunginya.
"Halo Yah" Jawab Viana
"Vi, tadi Erik kesini dan marah marah. Dia meminta penjelasan terkait pernikahanmu. Dia tidak terima di tinggalkan begitu saja" Kata Hendra Ayah Viana
"Erik hanya belum bisa menerima kenyataan. Ayah tidak usah memikirkan itu" Kata Viana
"Ya sudah. Kamu baik baik saja kan?" Tanya Hendra
"Baik Yah" Kata Viana
"Syukur lah. Ya sudah Ayah tutup dulu teleponnya ya" Kata Hendra
"Iya Yah. Sampai nanti. Jaga kesehatan Ayah" Kata Viana
"Iya Vi" Telepon pun mati
Viana menghela nafas berat.
"Erik maafkan aku. Tapi aku tidak bisa bersama mu lagi. Apalagi perbuatanmu kemarin di luar dugaanku. Rasaku padamu benar benar sudah hilang"
Sementara itu.....
Sean mendengarkan percakapan Viana dengan Ayahnya.
"Erik benar benar tidak tau malu" Kata Sean.
Dia mengambil Hpnya dan menelpon seseorang.
"Halo, beri pelajaran pada Erik agar dia tidak menggangguku lagi" Kata Sean
Telepon di matikan.
Bisa gawat kalau Erik kesini lagi dan mengatakan semuanya Papa. Aku bisa kehilangan kepercayaan Papa.
Pada malam harinya. Viana dan Sean bertemu di meja makan.
Mulai sekarang mereka akan makan bersama setiap hari demi menjaga nama baik Sean di mata Papanya. Karena Papa dan Mamanya bisa datang kapan saja.
Seperti malam ini.
Sean dan Viana sedang makan malam bersama Mama dan Papanya.
Alya begitu khawatir sehingga langsung datang menjenguk Sean.
Saat tengah makan Alya menangkap gelagat curiga pada Sean dan Viana yang terlihat kaku dan tidak ada manisnya sama sekali sebagai pengantin baru.
Setelah selesai makan, mereka mengobrol di ruang keluarga.
Lagi lagi Alya menangkap pemandangan yang terasa aneh.
Sean dan Viana duduk berjarak. Padahal mereka seharusnya mesra.
"Pa, Mama mau menginap di sini sampai Sean sembuh" Kata Alya
Baik Rangga maupun Sean dan Viana terkejut.
"Tapi kenapa Ma? Kan ada Viana di sini" Kata Rangga
"Viana akan repot jika mengurus Sean sendirian. Papa tau kan Sean seperti apa. Banyak maunya" Kata Alya
"Kenapa Sean? Kamu keberatan?" Tanya Alya menatap serius
"Ti...tidak Ma" Kata Sean
"Ya sudah kalau mama maunya begitu. Kalau Sean sudah sembuh nanti Papa jemput" Kata Rangga
Sean dan Viana saling bertatapan. Beberapa bayangan ada di pikiran mereka dan yang paling mengerikan adalah bayangan tidur seranjang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 181 Episodes
Comments
Mrs.Riozelino Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣
2024-08-20
0
Asih Ningsih
dulu rangga n alya gak ada mesranya sama sekali justru alya mendptkan siksaan terus dari rangga.
2023-09-10
1
Asih Ningsih
iya sean gak brkutik skrg.
2023-09-10
0