“Alesha jangan sakit lagi yah, Nak. Mama aja. Cukup Mama yang merasakan sakit. Kamu jangan. Alasan kamu ada beneran bukan untuk sakit. Alasan kamu ada karena kamu harus bahagia!” lirih Khalisa.
Khalisa yang masih memakai mukena lengkap, mengabsen wajah Alesha dengan kecupan. Kenan yang masih mengawasi diam-diam dari balik pintu yang sedikit pria itu buka, sampai merinding.
“Ayolah, ... aku yang sudah tua saja baper lihat seorang mama sayang banget ke anaknya gitu,” batin Kenan.
Merasa gagal karena anaknya berakhir sakit. Sakit yang pengobatannya wajib memakan waktu lama. Khalisa sungguh merasakan itu. Ditambah lagi, ketika akhirnya Kenan datang. Khalisa merasa dunianya terlalu kejam. Andai dalam syarat agar dirinya dan Kenzo bisa kembali menikah, tak sampai mewajibkannya berhubunga-n badan dengan Kenan. Andai syarat itu hanya pernikahan tanpa ada hubungan lebih. Mungkin rasanya tak seberat kini.
Canggung, malu, takut salah, semua rasa yang membuat Khalisa merasa tidak nyaman itu terus saja menyertai. Nasi goreng pemberian Kenan dan sebenarnya enak, sampai tertahan di tenggorokan. Khalisa kesulitan menelan.
Awalnya, Khalisa memang tak berniat makan. Karena yakin, hasilnya pasti seperti sekarang. Namun jika melihat pengorbanan Kenan yang begitu bertanggung jawab, Khalisa takut dianggap tidak sopan.
Akan tetapi, nyatanya tidak hanya Khalisa yang merasakan semua itu. Karena Kenan yang duduk di kursi dekat pintu juga tampak sulit menelan. Benar-benar secanggung itu hubungan mereka. Sekadar menatap saja, mereka hanya berani melakukannya melalui lirikan dan itu mereka lakukan secara diam-diam.
Berbanding terbalik dengan apa yang sudah Kenzo dan Bella lakukan. Padahal jelas, yang telah resmi menikah itu Khalisa dan Kenan. Namun yang bulan madu dadakan malah Kenzo dan Bella.
“Air minumnya di aku semua,” pikir Khalisa yang segera mengambil satu gelas besar berisi es teh lengkap dengan sedotan. Selain itu, sebotol ar mineral juga turut ia bawa untuk Kenan.
Mendengar napas Kenan yang tersumbat layaknya orang pilek pada kebanyakan, Khalisa berinisiatif memberikan stok obat miliknya. Obat flu dan batuk, obat flu, dan juga herbal untuk mengobati masuk angin, Khalisa taruh di meja kecil sebelah Kenan.
Khalisa melakukan semua itu sambil berlutut di sebelah Kenan lantaran di sana tidak ada tempat duduk lain. Selama itu juga Kenan diam karena makin canggung. Namun, Kenan juga sadar, alasan Khalisa tak sedikit pun meliriknya karena Khalisa juga tak kalah canggung darinya.
“Kalau Mas belum minum obat, nanti ini diminum, ya, Mas. Sesuai kebutuhan Mas saja. Dijeda,” ucap Khalisa. Suara yang ia hasilkan untuk Kenan benar-benar lirih.
Sementara Kenan yang diperhatikan begitu, makin tak karuan canggungnya. “Enggak sangka, rasanya akan sangat canggung begini. Lalu, setelah ini akan ada apalagi?” pikirnya.
“Kenzo sudah ngabarin?” tanya Kenan setelah Khalisa meninggalkannya.
Khalisa yang nyaris duduk, berangsur menatap Kenan dan itu sampai membuatnya balik badan. Hanya saja, setelah tatapan mereka bertemu, dunia Khalisa seolah berhenti berputar. Kenan yang tampaknya menyadari kecanggungan Khalisa sudah di luar batas wajar, berangsur menunduk.
“Belum, Mas.” Khalisa bingung, kenapa dirinya tidak bisa mengungkapkan keinginannya. Ini mengenai hubungan ‘suami istri’, yang belum bisa ia lakukan dalam waktu dekat. Apalagi jika harus dilakukan malam ini juga.
“Apa dia enggak ke sini karena tahu aku ada di sini? Tapi, dia sama sekali belum merespons pesanku.” Sebenarnya Kenan ingin mengabarkan, bahwa setelah mengantar orang tua Khalisa, Kenan sempat melihat mobil Kenzo. Hanya saja, Kenan tidak punya bukti, selain ia yang takut fakta tersebut hanya membuat Khalisa makin kepikiran.
“Tapi Mas Kenzo enggak gitu,” lirih Khalisa yang kemudian menatap Kenan.
Kenan refleks balas menatap Khalisa.
“Mas Kenzo enggak kenal aturan. Aku tahu Mas Kenan jauh lebih paham. Apa yang terjadi pada Alesha sudah jelas. Hubungan kami, ... bahkan sekarang ada hubungan kita.” Khalisa mulai mengungkapkan isi hatinya. “Jadi, aku benar-benar minta maaf karena sudah jadi bagian dari ini.”
“Jujur, aku bingung banget. Canggung, takut, ... aku malu banget ke Mas Kenan.”
“Namun aku enggak punya pilihan lain. Meski aku berpikir, ini beneran yang terakhir. Sebab, ... yang seorang anak butuhkan bukan orang tua yang tertekan apalagi enggak waras.”
“Anak-anak butuh orang tua bahagia. Jadi, andaipun mereka punya orang tua tapi orang tua mereka enggak bahagia, orang tuanya terus bertengkar, ... dampaknya ke anak beneran seumur hidup.” Air mata Khalisa jatuh hanya karena mengatakan semua itu.
“Kamu enggak bahagia?” pertanyaan tersebut melesat dari bibir Kenan. Padahal, mata sendu Kenan masih fokus menatap kedua mata Khalisa.
Khalisa menggeleng dan menatap Kenan untuk beberapa saat. “Orang tuaku, putriku, ... mereka sangat terluka karena keadaan ini.”
“Meski aku terus diam dan berusaha tegar, ... aku yakin, ini akan makin terasa menyakitkan khususnya buat orang tuaku.” Khalisa makin menunduk dan membuatnya mendapati air matanya berjatuhan.
“Kamu juga harus memikirkan kebahagiaanmu sendiri. Bukan hanya perkara anak apalagi orang tua,” ucap Kenan.
Detik itu juga, Khalisa berangsur menatap Kenan. Dengan jarak kurang dari tiga meter, mereka bertatapan dalam. Kedua mata mereka sama-sama basah sekaligus bergetar.
“Semuanya akan ada masanya, Mas. Termasuk mengenai kebahagiaan. Karena kebahagiaan seorang anak yang juga sudah menjadi orang tua, tentu hanya dengan berguna untuk mereka,” ucap Khalisa.
“Kamu tetap harus mencari kebahagiaan kamu yang lain, selain kedua kebahagiaan yang tadi kamu sebutkan,” ucap Kenan. “Habiskan makananmu ... karena aku sampai hujan-hujanan hanya untuk mendapatkan itu!”
“Tapi, Mas ... itunya enggak harus malam ini juga, kan?” ucap Khalisa menjadi makin deg-degan hanya karena membahasnya. Khalisa yakin, Kenan langsung paham.
Kenan yang nyaris melahap nasi goreng di sendoknya, langsung tidak jadi. “Itunya, yang mana? Maksudnya, apa?”
“Duh, ini orang kenapa enggak langsung nyambung, sih?” batin Khalisa yang akhirnya terpaksa jujur. Kejujuran yang justru membuat Kenan mirip orang linglung.
Baik Kenan maupun Khalisa, sama-sama menunggu kedatangan Kenzo. Keduanya sampai ketiduran. Kenan tetap di tempat duduk dekat pintu, sementara Khalisa tidur di ranjang rawat Alesha.
Dering alarm di ponsel Khalisa, menjadi awal aktivitas baru mereka. Awalnya Khalisa yang sudah langsung berwudu, akan shalat subuh sendiri. Namun melihat Kenan masih tidur, sementara status mereka jelas terikat, Khalisa memberanikan diri untuk membangunkannya.
“M—mas ...?” lirih Khalisa sudah deg-degan tak karuan.
Khalisa yang masih memakai mukena, jadi kegerahan. Rasa gugup yang membuatnya tegang, sampai membuatnya berkeringat parah.
“M—mas ...?” Khalisa memberanikan diri untuk menyentuh bahu kanan Kenan menggunakan ujung jemari kirinya. Tetap saja usahanya belum mendapatkan hasil. Barulah ketika Khalisa melakukannya agak bertenaga, lagi-lagi Kenan mirip orang linglung.
“Shalat, Mas ....”
“Shalat?”
“Subuh ....” Karena Kenan tetap tidak paham, Khalisa sengaja berkata, “Ini sudah waktunya shalat subuh. Ayo shalat subuh bareng. Mas wudhu dulu.” Namun buru-buru ia pergi menuju meja keberadaan stok makanan dan minuman. Ia menyiapkan air hangat untuk Kenan.
Khalisa memperhatikan Kenan layaknya seorang istri yang mengabdi kepada suaminya. Bahkan meski untuk melakukannya, Khalisa seolah mengalami proses kontraksi.
“Aduh ... mau menolak enggak enak dan enggak mungkin. Menerima pun jadi gugup mirip linglung begini!” batin Kenan.
Kenan menerima segelas air hangat pemberian Khalisa. Namun, ia meminumnya tanpa berani melirik apalagi menatap Khalisa lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Nartadi Yana
aku kok bacanya jadi sedih ya keturunan pak kalandra, cucu cucunya kebanyakan rumahtangganya berantakan semua walau akhirnya bahagia nangis Bombay aku Thor 😭😭😭😭😭
2024-11-28
0
sherly
kalo seperti ini kayaknya emang kamu cinta banget Ama si kenzo
2024-07-27
0
Eti Alifa
ya Alloh gemes bngt sama kenan dan khalisa😁
2024-07-02
2