"Pertama-tama, saya sebagai ibu dari Riana, ingin memohon maaf sebesar besarnya pada seluruh masyarakat, dan terutama pada pihak yang dirugikan, yaitu Pak Bima dan Angela. Maaf atas kegaduhan yang disebabkan oleh putri saya. Disini saya ingin memberikan klarifikasi jika video yang dibuat anak saya waktu itu," Dewi menjeda kalimat untuk menghela nafas. "Adalah tidak benar. Sebagai ibunya, saya tahu siapa ayah dari putri saya, dan itu bukan Pak Bima Prasetya."
Dengan suara bergetar, Dewi memberi klarifikasi pada jumpa pers yang diadakan Bima dan Angela. Keringat dingin keluar deras dari pori-pori kulitnya. Dia hanya wanita biasa, tentu sangat gugup untuk berbicara didepan banyak orang seperti ini.
"Tapi kenapa Riana melakukan itu, Bu?" tanya salah satu wartawan.
"Tentu saja karena dia ingin viral, ingin terkenal dengan cara instan. Numpang tenar," Angela menyahuti.
Dewi terus menunduk, meremat gamis sambil menahan air matanya agar tidak luruh. Hatinya hancur. Dia telah menghancurkan putrinya sendiri, merusak nama baiknya.
"Ini, lihatlah!" Bima menunjukkan sebuah kertas, hasil tes DNA. "Ini hasil tes DNA kami. Kalian bisa melihat sendiri hasilnya." Juru kamera langsung meng-zoom hasil tes DNA tersebut. "Tidak ada kecocokan disini. Riana bukan anak saya."
Suasana mulai riuh. Ada yang langsung percaya dan menghakimi Riana, tapi tak sedikit pula yang menyoroti ekspresi Dewi yang dinilai tertekan. Mungkinkah ada sesuatu dibalik ini semua? Tekanan misalnya.
"Dan satu lagi," Bima kembali bicara. "Polisi sudah menetapkan supir kontainer sebagai tersangka dalam kasus tabrakan yang menimpa Riana. Kontainer tersebut mengalami rem blong setelah diperiksa. Jadi saya minta, jangan ada selentingan yang mengatakan jika kecelakaan yang menimpa Riana, ada sangkut pautnya dengan saya. Saya tekankan sekali lagi. Saya maupun Angel, tidak tahu apa-apa. Dan Riana, dia bukan anak saya."
Riana meremat sprei. Nafasnya naik turun melihat infotainment yang menayangkan jumpa pers yang membahas dirinya. Matanya memanas melihat ibunya yang tampak ketakutan. Dia yakin, Bima sudah menekan ibunya hingga wanita itu bicara seperti tadi di depan media.
"Kamu baik-baik saja?" Riana terkejut saat Rayan menepuk pelan bahunya. "Fokus sekali lihat infotainment, sampai aku panggil beberapa kali, tidak menyahut."
Riana mengambil remot yang ada diatas nakas, mematikan TV.
"Bisa tolong antar aku?"
"Kemana? Toilet?"
Riana menggeleng. "Ke ruang ICU."
Rayan mengernyit. "Untuk apa? Apa ada yang sakit? Aku panggilkan dokter saja, jangan langsung ke ICU."
"Aku ingin bertemu seseorang."
"Seseorang, Siapa?"
Riana memelototi Rayan. Kesal karena pria itu terlalu banyak nanya. Bukankah dia itu bodyguard, harusnya melakukan apapun yang dia suruh, bukan banyak tanya.
"Baiklah. Aku ambilkan kursi roda."
"Aku bisa jalan," Riana coba menghentikan Rayan yang hendak mengambil kursi roda.
"Kamu yakin?"
Riana mengangguk. "Tapi lebih dulu, panggilkan suster. Suruh dia melepas infus ditanganku. Siang ini aku sudah boleh pulang. Sepertinya tak masalah jika infus dilepas."
"Baiklah. Tunggu sebentar." Rayan keluar untuk memangil suster. Dan beberapa saat kemudian, kembali bersama seorang suster yang akan melepas infus Ananta.
Dengan diantar Rayan, Ananta atau Riana, menuju ke ruang ICU. Dia tahu Riana dirawat disana dari internet. Langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita yang sangat dia kenal, duduk dibangku yang tak jauh dari ICU. Sendirian, menyedihkan. Bahu wanita itu tampak naik turun, dia menangis.
Riana meremat celananya. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan di depan mata. "Ibu," gumamnya pelan.
Riana berjalan menghampiri Dewi, duduk di sebelah wanita itu lalu memeluknya. Tak bisa ditahan lagi, tangisnya pecah.
Dewi, wanita itu tentu saja bingung. Gadis berpakaian pasien tiba-tiba memeluknya. Tak hanya memeluk, gadis itu terisak dibalik punggungnya.
Sama seperti Dewi, Rayan juga bingung. Kenapa Ananta memeluk wanita itu, menangis.
"Kamu siapa?" Dewi bertanya.
Aku Riana, Bu. Aku anakmu.
Ananta terus menangis, tak peduli jika saat ini, ibunya itu tengah bingung.
"Nak," Dewi memanggil. "Kamu siapa?"
"Nata, kamu kenapa?" Rayan ikut bertanya karena bingung.
Ananta berhenti menangis, melepaskan pelukannya. Namun saat menatap wajah sembab ibunya, tangisnya kembali pecah.
"Nata, kamu kenapa?" Rayan lagi-lagi bertanya. Melihat Ananta menangis sampai sesenggukan seperti itu, jelas dia khawatir.
"Kamu siapa?" tanya Dewi untuk yang kesekian kalinya.
"Sa_saya." Ingin sekali Ananta menjawab jika dia adalah Riana, namun tak mungkin. Tak akan ada yang percaya. Yang ada, dia malah dikira mengada-ada, atau lebih buruknya, dianggap gila. "Saya temannya Riana."
Rayan langsung melotot. Bukankah Ananta hilang ingatan? Tapi kenapa dia ingat dengan temannya? Dan siapa tadi, Riana? Rasa-rasanya, Ananta tak punya teman bernama Riana. Dia kenal hampir semua teman Nata, seingatnya, tak ada yang bernama Riana.
"Jadi kamu teman Riana," Dewi mengusap rambut hingga punggung Ananta. "Maafin Riana ya, Nak. Maaf jika Riana ada salah sama kamu." Dewi kembali menangis, membuat Ananta ikut menangis lagi. "Doakan Riana segera sadar." Tangis Dewi makin pecah, dan Nata, gadis itu langsung memeluknya. "Maaf jika Riana ada salah. Tolong bantu doakan dia. Doakan dia agar segera sadar."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
LENY
BANGKIT NATA BALAS PERBUATAN BIMA DAN ANGELA SERTA TEMAN2NYA 😡
2024-09-01
0
Mastini M. Pd
nyesek rasanya baca part ini Thor../Sob//Sob//Sob/
2024-06-03
1
⏤͟͟͞R ve
Kok bisa segampang itu Bima tak mengakui Riana sebagai putrinya 😡
2024-02-06
2