BAB 18

Pagi ini, Pak Yakup dikejutkan dengan kedatangan tamu tak diundang. Rafa, pria yang dia ketahui adalah putra dari pemilik PT. Alam Nusa itu datang ke kantornya bersama Ananta. Putrinya itu juga tumben-tumbenan datang ke kantor.

"Ada apa ini, Na?" tanyanya bingung.

"Pak Rafa mau mempresentasikan produknya. Ayah dengerin sebentar ya?"

Pak Yakub melihat jam tangannya. 1 jam lagi dia ada meeting dengan Pak Bima, haruskah dia melakukan ini? Karena setahu dia, PT Nusa Alam dan Praz grup, perusahaan Bima Prasetya, memproduksi barang yang sama.

"Tapi Ayah sebentar lagi ada meeting."

"Saya tidak akan lama kok, Pak," ujar Rafa. Dia mulai membuka laptopnya. Hampir semalaman dia tak tidur demi menyiapkan ini semua. Ini juga salah satu ajang pembuktiannya pada sang papa, jika dia layak menjadi penerus pria itu.

"Pleasee, Yah," Ananta memohon. "Mau ya?"

Dan akhirnya, Pak Yakub mengangguk karena dia tak mungkin menolak permintaan putrinya.

Rafa memulai presentasinya. Tak mau Pak Yakub merasa seperti memutar kaset lama, mendengar sesuatu yang dulu sudah pernah dipaparkan, Rafa mencoba menunjukkan sisi lain produknya. Dia mengutamakan kelebihan yang akan membuat kualitas barang di perusahaan Pak Yakub semakin bagus.

"Saya bisa mendapatkan barang seperti ini dengan harga lebih murah dan kualitas hanya beda sedikit, sepertinya, saya masih kurang berminat."

"Tapi kualitas yang menurut Bapak hanya beda sedikit itu, yang akan membuat produk Bapak lebih unggul dari lainnya. Harga juga cuma beda dikit, worth it lah." Rafa tidak mau langsung menyerah hanya dengan penolakan barusan.

"Yah, please.. pertimbangkan lagi," Ananta berusaha membujuk. Kali ini, dia tak mau gagal.

"Biaya produksi otomatis naik jika salah satu bahan bakunya naik," Pak Yakub menjelaskan itu pada Ananta.

"Tapi kualitas produk kita akan semakin bagus. Dan mungkin saja, konsumen yang dulunya pakai produk lain, akan beralih ke produk kita jika kualitasnya bagus."

"Tepat sekali!" Rafa menimpali. Dulu sudah pernah gagal, tapi tidak dengan sekarang, batinnya.

Jika difikir-fikir benar juga, tapi kembali lagi, ada faktor lain yang juga harus dipertimbangkan, yaitu keuntungan yang otomatis akan berkurang.

"Gimana, Yah, kita beralih ke produknya PT. Alam Nusa ya?" desak Ananta sambil memegang lengan sang ayah.

Pak Yakub mengajak Ananta bicara berdua. Hal yang dilakukan putrinya pagi ini agak janggal, jadi dia tak bisa langsung gegabah mengiyakan hanya karena rasa sayangnya. Apalagi, ada banyak orang yang menggantungkan hidup di perusahaan ini. Apapun keputusan yang dia ambil, harus menguntungkan perusahaan.

"Kamu ada hubungan dengan Rafa?"

Ananta melongo ditanya seperti itu. Kenapa juga, pemikiran ayahnya malah kesana.

"Ayah tahu, Rafa itu tampan, tapi bisnis tak boleh dicampur adukkan dengan kepentingan pribadi," lanjut Pak Yakub.

Ananta tertawa ringan, kalau difikir-fikir, wajar juga ayahnya berfikir ke arah sana. "Gak seperti itu, Yah?" sangkalnya.

"Lalu kenapa kamu tiba-tiba ngebet mau ganti perusahaan Pak Bima dengan PT. Alam Nusa?"

Ananta menghela nafas panjang lalu menggenggam tangan ayahnya. "Karena Nata pengen kualitas produk kita meningkat."

"Masalahnya, sejak kapan kamu peduli urusan perusahaan? Dulu aja, meski sudah dipaksa belajar bisnis, kamu selalu nolak. Kamu bilang lebih suka dunia model, lebih pengen jadi artis, sibuk ikut audisi kesana kemari, bener-bener gak mau tahu urusan perusahaan."

Ananta tersenyum simpul, "Itukan dulu, sekarang aku pengen mulai belajar bisnis."

"Kamu yakin?"

Ananta mengangguk cepat, "Sangat yakin."

Pak Yakub tersenyum sambil mengusap kepala sang putri. Sejak bangun dari koma, putrinya benar-benar telah berubah. "Baiklah, ayah setuju."

Ananta langsung memeluk ayahnya sebagai luapan rasa bahagia. Hari ini dia telah berhasil membuat Bima kehilangan klien besar, selanjutnya, dia juga akan membuat klien lainnya berpaling dari pria itu. Bangkrut. Dia bersumpah dalam hati, akan membuat pria itu bangkrut.

"Ayah senang kamu mau mulai belajar bisnis." Pak Yakub mengecup puncak kepala Ananta. "Anak ayah sudah dewasa, kamu adalah calon penerus ayah."

...----------------...

Ananta meninggalkan ruangan ayahnya dengan perasaan lega. Tersenyum ramah pada beberapa karyawan yang menyapanya kala berpapasan. Saat baru keluar dari lift, tanpa sengaja, dia berpapasan dengan Bima Prasetya. Pria yang paling dia benci di muka bumi ini. Dia memegangi dadanya. Hanya melihat wajahnya, dadanya langsung terasa sesak. Masih ingat dengan jelas, kejadian beberapa tahun yang lalu.

"Dia bukan anakku."

Kalimat Bima tersebut bagai belati yang langsung menusuk jantung Riana. Orang yang paling ingin sekali dia temui sepanjang 12 tahun, ternyata menolaknya mentah-mentah.

"Sejak aku menalakmu, kita sudah tak ada hubungan apa-apa. Bawa anak itu pergi, dia bukan anakku. Aku tak mau anak dari wanita kelas rendah sepertimu. Jangan pernah datang kesini lagi, apalagi sampai mengaku-ngaku jika dia anakku." Sepertinya, pria itu terlalu malu jika publik sampai tahu dia pernah menikahi pembantu. Wanita yang dia anggap rendahan.

Seumur hidup, Riana tak akan pernah bisa melupakan penghinaan itu. Penghinaan Bima pada dia dan ibunya.

"Ananta, kamu Ananta kan?"

Langkah Ananta terhenti saat Bima menyapanya.

"Om kenal saya?" Ananta pura-pura tak tahu.

"Astaga Ananta."

Mata Riana membola saat Bima tiba-tiba memeluknya. Dulu, dia sangat mendambakan pelukan ini, tapi tidak untuk saat ini. Dia benci pria di depannya ini. Dan pelukan ini, sama sekali tidak membuat dia nyaman, tapi malah sesak.

"Kamu tidak ingat, Om?" Bima melepaskan pelukannya sambil tersenyum lebar. "Kita pernah beberapa kali bertemu. Dan saat kamu koma, Om beberapa kali menjengukmu di rumah sakit."

Sakit sekali hati Riana mendengar itu. Seperti ini perlakuan Bima pada putri rekan bisnisnya, tersenyum lebar dan sangat ramah. Tapi pada putrinya sendiri, sangatlah jauh berbeda. Hanya karena lahir dari seorang pembantu, dia sama sekali tak dihargai.

Apa tadi, menjenguk di rumah sakit saat koma? Lalu apa kabar dengan dirinya. Pernahkah saat dia koma, Bima menjenguknya, menjenguk dia yang notabene adalah putri kandungnya.

"Oh iya Om lupa. Kabar yang Om dengar, kamu hilang ingatan."

Ananta hanya mengangguk pelan.

"Jangan khawatir," Bima mengusap lembut kepala Ananta. "Om punya banyak kenalan dokter, nanti Om bicarakan dengan ayah kamu. Kamu pasti segera sembuh."

Ananta tersenyum miring. Kenapa rasanya, yang dilakukan Bima tidaklah tulus. Dia yakin pria itu seperti ini hanya demi keuntungan, demi melancarkan bisnisnya dengan Pak Yakub. Semoga saja nanti, saat tahu jika ayahnya menghentikan kontrak kerjasama, pria itu tidak kena serangan jantung.

"Astaga!" Bima melihat jam tangannya. "Om sudah sangat terlambat untuk bertemu ayahmu, Om permisi dulu." Sekali lagi, Bima memeluknya. "Jaga kesehatan ya, Sayang." Ucapnya sebelum berlalu pergi.

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

DASAR BIMA BAIK KEN ADA MAUNYA SMG KAMU BANGKRUT DAN PUTRIMU JG

2024-09-01

0

Hilmiya Kasinji

Hilmiya Kasinji

semangat mbak Riana

2024-05-11

1

⏤͟͟͞R ve

⏤͟͟͞R ve

Jangan salahkan Riana yang dengan semangatnya ingin menjatuhkan Bima 😎

2024-02-06

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!