Riana membuka matanya pelan. Pandangannya kabur, tak bisa melihat dengan jelas sedang ada dimana dia sekarang. Hanya aroma obat-obatan yang cukup kuat yang terasa di indra penciumannya, ditambah lagi suara alat kesehatan yang entah apa namanya dan suara beberapa orang. Ya, beberapa orang, dia yakin itu. Ada suara pria maupun wanita, dan sepertinya mereka sedang sibuk memeriksa dirinya. Kalau feelingnya tidak salah, dia ada di rumah sakit sekarang.
Kembali dia menutup mata, tubuhnya terasa sangat lemas. Mencoba mengingat-ingat peristiwa apa yang membuat dia ada disini.
"Ini keajaiban, sungguh, belum pernah saya mendapati kasus seperti ini."
"Benar, Dok. Bahkan saya berfikir, kalau dia tak akan mungkin bisa sadar."
Riana tak faham sama sekali apa yang mereka bicarakan. Matanya tiba-tiba dibuka, diperiksa, begitupun dengan mulutnya. Alat-alat yang menempel di tubuhnya dilepas. Pandangannya perlahan mulai jelas saat dia kembali membuka mata.
"Anda bisa mendengar saya?" seorang pria berjas putih bertanya padanya.
Riana yang merasa tubuhnya lemas, hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Apa yang anda rasakan?"
"Ha-us. Sa-ya, haus."
"Apa boleh saya memberinya minum, Dok?" tanya wanita berbaju suster yang berdiri disebelah pria berjas putih.
"Seluruh organ vitalnya bekerja dengan sangat baik, saya rasa tidak masalah." Mendengar jawaban itu, suster tersebut keluar.
"Apa ada yang sakit?" Dokter kembali bertanya.
Riana menggeleng, "Hanya lemas saja."
"Ini benar-benar keajaiban." Dua kali Riana mendengar Dokter tersebut menyebut keajaiban. Memangnya apa yang terjadi padanya, hingga hal itu bisa disebut keajaiban? "Seluruh dokter sudah putus asa. Kami fikir, tak mungkin kamu akan sadar, tapi sekali lagi, ini keajaiban. Kamu tersadar setelah 1 tahun koma."
Mata Riana membulat sempurna. 1 tahun koma, sudahkah selama itu? Rasanya, beberapa saat yang lalu, dia masih bertemu ibunya? Secepat itukah waktu berjalan?
Dia berusaha mengingat kejadian terakhir, sampai akhirnya, ingatanya berhenti pada sebuah kontainer hijau. Jantungnya berdegup kencang, masih basah diingatannya, saat kontainer hijau tiba-tiba muncul dengan kecepatan tinggi di depan taksi yang dia tumpangi. Dan kemudian.. tubuhnya terguncang hebat, semuanya gelap. Mungkinkah, kejadian itu sudah terjadi 1 tahun yang lalu?
Ibu. Bayangan sang ibu langsung muncul di benaknya. Bagaimana wanita itu? Dia pasti sangat sedih, anaknya, satu-satunya keluarganya, koma selama 1 tahun.
"Jangan pergi, Ri. Ibu takut, ibu takut sesuatu terjadi."
Teringat kembali kalimat terakhir yang diucapkan sang ibu sebelum dia berangkat menuju stasiun televisi, menjadi bintang tamu di sebuah acara talk show.
Firasat seorang ibu selalu benar.
Suster yang tadi kembali dengan membawa segelas air putih yang sudah dilengkapi sedotan. Membantu Riana bangun dan meminum air yang dia bawa.
"Apa keluarganya sudah dihubungi?" tanya Dokter.
"Ayahnya dalam perjalanan kesini, Dok."
Ayah? Riana tersedak mendengar kata ayah.
"Anda tidak apa-apa?" Suster tersebut tampak panik.
"Ti-tidak. Kata suster, ayah saya mau kesini?" Riana ingin memperjelas.
"Iya, dia sedang ada dalam perjalanan." Seulas senyum terukir dibibir suster muda itu. "Dia pasti sangat bahagia. Akhirnya putrinya tersadar setelah hampir 1 tahun koma. Ayah anda orang yang sangat hebat." Tangan Riana mengepal mendengar lagi-lagi, orang memuji Bima Prasetya orang hebat. "Disaat semua orang sudah putus asa dengan kondisi anda, dia tetap yakin, jika suatu saat, putrinya akan bangun." Senyum tadi, berubah menjadi raut sendu, bahkan cairan bening mulai meleleh dari sudut matanya. "Setiap hari, tak pernah beliau bolos datang kemari, menceritakan apa saja seolah anda bisa mendengar."
Benarkah? Bima Prasetya, pria itu setiap hari mengunjunginya. Selama setahun, iya setahun, bukan satu atau dua hari. Lalu ibunya, dimana wanita itu? Kenapa justru Bima yang dibahas. Mungkinkah ibunya jarang datang?
Pintu ruangan tiba-tiba didorong dari luar. Seorang pria paruh baya menatap kearah Riana dengan mata sendunya.
"Nata," gumamnya. Berjalan mendekati ranjang dengan langkah lunglai. "Nata. Akhirnya kamu bangun, Nak." Langsung dia peluk tubuh Riana, tangisnya pecah.
Riana hanya diam, puluhan pertanyaan muncul di kepalanya. Siapa pria itu, kenapa dia memeluknya sambil menangis? Dan apa tadi, Nata? Siapa Nata, kenapa pria itu memanggilnya 'Nata'.
"Ini keajaiban Pak Yakub. Seluruh organ vital Ananta berfungsi dengan sangat baik, bahkan tak seperti orang yang baru bangun dari koma. Semuanya normal."
Ananta? Lagi-lagi, Riana dibuat bingung. Kenapa dokter itu menyebut dia Ananta. Ada apa ini?
Pria bernama Yakub itu melepas pelukannya, memindai wajah Riana lalu mengecup puncak kepalanya lama. "Putri ayah sudah bangun. Nata ayah sudah kembali," suaranya putus-putus dikarenakan isakan.
"Nata, siapa Nata? Saya Ri_"
"Dokter," Yakub memotong kalimat Riana. Pria itu tampak terperangah. "Kenapa Nata tak ingat dirinya sendiri? Apa dia hilang ingatan?"
"Tadi saat saya memeriksa, semua baik-baik saja, tapi mungkin ada sesuatu terjadi pada otaknya. Saya akan melakukan scan kepala untuk memastikan itu."
Dokter meminta suster untuk mengecek ruangan CT scan. Jika memang tak ada orang, mereka akan langsung melakukan pemeriksaan.
"Nata, kamu ingat Ayah?"
Ayah? Riana makin pusing. Ananta? Ayah? Sudah 1 tahun koma? Apa yang sebenarnya terjadi? Dia memegangi kepalanya yang terasa mau meledak. Semua sangat membingungkan baginya.
"Nata," Pak Yakub kembali kembali memeluk putrinya. "Jangan dipaksa, Nak, jangan dipaksa mengingat jika sakit. Pelan-pelan saja."
Riana duduk di kursi roda, didorong suster menuju ruang CT scan. Dia meminta berhenti saat matanya melihat sebuah poster selamat tahun baru 2024 di dinding. Rasanya dia belum lupa, beberapa waktu yang lalu menghabiskan pergantian tahun bersama ibunya. Bukankah masih ditahun yang sama, tapi kenapa dia dikatakan koma 1 tahun. Mungkinkah ini poster lama?
"Sus, ini tahun berapa?"
"Awal tahun 2024, Mbak."
Dia tidak salah, ini masih ditahun yang sama.
"Saya ingat, baru saja menghabiskan malam tahun baru bersama ibu, tahun baru 2024. Tapi kenapa suster bilang saya koma 1 tahun?"
Suster tersebut tersenyum. "Mungkin itu tahun baru 2023. Mbak Ananta sudah tertidur 1 tahun, wajar jika bingung."
Ananta lagi, kenapa semua orang memanggilnya Ananta?
Suster tersebut lanjut mendorong kursi roda Riana, hingga melewati tulisan toilet. Riana minta berhenti, dia ingin buang air.
"Saya temani ya, Mbak."
"Gak usah, Sus, saya bisa sendiri." Riana turun dari kursi roda. Lagi-lagi, suster tersebut menghela nafas sambil menggeleng. Tak bisanya orang yang baru bangun dari koma, bisa berjalan lancar seperti orang baru bangun tidur biasa.
Riana masuk kedalam toilet. Setelah buang air kecil, dia menuju wastafel untuk mencuci muka.
"Aaaa... "
Riana berteriak kencang melihat pantulan wajahnya di cermin.
Mendengar teriakan dari dalam, suster langsung masuk, takut terjadi sesuatu pada Ananta. "Ada apa, Mbak?"
"Sus, Sus, itu." Riana menunjuk pantulan wajahnya di cermin. Itu bukan dia, itu orang lain. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah. Kenapa seperti ini? Ini bukan dia, ini bukan wajahnya, bukan.
"Ada apa, Mbak?" Suster tersebut masih bingung, merasa tak ada yang salah dengan pantulan cermin. Wajah Ananta tak berubah meski 1 tahun koma. Dia jadi bingung, kenapa Ananta terlihat takut melihat pantulan wajahnya sendiri di cermin?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Mastini M. Pd
Riana...daku mendukungmu...
2024-06-03
1
Ety Nadhif
wah nyawa riana pindahbl ke raganya ananta yg koma satu th
2024-05-18
0
⏤͟͟͞R ve
Waww ada apa ini, kok bisa Riana masuk ke tubuh Ananta yang koma setaon, hmmm
#penasaran
2024-02-06
1