“Halo, ... Sa? Ini aku harus beli yang apa?”
Dari seberang, suara Kenan terdengar berbisik-bisik. Khalisa yang masih meringkuk di tempat tidur, jadi bertanya-tanya. Kemudian, matanya mengawasi sekitar. Kamar Kenan yang masih dalam keadaan temaram, tidak sampai disertai Kenan. Khalisa memang sempat tertidur.
Sakit yang luar biasa akibat tamu bulanannya memang membuat Khalisa ketiduran atau malah pingsan. Sementara di belakangnya, kasur sebelah belakangnya masih rapi. Kenan tidak ada di sana.
“Di al-fa yang 24 jam. Mau beli pembalut buat kamu,” ucap Kenan.
“Hah? Serius? Mas beneran ...?” Khalisa jadi tidak bisa berkata-kata.
Khalisa tidak percaya, dan tetap sulit percaya. Bahwa Kenan benar-benar pergi untuk membelikan pembalut untuknya. Terlebih, Kenzo yang lebih lama mengenal Khalisa saja, belum pernah melakukannya.
Khalisa pernah meminta dibelikan pembalut kepada Kenzo. Namun yang ada, Khalisa malah mendapatkan ceramah pedas dari Kenzo. Bagi Kenzo, permintaan Khalisa meminta Kenzo membelikan pembalut, sama saja melukai harga diri Kenzo sebagai laki-laki. Kenzo tipikal yang menganggap, ketika seorang laki-laki membeli pembalut bahkan itu untuk istrinya, berarti laki-laki itu banc.i.
“Cari apa, Mas?” Terdengar suara wanita dari seberang sana. Khalisa yakin, wanita tersebut tengah bertanya kepada Kenan. Bisa jadi, wanita tersebut merupakan petugas al-fa.
“Cari pembalut, Mbak. Buat usia ... Sa, sekarang usia kamu berapa?” Kenan berakhir bertanya kepada Khalisa. Khalisa sadar itu.
“Masyaallah, ... kok lama-lama aku gemes ya ke Mas Kenan. Asli, Mas Kenan orangnya sweet banget!” batin Khalisa yang kemudian berkata, “Mas, kalau beli pembalut enggak digolongkan dari usia.” Khalisa berbisik-bisik. “Melainkan ukuran.”
“Ukuran? Ukuran punya kamu berapa? Aku beneran enggak tahu!” balas Kenan makin berbisik-bisik juga.
Selain suara Kenan yang sudah jauh lebih jelas dari ketika pria itu baru pulang kerja. Kali ini Kenan juga sampai berbisik-bisik. Namun, yang membuat Khalisa jadi menahan tawa, tak lain mengenai pertanyaan Kenan. Ukuran punya Khalisa. Bisa Khalisa pastikan, bukan hanya dirinya yang jadi tersipu malu bahkan sampai sibuk menahan tawa. Namun juga petugas al-fa yang sempat bertanya ke Kenan.
“Sa, ... ternyata ini ada yang bersayap. Ini buat malam, ada yang enggak bersayap juga. Oh, ini ada yang herbal. Maksudnya, ada kandungan daun sirih. Aman enggak, sih? Namun kalau enggak aman, harusnya enggak dijual, ya.”
Suara Kenan barusan yang sama sekali tidak disertai emosi berarti, membuat Khalisa bengong. Dada khususnya hati dan jantung Khalisa, jadi diselimuti rasa hangat.
“Mas Kenan beneran setulus itu? Ada orang begini di zaman yang kebanyakan sudah penuh manusia dakjal? Mas Kenan beneran mirip papa Aidan,” batin Khalisa. Hatinya terenyuh, dan ia sangat menghargai usaha Kenan.
“Ambil yang ada herbal-herbal saja. Sama yang malam ya Sa. Bentar, deh ... di sini ada obat nyeri sekalian apa harus ke apotik?”
Sekitar dua puluh menit kemudian, satu kantong berukuran besar, Kenan bawa. Bukan hanya beberapa bungkus pembalut dan obat nyeri yang tampaknya Kenan beli di apotek. Namun ada belasan botol herbal datang bulan, selain yogurt dan beberapa susu UHT.
“Kalau dari keterangannya, herbal datang bulannya akan lebih enak kalau diminum dingin. Ini minum satu dulu. Ini yogurt sama UHT kesukaan Alesha. Soalnya kalau di rumah, aku lihat stok juga di kulkas.” Kenan masih sibuk sendiri membereskan segala sesuatunya.
“Mas, stok seprainya di mana? Soalnya aku tembus, mau aku ganti,” ucap Khalisa, sebelum Kenan benar-benar pergi dari sana.
“Stoknya ada di rak lemari atas. Kayaknya kamu enggak nyampe. Nanti aku turunin, tapi kalau mau ganti, gantinya besok saja. Sudah dini hari, kamu istirahat saja. Minum ini, apa pereda nyerinya. Habis itu tidur, biar enakan,” ucap Kenan.
“Tembus sebanyak apa? Kalau kamu enggak nyaman, ... tutup pakai kain dulu. Tutup pakai handuk, atau biar aku yang tidur di sebelah situ,” sergah Kenan.
“Jadi, ... apa yang membuat pria sebaik Kenan dicampakkan? Aku rasa, Kenan memang pria baik. Dari caranya bersikap dan memang selalu serba lembut sekaligus tenang, Kenan bukan orang yang sedang belajar buat jadi pribadi lebih baik lagi,” batin Khalisa.
“Ini waktunya kok berasa lambat banget ya,” batin Kenan jadi deg-degan parah ketika ia kembali ke kamar.
Kenan tidak mungkin tidak kembali ke kamar. Karena andai dirinya tidur di tempat lain, Kenan takut Khalisa tersinggung. “Dipaksa turun ranjang saja, pasti sudah bikin dia setr-es. Di sini, beneran bukan hanya aku saja yang setres!” batin Kenan.
“Aduh ...,” lirih Khalisa. Tak beda dengan Kenan, lagi-lagi ia juga jadi deg-degan tak karuan. Apalagi, mereka bertemu sebelum Khalisa meringkuk membelakangi posisi tidur Kenan.
Khalisa baru kembali dari kamar mandi. Sementara di matanya, kini Kenan juga sudah kehabisan kata-kata dalam menghadapinya.
Meski pada akhirnya, mereka sempat duduk bersama. Karena Kenan membukakan tutup botol herbal datang bulannya.
“Aromanya mirip jamu. Kunyit asam?” ucap Kenan menebak-nebak. Ia masih duduk di sebelah Khalisa.
“Iya ... mirip, atau memang iya, ya? Mas mau?” Khalisa mengangsurkan sisa herbal datang bulannya yang akan ia minum, ke Kenan.
“Coba ....” Kenan meneteskan sedikit ke telapak tangan kanannya.
Khalisa refleks menahan senyum menyaksikan tingkah Kenan.
“Ini aku enggak jadi datang bulan kan, gara-gara icip-icip ini?” tanya Kenan kali ini benar-benar serius.
“Kalau sampai iya, ... giliran aku buat beliin Mas pembalut, pereda nyeri, sekalian herbal datang bulan buat Mas,” ucap Khalisa.
Setelah sama-sama tertawa, diam-diam baik Khalisa maupun Kenan jadi bingung. Bingung lantaran mereka mendadak sangat akrab.
“Sudah jam berapa ini? Mereka lagi ngapain? Mereka beneran hanya melakukan sekali, kan? Jangan-jangan mereka ingkar dan sengaja mengkhianati aku!” pikir Kenzo jadi tidak bisa tidur. Padahal, di sebelahnya saja ada Bella yang sudah lelap meringkuk mendekap dadanya. Namun, Kenzo masih saja sibuk memikirkan hubungan Khalisa dan Kenan.
“Coba aku telepon,” batin Kenzo yang memang langsung meraih ponselnya dari meja nakas sebelahnya. Kenzo langsung menelepon kontak Khalisa ❤️❤️❤️.
Di kamar, ponsel Khalisa dan ponsel Kenan ada di meja nakas dan bersebelahan. Selain itu, dering telepon mereka juga sama. Kenan yang mendengar dering ponselnya, refleks bangun. Dengan kedua mata masih setengah terpejam, Kenan asal menjawab.
“Halo ...?”
Suara berat Kenan yang memang khas suara orang baru bangun tidur, membuat jantung Kenzo berdetak sangat cepat. Kenzo emosi, tak terima karena telepon Khalisa justru dijawab Kenan.
“Kok sepi?” pikir Kenan yang kemudian memastikan layar ponselnya. “Oh, ini punya Khalisa. Oh ... yang telepon Kenzo,” batinnya. Ia nyaris kembali menyapa, tapi telepon Kenzo sudah lebih dulu diputus.
“Ngapain jam segini telepon, enggak mau ngomong?” pikir Kenan yang juga jadi bertanya-tanya. “Konsep cinta Kenzo itu gimana, sih? Kok caranya ke Khalisa, mirip kompeni yang lagi menjajah?”
Padahal bagi Kenan, hanya melihat wajah Khalisa sedang tidur layaknya sekarang saja, dirinya tidak tega. Khalisa terlihat sangat lelah bahkan stre-s.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
terus sehat
2025-02-17
0
Radi
yang iya nya si Kenzo itu tak cinta sama kalisa. cuma rasa serakah ingin memiliki saja. . sifat gila serakah Kenzo bikin aku gregetan.
2024-04-03
1
Sarti Patimuan
Kenzo cinta tapi berkhianat
2024-02-16
3