Hening terasa di dalam rumah besar dan mewah itu.
Sean tampak menundukkan wajahnya.
Rangga menatap tajam ke arahnya. Alya menangis terisak dalam pelukan Rangga.
Mereka menunggu penjelasan Sean.
"Katakan Sean apa maksud dari semua ini!!!" Teriakan Rangga memenuhi ruang tamu itu.
Sean tak bergeming. Dia menatap ke arah seorang gadis yang kini sedang menangis terisak di depannya. Dia adalah Viana yang tadi datang dan membuat keadaan menjadi tegang karena pernyataannya.
"Nona katakan bagaimana kau mendapat foto ini? Aku tidak pernah menidurimu" Sean menatap tajam ke arah gadis itu.
"Kamu sudah meniduriku di hotel saat kamu mabuk malam itu. Bagaimana kamu bisa ingat? Kamu sangat mabuk malam itu. Kamu harus bertanggung jawab" Viana mengangkat wajahnya dan menatap Sean dengan tatapan sedih.
"Katakan padaku bagaimana kau juga berada di hotel itu" Kata Sean
"Ini rekaman CCTV di hotel itu" Gadis itu menunjukkan hpnya dan memutar rekaman CCTV di lorong hotel. Terlihat dalam rekaman itu, Sean berjalan sempoyongan. Dia membuka pintu kamarnya lalu keluar lagi seperti melupakan sesuatu. Viana kebetulan lewat dan menabrak Sean yang tiba tiba keluar kamar. Sean terhuyung dan jatuh ke lantai karena keadaannya yang sangat mabuk. Lalu terlihat Viana memapah Sean ke dalam kamarnya. Dan setelah itu Viana tidak keluar dalam waktu yang cukup lama.
Dia keluar kamar sekitar jam 1 pagi dengan rambut acak acakan dan berlari sambil menangis.
Rangga berdiri dan
"Plakkkkkkk" Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
"Pa, hentikan" Alya menarik Rangga agar duduk kembali dan meredam emosinya.
"Dasar anak tidak tau diri. Begini balasanmu kepada kami?" Rangga menajamkan tatapannya. Teriakan emosinya memenuhi ruangan itu.
Sean menunduk. Hatinya terluka karena ini tamparan pertama dari Papanya.
Rangga kembali duduk dengan mata memerah. Dia tampak sangat kecewa karena putranya menjadi laki laki yang hampir seperti dirinya saat dulu.
Alya menatap ke arah Viana. Gadis yang tiba tiba datang dan membuat suasana menjadi seperti ini.
"Viana kamu tinggal dimana?" Tanya Alya yang matanya masih memerah karena habis menangis
"Saya tinggal di jl xxx bersama ayah saya Tante" Kata Viana
"Dimana ibumu?" Tanya Alya
"Ibu saya sudah meninggal saat saya masih kecil Tante" Kata Viana
"Mengapa kamu berada di hotel itu?" Tanya Alya lagi
"Saya bekerja di sana menggantikan pegawai hotel yang sedang sakit tante. Karena saya hanya menggantikan saja maka saya tidak memakai seragam hotel" Kata Viana
"Hentikan omong kosongmu Nona, aku ingin melakukan visum. Aku sudah hapal dengan strategimu. Kau menjebakku agar bisa mendapatkan hartaku benarkan" Sean berdiri dan menunjuk Viana yang kembali menitihkan air mata.
Matanya menyorot tajam ke arah gadis itu.
"Aku tidak mau melakukan visum. Itu hanya akan membuat hatiku semakin terluka karena mengingat kamu merenggut kesucianku. Aku hanya ingin pertanggung jawabanmu. Bukan kah foto dan video ini sudah membuktikan semuanya? " Viana menatap ke arah Sean.
"Aku tidak mau!!!" Teriak Sean
"Baik lah jika kamu tidak mau, aku akan menyebarluaskan foto itu agar semua orang tau" Kata Viana menatap serius ke arah Sean.
Baik Rangga maupun Alya sama sama terkejut degan ancaman Viana.
Jika foto itu di sebar luaskan, maka nama baik keluarga mereka akan tercoreng dan akan mempengaruhi bisnis mereka.
"Dasar wanita gila. Berani sekali kau mengancam keluargaku?" Sean melotot ke arah Viana.
"Aku hanya meminta pertanggung jawabanmu saja" Kata Viana.
"Apa kau tau sedang berhadapan dengan siapa?" Tanya Sean dengan nada pelan namun penuh tekanan.
"Jika kamu membunuhku, foto dan video itu tetap akan tersebar luas karena aku sudah memberi tahu seseorang yang aku percaya" Kata Viana
Sean tidak bisa berkata kata lagi.
Rangga menatap serius ke arah Sean.
"Nikahi lah dia" Ucapan Rangga berhasil membuat Alya dan Sean terkejut.
"Apa?" Sean tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Papa bilang nikahi dia" Rangga mengulang kalimatnya.
"Tidak Pa, aku tidak mau. Aku tidak sudih" Sean menatap Viana dengan tatapan sinis
"Jangan menjadi pengecut!!!" Suara bentakan Rangga kembali menggema.
Alya sendiri tau jika Rangga mengeluarkan suara petirnya, artinya dia memang sangat marah.
"Ma" Sean menatap ke arah Alya. Ibunya yang paling dia cintai karena sejak kecil Alya selalu menyayanginya dan tak pernah sekalipun memarahinya. Saat menegur kesalahan Sean pun Alya selalu berkata dengan lemah lembut. Berbeda dengan Rangga yang perawakannya memang keras dan tegas.
"Sean, nikahi dia. Ini semua demi keluarga kita. Papa dan Mama tidak mau jika nama baik keluarga kita tercoreng" Kata Alya dengan tatapan sedih.
Sean menunduk. Ini adalah hari terberat dalam hidupnya. Hari dimana dia harus memilih antara keegoisannya atau nama baik keluarganya.
Lengang terasa, beberapa menit susana menjadi hening. Lagi lagi semua menatap ke arah Sean dengan tatapan penuh harap.
"Baiklah, Pa Ma. Aku akan menikahi dia. Tapi aku mau pernikahan ini di rahasiakan publik.
Aku ingin jangan sampai ada yang tau kalau aku mendaftarkan pernikahan ini ke KUA" Kata Sean mengakhiri keputusannya.
"Bagaimana Viana?" Tanya Alya
"Saya menurut saja tante yang penting Sean mau mempertanggung jawabkan perbuatannya" Kata Viana
Cih siapa juga yang sudih menjadi suamimu. Lihat saja aku akan membuatmu menuntut cerai saat kamu tidak sanggup lagi hidup bersamaku. Gumam Sean. Sepertinya kata setuju yang dia lontarkan tadi adalah awal dari semua rencana yang akan dia susun untuk menjauhkan gadis itu darinya.
"Ma, aku juga mau setelah kami menikah kami tingga di rumah sendiri" Kata Sean.
Alya terkejut dengan keputusan Sean.
Bagaimana bisa dia jauh dari Sean yang sejak dulu sangat dekat dengannya. Walaupun sikap buruk Sean yang sering berlaku kasar pada pelayan dan pegawal di rumah itu, tapi tetap saja Sean adalah puteranya.
"Sean, apa kamu yakin?" Tanya Alya
"Aku yakin Ma" Kata Sean serius
"Biarlah Ma, biar dia bisa mandiri" Kata Rangga
Viana tak bergeming. Tak di sangka Sean malah ingin hidup berdua saja dengannya.
Kenapa dia ingin hidup berdua saja denganku. Cinta? itu mustahil. Dia pasti punya rencana lain. Baik lah aku akan mengikuti aturanmu Tuan Muda. Gumam Viana. Matanya menatap wajah putih nan bersih. Sorot mata yang tajam dengan hidung mancung dan bibir seksi. Dipadu dengan gaya rambut berponi yang membuatnya semakin terlihat tampan.
Tampan? Tentu saja dia adalah anak Rangga.
Setelah semua sudah sepakat, maka di putuskan bahwa Sean dan Viana akan menikah 3 minggu lagi di rumah yang akan mereka tempati nanti.
Tentu saja mereka mempunyai banyak rumah yang merupakan investasi mereka dan Sean hanya tinggal memilih rumah mana yang ingin dia tempati.
Alasan pernikahan ini juga akan di rahasiakan dari keluarga besar Armadja karena itu termasuk aib Sean.
Mereka akan beralasan bahwa Sean dan Viana saling menyukai.
Viana pulang dengan di antar oleh salah satu supir di rumah Sean.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 181 Episodes
Comments
Asih Ningsih
bisa jadi viana anak dari m7suhnya rangga dulu.
2023-08-18
0
Jamal Udin
kayak ya lebih seru bikin penasaran
2023-02-13
0
Yunia Afida
aku baca lagi g bosen bosen tu
2021-09-25
1