Sean sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Akhirnya selesai juga" Sean meregangkan kedua tangannya.
"Jika saja Papa mengangkatku menjadi CEO tentu aku tidak perlu serepot ini. Aku bisa merekrut orang yang aku inginkan. Bahkan asisten pribadi saja aku tidak punya karena Papa tidak memperbolehkannya agar aku bisa melakukan semua sendiri" Sean mengusap wajahnya. Dia melihat arloji ternyata sudah jam 5 sore
Dia segera melajukan mobilnya dan pulang ke rumah. Sesampainya disana, dia di kejutkan dengan kedatangan Oma Laura.
Tanpa basa basi Oma Laura langsung menghampiri Sean dan menjewer telinganya.
"Dasar anak nakal. Berani sekali kamu menikah dengan gadis yang tidak jelas seperti itu" Oma Laura melotot dengan tangannya yang masih menjewer Sean.
"Aduh sakit Oma" Kata Sean memegangi telinganya.
Oma Laura melepaskan telinga Sean.
"Mana gadis itu. Panggil kemari!!!" Teriakan Oma Laura hampir memekakkan telinga Sean.
"Viana" Panggil Sean
Viana turun secepat mungkin.
"Iya Sean" Ucap Viana
"Ini Oma Laura. Mamanya Papa" Kata Sean.
Pandangan Viana beralih ke Oma Laura yang tengah melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Bagaimana bisa kamu menyukai wanita seperti ini ha? Gadis miskin yang hanya menginginkan hartamu saja. Lihat lah Om Dirga. Dia bisa mendapatkan wanita pintar dan cerdas seperti Tante Celin. Juga Papamu yang bisa mendapatkan Mamamu yang baik dan keturunan orang terpandang" Kata Oma Laura sambil menatap sinis ke arah Viana
Viana tak menunjukkan ekspresi apapun.
Lengan terasa sampai Viana memperkenlkan diri.
"Oma kenalkan saya Viana" Kata Viana mengulurkan tangan
"Aku tidak sudih berjabat tangan dengan wanita sepertimu. Kamu tidak selevel dengan kami" Oma Laura melipat tangannya lalu membuang muka
"Oma, duduk lah" Kata Viana
"Ini rumah cucuku. Tentu aku akan duduk kapan pun aku mau" Kata Oma Laura yang langsung duduk di sofa.
Viana berjalan mendekat dan duduk di depan Oma Laura.
"Oma mau minum apa?" Tanya Viana
"Jangan sok baik. Sean bawa dia pergi" Kata Oma Laura
Sean menarik tangan Viana ke kamar Viana lalu mendorongnya ke atas ranjang.
Dia mendekat dan mencengkram lengan Viana kuat sampai Viana meringis.
"Dengar ya. Jangan pernah mencari perhatian kepada semua anggota keluargaku apalagi kepada Oma. Aku jijik melihatmu mencari muka seperti itu" Kata Sean yang menatap tajam ke arah Viana.
Viana tampak biasa saja walau tatapan Sean sedikit menakutkan.
"Baik lah" Kata Viana dengan ekspresi biasa saja.
"Cih, dasar wanita penjilat" Sean keluar dan menemui Oma Laura.
Perlakukan lah aku sesukamu. Aku siap menerima perlakuan burukmu asalkan rencanaku tetap berjalan lancar.
"Sean katakan pada Oma kenapa kamu bisa menyukai gadis sepertinya. Tidak menarik sama sekali dan latar belakangnya miskin" Kata Oma Laura
Sean bingung harus bilang apa. Jika dia jujur ini akan membuat Oma mengamuk dan semuanya akan terbongkar.
"Oma cinta kan tidak harus ada alasannya. Aku hanya cocok saja dengannya" Kata Sean mencoba memasang wajah senyum
"Kamu begitu buta karena cinta" Kata Oma Laura sambil memandang Sean dengan tatapan sinis
"Oma, aku sangat merindukan Oma" Sean memeluk Oma Laura. Mau tidak mau Oma Laura akhirnya luluh dan mengusap rambut cucu kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Oma juga merindukanmu" Balas Oma Laura
"Oma sampai kapan berada disini? Oma akan lama kan?" Tanya Sean
"Tentu saja tidak. Oma datang hanya untuk memarahimu habis habisan karena tindakan bodohmu yang menikahi gadis itu" Kata Oma Laura yang kembali memasang wajah kesalnya.
"Benarkah?" Tanya Sean yang tidak percaya jika Oma hanya datang untuk memarahinya saja
"Tentu tidak anak nakal, Oma mau membawa Oma buyut ke Amerika. Oma mau merawatnya disana. Apa kamu sudah menjenguk Oma buyut?" Tanya Oma Laura
"Sudah Oma, sekitar seminggu yang lalu" Kata Sean
" Baik lah Oma harus pergi karena Papa Mama, Om dan tante akan pergi ke rumah Oma Buyut" Kata Oma Laura
"Aku ikut Oma" Kata Sean
"Tidak usah, kamu pasti capek baru pulang bekerja. Nanti saja saat kami akan kembali ke Amerika. Kamu bisa mengantar kami sampai bandara" Kata Oma Laura
"Ya sudah salam buat Oma buyut ya Oma" Kata Sean
"Iya, kalau begitu Oma pergi dulu" Oma memeluk Sean lalu berlalu pergi meninggalkan Sean.
Sean langsung menuju kamarnya dan menyegarkan diri. Setelah itu dia makan malam.
Setelah selesai Sean kembali ke atas tanpa menyuruh pelayan membuang makanan itu. Mungkin dia sangat lelah.
Tak lama kemudian Viana turun dan menyantap makanan yang ada di meja makan.
Setelah selesai dia bermaksud kembali ke atas namun Sean terlihat menuruni tangga. Viana naik sambil melihat ke lain arah. Sean yang melihat Viana membuang muka tampak marah. Dia menarik tangan Viana lalu mendorong tubuhnya hingga menempel ke dinding.
"Berani sekali kau membuang muka saat melihatku" Kata Sean menatap tajam sambil terus mencengkram lengan Viana dan jarak wajah mereka sangat dekat.
"Maaf Sean, aku hanya mematuhi isi peraturan itu" Kata Viana
"Tidak menatap bukan berarti harus membuang muka" Kata Sean semakin menatap tajam
"Iya maaf" Kata Viana.
Sean melepaskan cengkramannya.
"Aku punya peraturan baru. Setiap kau melakukan kesalahan kau harus menerima hukuman dariku" Kata Sean tanpa melihat wajah Viana
"Baik" Kata Viana.
Sean benar benar tidak habis pikir dengan Viana. Dia selalu menuruti kata katanya bahkan tidak pernah menangis setiap sean menyakiti hati atau fisiknya.
Tidak, ini pasti salah satu triknya agar aku simpati padanya. Bermimpi lah wanita licik
Sean turun ke bawah dan menuju garasi mobil untuk mengambil berkas yang tadi ketinggalan. Setelah itu dia kembali ke ruang kerjanya.
*****
Viana kembali ke kamarnya. Dia mengusap wajahnya.
"Aku tidak boleh menyerah, aku harus tetap kuat demi rencana ku. Ini semua demi janjiku pada Ibu. Aku akan melakukan semua yang aku bisa ibu. Keinginanmu akan ku penuhi aku berjanji" Kata Viana penuh keyakinan. Tanpa terasa dia meneteskan air matanya.
"Padahal ibu sangat menyayangiku tapi dunia begitu kejam untuk Ibu. Tenang lah di sana Bu" Viana menghapus air matanya. Dia memandangi sebuah foto kecil yang merupakan foto ibu tirinya. Sosok wanita penyayang yang mengalami penderitaan begitu lama karena ulah orang yang tidak berhati.
Viana menyimpan kembali foto itu di dalam dompetnya.
Dia segera naik ke ranjang dan mencoba untuk tidur. Berharap bisa bermimpi bertemu dengan ibu tirinya. Ibu yang sangat menyayanginya seperti ibu kandungnya sendiri.
Viana akhirnya tertidur dengan lelap. Beistirahat dengan nyenyak sampai esok pagi datang dan menyambutnya dengan sinar mentari indah.
1 episode lagi nanti malem ya.
Like dan Vote jangan lupa 😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 181 Episodes
Comments
Asih Ningsih
klu gak meleset pasti ibu tirinya adalah lusi yg telah di penjara.viana pasti belum tau masalah yg sebenarnya hingga dia mau membls dendam dgn kematian ibu tirinya
2023-09-10
0
Nunik Pw
viana ga seberapa siksaannya d banding mama nya sean yg di siram air panas
2022-02-03
1
Hendra Yenni
APA ya.. rencana Dr viana 🤔🤔🤔
2022-01-08
1