BAB 17

Arga mengambil seekor udang, mengupasnya lalu menaruh di piring Ananta. Niatnya ingin membantu agar Ananta tak perlu repot lagi saat mau makan, tapi raut wajah Ananta membuatnya cemas.

"Kamu kenapa, Ta?"

Ananta memegangi lehernya yang terasa panas sekaligus gatal. Minuman tak bisa meredakan rasa panas tersebut. Tak hanya tenggorokan, mata dan beberapa bagian kulitnya juga terasa gatal. Bisa-bisanya dia seceroboh ini, baru ingat setelah makan lumayan banyak.

"Panas, Ga, gatal." Ananta menggaruk leher yang terasa panas sekaligus gatal.

"Ta, kamu baik-baik sajakan?" Arga mulai panik.

"Aku, aku," Ananta mulai merasakan sesak nafas.

"Jangan bilang kalau kamu alergi udang?"

Ananta hanya menjawab dengan anggukan karena tenggorokannya terasa tercekat. Arga yang panik, mengeluarkan beberapa lembar uang merah lalu meletakkan diatas meja. Membantu Ananta berjalan lalu membawanya menuju klinik terdekat. Disana, Ananta langsung mendapatkan penanganan, beruntung tak terlalu parah, jadi dia tak perlu dirujuk ke rumah sakit. Tak mau makin merepotkan Arga, Ananta menelefon Rayan untuk menjemputnya di klinik.

........

Rayan yang baru memasuki klinik, mendapati Ananta dan Arga yang duduk di kursi tunggu. Dia yang cemas, langsung mendekati Ananta dan berlutut di depannnya.

"Kamu gak papa kan?" tanyanya cemas sambil memperhatikan Ananta dari atas ke bawah. "Apa kita perlu ke rumah sakit?"

"Kata dokter, Ananta sudah tidak apa-apa. Hanya perlu minum obat saja." Arga yang menyahuti, tapi rupanya, hal itu membuat Rayan justru naik pitam. Dia berdiri, menatap Arga nyalang lalu menarik kerah kemejanya sampai pria itu ikut berdiri.

"Damn! Lo hampir aja nyelakain dia tahu gak?" bentak Rayan sambil menunjuk Ananta.

"Woles, Bro," Arga mencoba melepaskan tangan Rayan dari kerah bajunya. Sayangnya susah karena cengkeraman itu terlalu kuat. "Gue gak tahu."

Brakk

Rayan mendorong tubuh Arga hingga punggungnya menatap dinding lalu terjatuh di kursi.

"Bang, apa-apa sih," pekik Ananta yang terkejut dengan kelakuan Rayan. Dia membantu Arga bangun, dan itu membuat Rayan makin emosi, kedua telapak tangannya terkepal kuat. "Ga, kamu gak papakan?" tanya Ananta dengan nada cemas.

Belum sempat Arga menjawab, seorang satpam menghampiri mereka.

"Tolong jangan gaduh disini," satpam tersebut menegur mereka. Menyuruh ketiganya meninggalkan klinik dengan segera agar tidak mengganggu kenyamanan yang lain.

Rayan membawa Ananta ke dalam mobil, lalu melesatkan kendaraan tersebut keluar dari area klinik. Ananta merasa tak enak hati pada Arga, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melihat dari kaca spion, Arga yang masih bergeming di dekat mobilnya.

"Kamu itu apa-apaan sih, Bang?" Setelah meninggalkan klinik lumayan jauh, Ananta mulai menyuarakan kekesalannya. Ingin sekali dia marah pada pria itu, tapi menahan diri karena situasi dan kondisi yang tidak tepat. Gara-gara kejadian tadi, dia jadi tak enak hati pada Arga. Apalagi kalau ingat cowok itu sudah banyak menolongnya hari ini. "Kenapa kasar, main dorong orang seenak hati?"

Rayan tak menjawab, terus saja fokus menyetir. Jangan sampai kejadian seperti dulu terulang kembali, ertengkar lalu mengalami kecelakaan.

"Arga itu sudah banyak membantu aku hari ini, tapi kamu malah bikin aku malu di depan dia."

Rayan masih setia dengan diamnya, mencoba meredam emosi yang rasanya mau meledak. Seumur hidup, baru sekali ini Ananta membela pria lain di depannya, dan ini sungguh membuat dia sakit hati.

Sesampainya di rumah, Ananta langsung masuk kamar, namun saat hendak menutup, Rayan menahan daun pintu, memaksa masuk.

Ananta menatap Rayan nyalang. Dia sedang tak ingin biara dengan pria itu, masih kesal karena kejadian di klinik tadi.

"Nadila bilang, kamu gak ada di kampus hari ini, kamu bolos?"

Ananta mulai panik saat Rayan tahu hal itu.

"Bolos cuma demi jalan dengan cowok tadi," Rayan tersenyum mencemooh.

"Aku ada keperluan tadi."

"Keperluan apa, nonton, jalan di mall? Atau keperluan makan seafood biar bisa masuk klinik?" Rayan berusaha menahan diri agar nada suaranya tak seperti bentakan.

"Aku ada kepentingan, dan Arga udah banyak bantu aku hari ini."

"Bantu apa? Kalau memang butuh bantuan, minta aku," Rayan menunjuk dirinya sendiri. "Jangan minta ke orang lain, aku ada disini buat kamu. Buat bantu kamu apapun, Na, apapun," tekannya. Ada rasa cemburu dihati Rayan saat Ananta lebih memilih minta bantuan pada orang lain daripada dirinya, apalagi orang itu pria yang baru dikenal.

"Masalahnya Abang gak bisa," sahut Ananta lugas. "Ini masalah bisnis, masalah kerjaan. Bukankah tadi pagi, Abang sendiri yang bilang kalau gak ngerti masalah bisnis."

Rayan menunduk. Ahh... kenapa rasanya dia seperti orang bodoh saat ini, orang yang tak berguna.

"Bang," Ananta memegang lengan Rayan. "Aku tahu kamu orangnya tulus, mau bantu aku apapun, tapi gak semua hal bisa kamu lakukan, Bang. Kayak hari ini, dan juga semalam. Udah tahu gak bisa makan pedas, masih aja dimakan," dia menghela nafas sambil geleng-geleng. "Gimana, udah sembuh diarenya?"

Rayan hanya menjawab dengan anggukan. "Ingat Na, kamu alergi seafood, jangan diulangi lagi. Kamu pernah hampir meregang nyawa, gak bisa nafas gara-gara makanan itu."

Ananta mengangguk faham, jujur saja dia juga menyesal karena keteledorannya hari ini. Lupa dengan apa yang dikatakan Bi Jul. Ini bukan raganya, dan dia harus menjaganya dengan sangat baik, bahkan jangan sampai terluka, meski sedikitpun.

"Bang, besok bisa bantu aku gak?"

"Gak usah nanya, karena selama aku bisa, aku akan bantu kamu."

Ketulusan Rayan membuat Riana baper. Dia memeluk pria itu.

Jantung Rayan berdegup dengan sangat cepat. Dulu, pelukan seperti ini hampir tiap hari dia dapatkan karena Ananta sangat manja padanya. Namun sekarang, setelah terbangun dari koma, baru kali ini Ananta memeluknya, dan itu membuat kerja jantungnya jadi lebih keras.

"Besok, tolong lakukan apapun agar Bima Prasetya tak bisa sampai di kantor ayah sebelum jam makan siang." Ananta ingin ayahnya bertemu lebih dulu dengan Rafa dan menjalin kerjasama.

Terpopuler

Comments

⏤͟͟͞R ve

⏤͟͟͞R ve

Rayan cembokur karena Ananta lebih meminta bantuan Arga 😁

2024-02-06

0

Yunia Afida

Yunia Afida

rayyan cemburu niyeee

2024-01-28

0

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

si Rayan curiga ga yah kira" sama tindakan Nata nantinya nih,,,

2024-01-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!