Beres shalat, semuanya masih serba canggung. Deg-degan dan berkeringat, masih saja mereka rasakan. Malahan semua ketidaknyamanan itu, seolah mendadak menjadi teman baik mereka.
“Pria di depanku ini suamiku. Mas Kenan suamiku, jadi aku wajib menghormatinya. Toh, sampai detik ini, Mas Kenan masih sangat sopan. Mas Kenan juga sangat tanggung jawab. Selain, Mas Kenan yang tak sampai paksa-paksa aku, apalagi sampai KDRT,” batin Khalisa menegur dirinya sendiri.
Karenanya, Khalisa nekat menyalami tangan kanan Kenan dengan takzim. Meski setelah itu, Khalisa buru-buru meminta maaf kemudian memisahkan diri dari Kenan.
“Pasangan zin-a saja enggak merasa sangat berdosa seperti kami, ya Allah!” batin Kenan sudah berkeringat parah. Ia begitu karena terlalu gugup.
Sambil menghela napas pelan sekaligus dalam, hati kecil Kenan berkata, “Namun, aku benar-benar berterima kasih. Karena berkat pernikahan ini, berkat aku memiliki Khalisa sebagai istri, aku jadi shalat lagi.”
Karena pada kenyataannya, Kenan memang sudah sangat lama meninggalkan shalat. Kini menjadi shalat pertamanya, setelah bertahun-tahun lamanya, Kenan tidak melakukannya.
Beres shalat, Kenan langsung pamit. “Alesha enggak ada pemeriksaan intensif lagi, kan? Kenzo benar-benar enggak datang.”
“Enggak apa-apa, Mas. Aku bisa, kok,” ucap Khalisa tetap memakai mukena.
Khalisa mulai mencuci buah pir dan apel. Kesibukan yang sengaja ia buat agar tidak berinteraksi berlebihan dengan Kenan.
“Nanti sekitar pukul delapan, aku kirim taksi buat jemput orang tua kamu. Biar mereka bisa nemenin kalian di sini,” ucap Kenan sudah mulai sibuk dengan ponselnya, setelah ia melipat asal dua sajadah bekas mereka shalat. “Pukul setengah delapan, aku dan tim sudah ada rapat buat persiapan rapat dengan klien di pukul sembilannya.”
“Jadi, sekarang Mas mau langsung siap-siap berangkat ke kantor?” tanya Khalisa.
“Y—ya, mau mandi dulu!” sergah Kenan masih saja gugup.
Kenan berangsur menenteng ransel kecilnya ke dalam kamar mandi. Setelah pintu kamar mandi sampai dikunci, saat itu juga Khalisa buru-buru melepas mukenanya. Khalisa tak memakai hijab, hingga ia tak berani membuka mukenanya ketika di depan Kenan.
“Ya Allah, ... enggak pakai hijab di depan mas Kenan, rasanya mirip mal-ing. Harus sembunyi-sembunyi gini!” batin Khalisa sampai deg-degan sekaligus gemetaran. Khalisa belum siap tampil tanpa hijab di depan Kenan.
Linglung kembali Kenan rasakan ketika satu kotak berisi potongan buah, Khalisa berikan sebagai teman menyetir. Selain itu, ada tiga bungkus roti juga yang Khalisa katakan sebagai teman sarapan Kenan.
“Ini jadi makin canggung, ya? Rasanya aku jadi makin linglung.” Kali ini, Kenan yang sudah memakai kemeja biru gelap, sengaja berkeluh kesah. Ia berangsur menatap sekaligus menghadap Khalisa, tapi yang ditatap buru-buru menunduk.
Khalisa mengucapkan banyak terima kasih karena Kenan sudah membantunya mengurus pak Aidan maupun ibu Arimbi.
“Ma, ... kenapa Uncle ke sini? Itu tadi uncle Kenan, kan?” tanya Khalisa yang akhirnya membuka kedua matanya.
Untuk sejenak, Khalisa bingung. Tak menyangka lantaran sang putri diam-diam menyimak kebersamaannya dan Kenan.
“Uncle Kenan sengaja jagain kamu. Namun karena Uncle ada banyak pekerjaan, Uncle sudah harus berangkat ke kantor,” ucap Khalisa. “Uncle Kenan sedang sangat sibuk. Makanya, Mama sengaja potong buah buat bekal Uncle. Biar Uncle bisa sambil makan, dan enggak sakit,” lanjutnya.
Alesha menunduk dalam. “Om Kenan saja bisa datang ke sini buat jaga aku. Kenapa papa enggak? Dari malam kemarin aku nunggu papa!”
Ucapan Alesha membuat Khalisa merasa tert-ampar. Padahal yang dikeluhkan, masih meringkuk di kasur empuk bersama seorang perempuan.
Berbeda dengan Bella yang sudah memakai gaun malam warna hitam, Kenzo hanya menutup tubuh bawahnya hingga perut, menggunakan selimut. Kenzo belum bangun, dan masih terlihat sangat lelap. Lain dengan Bella yang tengah asyik memandangi wajah Kenzo.
Bella tersenyum penuh kemenangan, kemudian berangsur naik sekaligus duduk di perut Kenzo. Alasan yang juga membuat Kenzo terusik. Kedua mata Kenzo terbuka dengan malas. Namun ulah manja Bella, membuat Kenzo tersipu. Kenzo menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajah.
“Aku ingin hari-hariku selalu rasa bulan madu bersama kamu. Aku ingin selalu begini bersama kamu,” rengek Bella.
Kenzo tersenyum puas. Kedua tangan kokohnya berangsur terulur meraih kedua lengan Bella. Kemudian ia merengkuh, mendekap tubuh Bella sangat erat.
“Sayang ... ayo nikahi aku!” rengek Bella.
Permintaan nikah dari Bella barusan langsung membuat Kenzo tidak nyaman. “Menikahi Bella? Wanita seperti Bella hanya cocok untuk bersenang-senang. Wanita yang pantas dijadikan istri hanya wanita yang seperti Khalisa!” batinnya.
“Aku bakalan bikin kamu puas terus, kalau kamu mau nikahin aku!” yakin Bella masih sangat manja. Kedua tangannya mulai bergerak naka-l hingga turun dari perut. Mau tak mau, pergulatan panas kembali menyatukan mereka.
Akan tetapi, Kenzo jadi penasaran. Kenapa, Bella yang dari dulu paling sulit diajak berkomitmen apalagi menikah, justru jadi sibuk merengek minta dinikahi?
***
Waktu sudah sangat siang. Karena jam makan siang saja sudah berlalu sekitar dua jam lalu. Namun, Kenzo baru datang ke rumah sakit. Di sana, Alesha dan Khalisa tak hanya berdua. Karena ibu Arimbi dan pak Aidan, sudah datang.
Khalisa dengan pesonanya yang begitu bersahaja, sukses menggetarkan hati Kenzo. Apalagi, melihat bibir Khalisa yang kali ini dipoles lipstik warna peach orange matte. Hanya saja, kenyataan Alesha yang mengusir Kenzo, membuat Kenzo tak leluasa menikmati pesona mantan istrinya.
“Loh, kenapa? Kenapa Alesha marah ke Papa?” tanya Kenzo.
“Karena Papa enggak sayang aku! Papa baru datang, padahal dari kemarin malam aku nungguin Papa!” Alesha benar-benar marah.
Khalisa termasuk orang tuanya memilih diam.
“Alesha sayang ... Papa sibuk banget. Ini Papa beneran baru beres, dan harusnya sudah pergi kerja lagi!” yakin Kenzo yang tentu saja berbohong.
“Papa jahat! Uncle Kenan saja tetap jagain aku, meski uncle sangat sibuk. Padahal gara-gara Papa, aku sakit begini. Papa yang sudah pisahin aku dari mama. Papa yang terus merok-ok, mabo-k!” kesal Alesha.
Kenzo tak kuasa membela diri lagi. Apalagi biar bagamanapun, apa yang Alesha katakan tidak ada yang salah. Selain, Kenzo yang juga mengakui, putrinya dewasa terlalu dini. “Ya udah Papa minta maaf. Papa salah, Papa janji, ... kalau pekerjaan Papa sudah beres, Papa akan selalu menemani Alesha.” Setelah berbicara begitu, bahkan meski Alesha belum merespons permintaan maafnya, Kenzo sengaja meminta waktu kepada Khalisa untuk berbicara empat mata.
“Ternyata kemarin malam, Kenan di sini. Apakah mereka sudah melakukannya?” pikir Kenzo belum apa-apa sudah sangat dongkol.
“Mas Kenzo dengan segala posesifnya, ... aku harus lebih menjaga jarak. Karena biar bagaimanapun, sekarang aku istrinya mas Kenan,” batin Khalisa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
sherly
pantesan kamu dikibulin Ama Kenzo , suka ngomong dlm hati sih...
2024-07-27
0
Andri
khalista ki ojo goblok *"
2024-06-03
1
Radi
Kenzo terlalu egois. penjahat kelamin juga. iihhh. ke laut aja ko
2024-04-03
1