Keesokan harinya....
Sean membuka mata saat sinar mentari sudah menerobos kamarnya.
Dia mencoba bangkit tapi kepalanya sangat berat.
Dia memegangi kepalanya. Dia mengingat ingat kejadian semalam.
"Ah ya, aku minum terlalu banyak malam tadi" Ucap Sean masih memegangi kepalanya.
"Sean, kau sudah bangun. Ayo sarapan" Kata Gilang yang dari luar pintu
"Iya, aku mandi dulu" Kata Sean. Dia memang selalu terbiasa mandi pagi walau libur sekali pun. Tidak ada alasan untuk bermalas malasan.
Sean segera mandi dan menuju meja makan dan sarapan bersama yang lainnya.
Selesai sarapan, mereka bersepeda bersama. Walau sudah hampir siang, tapi mereka tetap melakukannya.
Maklum saja, karena mabuk mereka jadi terlambat bangun dan rencana bersepeda di pagi hari terpaksa di undur.
Mereka bersepeda menggunakan sepeda yang ada di villa Gilang.
Mereka terlihat bersenang senang. Jalanan yang mereka lalui begitu terjal dan mendaki juga menurun sehingga memicu adrenalin. Mereka memang sengaja memilih jalur itu. Karena jalanan mulus tidak mengesankan bagi mereka.
Saat melewati jalan menurun yang terjal, Sean yang berada di posisi depan tiba tiba kehilangan kendali sepedanya dan ...Brukkk...
Dia jatuh terguling bersama sepedanya.
"Sean" Teriak Gilang yang langsung turun dari sepedanya dan menghampiri Sean
"Sean" Efan, Dio dan Aldi juga berlari menghampirinya.
Sean terlihat meringis kala merasakan sakit di kaki dan pergelangan tangannya juga luka lecet beberapa bagian tubuhnya.
"Sepertinya dia terkilir. Aku akan menelpon Mang Satyo untuk menjemputnya" Kata Gilang.
Mang Satyo adalah penjaga villa sekaligus supir jika Gilang ingin pergi kemana pun.
Tak lama kemudian, Mang Satyo muncul. Sean dan sepedanya di naikkan ke mobil.
Gilang dan teman temannya menyusul di belakang melewati jalan yang mulus agar lebih cepat.
Sesampainya di villa, Gilang memanggil tukang urut di daerah itu.
Sean mengerang beberapa kali saat merasakan kaki dan tangannya sangat sakit.
Setelah selesai, giliran dokter yang di panggil Gilang mengobati luka lecet Sean.
Beberapa tempelan plaster di wajah, kaki dan tangan Sean.
Setelah dokter itu pergi.
"Sean maafkan aku. Seharusnya aku tidak mengajakmu kesini" Kata Gilang dengan tatapan bersalah.
"Ini bukan salahmu. Ini memang naasku saja" Kata Sean
"Baik lah kita pulang sejam lagi. Kami akan mengantarmu ke rumahmu" Kata Gilang
"Tidak jangan" Kata Sean.
Semua menatap heran padanya.
"Maksudku. Aku akan minta jemput supirku saja. Aku tidak mau merepotkan kalian" Kata Sean
"Baik lah, ya sudah kami akan bersiap. Barang barangmu biar ku siapkan saja" Kata Gilang
"Iya terima kasih" Kata Sean
Mereka semua berkemas. Setelah di rasa semua siap. Mereka menuju mobil Sean. Sean di papah oleh Dio dan Aldi.
Setelah itu mereka berangkat menuju rumah Gilang.
1 Jam kemudian mereka sampai di rumah Gilang. Bian supir Sean juga sudah menunggu. Tadi Bian datang dengan taksi karena dia akan membawa sean beserta mobilnya.
Sesampainya di rumah.
Viana yang sedang duduk di kamarnya mendengar suara deruman mobil di luar.
Dia menoleh ke sumber suara.
Dia berjalan mendekati jendela kamarnya untuk melihat. Dan benar saja ternyata itu Sean. Tapi Viana heran dengan kondisi Sean penuh tempelan plaster luka dan jalannya juga pincang. Bahkan Bian memapahnya menuju sofa ruang keluarga.
Viana mengintip dari atas tangga.
Sean? Kenapa dia jadi begitu? Apa yang terjadi dengannya.
Viana memberanikan diri untuk turun. Dia benar benar khawatir dengan keadaan Sean.
"Sean" Sapa Viana
Sean tak bergeming bahkan dia tidak memperdulikan keberadaan Viana.
"Apa yang terjadi"? Tanya Viana
Sean masih diam. Kini dia memainkan ponselnya.
"Apa kamu habis jatuh?" Tanya Viana lagi.
Dan lagi lagi Sean tidak memperdulikannya.
Viana memperhatikan luka lecet Sean. Siku dan lututnya tidak ada luka lecet. Beberapa lukanya juga terlihat berjarak.
"Kamu habis jatuh dari sepeda? Sepertinya dia jalan terjal. Kamu jatuh di perbukitan terjal? Sudah di urut belum?" Tanya Viana
"Diam lah aku tidak butuh pedulimu. Pergi lah aku muak melihatmu" Kata Sean yang masih tidak mau menoleh
Viana diam. Dia menatap kaki dan tangan yang mulai membengkak.
"Sean kamu habis urut dimana? Kenapa malah bengkak begini? Kamu harus urut lagi" Kata Viana
Sean baru menyadari apa yang di katakan Viana benar. Kaki kanan dan pergelangan tangan kirinya membengkak dan terasa sakit.
Viana pergi ke dalam dan mengambil minyak urut.
"Sean biar aku urut" Kata Viana
"Tidak, jangan sok pintar. Kau bisa membuatku mati" Kata Sean
"Tidak, kalau di biarkan bengkaknya akan semakin parah. Jika saja sebelumnya belum di urut mungkin kita bisa pergi ke dokter. Tapi kalau sudah di urut begini mana bisa ke dokter. Percaya lah Sean. Aku bisa melakukannya" Kata Viana mencoba membujuk Sean
"Tidak, aku tidak percaya padamu" Kata Sean
"Apa kamu akan membiarkan ini semakin membengkak? Memanggil tukang urut pun akan memakan waktu" Kata Viana
"Aku tidak mau berhutant budi padamu" Kata Sean
"Baiklah, kita ikuti isi peraturan itu sekarang. Aku bisa mendapatkan upah setelah bekerja" Kata Viana
"Dasar wanita matre, mata duitan" Kata Sean melotot
"Kamu bisa memaki ku lagi nanti" Kata Viana
Sean diam. Dia mengangkat kakinya yang membengkak ke atas sofa.
Viana mengambil minyak dan mengoleskannya ke kaki Sean lalu mulai mengurutnya.
"Aaaaarrrrrrgggghhh pelan pelan dasar bodoh" Sean berteriak saat di rasakannya kakinya teramat sakit
"Tenang lah Sean. Kenapa seperti anak kecil. Aku kira kamu bisa tahan" Kata Viana terus mengurut kaki Sean secara perlahan.
Sean terbakar emosi mendengarnya namun dia tidak bisa melakukan apa apa. Dengan segera dia diam dan mencoba tidak bersuara lagi atau Viana akan mengejeknya lagi.
1 jam kemudian, Viana selesai dengan tangan dan kaki Sean. Bengkaknya sudah hilang
"Bagaimana? Apa masih nyeri?" Tanya Viana
Sean menggerakkan tangan dan kakinya perlahan. Tidak sakit.
"Pergi lah" Kata Sean
"Mana upahku?" Tanya Viana
"Dasar mata duitan. Kau kan punya ATM tanpa batas. Ambil saja dari situ. Kalau tidak cukup kau bekerja saja jadi tukang urut" Kata Sean menatap kesal
"Aku tidak mau upah seperti itu" Kata Viana
"Lalu apa? Kau mau aku menyerahkan semua hartaku padamu?" Tanya Sean
"Tidak bukan itu. Ini bukan soal uang" Kata Viana
"Katakan saja kenapa bertele tele" Sean semakin kesal
"Aku ingin kamu menjawab saat aku bertanya" Kata Viana
"Kenapa aku harus melakukan itu" Kata Sean
"Karena itu upahku" Kata Viana
"Maksudku apa pentingnya itu untukmu? Bukannya yang terpenting bagimu adalah uang" Kata Sean
"Aku tidak suka jika di abaikan. Aku tidak suka seperti berbicara dangan tembok" Kata Viana
"Jadi maksudmu aku adalah tembok?" Tanya Sean. Dia benar benar kesal
"Kamu arogan sekali sih. Sudah lah Sean. Aku mohon" Kata Viana
"Ya sudah, pergi sana. Aku muak melihatmu" Kata Sean
Viana segera pergi ke kamarnya dengan senyuman mengambang di wajahnya karena kini dia tidak harus diam diaman dengan Sean.
Sean mencoba berjalan menuju kamarnya. Karena tidak mungkin menaiki tangga, dia menggunakan lift yang memang tersedia di saat saat seperti ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 181 Episodes
Comments
Asih Ningsih
viana anaknya lusi yg dulu di penjara.tpi walau seperti itu kebutuhan keluarga lusi di tanggung oleh rangga.jadi skrg viana di suruh melindungi sean dari musuh2 papa nya.
2023-09-10
1
Linda Linda
Sean,gilang,dio dan efran pergi kevillanya gilang mereka senang 2
2021-10-08
1
Dewi Zahra
lanjut kak
2021-09-19
1