“Kenan habis dari kantor? Kenan sampai telepon mama?” ucap Kenzo sembari memisahkan diri dari Bella.
Bella yang ditinggalkan, masih asyik memilih tas. Saking antusiasnya, Bella sampai tidak menyadari kepergian Kenzo. Padahal, pakaian dan juga sepatu pilihannya saja, sudah sampai dipegang oleh tiga pekerja di sana, saking banyaknya.
“Iya, memangnya kalian kenapa?” balas Keina dari seberang.
Seperti biasa, Keina kembali menjadi cepu di antara keluarganya.
“Kenapa Kenan sampai mencariku. Dia carinya sedetail itu. Apa jangan-jangan, dia punya maksud lain? Makanya dia sampai sebaik itu ke Alesha? Kenan berharap bisa jadi bagian dari perusahaan melalui Khalisa dan Alesha?” pikir Kenzo yang dalam hatinya langsung berkata, “Baj.ingan memang Kenan! Jelas-jelas di peraturan keluarga sudah ditulis jelas. Bahwa sebagai anak kedua, apalagi dia lak-laki, dia enggak berhak jadi bagian dari usaha keluarga!”
Padahal, di mobil, justru Keina yang sedang tersenyum senang. Keina yang baru saja sampai kantor, melenggang santai.
“Terserah kamu mau ngapain, Kak. Karena makin kamu bermasalah, makin besar pula kesempatanku buat menguasai perusahaan!” batin Keina.
Pola didik orang tua mereka menjadi alasan adanya kasta di antara para anak. Obsesi dan keegoisan, lahir dari lingkungan mereka yang sedari awal sudah menerapkan persaingan. Namun dari semuanya, Kenan yang dikorbankan justru menjadi sosok berbeda. Kenan menjadi pribadi pejuang tangguh yang sesungguhnya. Meski karena lingkungan keluarganya, Kenan tak hanya layaknya dibuang. Namun juga selalu menahan kesakitan secara diam-diam.
Hingga perkenalan Kenan dengan Khalisa sekeluarga, membuat Kenan menemukan arti keluarga yang sesungguhnya. Malahan karena Khalisa sekeluarga juga, Kenan yang sedang terpuruk setelah dicampakkan oleh Syahaya atau itu Yaya, berniat untuk menjalani hidup dengan bahagia.
“Kenan!” Kenzo berpikir keras, apa yang harus dirinya lakukan agar ia bisa memberi sang adik pelajaran.
Namun, Kenzo yang sadar telah meninggalkan Bella sangat lama, memutuskan untuk segera kembali. Meski karena itu juga, Kenzo dibuat syok oleh jumlah belanjaan wanita pujaannya itu.
“S—sayang! Aku sudah beres pilih!” seru Bella. Wanita yang memakai celana pendek berbahan levis itu tak segan lari.
Bella menghampiri Kenzo. Wanita yang terbiasa berpenampilan terbuka itu tampak begitu bahagia di antara kemanjaannya.
Berbeda dengan Khalisa yang selalu berpenampilan tertutup, Bella memang kebalikannya. Celana sangat pendek yang kerap menampakkan sebagian bo.kong, sudah menjadi bawahan wajib untuk wanita berkulit putih mulus itu. Sementara pemandangan perut ramping tak tertutup termasuk pusar-pusarnya, juga bukan hal baru untuk Bella. Bahkan ketika sedang bepergian ke tempat umum layaknya sekarang ini.
Namun, Kenzo sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Yang Kenzo masalahkan ialah jumlah belanjaan Bella yang sangat banyak. Saking banyaknya, senyum manis sekaligus sentuhan manja dari Bella, tak mau membuat Kenzo tergoda. Belum lagi, Khalisa yang pernah jadi istrinya saja, paling banter ia belikan tas, satu tahun sekali. Itu saja bukan tas berharga semahal yang Bella pilih layaknya kini.
“S—sayang, ayo bayar. Orang-orang muji kamu, katanya kamu keren bisa belanjain aku sebanyak itu. Lihat, semuanya lihatin kita. Tadi, aku bilang ke mereka kalau kamu pengusaha sukses yang sayang banget ke aku!” bisik Bella benar-benar manja dan tak segan nyosor ke pipi maupun bibir Kenzo. Padahal seperti yang baru saja Bella katakan, hampir semua mata di butik mewah kebersamaan mereka, sibuk memperhatikan mereka.
“Masalahnya bukan keren enggaknya, Sayang. Ini jumlahnya ... coba deh kamu sortir lagi. Kamu pilih yang perlu. Pilih yang paling butuh. Jangan sebanyak ini. Buat apa juga?” bisik Kenzo.
Detik itu juga Bella cemberut. “Sayang, aku cuma ambil tas lima. Pakaian cuma tujuh belas setel. Terus sepatu, cuma lima pasang. Dan semua itu bakalan aku pakai buat pentas di luar negeri. Ibaratnya, semua itu enggak sebanding dengan keputusan kamu yang malah menikah dengan wanita lain. Kamu bahagia dengan wanita itu, sementara aku tetap setia menunggu kamu!” rajuk Bella.
Kenzo sudah langsung lemah karena baginya, apa yang Bella katakan memang kebenaran dalam hubungan mereka. Kenzo menghela napas pelan sekaligus dalam sambil memejamkan kedua matanya.
“Ayolah kesayanganku! Aku bakalan lakuin apa pun yang kamu mau!” yakin Bella lagi makin agresif.
“Pakaian, tas, termasuk sepatu di sini, enggak ada yang enggak mahal. Totalnya pasti lebih dari ratusan juta. Masalahnya, uangku beneran enggak ada segitu!” batin Kenzo bak dip.asksa menelan buah simalakama.
Kenzo terpaksa memakai uang perusahaan untuk membayar belanjaan Bella.
“Andai mama tahu, ... mati lah aku!” batin Kenzo.
Hidup Kenzo jadi tidak tenang setelah memakai uang ratusan juta perusahaan. Bahkan meski Bella berusaha menghiburnya, Kenzo sulit fokus.
“Kalau gini caranya, lebih baik aku pura-pura mati. Namun sebelum itu, aku kuras habis uang perusahaan. Aku bisa hidup bahagia dengan Bella, kami bisa sama-sama memulai hidup sekaligus bisnis baru. Apalagi, Bella bilang karier modelingnya lagi naik. Sementara ATM dan kartu kredit perusahaan, aku buat semua itu ada di Kenan biar dia yang tanggung jawab!” pikir Kenzo yang detik itu juga jadi sangat bersemangat. Ia bahkan hayo-hayo saja ketika Bella mengajaknya bersenang-senang di hotel mahal tempat mereka menginap.
“Hari besok juga, mereka akan mendengar kabar kematianku. Aku akan membuat diriku seolah mengalami kecelakaan lalu lintas,” batin Kenzo begitu bersemangat mengabsen tubuh mulus Bella menggunakan bibirnya.
Di tempat berbeda, Khalisa terjaga seorang diri di ruang tamu. Suara motor yang terdengar mendekati gerbang, menjadi alasan Khalisa meninggalkan tempat duduknya. Khalisa bersiap membuka payungnya.
Hujan deras disertai angin masih berlangsung. Itu juga yang membuat Khalisa tidak tenang dan memilih menunggu kepulangan Kenan. Sebenarnya saat sore, Kenan sudah pulang. Namun karena ada pekerjaan mendadak, Kenan pergi lagi. Parahnya, Kenan yang buru-buru sengaja memakai motor. Seperti yang Khalisa duga, suaminya kuyup meski sudah memakai jas hujan.
Namun bukannya mengkhawatirkan tubuhnya yang awalnya sedang tidak enak badan, yang Kenan jaga justru tas kerjanya. Tas kerja yang sampai Kenan bungkus berlapis menggunakan jas hujan.
“Semoga enggak ada yang basah,” ucap Kenan.
“Sini aku yang urus tasnya,” sergah Khalisa setelah menepikan payungnya.
Kenan memberikan kedua tasnya kepada Khalisa. Kemudian dengan segera, ia melepas mantel hujan. Keadaan teras rumah yang banjir air hujan lengkap diterpa angin, membuatnya melangkah dengan sangat hati-hati. Terbukti, Khalisa yang kembali keluar dan agak berlari, berakhir terpeleset.
“Sha!” Kenan yang langsung khawatir, refleks lari untuk menghampiri. Ulahnya sempat membuatnya nyaris terpeleset juga.
“Ngapain kamu keluar lagi. Aku saja mau masuk. Sakit, kan?” lembut Kenan.
Khalisa yang sampai meringkuk dan bergerak saja tidak bisa, justru tertawa. “Sakitnya sih enggak seberapa, Mas. Namun malunya ... ini tolong banget, ya. Mas jangan ingat-ingat kalau aku pernah gini!” rengek Khalisa sambil berlinang air mata, tapi tertawa juga.
Hal yang sama juga menimpa Kenan. Kenan tertawa sampai lemas dan berakhir duduk. Kenan duduk sila di lantai, tepat belakang punggung Khalisa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Nartadi Yana
Kenzo biasa berzina makanya otak iblis
2024-11-28
0
sherly
otak kriminal si Kenzo dia yg enak2 eh si Kenan yg mau dijadikan tumbal... jahat bener
2024-07-27
0
Radi
wiihh gila par.ah ah si Kenzo bener bener lelaki bulsit . pengen aja nonjok 😠
2024-04-03
1