bab 9

Riana memperhatikan setiap sisi kamar, luas, bagus, nyaman, fasilitas lengkap, dan masih banyak lagi yang bisa dia simpulkan dari tempat yang saat ini dia masuki. Kamar Ananta, disanalah Riana saat ini. Ada beberapa foto Ananta yang terpasang di dinding. Kemarin, dia tak terlalu teliti memperhatikan foto Ananta di akun instagram, dia terlalu sibuk mencari tahu tentang kabar Riana. Dan baru hari ini, dia memperhatikan foto Ananta dengan seksama.

Semakin dilihat, semakin terasa familiar. Kenapa rasanya dia seperti mengenal Ananta, tapi tidak mungkin, Ananta anak orang kaya, tak ada deretan orang kaya dalam circle pertemanannya. Circle pertemanan? Riana tersenyum getir, dia tidak punya itu. Sepanjang hidup, bisa dihitung dengan jari temannya, beda dengan yang membullynya, tak bisa dihitung saking banyaknya.

Wow!!

Itulah yang keluar dari mulut Riana saat melihat walk in closet yang ada di kamar Ananta. Ruangan khusus untuk menyimpan wardrobe itu sudah mirip dengan sebuah toko, tak terhitung berapa banyak pakaian disana. Belum lagi sepatu, tas, dan aksesoris lainnya. Dia seketika teringat Angela, apa mungkin di kamar gadis itu juga ada ruangan seperti ini?

Riana tersenyum getir, dia dan Angela memiliki ayah yang sama, namun nasib mereka sangat berbeda. Jangankan disayang, di akui saja tidak. Tadi dia sempat bertanya pada ibunya, siapa yang menanggung biaya perawatan Riana, ternyata sebagian di tanggung oleh asuransi pemerintah, dan sebagian oleh Bima. Sekarang dia tahu apa yang membuat ibunya memberikan keterangan palsu saat jumpa pers, tak lain tak bukan, demi biaya pengobatannya.

Tok tok tok

Suara ketukan itu langsung disusul dengan suara seorang wanita. "Non, boleh saya masuk, saya membawakan cemilan buat, Nona?"

Nona? Rasanya seperti mimpi, dirinya dipanggil nona. Bukankah selama ini, sebutan yang paling sering dia dengar adalah anak haram, miskin, dan masih banyak lagi sebutan yang sebenarnya tak layak untuk disematkan pada seseorang.

"Iya, masuk saja," sahut Ananta setengah berteriak, meninggalkan walk in closet.

Bi Jul masuk, tangannya memegang nampan yang berisi makanan.

"Ini bibi buatin salad buah kesukaan Non Nata." Wanita paruh baya itu meletakkan semangkuk salad diatas meja belajar. "Dan yang gak ketinggalan, keripik pisang sale," dengan senyum lebar, dia mengangkat setoples kecil keripik pisang kesukaan Ananta.

"Makasih ya, Bi."

"Sama-sama, Non."

Ananta duduk di kursi belajar, mencoba salad buah yang terlihat menggiurkan. Ternyata tak hanya tampilannya yang kelihatan enak, rasanya luar biasa enak. "Enak banget, Bi."

"Ternyata meski hilang ingatan, urusan lidah tetap tak berubah, salad buah bikinan bibi, tetap jadi favorit. Nanti malam, mau bibi masakin apa?"

Emmm... Riana terlihat berfikir, selama ini jarang sekali dia makan makanan enak, banyak sekali makanan yang sebenarnya ingin dia coba, tapi tiba-tiba, dia kepikiran sesuatu. "Aku pengen kepiting, Bi."

"Ke-kepiting, Non?" Bi Jul mengernyit heran.

"Hem, iya," Ananta mengangguk yakin.

"Tapi.... "

"Tapi apa?"

"Non Nata alergi sea food."

Riana langsung melongo, dia mana tahu kalau Ananta alergi sea food. Padahal kalau dia sendiri, sea food adalah makanan favoritnya.

"Gimana kalau gulai kambing, itu kan makanan kesukaan, Nona?"

Riana menggeleng cepat, mana mau dia makan gulai kambing, dia gak doyan kambing.

"Gak mau ya?"

"Em... ayam aja deh, Bi, terserah mau dimasak apa."

Bi Jul pamit undur diri setelah itu.

Riana menikmati salad sambil membuka-buka buku Ananta yang tersusun rapi di rak yang ada didekat meja belajar. Sepertinya meski sudah koma selama 1 tahun, keluarganya tak merubah apapun isi kamarnya.

Riana mengernyit melihat buku yang mirip dengan punyanya, buku ekonomi manajemen, sama dengan miliknya yang baru dia beli beberapa bulan yang lalu. Saat membuka isinya, selembar foto terjatuh. Mata Riana membola melihat foto tersebut, foto Ananta bersama teman-temannya. Mereka memakai jaket almamater yang sama dengan miliknya. Itu artinya, dia dan Ananta kuliah di kampus yang sama. Saat melihat biodata Ananta, gadis itu satu tahun diatasnya. Apa itu artinya, jika Ananta lanjut kuliah tahun ini, mereka akan berada dikelas yang sama, karena jurusan mereka memang sama?

.....

"Ingin kuliah lagi?" Pak Yakub mengernyit mendengar permintaan anaknya.

"Hem, iya," Ananta mengangguk.

"Kamu baru sembuh, apa tak tahun depan saja kuliah?"

Ananta menggeleng, dia ingin secepatnya kuliah. Kalau perkiraannya benar, jika mengulang kuliah tahun ini, dia akan berada di kelas yang sama dengan Angel. Semakin dekat, semakin mudah pula dia untuk balas dendam. Kesempatan kedua yang dia miliki, tak akan dia sia-siakan. Bima dan keluarganya, harus membayar mahal semua luka yang mereka torehkan padanya dan ibunya.

Pak Yakub tersenyum sambil geleng-geleng, seingat dia, Nata sangat malas kuliah, tapi kenapa sekarang, anaknya itu tiba-tiba bersemangat sekali menuntut ilmu. Mungkinkah ini yang disebut hikmah dibalik musibah?

"Baiklah, besok akan Ayah suruh Andi mengurus semuanya."

Ananta mengangguk senang, ternyata semudah ini jadi anak orang kaya, apapun ada yang bantu mengurus. Tadi sore, ayahnya juga sudah memberinya ponsel baru, kartu debit dan kredit, serta uang cash yang jumlahnya tak sedikit. Hidupnya berubah 180 derajat sekarang.

Terpopuler

Comments

idaman

idaman

manfatain dengan bener ya Ri, kamu bisa bela dirikah? atau apa gitu yang ternyata memudahkan kamu untuk membalas dendam....

2024-02-13

1

⏤͟͟͞R ve

⏤͟͟͞R ve

Saatnya Riana beraksi...hajap lho Angel 😂😂

2024-02-06

0

*Septi*

*Septi*

mungkin saja Ananta dan Riana pernah terhubung..

2024-01-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!