BAB 14

Rayan memasuki dapur dengan wajah pucat. Jalannya tak secepat biasanya, dan tangannya memegangi perut.

"Ada obat diare?"

Ananta dan Bi Jul yang ada di dapur, sibuk memotong sayur, langsung menoleh. Keduanya mengerutkan kening melihat Rayan.

"Abang kenapa?" tanya Ananta. Gadis itu berjalan mendekati Rayan yang duduk di kursi dapur.

"Dia_heisss... " Belum selesai ucapannya, perutnya sudah keburu melilit. Berlari secepat kilat menuju toilet yang ada di dapur sebelum sesuatu keluar tidak pada tempatnya, membanting pintu toilet saking sudah kebelet nya.

"Makan apa dia semalam, sampai diare kayak gitu?" gumam Bi Jul.

"Semalam makan mie ayam sama aku. Ternyata dia kuat banget makan pedas."

"Hah!" Bi Jul langsung melongo. Tinggal bersama Rayan bertahun-tahun dan keseringan makan bersama di dapur, membuat dia tahu persis seperti apa makanan yang bisa dan tidak bisa dimakan oleh Rayan. "Non Nata yakin?"

"Iya, memang kenapa?"

"Dia itu gak bisa makan pedas, perutnya gak kuat."

"Astaga," Ananta geleng-geleng sambil menghela nafas. Kenapa juga harus maksain jika tidak bisa? Dia mengambil gelas, gula dan garam, membuatkan cairan oralit agar Rayan tidak sampai dehidrasi.

Bi Jul, matanya fokus menatap Ananta, heran darimana gadis itu tahu caranya membuat oralit. Beberapa hari ini, dia memang dibuat terheran-heran dengan nonanya itu. Setiap pagi membantunya di dapur dan setelah makan malam, bantu membereskan dapur. Ini aneh, tapi nyata.

Rayan keluar, kembali duduk di kursi dapur. Menyandarkan tubuh lemasnya di sandaran kursi.

"Minum ini," Ananta meletakkan oralit buatanya di atas meja.

Rayan menatap Ananta bingung. "Apa ini?" dia ganti menatap cairan bening di dalam gelas.

"Oralit, biar Abang gak sampai dehidrasi."

"Yang_"

"Yang buat aku," potong gadis itu.

Mata Rayan membulat sempurna. Ananta yang buat? Dia jadi ragu untuk meminum, takut bukannya sembuh, diarenya malah makin parah. Tapi melihat Bi Jul mengangguk, rasa ragunya berkurang. Dia meminum oralit buatan Ananta hingga habis. Bi Jul memberinya roti yang sudah di oles selai, tak lupa juga obat diare.

"Udah tahu gak bisa makan pedes, pakai sok-sok an. Demi apa coba?" Ananta melipat kedua lengan di dada sambil geleng-geleng.

Demi kamu, sahut Rayan dalam hati. Cuma dalam hati, karena tak mungkin dia jujur.

Melihat kondisi Rayan yang seperti ini, Ananta tak tega mengajaknya ke kampus. "Aku ngampus sendiri aja hari ini."

"Enggak-enggak, jangan! Aku bisa kok. Habis minum obat, pasti sembuh." Dasar Rayan, sok-sok an terus.

Ananta melihat jam dinging. "2 jam lagi aku ke kampus, yakin Abang udah sembuh? Aku gak mau nanti di jalan malah berhenti di pom gara-gara Abang kebelet terus ujung-ujungnya aku telat. Lagian aku sudah biasa ke kampus sen_, aku bisa ke kampus sendiri," hampir saja Ananta keceplosan.

"Biar Andi aja yang nganter kalau Rayan sakit," ujar Pak Yakub yang baru masuk ke dalam dapur. Ternyata pria itu sempat mendengar obrolan mereka.

"Aku bisa sendiri kok, Yah, bisa naik ojol."

"Ojol?" Pak Yakub melotot. Setahu dia, putrinya itu paling anti naik motor. Panas, takut hitam, dan masih banyak lagi alasan lainnya yang kadang tidak masuk akal, seperti malu alias gak level.

"Kenapa? Aku gak boleh naik ojol ya?" Ananta bingung melihat ekspresi Pak Yakub.

Pak Yakub tersenyum lalu merangkul bahu putrinya. "Bareng Ayah ke kantor saja, diantar Andi."

. .........

Mobil yang dikendarai Andi melaju menuju kampus Ananta. Di jok bagian belakang, ada Pak Yakub dengan Ananta. Pria itu bercerita panjang lebar, terutama tentang masa kecil Ananta. Ingin anaknya itu segera bisa mengingat kembali, kalau tidakpun, seenggaknya Ananta punya memori masa kecil di ingatannya, tahu seperti apa masa kecilnya.

"Kamu itu sukanya ngintilin ayah kemana-mana, sampai pas ayah mau meeting, kamu juga maksa ikut. Pernah sekali, pas meeting rutin bulanan, semua pada tegang karena ayah marah penjualan tidak naik, tapi kamu tiba-tiba kentut, sampai satu ruangan ketawa. Ayah sampai lupa marahnya," Pak Yakub tertawa terpingkal-pingkal mengingat kejadian belasan tahun yang lalu. Dan semua kejadian demi kejadian itu, tetap tersimpan dalam memorinya.

Dia juga cerita jika sejak ibunya meninggal saat usia Ananta 3 tahun, anak itu selalu tidar dengan ayahnya hingga usia 10 tahun. Ananta kecil yang posesif akan selalu bikin ulah saat ayahnya dekat dengan wanita, dan itu terus berlanjut hingga sampai sekarang. Hingga pada akhirnya, ayahnya tak pernah menikah lagi.

Pada titik ini, Riana teringat ibunya. Ibunya yang tak bisa menikah hingga usia 40 tahun gara-gara di cap sebagai wanita tidak benar, punya anak diluar nikah. Jika Ananta tak ingin ayahnya menikah lagi, dia justru kebalikannya, ingin sekali melihat ibunya menikah, punya pasangan, dan hidup bahagia.

Cerita Pak Yakub terhenti saat ponselnya berdering. Dia mengambil benda pipih yang ada di saku jas lalu menerima panggilan.

"Hallo, Pak Bima."

Mendengar nama Bima, Ananta yang awalnya tak tertarik dengan obrolan ayahnya, jadi ikut menyimak.

"______"

"Terimakasih."

"_____"

"Kita bicarakan ini besok, kita sudah sangat lama menjalin kerjasama. Saya sangat percaya pada kinerja perusahaan, Pak Bima."

Tak lama kemudian, Pak Yakub mengakhiri telepon.

"Pak Bima? Bima Prasetya?" tanya Ananta penasaran.

"Iya, dia mengucapkan selamat atas kesembuhan kamu." Pak Yakub meraih tangan Ananta, membawa ke pangkuannya dan menggenggam erat.

"Ayah ada urusan apa dengan dia?"

"Perusahaan Pak Bima salah satu pemasok bahan baku di pabrik Ayah. Kami sudah kerjasama cukup lama, dan besok, rencananya Pak Bima akan datang ke kantor untuk menandatangani perpanjangan kontrak kerjasama."

Ananta tersenyum miring. Dia tak menyangka jika jalan untuk balas dendam pada Bima, terbuka dengan sendirinya. Dia harus menggagalkan perpanjangan kontrak tersebut, agar perusahaan Bima kehilangan klien besar. Dia sangat tahu, jika pabrik elektronik milik ayahnya adalah perusahaan yang cukup besar. Kehilangan klien sebesar itu, Bima pasti kelimpungan.

Terpopuler

Comments

⏤͟͟͞R ve

⏤͟͟͞R ve

Setelah Arga, sekarang giliran Bima...
hmmm yang jadi target pembalasan Riana melalui tubuh Ananta 😎

2024-02-06

3

Yunia Afida

Yunia Afida

semangat terus 💪💪💪💪

2024-01-26

0

Yunia Afida

Yunia Afida

nah pas tu jodohkan aja ama pak yakup

2024-01-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!