BAB 15

Sesampainya di kampus, Ananta langsung searching di internet, perusahaan yang sejenis dengan milik Bima. Ternyata ada banyak, dan tak kalah bonafit, tapi masalahnya, dia yang masih minim ilmu bisnis, tak paham bagaimana cara untuk bisa terhubung dengan perusahaan tersebut, apalagi sampai merencanakan kerjasama. Dia menelepon Rayan, ingin meminta bantuan pria itu.

"Aku gak ngerti urusan bisnis, Na."

Jawaban itu membuat Ananta menghela nafas berat. Tapi dia tak boleh menyerah, banyak jalan menuju Roma. Jalan satu buntu, masih ada jalan lainnya. Dia ganti menelepon Andi.

"Aku ini supir, sekaligus asisten kasar lah sebutannya. Aku bisa disuruh apapun, tapi urusan bisnis, kerjaan Pak Yakub, aku gak tahu sama sekali." Jawaban Andi hampir sama dengan Rayan, bikin Ananta makin frustasi. "Tapi, kamu bisa tanya Melda. Dia pasti ngerti urusan seperti ini."

"Melda?" Ananta mengerutkan kening. Baru hari ini dia mendengar nama itu.

"Asisten pribadinya Bapak. Melda yang ngurusin soal kerjaan. Dia pasti bisa bantu kamu." Seketika, semangat Ananta bangkit kembali. Andi mengirimkan kontak nomor Melda padanya. Besar harapannya, wanita bernama Melda itu mau membantu. Tak mau membuang waktu, dia langsung menelepon Melda. Tapi tak bisa terhubung karena asisten pribadi ayahnya itu ada dalam pangggilan lain.

"Bisa kita bicara," seru seseorang yang berdiri di depan meja Ananta. Suara itu sangat familiar, dan benar dugaannya, saat dia mendongak, Angela ada di hadapannya.

"Ada apa?" Ananta menyimpan ponsel, menunda dulu untuk menghubungi Melda.

"Ikut aku," Angel menunjuk dagu ke arah pintu.

"Kenapa gak disini saja?" Ananta tersenyum miring. Dia sudah tahu, Angel pasti ingin cari ribut, tapi tak mau terlihat jelek di depan orang, makanya mau cari tempat aman.

"Aku cuma takut kamu malu kalau kita bicara di sini," Angel tersenyum miring, entah apa maksudnya.

"Untuk apa aku malu? Aku merasa tak pernah melakukan hal yang memalukan."

"Lalu ini apa?" Angel menunjukkan foto yang kemarin. Foto Ananta dan Arga di kantin.

"Kita cuma makan, emang ada yang salah? Kantin tempat umum. Kita bukan makan berduaan. Kayaknya, kamu aja yang terlalu cemburu," Ananta tersenyum mengejek.

Angel mengepalkan telapak tangan. Dia paling benci pada orang yang berani lantang di depannya. Melawan dia tanpa gentar.

"Pernah nonton Dilan gak?" tanya Ananta. "Ah.. kayaknya gk pernah deh," dia tersenyum simpul. "Dilan bilang, cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri. Itu artinya, kamu," dia menunjuk Angel. "Tidak percaya diri bersaing denganku."

"Jangan sembarangan bicara," Angel menahan diri untuk tidak teriak. Saat ini beberapa pasang mata tengah memperhatikan mereka. Dia harus tetap jaga image sebagai cewek smart dan beretika.

Ananta berdiri, mengusap bahu Angel beberapa kali sambil tersenyum. "Tenang, gak usah panik gitu. Aku bukan tipe cewek yang suka merebut cowok orang. Tapi..... " Ananta sengaja menjeda kalimatnya agar Angel makin kesal. "Tapi kalau cowok kamu yang suka sama aku, bukan salahku kan?"

Ananta mengambil tas di atas meja, lalu keluar. Hari ini, dia memilih bolos karena ada hal yang lebih penting daripada duduk sambil mendengarkan materi kuliah, yaitu cari cara untuk menggagalkan perpanjangan kontrak kerjasama antara perusahaan Bima dan Ayahnya.

Dia duduk di bangku panjang yang ada di taman fakultasnya. Kembali mencoba menghubungi Melda. Sayangnya lagi-lagi Melda berada dalam panggilan lain. Sebenarnya sesibuk apa sih, asisten ayahnya itu.

"Kamu disini?"

Suara seseorang membuat Ananta menoleh. Arga, cowok itu berada tak jauh darinya. Dan tanpa minta izin, duduk di sebelahnya.

"Nanti ada yang marah kamu duduk di sini," ujar Ananta.

"Siapa?"

"Cewek kamulah, siapa lagi?" Ananta memutar kedua bola matanya malas.

"Dia ngelabrak kamu?"

"Dari mana kamu tahu?" Ananta mengernyit bingung.

"Dari kalimat kamu barusan. Meski tak secara langsung, aku bisa mengambil kesimpulan kalau kamu habis kena marah Angel."

Ananta tertawa ngakak. "Tolong ya, kalimatnya di ralat. Aku kena marah? Yang iya dia yang aku marahin."

Sekarang ganti Arga yang ngakak. Cowok itu juga sampai tepuk tangan segala. "Hebat! Selama ini, belum pernah liat ada yang berani melawan dia. Kalau sampai ada, aku kasih 6 jempol."

"Banyak amat! Yang 2 pinjem siapa?"

Arga memegang kedua pergelangan tangan Ananta lalu mengangkatnya. "Nih, pinjem jempol kamu."

"Dih, gak jelas." Ananta menarik tangannya.

"Maaf. Gara-gara aku, kamu jadi ada masalah sama Angel."

"Bukan gara-gara kamu. Kemarin kan memang aku yang minta di temenin kamu ke kantin. Harusnya aku yang minta maaf. Karena aku, Angel jadi salah faham ke kamu."

Arga tersenyum getir sambil menggaruk tengkuk. Antara mau cerita atau enggak, bingung. "Sudahlah, sepertinya kami memang sudah tak ada lagi kecocokan. Bukankah kamu kemarin yang bilang, jadi cowok harus punya harga diri. Angel sudah terlalu sering menginjak-injak harga diriku. Jalan sama siapapun sesuka hatinya dengan alasan kerjaan. Selain itu, dia mau menangnya sendiri, gak pernah mau di salahin."

Kalau mendengar cerita Arga, kasihan juga. Tapi untuk lepas dari status pacar Angel, dia tak yakin Arga mau melakukan itu. Karena secara tidak langsung, dia ikut tenar saat menjadi pacar Angel.

Ponsel Ananta tiba-tiba berdering, ada telepon masuk dari Melda. Karena ada Arga, dia sedikit menjauh saat menerima telepon. Bagaimanapun, Arga ada hubungan dengan Angel, jangan sampai pria itu menggagalkan rencananya.

"PT Nusa Alam. Dia saingan berat perusahaan Bima Prasetya. Dulu keduanya bersaing untuk mendapatkan tender dengan perusahaan kita. Tapi akhirnya perusahaan Pak Bima yang menang karena dia menawarkan harga yang lebih murah." Melda menjelaskan panjang lebar tentang kedua perusahaan itu.

"Ada masalah?" tanya Arga saat Ananta kembali ke tempat duduknya tadi. Wajah cewek itu tampai keruh, seperti ada masalah besar. "Aku dengar tadi, kamu menyebut PT Nusa Alam. Maaf, bukannya mencuri dengar, tapi tak sengaja terdengar."

Ananta tersenyum kecut saat tahu Arga mendengar sedikit obrolannya. Salah dia juga, kalau ngomong suka berapi-api, jadi tak sadar kalau bicaranya keras.

"Aku kenal sama anak owner PT Nusa Alam. Dia teman baikku." Kalimat Arga membuat Ananta terperanjat.

"Benaran?" Dia sampai tak sadar, memegang tangan Arga.

"Iya. Emang kenapa?"

"Bantu aku. Aku harus ketemu dia."

Terpopuler

Comments

⏤͟͟͞R ve

⏤͟͟͞R ve

Arga....Tinggalin aja tuhh Angel...posesif bingits dan egois 😂

2024-02-06

2

Yunia Afida

Yunia Afida

misi pertama berhasil, tinggal selanjutnya

2024-01-28

0

Susi Akbarini

Susi Akbarini

wezzzz...
bener2 sat set si Riana..

bener2 semangat buat ngehancurin bokap dakzalnya..

lanjuttttt..
❤❤❤❤❤

2024-01-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!