Khalisa menjelma menjadi alarm untuk Kenan. Khalisa yang sudah membersihkan wajahnya, jongkok di lantai sebelah tempat tidur Kenan tidur. Tak jauh dari wajah Kenan, panggilan lembut Khalisa masih berlangsung.
“Mas ...?”
Karena Kenan tak kunjung merespons, Khalisa memberanikan diri untuk meraih lengan kiri Kenan.
“Mas ...?”
Detik itu juga Kenan terusik. Namun, dunia Kenan seolah berhenti berputar hanya karena ia mendapati Khalisa, sebagai alasannya terbangun.
“Mata teduh yang selalu memancarkan ketulusan, ... wajah cantik yang selalu diselimuti kedamaian. Juga, suara lembutnya yang begitu sopan. Yaya, ... lihat. Aku mulai menemukan kebahagiaanku, meski kamu memilih meninggalkanku. Wanita di hadapanku benar-benar menjadi alasanku untuk bahagia,” batin Kenan yang perlahan berangsur duduk. Ia belum bersuara, tapi dengan sangat santun, Khalisa menjelaskan semuanya.
Kenan benar-benar lupa, mengenai pernikahannya dan Khalisa yang diwajibkan hanya sementara. Hingga tanpa sadar, Khalisa mulai menjadi alasannya hidup dengan bahagia.
Mengenai waktu yang kini sudah pukul lima lebih. Khalisa yang mengingatkan Kenan untuk shalat subuh. Juga, mengenai sarapan maupun makan siang untuk Kenan. Khalisa tengah mengatakan itu dengan suara lemah lembutnya. Suara lemah lembut yang cenderung mirip suara ibu Arimbi.
“Memang kamu sudah mendingan?” tanya Kenan dengan suara berat. Ia menatap khawatir wajah sang istri yang memang masih pucat. Kantung mata Khalisa tampak hitam apalagi kini, Khalisa tak memakai make up.
Khalisa yang memang masih lemas dan sampai sekarang masih jongkok, mengangguk-angguk. “Alhamdullilah, Mas. Jauh lebih mendingan daripada pas awal-awal.”
“Kalau begitu, kamu enggak usah repot masak. Nanti, kamu sama mama papa kamu termasuk Alesha, beli saja. Kalau aku, ... sotonya masih ada, kan? Nanti aku sarapan itu saja pakai nasi. Sementara bekal, ... habis shalat, aku buat sup pir saja. Karena hasilnya memang langsung bikin tenggorokan lebih mendingan. Nanti aku bikin sendiri.” Setelah mengatakan itu, Kenan kembali meminta Khalisa untuk istirahat.
“Mama papa kan masih di sini, nanti bisa bantu jaga Alesha. Yang penting kamu kasih tahu saja, jadwal minum obatnya Alesha.” Kenan masih menatap Khalisa penuh keseriusan.
“Biar aku yang siapkan semuanya saja. Sekarang, aku beneran masih kuat. Habis itu, baru istirahat,” ucap Khalisa seiring ia yang mencoba berdiri.
Sadar Khalisa masih sempoyongan, Kenan segera menangkap kedua tangan Khalisa. Khalisa refleks menerima uluran kedua tangan Kenan. Tangan mereka menggenggam satu sama lain.
“Kamu masih sakit,” ucap Kenan.
“Enggak, Mas. Aku mau langsung siapin semuanya,” ucap Khalisa buru-buru meninggalkan Kenan.
“Dia masih sangat sungkan kepadaku,” yakin Kenan.
Di dapur, Khalisa sudah mendapati sang mama. Ibu Arimbi tengah mencuci botol susu Alesha.
“Gimana?” sergah ibu Arimbi menatap khawatir sang putri. Karena selain wajah Khalisa pucat, Khalisa juga terlihat lemas.
Khalisa yang paham maksud sang mama, berangsur menghela napas dalam. Mengenai hubungan suami istri antara Khalisa dan Kenan, Khalisa yakin itu yang sedang sang mama pastikan.
“Aku mens ... semalam nyaris sekarat,” ucapnya yang kemudian kembali menghela napas dalam. “Untung mas Kenan cekatan urus. Mas Kenan bahkan sampai beliin aku pembalut, obat, termasuk susu sama yogurt buat Alesha.” Khalisa menceritakan semuanya yang memang penuh dengan sikap tanggung jawab Kenan.
Apa yang Khalisa katakan membuat ibu Arimbi sampai lupa bernapas. “Gimana, yah, Mbak?” ucap ibu Arimbi yang sebenarnya memang sudah mulai cocok pada Kenan. Sikap Kenan yang begitu santun, dan juga sangat tanggung jawab. Sampai-sampai, ibu Arimbi sempat berdalih, Kenan mirip pak Aidan.
“Ma? Tadi, maksud Mama, apa?” tanya Khalisa jadi khawatir. Ekspresi sang mama yang menjadi gelisah lah alasannya.
Setelah menghela napas pelan sekaligus dalam, ibu Arimbi berkata, “Enggak apa-apa. Sekarang kamu jalani saja. Doanya kencengin juga. Mama sama semuanya juga akan bantu. Insyaallah, apa pun hasilnya nanti, itu beneran yang terbaik.”
“Amin ...,” refleks Khalisa yang memang menyimak. Terlepas dari semuanya, Khalisa juga sudah lelah menghadapi Kenzo yang begitu posesif. Khalisa berharap, andai nantinya ia benar-benar harus kembali menikah dengan Kenzo, Kenzo bisa jauh lebih sabar.
Keluar dari kamar, suasana sudah terang. Waktu nyaris pukul enam pagi dan Kenan mendapati itu pada jam dinding di ruang keluarga. Yang membuat Kenan terusik, tentu obrolan renyah antara pak Aidan dan Alesha. Di ruang keluarga, kebersamaan itu terjadi. Pak Aidan tengah memakaikan pakaian Alesha. Aroma bedak anak apalagi minyak telon, terci.um kuat dari kebersamaan keduanya.
“Mbahkung(mbah kakung), nanti rambutku diikat jadi banyak, ya!” ucap Alesha.
“Tapi Mbah Kakung bisanya paling banyak ikat dua, Sha. Paling nanti minta tolong ke Mbah Uti, atau mama saja, ya. Apa ... kamu mau diikat dua saja?” balas pak Aidan yang memang siap menyisir sang cucu.
“Sekarang aku tahu, kenapa Khalisa bisa setulus dan setegar itu. Dia dibesarkan sekaligus tumbuh di lingkungan penuh cinta. Lain dengan aku dan keluargaku,” pikir Kenan.
“Beda lingkungan tumbuh, beda pemikiran. Jadi, akan lebih baik juga jika aku membiasakan diri dengan mereka. Orang seperti mereka enggak perlu kemewahan. Enggak perlu juga janji muluk-muluk. Orang seperti mereka beneran hanya butuh bukti nyata. Selain, sikapku yang wajib waras,” pikir Kenan.
“Aku yakin, Alesha juga merasakan apa yang aku rasakan. Bedanya, Alesha tetap mendapatkan kasih sayang dari mama sekaligus keluarga mamanya. Namun, akan lebih baik lagi jika adanya aku di sini, juga memberinya peran seorang papa,” pikir Kenan lagi.
Kenan sengaja menghampiri kebersamaan pak Aidan dan Alesha. Ia meletakan dua tas kerjanya di sofa. Setelah terlibat obrolan cukup akrab dan sengaja Kenan lakukan, Kenan memboyong keduanya ke dapur. Rencananya, mereka akan sarapan bersama.
Hanya saja, kenyataan Kenan yang sampai mengemban Alesha, sukses membuat Khalisa dan orang tuanya bengong. Kenyataan tersebut membuat Kenan makin memiliki nilai lebih di mata mereka.
“Uncle, aku juga mau makan soto!” pinta Alesha yang memang masih lemah.
Kebersamaan kini membuat mereka layaknya keluarga bahagia pada umumnya. Bahkan meski Kenzo tak menjadi bagian di dalamnya.
Namun sekitar pukul setengah tujuh, Kenzo sudah ada di depan gerbang rumah Kenan. Kenzo sengaja mendatangi rumah minimalis berlantai dua tersebut untuk menyelesaikan urusan mereka. Kenzo sudah terlalu yakin, semuanya sudah sesuai rencana bahkan lebih. Kenzo tak akan menunda-nunda lagi, meski jika ia diminta mengakhiri hubungan dengan Bella, Kenzo belum mau.
Wajah Khalisa yang pucat, selain Khalisa yang terlihat kurang sehat, menambah keyakinan Kenzo. Efek di rumah Kenan belum ada pekerja tetap, Khalisa sengaja keluar ketika bel rumah bunyi.
“Mas ...?” sergah Khalisa bergegas turun dari teras menuju gerbang rumah Kenzo terjaga.
Khalisa membutuhkan waktu cukup lama hanya untuk menghampiri Kenzo. Meski jarak teras dan gerbang rumah, hanya terpaut sepuluh meter.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussemsngst
2025-02-17
0
sherly
ntah apalah isi otak si Kenzo nih lah..
2024-07-27
0
Andri
ngapain sih sa kok manut wae kro kenzo
2024-06-03
1