Bima menendang kuat ban mobilnya. Membuka pintu dengan kasar, masuk, lalu kembali membanting pintu tak bersalah itu. Dia yakin, ada yang sengaja melakukan ini padanya. Ada yang ingin cari masalah dengan menyabotase klien terbesarnya.
Dia menyandarkan punggung sambil memijat pangkal hidung. Teringat kembali kejadian beberapa jam yang lalu yang membuat dia terlambat sampai di kantor Pak Yakub. Disaat macet di lampu merah, seorang wanita pengendara motor menyenggol mobilnya. Dia tidak apa-apa, tapi pengendara tersebut yang jatuh. Sialnya, beberapa orang disana, malah mengenalinya yang merupakan ayah Angel. Apalagi sebulan yang lalu dia sempat viral gara-gara video Riana. Jadi makin banyak orang yang mengenalnya. Demi menjaga imej, agar terlihat baik dimata orang, dia terpaksa mengantar wanita itu ke puskesmas.
Awalnya dia mengira kejadian tadi murni kecelakaan, tapi sekarang, dia yakin jika tadi adalah setingan. Setingan seseorang yang ingin menghancurkannya.
"Malik, awas kau!" Bima memukul setir dengan kuat. Kemarin jelas-jelas Pak Yakub setuju untuk memperpanjang kontrak, tapi siang ini, semua tiba-tiba berubah. Pak Yakub sudah lebih dulu teken kontrak dengan PT. Alam Nusa, yang pada akhirnya, kontrak dengan perusahaannya terhenti. Keyakinannya sangat besar jika orang yang ada dibalik ini semua adalah Malik, pemilik PT. Alam Nusa, saingan beratnya.
..........
Hari minggu pagi, Ananta sibuk di dapur bersama Bi Jul. Tak hanya Bi Jul yang jadi kerepotan karena menu makanan yang akan dibuat Ananta terlalu banyak. Pun dengan Rayan, pria itu ikut kena dampaknya. Dipaksa membantu mengupas dan memotong bawang hingga air matanya bercucuran.
Tadi pagi-pagi sekali, Rayan sudah menemani Ananta ke pasar, membeli banyak sekali bahan makanan sampai kedua tangannya harus rela membawa dua keresek besar belanjaan yang lumayan berat.
"Cie... si Abang ngupas bawang," cibir Andi yang baru saja memasuki dapur. Dia mati-matian menahan tawa melihat Rayan, pria berbadan kekar dengan wajah sedikit sangar mengupas bawang. ditambah lagi, matanya merah efek panas dari bawang. "Kumenangis, oh... oh.. oh... " Cowok itu menyanyi diatas penderitaan Rayan.
"Diem lo!" bentak Rayan sambil melemparkan sebiji bawang merah ke kepala Andi.
Bukannya takut, Andi malah lanjut meledek. "Habis ini sekalian ngulek sambel, Bang. Biar kayak.... " dia menirukan gerak gemulai ala wanita yang sedang ngulek lalu tertawa ngakak.
"Bang Andi," panggil Ananta. "Bantuin sekalian yuk."
Sekarang gantian Rayan yang terkekeh. Berdoa dalam hati agar Andi mendapatkan tugas yang lebih memalukan daripada dia.
"Bantuin potong sayurannya, " Ananta menunjuk 4 ikat kangkung yang ada diatas meja. "Habis kangkung, wortel nya juga, dicuci bersih, kupas, lalu potong, jadi bentuk bunga-bunga ya, Bang."
Andi melongo, sementara Rayan tertawa ngakak. Tuhan maha adil. Dia tak perlu membalas cibiran Andi, balasan itu datang dengan sendirinya.
"Na, Abang mana bisa," Andi berusaha berkelit. "Abang bantu nyicip aja ya?" Dia mendekati Ananta, hendak menyentuh spatula yang berada didalam wajah berisi rendang, tapi tangannya lebih dulu di tepuk oleh cewek itu.
"Itu bagianku dan Bi Jul," Ananta memelototinya. "Udah sana, urusin kangkungnya."
"Ya elah, Na. Masa cowok cakep gini disuruh ngurusin kangkung?"
"Biar makin cakep," celetuk Bi Jul. "Siapa tahu gara-gara pintar metikin kangkung, kamu jadi cepat dapat jodoh."
"Gak ada hubungannya keleeeess," Andi memutar kedua bola matanya malas. Tapi meski ogah-ogahan, dia tetap melakukan apa yang di suruh Ananta. Mengambil baskom besar untuk tempat kangkung lalu duduk di depan Rayan. Hatinya dongkol melihat Rayan puas menertawakannya. "Hari ini tumben, masak banyak sekali," tanya Andi.
"Anggep aja hari spesial. Aku mau ngajak semua orang makan sama-sama hari ini," sahut Ananta. Dia memang sedang senang karena berhasil membuat Bima kehilangan klien besar.
"Kenapa gak pesen aja. Aku takut rasanya gak enak kalau kamu yang masak." Mulut Andi terlalu lancar saat mengucapkan, terlalu jujur. Namun tatapan tajam Rayan dan Bi Jul, langsung membuat dia salah tingkah. "A-aku salah ngomong ya?"
"Gak salah," sahut Ananta sambil tersenyum pada Andi. "Itu karena Abang belum pernah ngerasain masakan aku. Kalau udah, dijamin ketagihan. Dan bisa-bisa, langsung pengen nikahin aku."
"Awas saja kalau berani," gumam Rayan.
Suasana mendadak hening. Pria yang sejak tadi sibuk menatap bawang itu, mengangkat wajahnya. Semua orang menatap kearahnya. "A-ada apa?" dia jadi salah tingkah. Dia benar-benar tidak sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
"Enggak, gak ada," sahut Andi sambil menahan tawa. Dia jelas tahu seperti apa perasaan Rayan pada Ananta.
Bu Jul menghela nafas sambil geleng-geleng, sementara Ananta, muncul sedikit pertanyaan di benaknya, mungkinkah jika.... ah sudahlah.
Mendengar suara riuh dari dapur, Pak Yakub yang baru pulang dari bersepeda dengan teman-temannya, langsung menuju tempat tersebut. Keningnya mengkerut melihat 4 orang memenuhi dapurnya. "Wah, mau ada acara apa ini, masak besar kayaknya?" Pria itu mendekati kompor yang masih menyala, diatasnya ada kuali berisi rendang daging yang aromanya memenuhi dapur. Meski sangat menyukai seafood, Ananta terpaksa tak memasukkan menu tersebut dalam masakannya hari ini. Jadi menu utama hari ini adalah daging.
"Ayah, cobain ya." Ananta mengambil sedikit kuah rendang menggunakan sendok, menyodorkan pada sang ayah agar mencicipi.
"Emmm.. . . enak sekali," puji Pak Yakub. "Ini yang masak?" dia menatap Bi Jul dan Ananta bergantian.
"Non Nata yang masak," jawab Bi Jul.
"Kamu bisa masak, Na? Ini rendang loh?" rasanya Pak Yakub belum bisa percaya begitu saja. Rendang termasuk masakan yang sulit, tak seperti telur ceplok yang dia akan percaya begitu saja kalau yang masak Ananta.
"Non Nata itu tiap hari bantuin saya masak, Pak. Hanya saja Bapak yang gak tahu."
Pak Yakub ingat jika beberapa hari yang lalu, Bi Jul bilang kalau yang masak Nata. Tapi dia tak terlalu percaya. Berfikir jika Ananta hanya membantu saja, bukan yang masak.Tapi ternyata, benar-benar putrinya yang masak. Pertanyaannya, kapan Ananta belajar masak? Skill memasak tak mungkin diperoleh hanya dalam sekejab mata, butuh proses yang tidak sebentar untuk menguasainya.
"Beneran enak, Pak?" Andi kepo. "Abang boleh nyicip juga gak, Na?"
"Gak boleh!" Ananta melotot tajam.
"Pelit."
"Nanti juga kamu tahu rasanya," hibur Bi Jul. "Sekarang nikmati dulu aromanya, baru nanti siang kita makan sama-sama."
"Yah. Gak papakan, kalau nanti siang, kita makan bareng semuanya di meja makan?" tanya Ananta. Selama ini, mereka memang hanya makan berdua di meja makan. Bahkan Rayan pun, tak pernah ikut makan disana. Pria itu cukup sadar akan posisinya, selalu menolak saat Ananta mengajak makan bersama.
"Tentu saja," sahut Pak Yakub sambil tersenyum. Dia sangat menyukai semua perubahan Ananta sejak bangun dari koma. Meskipun terasa janggal, tapi dia tak terlalu peduli. Asal Ananta ada didekat nya, dan dalam kondisi sehat, dia sangat bahagia.
"Oh iya, aku juga undang teman kesini nanti siang."
"Siapa? Nadila dan Pras?" tanya Pak Yakub. Pasalnya, 2 orang itulah sahabat terdekat Ananta. Sahabat sekaligus teman yang membantu dia membuat konten dan foto endorse.
"Pras sibuk. Nadila aja yang bisa. Sama seseorang lagi."
"Siapa?" Pak Yakub penasaran.
"Emm... "Ananta tersenyum malu-malu. " Arga."
Mendengar itu, Rayan yang sedang memotong bawang, langsung berhenti.
"Siapa Arga?" Pak Yakub mengerutkan kening.
"Teman Nata."
"Teman apa teman," goda pria itu sambil menyenggol lengan putrinya. Melihat wajah Ananta yang bersemu merah, dia bisa menebak jika putrinya itu sedang jatuh cinta sekarang.
"Bang!" pekik Andi. "Jari kamu keiris tuh," dia meringis melihat darah keluar dari ujung jari jempol Rayan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
idaman
aduh kasihan tuh jempol
2024-02-13
1
Ita Mariyanti
😂😂😂😂 BI Jul terbaik komen nya 👍👍👍
2024-02-08
0
⏤͟͟͞R ve
Ada yang cembokur tuhh...bangg Rayan 😂
#duhh sampai ke iris jempolnya bangg
2024-02-06
0