Suara pintu yang dibuka, membuat Rayan reflek melepaskan pelukannya. Pak Yakub, pria itu menatap Rayan dari atas ke bawah. Sedikit menganga, heran dengan penampilan anak angkatnya tersebut. Tapi... ah sudahlah, itu tidak penting, karena sadarnya Ananta, membuat apapun di dunia ini terasa tidak penting kecuali anak semata wayangnya itu.
"Pak," sapa Rayan sambil menunduk sopan.
"Siapa yang memberitahumu jika Nata sudah sadar?"
"Andi, Andi yang memberitahu saya."
Pak Yakub berjalan ke arah brankar dengan hasil CT scan di tangannya. Rayan sedikit minggir, memberi ruang pada pria tersebut.
"Semua baik-baik saja," Pak Yakub mengusap lembut kepala Ananta sambil tersenyum. Baru saja dia kembali dari ruang dokter, dan dari hasil CT scan, tak ada yang perlu di khawatir, semua baik-baik saja. "Untuk masalah ingatan, lambat laun akan kembali sendiri. Bagi ayah," dia meraih tangan Ananta dan menggenggamnya. "Kamu sadar kembali, sudah lebih dari cukup. Ayah akan bantu kamu mengingat semuanya." Dia menarik bahu Ananta, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya. Dikecup nya puncak kepala Ananta berkali-kali, luapan rasa sayang sekaligus syukurnya karena anaknya telah kembali.
Seperti inikah rasanya dekapan seorang ayah, mata Riana mulai memanas. Seumur hidup, belum pernah dia merasakan kasih sayang seorang ayah. Dia tahu yang disayangi sesungguhnya bukan dia, melainkan Ananta, tapi dia tetap bersyukur. Setidaknya, dia pernah merasakan pelukan hangat seorang ayah. Beruntung sekali Ananta, disayangi dengan sepenuh hati oleh ayahnya, Riana berucap dalam hati.
Sementara Rayan, dia bingung dengan ucapan Pak Yakub. Membantu mengingat kembali? Apakah Ananta hilang ingatan?
"Besok, kamu sudah boleh pulang," Pak Yakub melepaskan pelukanya.
"Pulang?" ulang Riana.
"Iya, kita pulang ke rumah. Kamu pasti kangen rumah. Nanti di rumah, kamu pasti lebih mudah mengingat kembali."
"Nata, hilang ingatan?" Rayan memastikan.
"Iya," sahut Pak Yakub tanpa menoleh. Sejak Ananta mengalami kecelakaan, sikap pria itu pada Rayan sedikit berubah. Dia menyalahkan Rayan atas musibah yang menimpa Ananta, meski tak sepenuhnya. "Ikut saya, ada yang perlu kita bicarakan."
"Baik." Rayan mengikuti Pak Yakub, keluar dari ruang rawat Ananta.
"Kamu tidak perlu lagi menjadi bodyguard Nata."
Rayan terperangah mendengar perintah tersebut. Dia tahu, telah bersalah atas apa yang menimpa Ananta, tapi tak adakah kesempatan kedua untuknya menebus kesalahan?
"Biar Dicky saja yang selanjutnya menjaga Nata," lanjut Pak Yakub.
Rayan langsung berlutut. Berlutut di depan pria yang sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri. "Rayan mohon, Pak, beri Rayan satu kali lagi kesempatan. Rayan janji, akan menyerahkan seluruh hidup Rayan untuk Nata. Rayan akan melakukan apapun untuk Nata, meski nyawa taruhannya."
"Kamu pasti belum lupa, Nata mengalami kecelakaan karena kecerobohanmu," Pak Yakub membuang muka. Dia tak ingin melihat Rayan dan luluh padanya. Kalau saja tak ingat telah berhutang nyawa, sudah pasti anak itu dia usir setelah Nata kecelakaan. Tapi hati nuraninya masih bekerja, masih mau menampung anak yang dulu dia pungut dari jalanan karena telah menyelamatkan nyawanya.
"Sekali ini saja, tolong beri saya satu kesempatan lagi. Saya akan menjaga Nata dengan baik. Saat Nata koma, saya pernah berjanji, jika dia sadar, seluruh hidup saya akan menjadi miliknya. Saya akan mengabdikan diri seumur hidup pada Nata sebagai penebus kesalahan saya. Jadi saya mohon, Pak." Rayan mendongak, menatap Pak Yakub dengan kedua telapak tangan menyatu di dada. "Izinkan saya sekali lagi menjaga Nata. Saya ingin menepati janji saya."
Pak Yakub membuang nafas berat. Tepatnya 15 tahun yang lalu, dia bertemu Rayan. Pemuda berusia 16 tahun yang putus sekolah itu, menolongnya yang sedang dibegal. Saat itu dia belum sekaya sekarang, kemana-mana masih menggunakan motor karena masih merintis bisnis. Semua uangnya dia gunakan untuk modal, hingga hanya tersisa motor dan rumah sederhana.
Kasihan pada anak yang lontang-lantung di jalan karena ibunya sudah meninggal dan ayahnya tak tahu pergi kemana, Yakub mengajak Rayan tinggal bersama. Dia juga membiayai Rayan yang hanya lulus SD, untuk lanjut sekolah sampai SMA. Saat itu, Ananta masih berusia 6 tahun.
"Baiklah, tapi sekali lagi kamu kecewakan saya, kamu akan tahu akibatnya."
Rayan mengangguk cepat, tak lupa mengucapkan berkali-kali terimakasih karena masih diizinkan menjaga Nata.
...----------------...
Malam ini, dengan sedikit bujukan untuk menjaga kesehatan, Pak Yakub akhirnya mau pulang. Meninggalkan Rayan yang tetap di rumah sakit untuk menjaga Ananta.
Sudut mata Rayan terus melirik Ananta yang sedang fokus menatap ponsel. Beberapa saat yang lalu, dengan alasan ingin melihat akun media sosial, Ananta meminjam ponselnya. Orang hilang ingatan, tapi yang sangat ingin dia tahu, adalah media sosial, apa benar seperti itu? Ananta yang dia kenal memang seperti itu, keranjingan medsos dan sudah kecanduan gadget. Ternyata saat hilang ingatan, masih sama. Mungkinkah hanya pura-pura hilang ingatan? Tapi kenapa, apakah gara-gara dia?
"Benar kamu hilang ingatan?"
Ananta yang sedang fokus menatap ponsel, dibuat terkejut oleh suara Rayan. Tak tahu kapan pria itu mendekat, tahu-tahu sudah ada di sebelah ranjangnya. Buru-buru dia mematikan layar ponsel, jangan sampai pria itu tahu jika sejak tadi, dia bukan fokus melihat akun media sosial Ananta, melainkan mencari info tentang dirinya, Riana.
"I-iya," sahut Ananta. Rayan memindai wajahnya dengan seksama, membuat Ananta salah tingkah. "Ada apa?"
"Tidak ada," Rayan menggeleng. "Hanya ingin memastikan."
"Oh iya, apa kamu sudah lama kerja jadi bodyguard Ananta? Oh salah, mak-maksudnya jadi bodyguardku. Iya, aku." Riana masih belum terbiasa menjadi Ananta. Tadi ayahnya memberitahu jika Rayan adalah bodyguard yang akan menjaganya, hanya itu.
"Sejak kamu kecil, 6 tahun."
Mulut Ananta langsung menganga. Anak 6 tahun sudah punya bodyguard, sekaya apa Ananta ini?
"Bukan serta merta langsung menjadi bodyguard kamu. Tapi aku diambil oleh Pak Yakub dari jalanan sejak kamu usia 6 tahun. Saat kamu mulai masuk SMP, saat itulah, aku resmi jadi bodyguard kamu."
Riana manggut-manggut, jadi Rayan sudah selama itu mengenal Ananta. Wajar jika pria itu tampak sangat bahagia melihatnya sadar. Padahal awalnya, dia fikir mereka ada hubungan darah, tapi ternyata tidak. Melihat seperti apa ekspresi Rayan tadi, dia menduga pria itu ada rasa pada Ananta.
"Apa kamu sedikit saja tak bisa mengingat apa yang sudah membuat kamu kecelakaan?" Rayan tampak gelisah saat menanyakan itu.
Ananta menggeleng, sampai kapanpun, dia tak akan ingat karena dia bukan Ananta. Namun kecelakaan yang menimpa dirinya, jelas dia ingat betul. Barusan saat dia mengetik namanya di pencarian internet, foto-fotonya langsung muncul. Wajar, dia memang sedang viral sejak video jati dirinya terkuak.
Riana, gadis yang mengaku-ngaku sebagai anak Bima Prasetya, mengalami kecelakaan dan saat ini sedang koma di rumah sakit. Seperti itulah kabar yang dia dapat di internet. Dan ternyata, dirinya dirawat di rumah sakit ini juga.
Pertanyaannya sekarang, dimana roh gadis bernama Ananta. Kenapa dia yang masuk ke dalam raganya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
⏤͟͟͞R ve
Ohh Riana koma di rumah sakit yang sama dengan Ananta...
2024-02-06
1
*Septi*
jadi Riana koma di RS..
penasaran kecelakaan yang menimpa Nata gimana
2024-01-15
0
Yunia Afida
rayan bakal bantu ananta alias riana dan bakal berjodoh
2024-01-15
0