bab 10

"Loh loh loh, Non Nata ngapain?" Bi Jul terperangah melihat Ananta mencuci piring. Seumur hidup, belum pernah dia melihat anak majikannya itu melakukan pekerjaan rumah.

"Nyu-nyuci piring, Bi, emang kenapa?" sahut Riana sambil menunjukkan piring yang baru saja dia bilas. Tadi saat melihat tumpukan piring kotor di wastafel dapur, tanpa fikir panjang, langsung dia cuci. Selalunya memang seperti itu saat tinggal bersama ibunya, dia membereskan dapur dan mencuci piring kotor.

"Sejak kapan Non Nata mau nyuci piring?"

"Sejak dulu."

Jawaban spontan itu membuat mata Bi Jul membola dengan mulut menganga. Sejak dulu? Seumur-umur, belum pernah dia melihat Ananta nyuci piring. Ternyata efek hilang ingatan sungguh luar biasa, batinnya.

Bi Jul merebut piring yang ada ditangan Ananta. "Biar Bibi aja yang nyuci, ntar Non Nata capek."

Ananta tergelak, "Hanya nyuci piring, mana mungkin capek."

Lagi-lagi Bi Jul dibuat melongo. Ananta sungguh seperti bukan Ananta.

Melihat ekspresi Bi Jul, Ananta tersadar, sekarang dia bukan lagi Riana, tapi Ananta, nona muda. Pantas saja pembantunya itu heran. Tapi melihat wanita paruh baya kerja, nyuci piring, rasanya dia tak tega jika diam saja. "Nata pengen bantuin Bibi, gak papakan?" ujarnya.

"Ta-tapi nanti Tuan marah."

Ananta tersenyum, "Tidak akan. Mana mungkin seorang ayah marah melihat putrinya melakukan pekerjaan rumah. Yang ada kalau putrinya rebahan mulu, itu yang patut dimarahi." Dia lanjut mencuci piring, mengabaikan Bi Jul yang masih ter bengong-bengong.

Melihat Bi Jul membereskan makanan sisa makan malam yang masih banyak, Ananta jadi teringat ibunya. Apakah wanita itu sudah makan sekarang? Air matanya menetes teringat wanita malang itu.

"Bi, kalau makanan itu saya berikan pada seseorang, boleh gak?"

Lagi-lagi Bi Jul heran. Makanan ini miliknya, milik orang tuanya, untuk apa malah minta izin padanya.

"Ya tentu saja boleh, Non."

Dengan semangat, Riana memasukkan nasi dan beberapa lauk kedalam wadah. Senyumnya mengembang membayangkan wajah bahagia ibunya saat menerima makanan ini nantinya.

...----------------...

"Ke rumah sakit?" Rayan kaget mendengar Nata memintanya mengantar ke rumah sakit. "Kamu sakit lagi, Na?" pria itu menatap Ananta dari atas ke bawah dengan raut cemas.

"Enggak, cuma mau nganter makanan buat seseorang."

Rayan bernafas lega, mendengar kata rumah sakit, dia sudah parno duluan. Ananta sudah terlalu lama di rumah sakit, jadi takut kalau gadis itu akan kembali kesana.

"Gimana, mau gak?"

Rayan mengangguk, "Aku siapin mobil dulu."

Mereka berdua menuju rumah sakit. Sebenarnya Rayan penasaran dengan siapa Nata ingin bertemu, tapi dia menahan diri untuk tidak bertanya, nanti juga tahu sendiri.

Sesampainya di rumah sakit, Ananta terlihat bersemangat. Dia berjalan dengan langkah panjang menuju ICU, sementara Rayan mengekor di belakangnya. Tapi semangatnya langsung menguap saat tak mendapati ibunya di kursi yang ada didekat ICU, entah dimana wanita itu sekarang.

Ananta melihat ke dalam ruang ICU, bernafas lega mendapati ibunya ada di dalam, mungkin suster mengizinkannya masuk sebentar. Dia berjalan menuju kursi panjang, menunggu ibunya disana.

"Jadi makanan ini untuk ibu yang tadi pagi?" Rayan duduk tepat di sebelahnya.

"Iya."

Makin heran lagi pria itu. Seorang Ananta, malam-malam datang ke rumah sakit hanya untuk mengantarkan makanan pada wanita yang katanya ibu temannya. Pada keluarganya saja, dia lupa, tapi pada orang lain, kenapa bisa seperhatian ini? Dan sekarang, mau-maunya menunggu seperti ini.

"Ibu," Ananta bangkit melihat ibunya keluar dari ICU. Dihampiri nya wanita itu, lalu mencium tangannya. "Ri, eh, saya bawakan makanan untuk ibu," hampir saja dia keceplosan menyebut dirinya Riana.

"Untuk Ibu?" Dewi menunjuk dirinya sendiri.

"Iya." Ananta menarik lengan Dewi menuju kursi panjang dimana dia meletakkan tote bag berisi makanan. "Kita cari tempat yang enak buat makan yuk," tanpa menunggu persetujuan, dia menggandeng lengan Dewi. Hingga tibalah mereka di sebuah kursi yang ada disamping rumah sakit. Ananta membuka wadah makanan, seketika, aroma lezat menguar dari sana. Dewi menelan ludah, malam ini, dia memang belum makan. Sehari dia hanya makan 2 kali untuk mengirit pengeluaran. "Ayo, Bu, dimakan."

"Ini beneran untuk ibu?" Dewi masih tak percaya jika anaknya punya teman sebaik Ananta.

"Tentu saja."

"Tapi ini banyak sekali, ibu tidak akan habis memakannya sendiri."

"Kalau begitu, kita makan sama-sama. Ibu mau kan, menyuapi saya?"

Rayan yang ada disana terperangah. Ini benar-benar tak seperti Ananta yang dia kenal. Dia makin syok melihat Nata dengan lahab memakan makanan yang disuapkan ibu itu pakai tangan, tidak ada rasa jijik sama sekali.

"Na," Rayan menarik lengan Nata. "Kamu yakin masih mau makan di jam ini, ini sudah hampir jam 10? Bukankah kamu sudah tak makan apapun diatas jam 8?"

"Emangnya kenapa?" Nata malah balik nanya.

"Kamu gak takut gemuk? Entar fans kamu pada kabur loh."

"Fans?" giliran Nata yang bingung.

"Astaga," Rayan menepuk dahinya. Dia sampai lupa kalau Ananta amnesia.

"Aku punya fans?" Nata penasaran.

Rayan membuang nafas kasar, "Bukankah kemarin kamu sudah melihat akun instagram? Kamu gak nggeh, gak ingat apa-apa?"

Nata mengingat-ingat, kemarin agak heran juga, akunnya sudah centang biru, dan...

Riana mengambil ponselnya di dalam tas, membuka dan melihat akun milik Ananta. Detik ini, dia baru sadar, jika dia punya pengikut jutaan. Pantas saja tadi dia merasa familar dengan wajah Ananta, sekarang dia ingat, Ananta adalah seorang selebgram, dan sudah pernah beberapa kali membintangi iklan

Terpopuler

Comments

Ita Mariyanti

Ita Mariyanti

☺️☺️☺️ smngt Nata👍👍👍

2024-02-08

2

⏤͟͟͞R ve

⏤͟͟͞R ve

Rayan 😂😂 bingung yaakk

2024-02-06

0

ria

ria

semangat riana❤❤

2024-01-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!