SIAPA DIA?

"Bang, Bang."

Rayan hanya menoleh sekilas mendengar Andi berteriak-teriak memanggil sambil berlari ke arahnya. Paling bawa kabar gak penting, batinnya. Selalunya memang seperti itu. Terlihat kucuran keringat di tubuh kekar Rayan yang memang tak memakai kaos. Dia terus saja menaik turunkan beban seberat 3kg yang ada di masing-masing tangannya.

"Ananta, Bang, Ananta."

Mendengar nama Ananta disebut, Rayan langsung meletakkan kedua beban di tangannya. "Ada apa dengan Nata?" Dengan jantung berdegup cepat, Rayan menatap Andi yang berdiri dihadapannya, sedang mengatur nafas. Tidak ada kabar yang lebih dia tunggu daripada Nata. Tapi sungguh, dia sangat takut, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Ananta. Andi yang masih terengah, mulutnya hanya gerak-gerak, namun sama sekali tak mengeluarkan suara, membuat Rayan geram. "Jangan diam saja," bentaknya. "Katakan, ada apa dengan Nata?"

"Ananta, Ananta," Andi masih terlihat mengatur nafasnya.

"Shit," pekik Rayan. "Katakan, apa yang terjadi pada Nata?" Rayan makin tak sabar, memegang kedua bahu Andi sambil menatapnya tajam.

"Nata, Ananta, dia sadar."

Kedua tangan Rayan reflek terlepas dari bahu Andi. Mulutnya terbuka lebar dan kakinya mundur beberapa langkah. "Na-Nata sadar," gumamnya.

"Iya, Bang." Dengan mata berkaca-kaca, Andi mengguncang bahu Rayan. "Nata sadar, dia sudah sadar."

Rayan gegas berlari. Mimpinya, doanya, semuanya menjadi kenyataan, Nata-nya bangun. Si putri tidur sudah bangun. Seperti orang kesetanan, dia berlari menuju halaman depan. Hampir saja saat melewati ruang makan, dia menabrak Bi Jul yang sedang membawa segelas kopi panas.

"Ray, hati-hati!" omel Bi Jul. Untung kopi panas itu terselamatkan, kalau tidak, tangan dan kakinya pasti jadi korban. Baru saja dia bernafas lega, seseorang kembali hampir menabraknya, Andi. "Hei," pekiknya. "Dasar kalian anak muda. Mentang-mentang tenaganya masih kuat, main kejar-kejaran di dalam rumah. Kalian fikir ini lapangan? Bibi adukan pada Tuan biar nyahok." Tapi setelah difikir-fikir, rugi juga dia teriak-teriak, kedua pemuda tadi tak akan mendengarnya karena entah sudah ada dimana sekarang, larinya terlalu cepat.

Rayan mengumpat saat tak bisa membuka pintu mobil. Melihat Andi yang baru keluar dari rumah, langsung dia hampiri dan merogoh saku celananya.

"Heis, gak sabaran banget sih," protes Andi yang merasakan pahanya geli.

Rayan sama sekali tak menanggapi, segera masuk ke dalam mobil bagian kemudi. Dan Andi, tentu saja dia tak mau ketinggalan, buru-buru ikut masuk sebelum dia ditinggal.

Andi mengumpat sepanjang jalan, menyesal dia kenapa tadi ikut Rayan. Rasanya tak seperti di jalan raya, melainkan di sirkuit balap. Semoga saja bukan mereka yang ganti koma saat Ananta tersadar.

Sesampainya di rumah sakit, Rayan segera memarkirkan mobil. Tak sabar sekali dia untuk bertemu Ananta. Namun saat mau keluar, Andi menahan lengannya. Kuat sekali cakalan pemuda itu.

"Lepas!" bentak Rayan. Bukannya melepas, Andi malah memelototi pria itu. "Gue bilang lepas, anj_"

"Lo gak pakai baju," potong Andi sebelum Rayan selesai mengumpatinya.

Rayan menunduk, "Sial," umpatnya sambil memukul kemudi dengan kencang. Saking tak sabarnya ingin bertemu Ananta, dia sampai lupa tak pakai baju.

"Lo bakal diusir satpam kalau masuk rumah sakit cuma pakai kolor doang. Difikir ODGJ salah masuk rumah sakit."

Rayan menyandarkan punggung di jok, memejamkan mata sambil merutuki kebodohannya. Dia pukul keningnya beberapa kali dengan kepalan tangan. Terlalu bersemangat rupanya juga tidak baik. Setelah beberapa saat, dia membuka mata dan kembali menegakkan punggung, menyeringai menatap Andi.

Andi seketika bergidik melihat seringai pria di sampingnya itu. Dan saat Rayan memegang kedua sisi kaosnya, firasatnya langsung buruk. "Mau apa lo, Bang?" dia mulai panik.

"Gue pinjem kaos lo bentar."

Andi berusaha berontak saat Rayan melepas paksa kaosnya. Semoga saja tak ada yang melihat kejadian ini, bisa-bisa, mereka dianggap gay. Dari sisi postur tubuh dan tenaga, Andi jelas kalah telak. Dia berdecak kesal saat kaosnya akhirnya berpindah tempat. Melihat Rayan menatap celananya, buru-buru dia pegang erat gespernya. "Jangan macem-macem lo, Bang." Dia sok-sok an mengancam meski tahu jika Rayan tak mungkin takut dengan ancamannya.

Tapi untungnya, kekhawatiran Andi tak menjadi kenyataan, Rayan keluar meninggalkan dia yang bertelanjang dada di dalam mobil.

Dengan celana kolor selutut dan kaos milik Andi yang sedikit kekecilan, Rayan berlari menuju ruang rawat Ananta. Jantungnya berdebar kencang, tak sabar untuk bertemu wanita itu.

Dia berhenti tepat di depan pintu ruang rawat Ananta. Menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan, melakukan itu berkali-kali sampai dia merasa yakin untuk masuk.

Ceklek

Riana yang masih pusing memikirkan tentang raganya, dibuat terkejut dengan kedatangan seseorang. Ya, seseorang yang tidak dia kenal, karena dalam raga ini, tak ada satupun orang yang dia kenal.

Rayan menatap tak percaya ke arah Ananta yang duduk di atas ranjang. Dia meraup wajahnya beberapa kali sambil membuang nafas berat. Sumpah, rasanya dia belum bisa bercaya Ananta akhirnya bisa sadar. Dengan langkah pelan, dia mendekati Ananta. Matanya tak lepas sedikitpun dari memindai wajah gadis cantik yang sudah dia jaga sejak kecil tersebut.

Jarak keduanya semakin dekat, membuat jantung Rayan berdetak dua kali lebih cepat.

"Na-ta," ucapnya terbata. Sesaat kemudian, langsung dia dekap tubuh kurus di depannya itu. "Nata, kamu sadar, Na, kamu sadar." Rayan mulai terisak, sedang Riana hanya mematung, bingung. "Terimakasih telah bangun. Aku akan merasa bersalah seumur hidup jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padamu."

Riana bertanya-tanya dalam hati, siapakan pria yang memeluknya saat ini? Mungkinkah dia saudara Ananta, kakaknya mungkin, atau om nya? Penampilan pria itu sangat aneh menurutnya. Wajahnya terlihat garang dengan rambut sedikit panjang yang diikat, juga berewokan, tapi pakaiannya, iyuh....celana kolor dengan kaos ketat, seperti pria melambai, sungguh bikin ilfeel.

Terpopuler

Comments

⏤͟͟͞R ve

⏤͟͟͞R ve

Bisa dibayangkan penampilan Rayan dengan kaos ketatnya Andi 😂😂

#jangan2 Rayan pacarnya Ananta

2024-02-06

0

nadira ST

nadira ST

kamu yang dipeluk aja ilfil, apa lagi ak yang baca, salah kostum ,suruh ngaca aja pasti malu liat tampangnya

2024-01-29

0

Anjellita

Anjellita

🤣🤣🤣saking ngak sabar nya ketemu ananta,sqmpai lupa cuma pakai kolor doang

2024-01-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!