"Ayo pulang!" Rayan menarik lengan Ananta. Gadis yang dalam kondisi setengah mabuk dan sedang asyik menari di dance floor itu, menarik kasar lengannya hingga terlepas dari cekalan Rayan.
Rayan berdecak kesal, sekali lagi, menarik lengan Ananta. Kali ini sedikit kuat, hingga gadis itu keluar dari kerumunan teman-temannya.
"Apaan sih, Bang? Nanti aja kali." Ananta berusaha melepaskan diri dari cekalan Rayan. Gadis itu memberengut kesal karena kesenangannya diganggu.
"Aku bilang pulang sekarang, Nata!" bentak Rayan. "Ini sudah terlalu larut, hampir pagi malahan."
"Ya udah, sekalian aja kita pulang pagi," sahut Ananta tanpa rasa bersalah. Mumpung ayahnya sedang ada di luar negeri, kapan lagi coba, dia bisa senang-senang dengan teman-temannya sampai pagi.
Ananta yang setengah mabuk, meraih minuman diatas meja. Hendak meneguknya namun lebih dulu direbut oleh Rayan.
"Hentikan, kamu sudah mabuk!"
"Aku masih kuat." Tangannya masih berusaha meraih minuman, sementara Rayan berusaha menjauhkannya.
"Kita bisa kena masalah kalau ayah kamu sampai tahu." Rayan takut ada orang rumah yang mengadu jika Ananta pulang dini hari. Ditambah lagi dengan kondisi mabuk, bisa habis dia kena marah. Tak hanya dia, Ananta pasti juga ikut kena marah. "Ayo pulang!" pinta Rayan untuk kesekian kalinya.
Ananta menggeleng, dia masih ingin senang-senang. Dia memutar tubuh, hendak kembali ke kerumunan teman-temannya, tapi Rayan lebih dulu menarik lengannya.
"Kamu itu kenapa sih, Na, gak biasanya bendel kayak gini?"
Ananta tersenyum sambil menatap Rayan sendu. Saat ini, dia hanya ingin senang-senang untuk melupakan sakit hatinya. Bisa-bisanya kemarin Rayan menyetujui usul ayahnya yang mau menikahkan pria itu dengan salah satu anak saudaranya.
"Ayo pulang!"
"Gak mau." Ananta menarik kasar lengannya dari cekalan Rayan.
Rayan berdecak kesal, kesabarannnya mulai terkikis habis. Bicara seperti ini, sampai pagi pun mereka tidak akan pulang. Tak ada cara lagi, langsung saja dia angkat tubuh gadis itu seperti mengangkat karung beras. Tak mempedulikan teriakan Ananta yang minta diturunkan.
Sesampainya di dekat mobil, baru dia turunkan gadis itu. "Masuk!" titahnya setelah membukakan pintu mobil.
Tubuh Ananta limbung, dia berpegangan pada cap mobil. Sebenarnya dia memang tak kuat minum, malam ini, hanya sok-sok an saja.
"Kamu mabuk, Na." Rayan memegangi pinggang Ananta, hendak membantunya masuk ke dalam mobil. Tapi diluar dugaan, gadis itu malah menciumnya. Mata Rayan melotot, bergeming beberapa saat sampai kesadarannya kembali. Dia mendorong Ananta hingga pagutan bibir mereka terlepas. "Heis, gadis ini mengerikan sekali kalau sedang mabuk," gerutunya.
"Aku cinta, Abang."
Sekali lagi, Rayan dibuat melotot karena ulah Ananta.
"Aku cinta Bang Rayan." Ananta memeluk Rayan dan hendak menciumnya lagi.
"Nata!" pekik Rayan sambil mendorong gadis itu. "Hentikan! Ayo kita pulang!" Sumpah, malam ini dia dibuat kewalahan gara-gara ulah gadis itu.
"Nata mau nikah sama, Abang."
"STOP!" pekik Rayan. "Kamu mabuk, Nata, ayo pulang!" Rayan berusaha memasukkan Ananta ke dalam mobil, namun gadis itu berontak.
"Aku gak mabuk, aku mau nikah sama Abang. Aku cinta sama, Abang."
Rayan mengumpat kesal. Ananta sungguh mencabarnya.
"Abang juga cintakan sama Nata?"
"Enggak!" sahut Rayan cepat.
"Bohong!" teriak Ananta. "Abang cinta sama aku, abang cinta. Aku tahu itu, kalau enggak, gak mungkin Abang begitu peduli padaku."
"Kamu hanya salah faham Nata. Abang menjagamu selama ini, karena Abang ingin membalas budi pada Bapak. Bapak sudah banyak berjasa pada Abang. Sudah sepantasnya Abang membalasnya. Abang cuma nganggep kamu adik, tidak lebih." Rayan hendak meraih tangan Ananta, tapi gadis itu lebih dulu menghindar.
"Abang bohong!" Ananta menggeleng cepat sambil menangis. "Abang bohong. Nata tahu, Abang cinta sama Nata." Dia berjongkok di dekat mobil. Menangis sambil membenamkan wajah di lutut.
Rayan meraup wajah dengan kedua telapak tangan. Satu hal yang paling tidak bisa dia lihat, adalah air mata Ananta. Apapun akan dia lakukan untuk gadis itu agar tidak menangis, tapi kali ini, sepertinya dia tidak bisa melakukan apapun. Dia cukup sadar diri. Antara dirinya dan Ananta, ada dinding pembatas yang menjulang tinggi. Siapa dia, siapa Ananta? Mereka berbeda, tak mungkin bisa bersama. Seorang anak yang diambil dari jalanan, ingin memiliki putri tuannya, apa itu namanya jika bukan tak tahu diri. Apakah dia mencintai Ananta, iya, jawabannya adalah iya, tapi dia cukup tahu diri.
Rayan berjongkok di depan Ananta, memegang kedua bahu gadis itu untuk membantunya bangun. "Ayo pulang."
Ananta mendongak, menatap Rayan dengan mata sembabnya. "Abang cintakan, sama Nata?"
Rayan menghela nafas berat. Dia menggeleng, membohongi hatinya sendiri. "Abang gak cinta sama kamu."
"Jahat!" tangis Ananta makin pecah. "Abang jahat. Abang pembohong." Dia memukuli dada dan lengan Rayan dengan sisa tenaganya.
Rayan bangun, menarik sedikit paksa kedua bahu Ananta agar berdiri. "Ayo pulang."
Nata akhirnya menurut, dia berdiri. Namun saat Rayan menyuruhnya masuk mobil, dia malah menutup pintu tersebut dan mengambil paksa kunci mobil yang ada ditangan Rayan.
Rayan mengumpat saat kunci mobil berpindah tangan. Ananta dengan cepat menuju bagian kemudi lalu masuk dan menguncinya.
"Nata, keluar. Biar Abang yang bawa mobil." Rayan menggedor kaca, hatinya mulai diselimuti rasa cemas. Apalagi saat Ananta mulai menyalakan mesin dan menekan gas. "Nata! Berhenti. Kamu mabuk, Na." Dia terus berteriak dan mengetuk kaca.
"Nata, berhenti." Rayan berlari, mengejar mobil Ananta. Mustahil terkejar, dia menyetop seseorang yang memakai jaket ojol. Memintanya untuk mengejar mobil Ananta.
"Nata, berhenti. Kamu mabuk." Rayan berteriak di sepanjang jalan. Namun bukannya berhenti, mobil Ananta malah melaju makin kencang. Tengah malah seperti ini, jalanan memang sedikit lenggang.
Rayan panik saat mobil Ananta makin melesat jauh dan tak terkejar.
BRAAAKKKK
Terdengar suara benturan yang sangat keras.
"Nata!" teriak Rayan.
"Bang. Bang. Bangun, Bang."
Rayan membuka mata. Nafanya memburu. "Nata, kamu baik-baik saja?" Dia mendapati Ananta berjongkok disebelah sofa yang dia tiduri.
"Kamu mimpi buruk?"
Rayan meraup wajah dengan kedua telapak tangan. Mimpi buruk itu, datang lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
LENY
KASIHAN RAYAN SEBENARNYA CINTA CUMA DIA TAHU DIRI
2024-09-01
0
LENY
BUKAN SEPENUHNYA SALAH RAYAN PAK. NATA TERNYATA KERAS KEPALA DAN AGAK LIAR JUGA MABOK2KAN DUH. NYETIR LG MABUK PULA🙈
2024-09-01
0
⏤͟͟͞R ve
Rayan dan Ananta saling mencintai...walaupun Rayan tak mau mengakui hanya karena perbedaan...hmm
2024-02-06
1