Ananta hanya diam sejak masuk ke dalam mobil. Melihat Rayan marah, dia tak berani berkata apa-apa. Ditambah lagi, tampilan pria itu yang mirip preman, jadi makin bikin dia takut.
Sama dengan Ananta, Rayan juga hanya diam. Sebenarnya dia ingin sekali marah, dihari pertama kuliah, Ananta sudah bikin ulah. Tapi kembali lagi, dia paling tak bisa marah pada Ananta.
"Siapa pria tadi?" Rayan tak tahan untuk tidak bertanya.
"Teman."
"Kamu baru hari pertama kuliah, Na. Jangan terlalu dekat dengan cowok yang baru kenal, apalagi sampai mau diajak jalan."
"Dia baik kok." Hanya itu pembelaan Ananta. Tak mungkin dia bilang jika sudah mengenal Arga cukup lama, meski tidak dekat. Hanya saling sapa. Dan terakhir kali pertemuan mereka, saat dia mengembalikan jaket pria itu.
"Gak usah naif. Cowok itu baik kalau ada maunya."
"Abang juga gitu?"
Shit, Rayan reflek mengumpat mendengar Ananta membalikkan kalimatnya.
"Abang kan juga cowok?" tanyanya lagi. "Oh iya. Ngomong-ngomong Abang kok tahu sih, kalau aku ada di bioskop?"
"Gak penting." Rayan tak mau Ananta tahu kalau dia menyanbungkan GPS di ponsel gadis itu dengan miliknya. Jadi dia bisa tahu dimanapun Ananta berada. Bahkan saat ponselnya mati, dia masih punya banyak cara untuk melacak keberadaannya. "Jangan diulangi lagi," ujarnya tanpa menoleh ke arah Ananta.
"Maaf."
Rayan langsung menoleh mendengar Ananta mengucap maaf. Seumur-umur, Ananta tak pernah minta maaf padanya. Gadis manja itu selalu mencari pembenaran atas semua kesalahannya. Dia menatap Ananta heran, sampai yang ditatap salah tingkah sekaligus takut.
"Ke-kenapa?" tanyanya gugup. "A-aku salah ngomong ya?" Tatapan Rayan membuang dia benar-benar takut. Dia mengalihkan pandangan ke ke depan namun. "Aaa...." Pekiknya saat mobil yang dikendarai Rayan hampir menabrak mobil di depannya. Kedua telapak tangannya reflek menutupi wajah.
Pekikan Ananta membuat Rayan langsung melihat ke depan.
Cittttt
Beruntung dia masih bisa mengerem tepat waktu. Kalau tidak, pasti akan terjadi kecelakaan beruntun di lampu merah. Ceroboh, bisa-bisanya dia sibuk menatap Ananta saat sedang menyetir. Kalau sampai sekali lagi terjadi sesuatu pada Ananta, dia tak akan bisa memaafkan diri sendiri.
Tubuh Ananta gemetar hebat, nafasnya memburu dan keringat dingin membasahi kulit.
"Nata, kamu baik-baik saja?" Rayan panik melihat Nata yang ketakutan. "Semua baik-baik saja."
Riana yang masih trauma dengan kecelakaan, tak bisa mendengar apapun perkataan Rayan. Tubuhnya mengalami tremor, dan seluruh persendian nya terasa lemas. Sampai sebuah pelukan membuat dia merasa sedikit tenang.
"Maaf, Maafkan aku. Semua baik-baik saja. Tidak terjadi apa-apa." Rayan berusaha menenangkan Ananta yang saat ini berada dalam pelukannya. Setelah tremor Ananta sedikit reda, dia melepaskan pelukannya. Menurunkan telapak tangan Ananta yang menutupi wajah agar gadis itu bisa melihat kalau mereka baik-baik saja, tak terjadi apapun. "Tidak terjadi apa-apa. Maaf sudah membuat kamu takut."
Tin tin tin
Mobil di belakang terus membunyikan klakson. Ternyata lampu sudah hijau. Rayan mulai melajukan mobilnya, hingga memasuki pelataran sebuah mini market.
Rayan turun, masuk ke dalam minimarket lalu kembali lagi dengan dua botol air mineral. Membuka tutupnya lebih dulu lalu menyerahkan pada Ananta. Gadis itu meneguk pelan karena tangannya masih sedikit gemetar.
"Kamu ingat sesuatu?" tanya Rayan. "Tentang kecelakaan yang kamu alami?" Yang dialami Ananta barusan seperti trauma. Jadi dia berfikir jika Ananta mengingat tentang kecelakaannya.
Ananta menggeleng. Tak mungkin dia mengaku jika dia memang mengalami trauma setelah kecelakaan itu. Yang semua orang tahu, dia adalah Ananta. Ananta yang hilang ingatan. Bukan Riana yang masih mengingat jelas seperti apa kecelakaan yang menimpanya.
Melihat wajah Ananta yang pucat, Rayan ragu untuk membawanya pulang. Dia tak mau Pak Yakub curiga dan banyak tanya. Bisa-bisa, dia akan benar-benar diberhentikan sebagai bodyguard Ananta.
"Apa kamu mau makan sesuatu?"
Ananta menggeleng. Tadi dia lapar, tapi sejak kejadian barusan, rasa laparnya menguap.
Rayan garuk garuk kepala, bingung mau mengajak Ananta kemana, yang penting tidak pulang dulu sebelum kondisinya benar-benar sudah tenang. Dia kembali menghidupkan mesin mobil. Membawa mobil kembali ke jalan raya dengan kecepatan pelan. Sampai berhenti di depan restoran yang menjual nasi goreng favorit Ananta.
"Kita makan nasi goreng kambing yuk," Rayan membuka seatbeltnya.
Ananta langsung menggeleng. Dia tidak suka kambing, atau lebih tepatnya tidak doyan. "Kita makan di tempat lain saja," ajaknya.
"Baiklah." Rayan kembali memakai seatbelt lalu melajukan mobilnya, sampai Ananta tiba-tiba menyuruh berhenti. Dia celingukan, tak ada restoran disini.
"Kita makan mie ayam itu yuk," Ananta menunjuk gerobak mie ayam yang mangkal di seberang jalan. Ada seperti tenda yang digunakan untuk tempat makan.
"I-itu?" Rayan menunjuk ke tempat yang ditunjuk Ananta.
"Iya. Mie ayam disana enak. Aku se_" Ananta hampir saja keceplosan kalau dia sering makan mie ayam disana. Bisa-bisa makin panjang lebar nanti pertanyaan Rayan.
"Kamu yakin mau makan disana?" Rayan rasanya masih tak percaya. Selama ini yang dia tahu, Ananta paling anti makan di tempat seperti ini. Bukan levelnya, itu yang selalu gadis itu katakan. Sombong memang, tapi tak masalah, ada yang bisa dia sombongkan.
"Ayo, aku lapar." Ananta turun lebih dulu, lalu Rayan menyusul.
Ananta kaget saat mau menyeberang, tangannya tiba-tiba digandeng Rayan. Pria itu juga mengangkat telapak tangan, mengisyaratkan agar kendaraan yang lewat mau mengurangi kecepatan saat mereka menyeberang. "Bukan anak kecil kali," dia terkekeh.
"Sudah tugasku," sahut Rayan tegas.
Keduanya masuk ke dalam tenda penjual mie ayam, memesan 2 porsi mie dan 2 es jeruk. Setelah makanan siap, bukannya langsung makan, Rayan malah terbengong-bengong melihat Ananta yang makan dengan lahap. Sungguh, ini tak seperti Anantanya, karena Ananta yang dia kenal, tak akan mau makan di tempat seperti ini.
"Kenapa gak dimakan, gak suka mie ya? Tau gitu, tadi gak usah pesen. Mubadzir. Nyari uang itu susah."
Oh My...ada apa dengan Anantanya? Rayan makin syok lagi sekarang. Sejak kapan gadis itu memikirkan soal uang. Apalagi hanya sebesar harga seporsi mie ayam. "A-aku akan memakannya." Dia mangaduk mie, lalu memakannya dengan perasaan masih terheran-heran.
"Gak suka pedes ya?" tanya Ananta. "Ditambahin sambel sama kecap makin enak loh."
"I-iya." Rayan mengambil sambal yang ada di mangkuk kecil didepannya. Sambil terheran-heran menatap Ananta yang makan dengan lahap, dia sampai tak sadar jika sudah menambahkan terlalu banyak sambal di mie nya.
"Gak kebanyakan tuh?"
Rayan menunduk. Matanya membola melihat bagian atas mienya tertutup sambal yang sangat banyak. "Aku suka pedas," bohongnya. Malu harus jujur jika sejak tadi dia sibuk memperhatikan Ananta. Dia menatap horor mie ayam dihadapan, entah bagaimana rasanya saat mie dengan begitu banyak sambal itu mendarat di mulutnya. Dan besok pagi.... Semoga saja tidak. Perutnya sebenarnya paling tak bisa menerima makanan pedas.
"Pak, es teh satu lagi." Teriak Rayan sambil mengibaskan telapak tangan didepan mulut. Keringatnya banjir. Ini gelas ke 4 yang dia minta. Karena setelah makan sesendok, dia akan minum setengah gelas. Sampai perutnya teraga begah sekaligus panas.
"Bang, yakin masih mau lanjut makan?" Ananta mulai khawatir.
"Tinggal sedikit lagi. Mubadzir gak dihabisin."
Ananta hanya bisa manggut-manggut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Ita Mariyanti
demi cinta pedas pun brasa coklat ❤️❤️ U bang Ray 😍😍😍
2024-02-08
0
⏤͟͟͞R ve
Demi gengsi...mie ayam rasa cabe pun lahap di makan Rayan...moga gak mencret 😂😂
2024-02-06
0
BundaneAyaFitri
sama2 pernah ngalamin kecelakaan,ya wajar ananta ataupun Riana bakalan syok berat sama kejadian barusan, hati hati bang Ray 🤭😂😂
2024-01-30
0