Alesha sudah mulai banyak bicara. Bukan hanya ke kakek neneknya, tapi juga dengan Kenan. Sekitar pukul tujuh pagi, persiapan yang mereka lakukan, nyaris selesai.
“Terharu, asli terharu banget. Mas Kenan kelihatan banget berusaha jadi suami sekaligus kepala keluarga yang baik. Ke Alesha, ke orang tuaku,” batin Khalisa yang menyiapkan bekal untuk jalan-jalan mereka. Ia dibantu oleh sang mama maupun Kenan. Meski di beberapa kesempatan, Kenan akan menerima telepon atau menelepon.
Kenan masih mengurus pekerjaan. Namun, Kenan tak sampai meninggalkan mereka. Layaknya apa yang Kenzo lakukan.
“Papanya Alesha beneran enggak ngabarin. Dia enggak kangen anaknya apa bagaimana? Untung sekarang ada maa Kenan yang kasih Alesha perhatian. Enggak kebayang kalau enggak ada. Soalnya pas cuma sama mbahnya, Alesha masih tanya-tanya, papanya di mana? Nah ini ... apa, papanya Alesha sengaja kasih aku dan mas Kenan waktu? Tapi masa iya, Mas Kenzo sebaik itu. Lihat aku duaan sama Mas Kenan saja, dia cemburu!” batin Khalisa refleks terdiam lantaran di depannya, Kenan tengah memasangkan sabuk pengaman untuknya.
Khalisa tidak tahu, sudah berapa lama dirinya merenung dan berakhir melamun. Ternyata, ia sudah duduk di sebelah Kenan yang siap menyetir. Sementara Alesha duduk di pangkuan pak Aidan.
Sampai detik ini, Khalisa masih penasaran. Kenapa Alesha tidak merasa terganggu pada kebersamaan mereka dengan Kenan.
“Mama, papa ke mana? Kok enggak jemput-jemput aku?” tanya Alesha.
Pertanyaan yang jujur saja membuat keadaan menjadi tegang.
“Kan kita mau jalan-jalan, jadi papa belum jemput,” ucap pak Aidan segera sigap menjawab.
“Oh iya, ya ... kita mau jalan-jalan.” Alesha kembali bersemangat.
“Katanya mau petik stroberi. Sama panen sayuran?” timpal ibu Arimbi penuh pengertian. Ia mengelus sayang poni Alesha yang kemarin baru ia potong karena sudah menutupi mata.
Dirawat Kenzo sekeluarga, dan selama itu, Khalisa bahkan sangat dibatasi hanya untuk bisa bertemu Alesha, nyatanya Alesha malah kurang terawat. Bukan hanya penampilan. Karena pada kenyataannya, paru-paru Alesha saja menjadi korban.
“Pemandangannya indah yah, Mbah Kung!” ucap Alesha yang sepanjang perjalanan tidak tidur. Sementara panggilannya kepada pak Aidan yaitu “Mbah Kung atau itu Mbah Kakung”, artinya sama saja dengan kakek.
Berbeda dengan Alesha dan pak Aidan, ibu Arimbi dan Khalisa malah ketiduran. Sesekali, Kenan yang fokus menyetir, akan membenarkan posisi kepala Khalisa yang kadang tak menyandar.
“Khalisa bilang, para suami di keluarganya, sudah terbiasa memperlakukan istrinya layaknya ratu,” pikir Kenan. Alasan tersebut juga yang membuatnya bersikap makin lembut.
Termasuk itu ketika Kenan membangunkan Khalisa. Kenan sengaja melakukannya setelah semuanya sudah turun.
“Hmm ...? Kol sepi?” ucap Khalisa sengaja mengalihkan perhatian Kenan lantaran wajah Kenan berada persis di hadapannya.
“Sudah pada turun. Tuh, di belakang mobil. Ayo turun. Alesha sudah heboh,” ujar Kenan sengaja mengulurkan kedua tangannya.
“Untung aku pakai masker. Enggak kebayang andai aku enggak pakai masker, terus malah tidur sambil mangap!” batin Khalisa yang kemudian menaruh kedua tangannya di kedua telapak tangan Kenan.
Kenan sudah sampai melepas sabuk pengaman milik Khalisa. Perhatian sepele yang bagi Khalisa sangat manis. Ketimbang hal muluk-muluk dan sebenarnya tidak mewah, tapi harus diakui mewah, layaknya apa yang selama ini Kenzo lakukan kepadanya.
“Kita suami istri, jadi jangan bikin aku canggung apalagi merasa berdosa, ya?” ucap Kenan sambil melirik Khalisa yang baru saja turun dari mobil.
Khalisa menahan napas dan perlahan menatap Kenan. Ternyata, Kenan masih menatapnya. Ia sempat menghindar, sengaja menunduk. Namun karena Kenan terlihat sangat serius, ia sengaja kembali menatap Kenan.
“Malah dosa kan, kalau kita terus canggung-canggung? Nanti yang ada, orang tua kamu juga canggung,” lanjut Kenan.
“Iya, Sih ...,” lirih Khalisa.
“Bikin liburan ini beneran berkesan buat Alesha maupun orang tua kamu. Alesha butuh orang tua bahagia. Karena dengan begitu, Alesha baru bisa bahagia. Ini bisa membantu menaikan imun Alesha!” ucap Kenan lagi.
“Alesha, ... Alesha bahagia, kan?” tanya Khalisa ketika mereka sampai tenda milik mereka.
Untuk jaga-jaga, takut Kenzo tetap tidak mau berubah, Khalisa sengaja memberi sang putri pengertian.
Mata biru Alesha menatap teduh kedua mata mamanya. Ia mengangguk.
“Enggak apa-apa, ya, kita enggak selalu sama papa?” lanjut Khalisa.
“Kenapa papa enggak selalu sama kita, padahal uncle saja sama kita?” balas Alesha.
“Karena Mama sama Papa sudah cerai? Oma dan Onty Keina bilang begitu. Papa juga bilang begitu. Tapi papa bahkan mama bilang, papa sama Mama bakalan sama-sama lagi asal aku sembuh?” ucap Alesha.
“Tapi papa enggak bikin Mama bahagia ya?” lanjut Alesha yang jadi sedih sendiri.
“Meski tanpa papa, kita wajib bahagia.” Khalisa meyakinkan. “Enggak apa-apa, ya, kita enggak bisa selalu sama-sama, dengan papa?”
“Maunya sih sama papa. Tapi papa jangan marah-marah terus ke Mama. Papa harus kayak Uncle yang enggak pernah marah ke Mama,” ucap Alesha.
Mendengar itu, Khalisa langsung kikuk. Tak menyangka, ternyata Kenan sudah memiliki penilaian istimewa dari Alesha.
“Ya, Ma. Aku mau papa, kita sama-sama papa, tapi papa enggak boleh marah-marah terus. Papa harus sayang Mama, seperti uncle Kenan!” mohon Alesha.
Belum sempat Khalisa menjawab, Alesha sudah mengambil ponsel Khalisa dari tas Khalisa dan memang ada di depan mereka.
“Aku mau telepon Papa!” ucap Alesha bersemangat. “Aku mau bilang, biar papa enggak marah-marah.”
“Kalau gitu, Mama siapin makan siang buat kamu, ya!” pamit Khalisa sengaja meninggalkan Alesha di dalam tenda seorang diri.
Aroma kopi terci.um sangat kuat, ketika Khalisa keluar dari tenda. Karena di luar tenda, orang tuanya dan Kenan, memang tengah menikmati kopi. Bekal bawaan mereka juga sudah dibuka.
“Sejak kapan, pecel cocok sama kopi?” tanya Khalisa tidak bisa untuk tidak tertawa. Ia duduk di sebelah Kenan karena hanya di sebelah Kenan yang belum ditempati.
Kebersamaan keempatnya sudah langsung dihiasi obrolan hangat. Sementara di tempat berbeda, di sebuah hotel. Dering tanda telepon masuk di ponsel Kenzo, membuat Bella yang awalnya akan masuk ke kamar mandi, terusik.
“Siapa, ya? Aku harap ... itu mantan istri Kenzo.” Berbekal harapan tersebut, Bella sengaja melangkah hati-hati. Bella menuju meja nakas sebelah Kenzo selaku keberadaan ponsel Kenzo.
Kenzo sendiri masih pulas. Kenzo meringkuk dan hanya menutupi sebagian tubuh bagian bawahnya menggunakan selimut.
“Wah ... Mamanya Alesha. Ini nomornya si Khalisa, kan? Dasar wanita mura.han. Sudah cerai juga, jadiin anak buat bisa hidup enak dari Kenzo!” batin Bella yang kemudian kembali berkata dalam hatinya, “Tunggu pelajaran dariku!”
Setelah mengambil ponsel Kenzo, Bella segera naik ke ranjang tidur mereka. Di ranjang yang sudah sangat berantakan itu, Bella yang hanya memakai celana da.lam, sengaja membuat dirinya didekap dari belakang oleh Kenzo.
Kenzo yang telanjur bucin kepada Bella, sama sekali tidak curiga. Ia dengan senang hati memeluk Bella layaknya tuntunan Bella. Kedua mata Kenzo masih terpejam rapat lantaran pria itu masih sangat mengantuk. Sementara alasan Kenzo tak sampai terusik dering ponsel, tak lain karena Bella sudah membuat dering tak terdengar.
Segera Bella menerima panggilan video di ponsel Kenzo. Jemari lentik Bella, juga segera membuat suara dari seberang senyap. Namun bisa Bella pastikan, siapa pun di seberang sana, tahu apa yang sedang ia dan Kenzo lakukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Sarti Patimuan
Wah Kenzo bakalan ketahuan oleh alesha bersama dengan Bella
2024-02-16
3
Mas Bos
beruntung bella bertindak ngawur
sehingga bisa jadi alasan kuat
bagi khalisa tetep dg kenan
2024-02-10
1
Erina Munir
dasar bellek belis...aduuh klo d liat sama alesya gimana tuuh
2024-02-03
0